Friday, 3 Apr 2026

Memasuki New Normal di Indonesia, Ini 8 Ide Bisnis yang Berpotensi Berkembang

SWARA – Tampaknya sebentar lagi akan berlaku era new normal di Indonesia atau era normal baru. New normal sendiri memiliki arti yang cukup unik, karena bisa dibilang orang-orang akan kembali ke rutinitas biasanya tapi dibarengi dengan protokol-protokol baru.

 

Dilansir dari Kompas, new normal ini adalah salah satu strategi yang diterapkan oleh negara selama belum ditemukannya vaksin atau obat untuk virus corona. Beberapa protokol yang akan berlaku berupa pembatasan jumlah orang yang berkumpul dalam satu tempat, pemakaian masker secara wajib selama ada di tempat umum, dan pemeriksaan suhu tubuh di setiap pintu masuk gedung perkantoran, sekolah, atau mall.

 

Perubahan perilaku di era normal yang baru

Masih segar diingatan saya ketika kantor memberlakukan aturan bekerja dari rumah di pertengahan Maret karena angka penderita Covid-19 semakin meningkat. Sejak itu hidup tidak lagi sama: saya bekerja dari rumah sampai artikel ini ditulis, hampir di setiap sudut rumah ada hand sanitizer, kebersihan rumah dijaga ekstra, cuci tangan lebih sering sampai kulit kering, dan mulai belanja barang-barang aneh secara online.

 

Saya rasa perilaku seperti ini tidak akan berhenti begitu saja walaupun sudah ada kelonggaran dalam beraktifitas yang diperbolehkan oleh pemerintah. Menurut Forbes, ada beberapa perilaku yang tidak akan mudah berubah walau corona sudah berlalu, antara lain:

 

1. Lebih hati-hati mengatur keuangan

Krisis ekonomi secara global secara keras menampar berbagai kalangan ketika Covid-19 mewabah. Banyak yang kehilangan pekerjaan, bisnis jatuh berguguran, dan orang banyak yang terpaksa merogoh kantong lebih dalam untuk penuhi kebutuhan harian.

 

Hal ini membuat orang jadi lebih hati-hati dalam mengatur keuangannya ketika pendapatannya sudah normal. Yang tadinya tidak punya tabungan pun akan semakin gencar untuk menabung.

 

2. Halo, dunia virtual!

Walau sekolah sudah mulai dibuka dan kegiatan perkantoran akan kembali seperti biasa, dikarenakan adanya protokol khusus, rasanya kegiatan seperti kerja dari rumah akan tetap diberlakukan. Setidaknya mungkin tidak full-time kerja di kantornya. Begitu juga dengan berbelanja, perilaku belanja online dikatakan masih akan berlanjut walau Covid-19 sudah berlalu.

 

Baca juga: Kenali Karakter Generasi Z dan Pertimbangan Mereka dalam Membeli Produk

 

3. Lebih memilih layanan kesehatan online

Berada di dalam rumah yang aman saja, orang-orang masih dihantui rasa takut tertular virus Covid-19. Boro-boro mau ke rumah sakit, kalau memungkinkan, lebih baik konsultasi ke dokter via chat saja, deh. Dan karena belum ada kepastian kapan Covid-19 ini selesai atau vaksinnya ditemukan, orang-orang pun belum akan berani untuk pergi ke rumah sakit untuk periksa kesehatan kalau nggak mepet sekali.

 

Selain itu, orang-orang dinilai akan tetap menjaga kebersihan dan kesehatan lebih ekstra dari biasanyanya. Mereka lebih concern untuk tetap sehat, daripada harus ke rumah sakit untuk mengobati.

 

4. Tetap memilih untuk berkegiatan di rumah

Banyaknya batasan yang diberlakukan tampaknya akan membuat orang tetap memilih untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah, sama seperti ketika diberlakukannya PSBB. Mungkin karena sudah terbiasa atau masih belum yakin kalau kondisi di luar rumah itu aman dari penyakit.

 

Hal ini juga berpengaruh untuk yang hobi travelling. Mungkin selama di rumah sudah beriming-iming setelah coronavirus ini reda, siap-siap mau liburan ke tempat impian. Tapi karena belum ada kepastian kapan ini akan berakhir 100%, maka banyak yang mengurungkan diri untuk travelling dengan bebas.

 

survey swara tunaiku

 

Peluang bisnis saat masuk new normal di Indonesia

Dengan adanya perubahan perilaku masyarakat selama menjalani physical distancing karena  Covid-19, ini sebenarnya membuka peluang bisnis baru bagi para pelaku bisnis. Terutama bila kamu baru merintis atau memulai kembali bisnismu. Berikut beberapa ide yang bisa dicoba.

 

1. Coaching soal finansial

Hal ini sebenarnya sudah tidak asing lagi, karena sekarang pun banyak akun media sosial atau media yang menyediakan konten edukasi finansial (uhuuuk…SWARA!) yang mudah dicerna oleh audience-nya. Mulai dari cara mengatur keuangan, dana darurat, sampai tips investasi.

 

Tapi dengan perubahan perilaku orang yang akan semakin hati-hati dalam mengatur keuangan, bisnis coaching seputar finansial tentunya akan semakin diminati. Jadi untuk kamu yang memang memiliki latar belakang ilmu yang sesuai, tidak ada salahnya mencoba merintis jenis bisnis seperti ini. 

 

2. Layanan kesehatan online

Memang sudah ada beberapa perusahaan yang menyediakan jasa konsultasi dengan dokter via aplikasi dan sepertinya selama physical distancing ini semakin banyak yang memanfaatkan fasilitas ini. Ke depannya, diperkirakan bisnis seperti ini akan semakin berkembang dan banyak dibutuhkan oleh masyarakat.

 

Baca juga: UMKM #PastiLebihSiap: Keranjang Veggie Beri Kemudahan Konsumsi Sayuran dan Buah Organik di Tengah Pandemi

3. Makanan atau minuman herbal

Selain layanan kesehatan online, salah satu bisnis yang akan berkembang dan diminati orang adalah minuman dan makanan herbal yang bisa meningkatkan imunitas tubuh. Sejak Presiden Joko Widodo menyarankan untuk minum jamu setiap hari, masyarakat pun semakin gencar mengonsumsi minuman jahe, kunyit, temulawak, dan sebagainya.

 

Bahkan jika kamu memperhatikan, banyak produk minuman kemasan yang tadinya tidak menjual jamu jadi mengambil kesempatan ini agar tidak ada pelanggan yang terlewat. Kamu bisa coba baca cerita perjalanan bisnis Rahsa Nusantara, siapa tahu bisa menginspirasi.

 

4. Pelatihan untuk menjadi wirausahawan

Meningkatnya angka pengangguran karena Covid-19, menginspirasi orang untuk mencoba pola baru dalam berkarier. Yang tadinya kerja di kantoran, mungkin berpikir untuk mulai bangun usaha sendiri.

 

Hal ini bisa dimanfaatkan untuk membuat pelatihan kewirausahaan bagi mereka yang ingin banting stir. Pelatihannya bisa dimulai dari platform digital dulu, seperti YouTube atau media sosial lainnya, karena kemungkinan kita diperbolehkan berkumpul di satu ruangan itu masih dalam waktu yang lama.

 

5. Keperluan renovasi rumah

Banyaknya meluangkan waktu di rumah tanpa sadar mendorong kita untuk merapikan atau merenovasi rumah. Bukan cuma untuk mempercantik rumah, tapi keinginan untuk bisa mereparasi perabotan rumah sendiri tanpa bantuan tukang pun  muncul.

 

Menurut CNBC, selama pandemi Covid-19 ini, banyaknya orang yang mencari cara untuk reparasi dan renovasi di internet meningkat 140%. Jadi sangat memungkinkan kalau bisnis yang menyediakan keperluan untuk renovasi akan meningkat permintaannya bahkan setelah new normal di Indonesia berjalan.

 

6. Produk kecantikan rumah

Selama Covid-19 ini saya sama sekali nggak bisa pergi ke salon dan akhirnya memutuskan untuk bleaching dan cat rambut sendiri dengan kemampuan ala kadarnya. Hal ini nggak cuma dialami saya sendiri, tapi banyak teman yang akhirnya juga mulai bereksperimen dengan rambutnya sendiri.

 

Bagi yang punya salon, ini bisa jadi peluang untuk menjual produk salonmu dalam bentuk kemasan yang bisa dicoba sendiri oleh pelanggan di rumah. Atau jika baru akan memulai bisnis, kamu bisa coba cek ombak, tren kecantikan apa sekarang yang lagi naik daun. Kamu juga bisa coba jadi reseller atau distributor beberapa produk sekaligus.

 

Baca juga: Mengenal Bisnis Dropship dan Keuntungannya

 

7. Pariwisata lokal

Usaha travel terkena dampak yang cukup parah selama Covid-19 ini, tapi bukan berarti akan lesu selamanya. Walau perlahan, dilansir dari katadata.co.id, ada titik cerah bagi tujuan pariwisata lokal. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan sulitnya proses traveling ke luar negeri, maka orang-orang yang punya hobi travelling (dan tampaknya tak sabar sekali untuk jalan-jalan) akan cenderung memilih destinasi lokal.

 

Hal ini bisa dimanfaatkan oleh para pemilik travel yang mulai menyusun strategi untuk new normal di Indonesia. Perbanyak penawaran liburan dalam negeri dan cari tahu lebih banyak tentang tempat yang belum banyak diketahui orang.

 

8. Masker dan Pelindung Wajah

Masker sudah bukan hal yang baru lagi untuk dipakai, bahkan sebelum Covid-19 masuk ke Indonesia pun. Tapi sejak wabah coronavirus Covid-19 ini berkembang, pemakaian masker menjadi sesuatu yang wajib. Dan dengan adanya protokol untuk tetap memakai masker di tempat umum, maka permintaan akan masker ini diprediksi tidak akan turun.

 

Selain masker, topi bertirai plastik yang bisa melindungi wajah dari terkena atau menularkan virus melalui air liur pun mulai dilirik pasar. Bisa jadi kedua barang ini menjadi bagian fashion di masa new normal di Indonesia. Tinggal kamu sebagai pebisnis melihat ini sebagai peluang usaha dan memasukan ide-ide kreatifmu.

 

Baca juga: Ingin Mulai Bisnis Baru Saat Corona, Perhatikan 6 Hal Berikut Ini!

 

Itu dia 8 ide bisnis yang punya potensi berkembang ketika memasuki era normal yang baru sebentar lagi. Tapi, sebelum kamu ingin memulai kembali bisnismu di saat new normal, cari tahu dulu apa saja yang kamu siapkan di sini.

 

Semoga artikel ini membantu, ya. Jangan lewatkan artikel Fokus Swara lainnya yang bisa bikin kamu jadi #PastiLebihSiap menghadapi new normal di Indonesia. 

Kenali Karakter Generasi Z dan Pertimbangan Mereka dalam Membeli Produk

SWARA – Ketika saya mulai bekerja, saya baru tahu kalau ada yang namanya pembagian generasi berdasarkan tahun lahir. Setidaknya sampai sekarang ada 4 generasi yang masih atau sedang berjaya, yaitu Baby Boomer (1946-1964), Generasi X (1965-1979), Generasi Y atau Milenial (1980-1996), dan Generasi Z (1997-2012). Saya? Saya termasuk di Generasi Y atau Milenial, generasi yang sering jadi kambing hitam. Ha-ha-ha, mulai playing victim.

 

Tapi kali ini saya lebih ingin membahas tentang Generasi Z atau biasa disebut Gen Z. Gen Z merupakan generasi pertama yang sepenuhnya terpapar teknologi digital sejak mereka lahir. Jadi, nggak heran kalau mereka nggak bisa membayangkan dunia tanpa internet. Tahun mereka lahir adalah tahun internet sedang berkembang dan bisa dipakai secara komersial. 

 

Sehingga, ketika generasi ini bertumbuh, internet menjadi bagian erat dalam hidup mereka. Mereka menggunakan internet untuk bersosialisasi, mencari informasi, termasuk menunjukkan jati diri. Perilaku yang tech savvy ini bukan hanya mempengaruhi perkembangan kultur di masa depan, tapi juga bagaimana generasi yang satu bisa mengendalikan tren konsumerisme pasar.

 

3 pertanyaan penting untuk Generasi Z

Gen Z disebut-sebut siap menggeser tren perilaku konsumerisme generasi-generasi sebelumnya. Menurut McKinsey, pada tahun 2020, Gen Z sudah bisa mewakili 40% total konsumen secara global. Sehingga bisa dibilang cara mereka menghabiskan uang atau cara mereka memandang sebuah brand menjadi penting untuk diperhitungkan oleh para pengusaha agar produk dagangannya laku di pasaran.

 

Sekarang, kalau kamu sebagai pemilik usaha, apa saja kira-kira yang harus kamu perhatikan untuk memasarkan produk kamu, jika pasar yang kamu sasar ini adalah si Gen Z ini? Ada 3 pertanyaan yang harus kamu bisa jawab:

 

 

  • Apa yang mereka suka?
  • Bagaimana cara mereka berkomunikasi?
  • Apa yang menjadi penting bagi mereka?

 

 

Jika kamu sudah memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan ini, bukan hanya bisa menyasar Gen Z, tapi kamu bisa menciptakan hubungan dengan calon konsumen dan menyiapkan bisnis di masa depan. Jadi mari kita coba jawab satu per satu, yuk!

 

4 Karakter Generasi Z yang Utama

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus tahu dulu karakter Generasi Z ini seperti apa. Dikumpulkan dari berbagai sumber, ada 4 karakter utama yang bisa kita ambi, antara lain:

 

1. Generasi yang akrab dengan isu sosial

Berbeda dari beberapa generasi sebelumnya, Gen Z bisa dibilang merupakan generasi yang punya perhatian besar dengan isu sosial. Masih ingat dengan Gretta Thunberg, seorang aktivis muda berumur 16 tahun, yang rela untuk bolos sekolah demi menyuarakan aksinya tentang perubahan iklim? 

 

Lalu ada juga Nadya Okamotoa, berumur 22 tahun, pendiri PERIOD, yang memulai gerakan non-profit memberikan pembalut secara gratis pada tunawisma di Amerika sejak tahun 2014. Selain mereka berdua, masih ada banyak lagi Generasi Z yang dikenal sebagai aktivis yang vokal dengan isu-isu sosial.

 

Apakah produk yang mereka pakai mendukung isu sosial yang ada? Apakah produk yang mereka beli mendukung gerakan positif? Apakah produk yang mereka konsumsi merugikan alam dan kelompok minor? Apakah produk ini membantu saya untuk membantu orang lain?

 

2. Mereka suka mengekspresikan diri

Kalau kita intip lagi media sosial yang sedang tren sekarang, misalnya Instagram dan TikTok, kedua platform tersebut bisa dibilang dikuasai oleh anak remaja sampai dewasa muda yang masih berumur awal 20an.

 

Awalnya TikTok mungkin dikenal sebagai media sosial yang berisikan orang joget-joget saja, tapi kalau kita mau lihat lebih dalam lagi, sekarang banyak penggunanya menjadikan TikTok sebagai wadah untuk mengekspresikan diri. Bahkan nggak jarang ditemukan content creator yang idenya sangat kreatif. 

 

3. Suka jadi diri sendiri dan punya ciri khas

Pasti pernah dengan slogan ‘be yourself’, kan? Bisa dikatakan Gen Z adalah penganut setia slogan ini. Mereka mengekspresikan diri mereka dengan cara mereka sendiri, tidak mau sama dengan yang lain. Harus terlihat unik dan orisinil.

 

Ketika saya masih sekolah, yang namanya satu geng harus terlihat sama dan kompak, baik dari dandanan atau cara berbicara. Sekarang? Setiap remaja yang saya lihat di mall atau beberapa tempat nongkrong punya style-nya masing-masing.

 

Bahkan ketika saya bertanya pada salah satu junior di kantor, yang kebetulan kelahiran 1997, salah satu alasan ia bisa terikat dengan salah satu brand adalah brand tersebut menawarkan sesuatu yang ‘dia banget’. 

 

4. Suka terkoneksi secara global

Generasi Y adalah pencicip pertama dunia maya untuk berkomunikasi di ruang chat, seperti lewat Yahoo! Messenger atau Facebook Messenger. Tapi yang membedakan Gen Y dengan Gen Z adalah Gen Z melakukan komunikasi ini secara global, bukan hanya dengan teman di dunia nyata.

 

Menurut McKinsey, Generasi Z suka berkomunikasi dengan siapa saja di dunia maya, bahkan tidak jarang yang akhirnya membentuk suatu komunitas. Tapi hal ini tidak menjadikan mereka eksklusif, karena mereka juga memiliki kecenderungan untuk saling silang komunitas, sehingga memperluas jangkauan pertemanan.

 

5 hal yang bisa dilakukan para pengusaha

 

1. Alih-alih terus mengiklankan produk, kenalkan value perusahaanmu

Ketika ingin memasarkan sebuah produk, banyak perusahaan fokus menawarkan harga termurah dan promo tanpa batas. Ini mungkin bisa berhasil, tapi tidak sepenuhnya untuk Gen Z. Sebagai generasi yang fasih menggunakan internet, mereka bisa dengan mudah mencari informasi tentang produkmu. Mereka tidak akan langsung tertarik jika kamu memasarkan produk hanya bermodalkan promo harga miring.

 

Yang menarik hati para Generasi Z ini adalah apa value atau nilai-nilai yang perusahaanmu tawarkan kepada mereka. Salah satu contoh, kembali ke junior saya, dia mengatakan ada alasan khusus kenapa ia memilih suatu produk sepatu. Produk sepatu tersebut membuat campaign tentang “Greatness” di mana mereka memberikan inspirasi kalau sesuatu yang hebat itu bisa dimulai dari hal sederhana dan terwujud di kehidupan sehari-hari.

 

Nilai empowerment yang diemban oleh si perusahaan sepatu inilah yang diambil oleh junior saya dan harga sepatu yang mahal jadi urusan belakangan.

 

Sama halnya ketika orang menjual produk-produk ramah lingkungan. Yang ditawarkan oleh mereka adalah jika konsumen mengonsumsi atau membeli produk tersebut, artinya mereka juga ikut melestarikan alam dan menjaga bumi di masa depan. Hal-hal seperti inilah yang lebih menarik untuk Gen Z dalam memilih produk.

 

Jadi ketika ingin menyasar pasar ini, apa value perusahaan yang bisa kamu tawarkan bagi mereka?

 

2. Peka dengan kondisi sosial sekarang

Bukan hanya mementingkan value perusahaan, Gen Z juga cenderung lebih memilih produk yang peka dengan apa yang sedang terjadi di dunia. Kita ambil contoh nyata yang sedang terjadi, yaitu COVID-19. 

 

Dilansir dari Vogue Business, hasil wawancara dari 8 Generasi Z akan mulai menghindari produk-produk yang memperlakukan karyawannya dengan tidak adil selama adanya COVID-19 ini. Contohnya perusahaan Amazon yang menolak memfasilitasi karyawannya alat-alat perlindungan yang baik selama wabah terjadi. Hal ini membuat mereka jadi berpikir ulang kalau ingin membeli sebuah produk, apakah mereka dari perusahaan yang bertanggung jawab atau tidak.

 

Berbeda dengan Generasi Baby Boomer (atau ini cuma orang tua saya aja? He-he-he) yang mudah tergiur dengan kata-kata “Produk No.1” atau “Best Seller”, Generasi Z nggak menjadikan hal itu sebagai daya tarik. Tidak tergiur dengan gembar-gembor soal prestasi, mereka lebih suka melihat apa dampak yang diberikan perusahaan bagi kondisi terkini.

 

Salah satu contohnya apakah perusahaanmu ikut membantu mereka agar jadi #PastiLebihSiap dalam menghadapi era normal yang baru dan lebih baik? 

 

3. Temui mereka di “tempat” yang tepat

Di mana Gen Z menghabiskan waktu paling banyak? Internet. Temui mereka di sana. Menurut Forbes, bila dibandingkan Generasi Milenial yang rata-rata hanya menggunakan 3 perangkat elektronik untuk mendapatkan informasi, Gen Z rata-rata menggunakan 5, yaitu smartphone, TV, laptop, desktop, dan tablet.

 

Hal ini menjadi penting ketika kamu menentukan tempat untuk mengiklankan produk kamu. Fokus hanya ke satu channel saja tidak cukup, misalnya kalau hanya mengandalkan ads di Instagram saja, kamu bisa kehilangan mereka yang meluangkan waktu di YouTube. Begitu pula sebaliknya.

 

Jadi pastikan ketika memutuskan untuk memasarkan produk di platform digital, penyebarannya pun harus seimbang dan sesuai dengan data yang ada. Untuk info soal ini, kamu bisa mulai banyak membaca hasil penelitian dari berbagai perusahaan yang memang fokus pada penelitian konsumen.

 

4. Sediakan tempat untuk mereka berkarya dan berpartisipasi

Karena Gen Z memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dan suka mengekspresikan diri, berikan mereka wadah untuk menyalurkan hal tersebut. Tantang mereka untuk menciptakan suatu content yang berkaitan dengan produkmu dan sebagai bentuk apresiasi, upload karya mereka di media sosial perusahaanmu.

 

Saya ingat salah satu produk pakaian bermotif batik yang setiap tahun mengundang konsumennya yang memakai produk mereka untuk ikut share foto momen Lebaran. Hasilnya nanti akan di-upload ke Instagram Story mereka saat itu juga. 

 

Atau bisa juga mengadakan sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan jualan produk, tapi lebih menarik mereka untuk berkomunikasi dengan produkmu. Saya selalu tertarik dengan challenge bingo yang ada di Instagram, yang mungkin nggak ada kaitannya sama sekali dengan penjualan, tapi bikin saya mudah ingat dengan suatu produk.

 

5. Bangun komunitas bagi Gen Z

Seperti yang sudah dikatakan, salah satu karakter Gen Z adalah mereka suka terkoneksi satu sama lain, dengan yang memiliki minat serupa. Bayangkan jika kamu punya suatu usaha baru dan hanya memiliki beberapa pelanggan, tapi pelanggan itu berpotensi mengajak orang lain untuk menjadi konsumenmu juga. 

 

Jangan sampai terlewat dengan momen ini dan siapkan wadah untuk mereka saling terhubung. Tidak ada salahnya mulai memikirkan untuk mengadakan gathering secara rutin dengan menggunakan platform digital. Misalnya mengadakan talkshow di Instagram Live dan menyajikan topik yang memang sedang “in” di kalangan Gen Z. Bukan hanya bisa menarik perhatian mereka saja, bisa jadi ini berdampak juga ke konsumen dari generasi lain.

 

Nah, semoga tips-tips di atas berguna dan bikin #PastiLebihSiap bagi kamu yang ingin mulai menyasar Generasi Z sebagai konsumen. Semangat!

Restrukturisasi Kredit Saat Corona? Ketahui Dulu Cara Kerja dan Konsekuensinya

Di masa pandemi karena COVID-19 ini, semua orang sedang berusaha untuk bertahan secara finansial. Yang masih punya pekerjaan berusaha untuk menata keuangan sebaik-baiknya untuk persiapan ke depan, yang kehilangan pekerjaan berusaha untuk mencari penghasilan tambahan, dan yang memiliki cicilan juga berusaha untuk meminta keringanan dari pihak terkait. Maka bukan hal baru kalau banyak orang yang akhirnya memohon untuk diberikan restrukturisasi kredit atau relaksasi kredit.

 

Apa itu restrukturisasi kredit?

Dikutip dari OJK, restrukturisasi kredit adalah upaya usaha perbankan untuk mempertahankan performa perkreditan dengan cara memberikan kelonggaran pada debitur yang memiliki potensi gagal bayar. Contohnya di masa pandemi COVID-19, perbankan memberikan keringanan bayar bagi nasabah yang memiliki kesulitan membayar cicilan.

 

Hal ini juga bertepatan dengan pernyataan dari Presiden Indonesia, Joko Widodo, pada tanggal 24 Maret 2020, bahwa OJK memberikan kelonggaran atau relaksasi kredit usaha mikro dan usaha kecil di bawah Rp10 milyar, yang pembiayaannya diberikan oleh bank maupun instansi non-bank kepada debitur perbankan.

 

Restrukturisasi yang diberikan juga banyak jenis dan lama penundaannya, mulai dari 3 bulan, 6 bulan, sampai 12 bulan. Hal ini kembali lagi ke kebijakan bank masing-masing.

 

Siapa saja yang bisa mendapatkan restrukturisasi kredit?

Restrukturisasi Kredit Saat COVID-19? Ketahui Dulu Cara Kerja dan Konsekuensinya

 

Menurut POJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional, debitur yang berhak mendapatkan keringanan adalah debitur, baik personal atau UMKM, yang memiliki kesulitan untuk membayar cicilan karena debitur atau usaha milik debitur terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari penyebaran COVID-19. 

 

Adapun sektor perekonomian yang terkena dampaknya antara lain:

  1. Pariwisata
  2. Transportasi
  3. Perhotelan
  4. Perdagangan
  5. Pengolahan
  6. Pertanian
  7. pertambangan. 

 

Namun, setiap lembaga keuangan memiliki kebijakan sendiri dalam menentukan siapa yang bisa diberikan keringanan berupa restrukturisasi kredit. Jadi kalau memang melalui dokumen-dokumen pendukung terbukti debitur terkena dampak dari COVID-19 ini, kesempatan mendapatkan restrukturisasi lebih besar.

 

Baca juga: Lakukan Cara Ini Agar Keuanganmu Sehat Pasca Pandemi COVID-19!

 

Lalu, opsi seperti apa yang ditawarkan program restrukturisasi kredit ini?

Ada beberapa opsi yang pastinya ditawarkan atau disediakan oleh lembaga-lembaga keuangan, yang kebijakannya pasti berbeda-beda. Bank A dan Bank B bisa saja memiliki kebijakan restruk yang beda, tapi tujuannya tetap sama, yaitu memberikan keringanan bayar bagi debitur dan menjaga performa kredit dari bank tersebut.

 

Beberapa opsi restrukturisasi kredit tersebut antara lain:

 

 

1. Pengurangan nominal cicilan

Opsi ini akan memberikan kamu kesempatan untuk membayar dengan nominal yang lebih kecil per bulannya. Misalnya tiap bulan cicilanmu itu sejumlah Rp1.000.000, tapi karena kamu hanya sanggup bayar setengahnya, maka pihak bank bisa memberikan kamu keringanan dengan membayarkan Rp500.000 per bulan.

 

2. Permohonan penurunan suku bunga

Opsi ini meringankan kamu dari segi bunga. Bunga yang biasanya 3% per bulan, bisa menjadi 2%, tapi pembayaran cicilanmu tetap berjalan.

 

3. Penundaan bayar selama beberapa bulan 

Ada juga opsi untuk menunda pembayaran cicilan sampai periode tertentu, maksimal 12 bulan. Hal ini tergantung dari kebijakan masing-masing bank dan tidak ada aturan pakem dari lembaga pengawas dari OJK.

 

Baca juga: Bagaimana Cara Melindungi Skor Kredit di Masa Pandemi Corona?

 

Risiko ketika mendapatkan restrukturisasi

Restrukturisasi Kredit Saat COVID-19? Ketahui Dulu Cara Kerja dan Konsekuensinya

Pada awalnya, tujuan awal imbauan restrukturisasi kredit itu ditujukan untuk pengusaha UMKM yang usahanya terkena dampak COVID-19. Namun, seiring berjalannya waktu, perlakuan ini juga berlaku untuk retail, atau perseorangan.

 

Yang harus kamu ingat, restrukturisasi kredit atau relaksasi kredit itu bukan berarti jadi bebas merdeka tanpa utang, ya. Utang kamu itu masih ada, tercatat, hanya saja pembayarannya ditunda sampai periode tertentu. Seperti yang disampaikan sebelumnya, ada yang mulai dari 3-12 bulan, tergantung kebijakan lembaga keuangan.

 

Nah, karena utang kamu tidak sepenuhnya hilang, ada beberapa konsekuensi atau risiko yang harus kamu perhatikan, sobats.

 

Yang pertama, durasi cicilan semakin panjang

Misalnya kamu memiliki cicilan selama 12 bulan. Lalu di bulan ke-5, kamu kehilangan pekerjaan karena COVID-19. Jadi, kamu mengajukan penundaan bayar cicilan dan diberikan keringanan selama 3 bulan oleh pihak bank.

 

Total periode cicilan kamu bukan lagi jadi 12 bulan, tapi jadi 15 bulan. Karena, waktu relaksasi selama 3 bulan yang diberikan ini, dipindahkan ke belakang. Sehingga, durasi cicilan kamu jadi lebih panjang. Dan ini, membawa ke konsekuensi selanjutnya.

 

Kedua, beban bunga dan biaya lainnya tetap berjalan

Dilansir dari Bisnis Indonesia, program ini memang bertujuan untuk memberikan ruang bagi debitur agar bisa membayar cicilan sesuai dengan kemampuan. Jika selama restruturisasi berjalan dan pijak bank tidak mengurangi suku bunga dalam perjanjian restruk, maka nasabah bisa membayar lebih mahal.

 

Kok, bisa? Jadi, sejumlah lembaga keuangan melakukan restrukturisasi dengan menggunakan pola anuitas, sehingga pokok dan bunga kembali ke model awal kredit baru dicairkan. 

 

Misalnya Kamu telah menjalankan cicilan sampai di bulan ke-5 dan sisa cicilan tinggal 7 bulan lagi dengan jumlah Rp8,500,000. Nah, sisa Rp8,5 juta ini tidak langsung dibagi sisa 7 bulan, tapi dihitung lagi dari awal seperti cicilan awal dan dikenakan lagi bunga per bulannya.

 

Makanya, kalau kamu ikut program restrukturisasi dan merasa total pinjamannya lebih besar dari sebelumnya, wajar kok. Tapi, ini memang strategi yang awam dilakukan oleh lembaga keuangan mana pun.

 

Terakhir, akan adanya efek balloon payment

Kalau mengutip dari kata-katanya Prita Ghozie, CEO & Financial Planner, pada saat bincang-bincang dengan Femina, restrukturisasi kredit itu punya efek kayak kita meniup balon. Di depannya terlihat kecil, tapi ujungnya itu besar. 

 

Untuk yang mendapat keringanan berupa pengurangan nominal cicilan per bulan, rasanya ringan selama beberapa bulan, tapi kalau periode restruknya selesai dan semua terakumulasi di belakang, ternyata jumlahnya jadi besar seperti yang dijelaskan pada poin sebelumnya. Banyak yang tidak sadar dengan efek ini, sehingga berpikir kalau restrukturisasi adalah solusi segalanya.

 

Baca juga: Masih Berstatus Karyawan? Saatnya Periksa dan Atur Rasio Keuangan di Tengah Pandemi

 

Selama ada penghasilan, sebaiknya tetap membayarkan cicilan

Saya nggak akan bosan untuk bilang ini: tujuan awal pemerintah mengimbau lembaga keuangan mengadakan restrukturisasi kredit adalah untuk memberi keringanan pada nasabah yang terkena dampak langsung dari COVID-19. 

 

Jadi, kalau memang di bulan ini kamu masih memiliki penghasilan, sebaiknya pikir-pikir lagi kalau ingin mengajukan restrukturisasi kredit, karena restrukturisasi kredit itu sifatnya hanya memberikan kelegaan untuk sementara.

 

Semoga artikel ini membantu kamu dalam menentukan pilihan ya. Jangan sampai langkah yang kamu ambil malah membuat kamu terbeban di kemudian hari. Ikuti juga artikel-artikel terbaru Fokus Swara supaya kamu #PastiLebihSiap menghadapi kondisi keuangan selama pandemi ini. 

UMKM #PastiLebihSiap: Manfaatkan Kearifan Lokal, Rahsa Nusantara Kembangkan Budaya Minum Jamu di Era Modern

SWARA – Berawal dari modal yang tidak sampai Rp1 juta, Ayu Budiyanti dan suami, Hatta Kresna, membangun bisnis jamu ready-to-drink dalam kemasan, Rahsa Nusantara. Memiliki konsep yang unik, yaitu jamu dalam kemasan botol menjadi tantangan tersendiri. Pada tahun 2016, minuman jamu dalam kemasan pada saat itu masih belum awam di tengah masyarakat.

 

Namun dengan menjunjung nilai-nilai kearifan lokal, pemberdayaan perempuan, dan hidup penuh kesadaran, membawa kesuksesan tersendiri bagi Rahsa Nusantara. 

 

Bagaimana kisah awal bisa membangun bisnis ini?

Sebenarnya memulai bisnis ini sudah mulai dari tahun 2011, tapi waktu itu kami buka kedai wedangan di daerah Fatmawati. Cukup sukses dan selalu ramai, tapi ternyata kami berdua memang nggak terlalu suka dengan kehidupan Jakarta, sampai akhirnya memutuskan berhenti di tahun 2013 awal dan pindah kembali ke Bandung.

 

UMKM #PastiLebihSiap: Manfaatkan Kearifan Lokal, Rahsa Nusantara Kembangkan Budaya Minum Jamu di Era Modern
Ayu Budiyanti dan Hatta Kresna, Pendiri Rahsa Nusantara (source: dok. Rahsa Nusantara)

 

Lalu setelah beberapa bulan vakum, tahun 2014 kami mau coba lagi bisnis wedangan ini di Bandung. Beda dengan Jakarta, ternyata bisnis wedangan di Bandung gagal total dan nggak ada pemasukan sama sekali. Ternyata memang market di Bandung ini berbeda jauh dan salahnya, kami memang nggak survey dulu sebelum memulai. Pikirannya, kan, sama saja kayak di Jakarta.

 

Akhirnya setelah 4 bulan, kami tutup dan memperkuat riset dulu keadaan di lapangan seperti apa. Setelah riset, ada dua hal menarik yang ditemukan. Pertama, di Bandung jumlah Mbok Jamu (pada tahun 2015) itu jumlahnya 1.000 orang dan setiap tahun ada penurunan 20%. Penyebabnya adalah si Mbok Jamu ini nggak mau anak-anaknya jadi tukang jamu kayak mereka. Lebih baik jadi buruh pabrik, karena lebih membanggakan dan nggak capek.

 

Kedua, makin ke sini, konsumen itu makin jarang ada yang di rumah. Kalau nggak ngantor, ya nongkrong sama teman-temannya di cafe. Sehingga ketika mbok jamunya datang, decision maker-nya itu nggak ada dan purchasing power-nya menurun.

 

Lalu para mbok jamu ini kan umurnya sudah nggak muda dan nggak ada penerusnya. Jadi di situlah Rahsa Nusantara masuk supaya budaya minum jamu ini nggak mati di tengah jalan dan bisa dikonsumsi oleh siapa aja. 

 

Hubungan jamu ini dengan pemberdayaan perempuan itu apa ya, mbak?

Tadinya kami berusaha untuk menggandeng mbak-mbok jamu yang ada, tapi sepertinya mereka sudah terbiasa dengan resep sendiri, jadi susah kalau mau diajari dengan cara pembuatan jamu yang lebih higienis. 

 

Akhirnya kami mengajak ibu-ibu yang tinggal di perkampungan sekitar komplek rumah kami, di daerah Kampung Padi. Tujuan awalnya karena pengin membantu mereka yang kondisi finansialnya kacau. Pemasukan sedikit tapi pengeluaran banyak, dan suami juga nggak bisa diandalkan. Sehingga tergeraklah untuk mengajak mereka kerja bikin jamu, sambil mengajari mereka mengatur keuangan.

 

Awalnya cuma ada 3 orang yang ikut dengan kami dan mereka sudah mapan secara finansial. Sampai akhirnya sekarang ada 20 orang yang bekerja dengan kami dan semuanya ibu-ibu perkampungan itu yang pengin kondisi finansialnya maju.

 

Baca juga: UMKM #PastiLebihSiap: Keranjang Veggie Beri Kemudahan Konsumsi Sayuran dan Buah Organik di Tengah Pandemi

 

Di Rahsa Nusantara ada produk apa saja?

Kalau sekarang produknya sudah banyak banget, tapi mungkin aku bisa ngomongin per kategori kali, ya?

 

Pertama itu ada kategori Ready-to-drink, yaitu jamu dalam botolan yang memang dijual di supermarket dan varian jamunya banyak banget. 

 

Yang kedua itu ada Tisane, yaitu keringan rempah-rempah yang bisa diseduh sendiri. Jadi kayak wedang uwuh yang dijual di pasaran. Tapi ini dibuatnya lebih higienis, karena ngeringinnya pakai mesin tapi nggak menghilangkan kandungan nutrisi rempah itu sendiri. Ada 4 varian yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yaitu Bandrek dari Jawa Barat, Anggur Sultan atau Wedang Uwuh dari Jawa Tengah, Jahe Telang dari Ternate, dan Teh Rempah dari Sumatera.

 

Ketiga itu ada Tamba, yaitu varian jamu dalam bentuk serbuk yang bisa diseduh dengan menggunakan filter. Ada dua varian, yaitu Beras Kencur dan Kunyit Asam.

 

Selanjutnya ada Jagad, yaitu kategori yang bisa dibilang paling favorit di antara semua produk Rahsa. Melejit banget. Jagad ini adalah suplemen yang beda dari produk lain. Biasanya kan suplemen bentuknya kapsul, tapi ini bentuknya cairan, jadi gampang diminumnya dan manfaatnya lebih terasa, karena lebih mudah diserap oleh tubuh. Ada 3 varian, yaitu Sapujagad untuk ningkatin imunitas tubuh, Sekarjagad untuk suplemen kecantikan kaya akan collagen, dan Sapujagad Anak untuk meningkatkan imunitas anak.

 

Kelima ada Rasana, yaitu bumbu siap masak yang terdiri dari 3 bumbu dasar dengan resep kearifan lokal, yaitu Bumbu Putih, Bumbu Merah, dan Bumbu Kuning. Produk ini baru di-launch pas pandemi COVID-19 ini. Jadi pas banget, sekarang banyak yang masak di rumah dan Rasana ini langsung populer di luar sana.

 

Yang terakhir itu kita baru ngeluarin produk terbaru Mestika Rahsa, yaitu produk lulur. Ada 2 varian, Lulur Mandabhumi Teh Hijau dan Lulur Mandabhumi Kunyit.

 

Semua produk yang ada di Rahsa Nusantara itu memang mengangkat local wisdom, atau kearifan lokal dari nenek moyang kita. Karena memang orang jaman dulu itu punya kepercayaan, alam itu sudah menyediakan obat di sekitar kita.

 

Makanya kita pun mengambil bahan rempah dari petani lokal. Karena Rahsa Nusantara itu bahannya organik tanpa pengawet, jadi semua hasil limbahnya itu kami olah lagi jadi pupuk. Hasil pupuknya kami kembalikan lagi ke petani. Di situlah terbentuknya hidup berkesadaran yang memang dijunjung oleh Rahsa.

 

Baca juga: Punya Bisnis UMKM? Ketahui Cara Supaya Bisnis UMKM-mu Tetap Berjalan Selama WFH!

 

Tapi sebelum mulai bisnis ini, Mbak Ayu itu latar belakangnya apa?

Aku itu dulu kuliah jurusan Teknik Industri dan sempat kerja jadi Business Analyst di ATM Bersama. Cuma, pas kerja itu aku rasanya kayak memenjarakan diriku sendiri. Aku harusnya bisa ngelakuin potensi yang lain, tapi terbatas oleh ruang dan waktu. Misalnya jam 3 sore aku sudah selesai kerja, tetap harus tunggu jam kerja selesai supaya bisa pulang.

 

Jadi aku ngerasanya kayak dipenjara aja. Akhirnya aku mutusin buat berbisnis, ya walau bisnis aku banyak yang gagal juga. Mulai dari bikin baju menyusui, baju muslim, tapi gagal semuanya. Tapi justru kegagalan-kegagalan itu yang aku butuhin. Jadi kalau aku nemuin masalah lagi, aku sudah lebih pintar menghadapinya.

 

UMKM #PastiLebihSiap: Manfaatkan Kearifan Lokal, Rahsa Nusantara Kembangkan Budaya Minum Jamu di Era Modern
Ruang Produksi Rahsa Nusantara (source: dok. Rahsa Nusantara)

 

Terus kalau kenapa jamu, ini asalnya karena suami aku. Dia orangnya memang suka ngeracik minuman dan jiwanya old school. Akhirnya kita coba. Awalnya ragu karena kan katanya kalau bikin bisnis itu musti yang sesuai passion, sedangkan walau aku Putri Solo dan kental dengan budaya Jawa, dulu aku sama sekali nggak suka jamu.

 

Tapi balik lagi, memulai ini bukan hanya untuk menjual jamu, tapi untuk memperjuangkan sesuatu, yaitu pemberdayaan perempuan, kearifan lokal, dan hidup berkesadaran. This business is not only about jamu, it’s more than that.

 

Di tengah COVID-19, ada dampaknya untuk bisnis Rahsa Nusantara, kah?

Ada banget! Aku ingat pas tanggal 7 Maret, ketika Pak Jokowi dan Dokter Terawan umumkan kalau COVID-19 sudah masuk Indonesia, semua orang langsung pada panic buying, beli jamu. Penjualan langsung naik dan permintaan langsung naik 20x lipat.

 

Tapi di pertengahan April, permintaan mulai menurun kalau dibanding di bulan Maret itu, walau sebenarnya performance-nya masih bisa dibilang bagus. Ketika bisnis yang lain turun drastis, syukurnya Rahsa Nusantara itu masih on-track.

 

Nah, untungnya si Rasana ini segera keluar di bulan Mei, jadi ngebantu mendongkrak bisnis ini. Awalnya kita rencana mengeluarkan setelah Lebaran, di mana biasanya ART masih pada pulang kampung dan para ibu di rumah jadi harus masak sendiri. Eh, tahunya ada COVID-19 ini, jadi kita buru-buru keluarin Rasana, karena pasti banyak yang butuh. 

 

Yang pasti sejak COVID-19, yang jualan jamu memang jadi banyak, tapi justru asyik karena jadi semakin ramai. Buat kami, semakin banyak kompetitor, berarti marketnya berkembang. Daripada kondisi tahun 2016 yang kita main sendiri tapi kolamnya kecil, mendingan kayak sekarang kita mainnya ramai, tapi kolamnya lebih gede. Yang artinya cangkupan market juga lebih luas. 

 

Balik lagi soal mindset. Banyak yang kalut karena berarti makin banyak persaingan, tapi kalau untuk Rahsa sih, nggak mikir ke situ.

 

Toh, yang dijual bukan cuma jamu sebagai produk tok, tapi juga ada brand value yang kita jual, jadi nggak usah takut kekurangan pelanggan.  Karena kalau brand value-nya sudah kuat, orang akan tetap ingat dengan produk kita, kok. 

 

Baca juga: Apa Saja Program dan Stimulus Pemerintah untuk UMKM Terkena Dampak Corona?

 

Lalu, ke depannya Rahsa Nusantara akan dibawa ke mana lagi nih, mbak?

Dari awal Rahsa Nusantara ini hadir untuk bantu menyelesaikan masalah di era modern ini dengan pendekatan kearifan lokal, sedangkan yang namanya masalah itu pasti akan ada terus. Misalnya dengan adanya COVID-19 ini, kita mikir apa yang bisa kita bantu untuk masalah yang akan ada di depan.

 

Ketika COVID-19 ini reda, orang-orang yang pernah terinfeksi virus ini punya risiko tinggi terkena pneumonia. Jadi kita sekarang memang lagi ngegodok ramuan apa yang kiranya bisa menangani masalah pneumonia di kemudian hari.

 

Terus kalau punya kesempatan ekspan ke luar negeri, misalnya jadi ada rahsa.sg atau rahsa.au, kita tetap akan membuat ramuan yang berdasarkan local wisdom yang dari negara tersebut. Karena kan memang value kami menjunjung kearifan lokal dan setiap negara pasti punya kearifan lokal masing-masing.

 

Buat Kawan Tunaiku yang tertarik dengan produk Rahsa Nusantara, bisa langsung kunjungi website mereka di rahsa.id atau akun Instagram mereka di rahsa.nusantara.

5 Cara Jaga Keamanan dan Kerahasiaan Data Pribadi, Termasuk Online Banking Selama COVID-19

SWARA – Di era yang serba online ini, sepertinya hampir semua hal yang kita lakukan berkaitan dengan internet. Mulai dari perilaku belanja online, berinteraksi lewat dunia maya, nonton film atau series favorit via kanal streaming online, bahkan sampai transaksi perbankan pun jadi lebih mudah dengan kehadiran internet.

 

Hanya bermodalkan smartphone dan koneksi internet, kita bisa dengan mudah melakukan berbagai transaksi uang di mana saja dan kapan saja. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini, hampir semua orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Otomatis pasti transaksi uang secara online juga meningkat.

 

Dilansir dari Kontan, Bank Indonesia sendiri menyatakan kalau selama berlangsungnya pandemi COVID-19 ini, ada peningkatan transaksi yang cukup signifikan di sektor e-commerce. Menurut Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, Filianingsih Hendarta, transaksi pembelian lewat e-commerce meningkat 18,1% menjadi 98,3 juta transaksi dan total nilai transaksinya meningkat 9,9% menjadi Rp 20,7 triliun.

 

Kebayang dong, berapa banyak orang yang melakukan transaksi via online banking selama pandemi? Tapi pertanyaannya, apakah transaksi online banking ini 100% terjamin keamanannya? Karena di sekitar kita pun kerap ada pemberitaan mengenai orang-orang yang saldo di rekening onlinenya mendadak berkurang karena dicuri.

 

Hmmm, kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal ini terjadi? Terutama di masa pandemi seperti ini, di mana kebutuhan finansial juga meningkat. 

 

Data Security vs Data Privacy

Untuk orang awam seperti saya, yang cuek banget dengan keamanan data, saya sendiri baru tahu kalau ada perbedaan antara Data Security dan Data Privacy. Sebenarnya dari namanya saja harusnya saya tahu bedanya, tapi ya lagi-lagi karena awam, saya anggap sama-sama soal data pribadi tok.

 

Padahal keduanya memiliki treatment yang berbeda. Data Security, atau keamanan data, kaitannya dengan bagaimana upaya kita menjaga keamanan data-data kita dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang berusaha untuk menyalahgunakan data pribadi kita.

 

Contoh paling sederhananya adalah ketika saya sedang liburan ke Hong Kong, ternyata kartu kredit saya sempat kebobolan dan terdebit kurang lebih Rp1 juta. Padahal saya tidak pernah melakukan transaksi sampai jutaan rupiah di sana. Nah, ini salah satu contoh kasus ketika keamanan data saya diretas atau istilahnya umumnya hacked

 

Sedangkan kalau Data Privacy, atau kerahasiaan data, kaitannya dengan bagaimana kita mengontrol kerahasiaan data pribadi kita. Berbeda dengan Data Security yang bisa dapat “serangan” tak terduga, di sini kita sendiri yang bisa mengatur kepada siapa data kita mau kita bagikan. 

 

Pada umumnya, service online yang kita pakai secara terang-terangan meminta beberapa akses berupa kontak, email, atau yang lain, yang akhirnya kita ‘accept’ dan berikan secara cuma-cuma.

 

Salah satu contoh kasus yang sempat heboh itu adalah kasus Facebook dan Cambridge Analytica Data, di mana Cambridge Analytica Data mengambil 50 juta data personal yang ada di Facebook dan digunakan untuk kepentingan politik pada tahun 2016. Dalam kasus ini, Facebook terseret karena tidak berhasil melindungi data pribadi para penggunanya yang diberikan secara cuma-cuma, ketika mereka membuat akun di Facebook.

 

Jadi kalau ibarat rumah, data privacy itu tentang kepada siapa kita percaya untuk menitipkan kunci rumah. Nah, yang memegang kunci rumah kita itu punya dua pilihan, dijaga baik-baik atau menggunakan kunci untuk nyelonong masuk rumah kita tanpa izin. 

 

Sedangkan kalau data security itu tentang rumah yang sudah kita kunci rapat-rapat, tapi mungkin kualitas kuncinya yang kurang canggih, sehingga tetap bisa dibobol oleh maling.

 

Sampai sini sudah paham kan, ya, perbedaan data security dan data privacy? Lanjut!

 

Kenapa data pribadi kita bisa disalahgunakan?

Ada beberapa alasan kenapa data pribadi kita bisa diretas atau dipakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bisa karena proteksi yang kita gunakan kurang kuat atau pihak service yang kita gunakan memang dengan sengaja menjual data pribadi kita ke pihak lain, tanpa persetujuan kita.

 

Untuk memperkuat keamanan data pribadi kita, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:

 

1. Menggunakan password yang kuat

Umumnya orang akan menggunakan password yang mudah mereka ingat, misalnya kombinasi nama dan beberapa angka yang ada hubungannya dengan tanggal atau tahun lahir. Cara yang paling mudah untuk memperkuat password kita adalah dengan menggunakan kombinasi kata yang tidak umum, angka, dan simbol atau tanda baca.

 

Kita ambil contoh dari mas Kadin, yang lahir tanggal 29 Februari 1996 dan datanya tersedia dengan terbuka di sosial media. Dengan metode Brute Force, yaitu peretas mencoba mengira-ngira apa saja password yang dipakai Kadin dan dicoba masukan satu per satu, bisa saja dengan mudah password ditemukan dan akun diretas.

 

Maka itu, sebaiknya kita coba pakai password yang jauh hubungannya dengan diri kita dan data pribadi kita. Daripada pakai ‘Kadin290296’, lebih baik pakai kombinasi seperti ‘Soto4yam3&Q2’, alias ‘Soto Ayam Edan Kitu’. Satu, password ini masih bisa dengan mudah diingat karena berhubungan dengan preferensi pribadi dan kombinasinya yang unik.

 

2. Gunakan password yang berbeda untuk setiap akun

Iya, tahu, kamu pasti malas untuk menggunakan password yang berbeda-beda karena takut tidak bisa mengingatnya kan? Tapi justru memakai password yang sama untuk setiap akun online, mulai dari sosial media sampai akun online banking justru bisa mempermudah orang menerobos masuk ke data pribadi kita.

 

Jadi sebaiknya, gunakan password yang berbeda untuk akun satu dengan yang lain. Supaya kamu bisa mengontrol password di setiap akun, kamu bisa menggunakan aplikasi untuk mengatur dan menyimpan setiap password yang kamu buat. 

 

Salah satu aplikasi password manager yang bisa kamu coba antara lain 1password atau LastPass.

 

Baca juga: Cegah Pencurian Data dengan 7 Hal Berikut!

 

3. Mengaktifkan two-factor authentication

Pada dasarnya, two-factor authentication merupakan perangkat pengaman yang gunanya untuk memverifikasi apakah pengguna yang mencoba login ke akun tersebut benar-benar pemilik akun itu.

 

Pasti kamu pernah, kan, ingin masuk ke suatu akun, lalu disuruh memasukan kode OTP yang dikirimkan ke nomor handphone kamu? Nah, itu salah satu logika si fitur ini.

 

Tidak semua situs memiliki fitur ini, tapi jika ada, sebaiknya memang kita aktifkan.

 

Berarti apakah setiap kamu mau login harus ada proses verifikasi ini? Tentu tidak. Biasanya proses verifikasi ini muncul kalau kamu mencoba login dengan perangkat elektronik yang berbeda. 

 

Misalnya kamu biasa login dengan handphone, kali ini akan coba login dengan laptop kantor. Karena situs ini tidak mengenali device tersebut, maka muncullah fitur ini untuk memberikan proteksi ganda agar tak sembarang orang bisa masuk ke akunmu.

 

Cuma kelemahan dari two-factor authentication ini adalah mau tidak mau kita dengan sukarela memberikan data lain (selain nama, email, dan password) yaitu nomor handphone untuk situs memberikan kode unik. Memang pasti akan ada yang kita korbankan, Kawan Swara.

 

4. Hindari memakai wi-fi gratisan di tempat umum

Siapa, sih, yang nggak suka dengan sesuatu yang gratis? Termasuk memakai wi-fi gratis di tempat umum. Tapi tahukah kamu, justru ini bisa menjadi hal sangat berbahaya karena bisa dimanfaatkan oleh peretas untuk masuk ke akun pribadimu. 

 

Skemanya seperti ini. Kamu ke coffee shop favorit dan selagi nongkrong, kamu mau browsing ini dan itu. Lalu kamu menggunakan koneksi gratisan yang ternyata dipasang oleh peretas dan kalau kamu mengakses situs yang tidak terenkripsi, maka si peretas bisa dengan mudah mengetahui kegiatan dan info apa saja yang ada di akun pribadimu.

 

Terutama jika kamu menggunakannya untuk transaksi online banking. Wi-fi publik ini bisa dimanfaatkan dengan mudah untuk membobol akun, sampai si peretas bisa menarik berbagai informasi penting, termasuk akses masuk ke mobile banking. Jujur, takut.

 

Jadi sebaiknya, mulai sekarang hindari untuk menggunakan koneksi wi-fi gratisan dan bersandar pada kuota sendiri jauh lebih aman. Tapi kalau memang terpaksa banget, cari tahu mana koneksi wi-fi yang aman untuk mengakses data yang bersifat sensitif.

 

Nah, 4 langkah tadi berguna untuk menjaga keamanan data pribadi kamu agar tidak mudah diakses oleh orang lain. Lalu bagaimana dengan menjaga kerahasiaan data pribadi? 

 

5. Gunakan situs yang menghargai kerahasiaan data

Ini sulit, tapi ternyata penting. Sudah menjadi rahasia umum kalau 5 perusahaan teknologi terbesar di dunia tidak sebaik yang dikira. Secara tidak sadar, perusahaan seperti Google, Facebook, Amazon, Apple, dan Microsoft memiliki sebagian besar data orang di seluruh belahan dunia, selama terkoneksi dengan internet.

 

5 Cara Jaga Keamanan dan Kerahasiaan Data Pribadi covid-19
Source: growthrocks.com

 

Hal ini jadi membuat kerahasiaan data-data pribadi kita menjadi lebih rentan untuk diakses oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. 

 

Cara lain untuk mengurangi kemungkinan kerahasiaan data kita agar tidak tersebar adalah dengan menggunakan service atau situs lain yang menghargai privasi penggunanya. 

 

Misalnya, untuk search engine, kamu bisa ganti search engine dengan DuckDuckGo yang memang tidak menggunakan cookies dan tidak mengambil data personal. Bahkan ketika kamu masuk ke situ tertentu, DuckDuckGo bisa memblokir semua tracker yang dipasang di situs tersebut. 

 

Itu baru satu contoh. Kamu juga bisa mencari alternatif lainnya, ya.

 

Baca juga: Pilihan Aplikasi Ini Bikin Ponsel Kamu Aman dari Pencurian Data

 

Masih banyak cara untuk berikan proteksi

Sebenarnya masih banyak cara untuk memperkuat proteksi untuk keamanan dan kerahasiaan data yang kamu miliki. Tapi rasanya nggak akan cukup kalau dijelaskan dalam satu sesi saja. Jika ada kesempatan, hal ini bisa kita bahas lebih dalam lagi untuk memproteksi data, apalagi data sensitif seperti online banking.

 

Semoga ini cukup membantu ya, Kawan Swara. Selamat mencoba!

Masih Berstatus Karyawan? Saatnya Periksa dan Atur Rasio Keuangan di Tengah Pandemi

SWARA – Kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja, apalagi kalau melirik dunia kerja. Baru-baru ini saya baru saja diceritakan oleh teman saya yang bekerja di bidang penerbangan komersil. Di perusahaan tempat ia bekerja, sudah setengah pegawai kontrak yang kontrak kerjanya dihentikan karena pandemi COVID-19 ini.

 

Namun, keadaan seperti ini memang tidak terjadi pada semua orang, karena yang masih memiliki pekerjaan pun ada. Untuk kamu yang ada di kategori ini, bersyukurlah, karena ada jutaan orang yang rela berebut untuk ada di posisimu saat ini.

 

Tapi mengucap syukur saja tidak cukup, kamu (dan saya juga, sih) harus mulai mempersiapkan kondisi finansial di masa depan. Hari ini bisa saja kita santai dengan kondisi pekerjaan yang masih ada, tapi bagaimana 3 bulan lagi? Masa depan tidak ada yang tahu, kan?

 

Maka itu, mumpung masih ada penghasilan bulanan, ada baiknya kamu memeriksa kesehatan keuangan pribadi, apakah sifatnya ideal dan sesuai dengan rasio keuangan pribadi.

 

Baca juga: Jenis Pekerjaan dan Perusahaan yang Buka Lowongan Kerja di Tengah Corona

 

Tunggu, apa itu rasio keuangan pribadi?

Jadi, untuk menentukan level kesehatan finansial pribadi seseorang, ada beberapa rasio yang bisa menjadi tolak ukur apakah kondisi keuangan kita selama ini tergolong sehat atau kacau balau. Ini menjadi penting, terutama untuk yang masih ada di usia produktif (19-55 tahun), karena bisa menjadi bekal untuk masa depan, bahkan sampai menyiapkan dana pensiun.

 

Lalu apa saja rasio yang bisa menjadi tolak ukur kesehatan keuangan pribadi kita?

 

Rasio Utang

Di zaman sekarang, hampir jarang orang yang bisa hidup tanpa utang. Bahkan utang berupa cicilan handphone 12 bulan sekali pun, itu menjadi hal yang umum. Tapi pernah kah kamu menghitung berapa jumlah utang yang setiap bulan kamu bayar dan dibandingkan dengan penghasilan?

 

Secara teori, jumlah maksimal utang ideal itu 30% dari penghasilan. Jadi mari kita hitung-hitungan.

 

Gaji per bulan             = Rp5.000.000

Utang ideal (30%) = Rp1.500.000

 

Jadi, dengan gaji Rp5 juta, maksimal jumlah utang idealmu adalah Rp1.500.000. Utang ini bisa berupa tagihan kartu kredit tiap bulan, cicilan KPR, cicilan motor, atau cicilan pinjaman lainnya. Hayo, sudah sesuai belum rasio utang yang kamu miliki sekarang? 

 

Rasio Tabungan

Kalau rasio tabungan, ini merupakan jumlah uang yang kamu sisihkan setiap bulannya. Bukan nominalnya yang menjadi penting, tapi berapa persentase uang yang kamu tabung setiap bulan.

 

Balik lagi ke teori, idealnya setiap bulan kamu menabung minimal 10%. Tapi kalau mau lebih aman, bisa coba untuk menabung 30-50%. Tapi kalau saya sendiri, dengan kebutuhan ini-itu dan ada cicilan, jujur saja masih berkutat di tabungan 15%. He-he-he. Mari berhitung dari kasus sebelumnya!

 

Gaji per bulan                                = Rp5.000.000

Utang per bulan                            = Rp1.500.000

                                                          ____________-

Sisa uang                                      = Rp3.500.000

Tabungan tiap bulan (10%) = Rp    350.000

 

Nah, dari perhitungan ini, kamu bisa tahu, kalau jumlah ideal uang yang kamu sisihkan untuk tabungan per bulannya minimal Rp350.000.

 

Baca juga: 5 Cara Bertahan Hidup Saat Perusahaan Potong Gaji di Masa COVID-19

 

Rasio Dana Darurat 

Dana darurat lagi banyak digalakkan belakangan ini. Atau ini di kalangan saya saja yang menginjak umur 30an? Fungsi dana darurat ini adalah untuk uang jaga-jaga jika kita terkena musibah, seperti kecelakaan, kena PHK, ada keluarga yang butuh biaya pengobatan gratis, dan hal lain yang bersifat darurat. 

 

Sifatnya seperti tabungan, kita bisa mengumpulkannya dengan mencicil per bulan. Idealnya uang terkumpul itu 3-6 kali pengeluaran sehari-hari kita tiap bulan. Yuk, berhitung lagi…

 

Misal setelah menghitung tabungan dan utang, berarti sisa uang untuk pengeluaran kita per bulannya adalah:

 

Gaji per bulan                      = Rp5.000.000

Utang per bulan                   = Rp1.500.000

Tabungan per bulan            = Rp   350.000

                                                  ____________ –

Kebutuhan sehari-hari = Rp3.150.000

 

Idealnya, dana darurat yang harus kamu kumpulkan itu sejumlah:

 

Opsi 1 = Rp3.150.000 x 3     = Rp9.450.000

Opsi 2   = Rp3.150.000 x 6  = Rp18.900.000

 

Penentuan antara opsi 1 dan opsi 2 itu tergantung dari tanggungan keluarga juga. Ada kok yang sampai menyiapkan dana darurat sejumlah 12 kali pengeluaran, karena ia sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan 2 anak yang masih sekolah.

 

Dan kalau kamu merasa berat dengan bayangan harus langsung 6 kali kebutuhan sehari-hari, coba saja dari opsi 1 dulu. Kamu bisa coba sisihkah 25% dari uang kebutuhan sehari-harimu dan coba kumpulkan selama setahun.

 

Uang untuk kebutuhan sehari-hari = Rp3.150.000

Tabungan dana darurat (25%) = Rp 787.500

 

Awalnya memang perih untuk mencoba nabung sebanyak ini, tapi kalau sudah mulai lancar, pasti hasilnya bikin puas dan tenang, deh.

 

Rasio Utang Terhadap Aset

Janji, deh, ini rasio yang terakhir. Rasio Utang terhadap Aset ini adalah saatnya kamu menghitung berapa jumlah aset yang kamu miliki yang masih dibiayai oleh utang atau cicilan kamu.

 

Misalnya kamu punya cicilan KPR dan cicilan motor, lalu suatu saat kamu ditagih untuk melunasi semua sedangkan kamu lagi nggak ada penghasilan. Kamu kira-kira punya kah aset untuk dijual yang bisa menutupi semua sisa utang tersebut?

 

Idealnya rasio yang harus kamu dapatkan adalah maksimal 50%. Cara menghitungnya:

 

Rasio Utang terhadap Aset =  Jumlah Aset = 50%

                                                             Total Utang

 

Jadi kalau kamu tadi sudah punya utang Rp1.500.000, minimal kamu harus punya aset sejumlah Rp3.000.000 yang bisa menutupi utang. Aset ini bisa dari berbagai macam hal, mulai dari investasi saham, reksadana, deposito, dan lain-lain.

 

Baca juga: Unpaid Leave Karena Pandemi, Simak Cara Untuk Bertahan!

 

Sudah siap memeriksa kesehatan keuangan pribadi kamu? Kalau memang belum sehat, tidak apa, kok. Kamu bisa mulai dengan langkah-langkah kecil. Kamu harus tahu dulu, masalah keuangan kamu ada di mana.

 

Apakah ada di jumlah utang yang diluar kemampuan? Pengeluaran untuk kebutuhan sehar-hari yang terlalu besar? Kurangnya tabungan dan dana darurat? Atau justru tidak punya aset sama sekali? Semoga informasi ini membantu, ya. Selamat mencoba!

UMKM Penyokong Ekonomi pada Krisis 1998, Bisakah Sekarang Terjadi Lagi?

SWARA – Di tengah krisis karena pandemi COVID-19 ini, banyak bisnis yang mulai menutup sementara usahanya, mulai dari bisnis yang kecil sampai bisnis besar. Kalau mengintip pada sejarah, Indonesia bukan sekali ini saja diterpa krisis ekonomi. Pada tahun 1997-1998 dan tahun 2008-2009, Indonesia mengalami krisis yang cukup parah. Kondisi Dolar Amerika Serikat yang sama-sama menguat pada saat itu pun terjadi sekarang ini.

 

Menurut Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Teten Masduki, seperti yang ditulis di Liputan 6, kondisi UMKM nasional sekarang berbeda dengan krisis keuangan 1998. Di saat itu, UMKM jadi penolong perekonomian nasional, sedangkan pada saat ini UMKM ikut terpuruk bersama dengan sektor lain akibat pandemi COVID-19.

 

Kenapa bisa berbeda? Pada tahun 1998, UMKM bisa jadi penyelamat karena ekspor UMKM bisa naik sampai 350%. Karen Dolar AS menguat, jadinya UMKM punya celah untuk masuk ke pasar internasional dengan mengekspor produk mereka. Ekspor produk seperti perabotan dengan bahan baku lokal, hasil laut, pertanian, tambang, juga rempah, termasuk ke dalamnya.

 

Beda dengan kondisi sekarang, krisis ekonomi sedang menyerang secara global karena COVID-19. UMKM yang berpotensi untuk mengekspor produk mereka pun mengalami kelesuan, karena minimnya permintaan.

 

Tetap ada harapan

Walau kabar ini terlihat putus harapan, namun sebenarnya kemungkinan UMKM kembali jaya itu tetap ada. Peluang UMKM nasional untuk mengisi pasar dalam negeri justru sekarang lebih besar dan menggantikan kebutuhan pasar akan produk impor. 

 

Salah satu kebutuhan impor yang bisa digantikan oleh UMKM nasional adalah kebutuhan berupa sayur, buah, dan juga industri yang memenuhi kebutuhan sekunder, seperti pakaian dari brand lokal, serta makeup dan skincare.

 

Indonesia itu termasuk negara yang beruntung kalau menurut saya. Kenapa? Karena perputaran ekonominya tidak bergantung 100% kepada bisnis-bisnis besar saja, tapi bisnis kecil juga berperan penting. Misalnya warung rokok kecil yang ada di pinggir jalan, toko sembako milik pakde sebelah rumah, bahkan bengkel kecil di ruko kompleks perumahan saya pun berperan penting. 

 

UMKM nasional seperti inilah yang bisa jadi penopang ekonomi dalam negeri saat krisis ekonomi karena COVID-19. Walau berjalan lambat, sebenarnya petani lokal berpeluang besar untuk memenuhi kebutuhan pasar, karena lesunya impor bahan baku dari luar negeri.

 

Baca peluang usaha di masa depan

Seperti di artikel sebelumnya, bisnis UMKM nasional bisa bertahan bahkan berpeluang sukses di tengah pandemi COVID-19, selama bisa membaca peluang bisnis apa saja yang memiliki potensi di masa depan.

 

Bisni herbal

Jujur, saya bukan orang yang percaya dengan obat-obatan herbal, tapi makin ke sini semakin masuk akan kalau kembali mengonsumsi yang natural, bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

 

Indonesia lagi-lagi negara yang beruntung karena masyarakatnya terbiasa mengonsumsi minuman herbal, salah satunya jamu-jamuan. Mulai dari jamu yang diproduksi rumahan, sampai produk jamu kemasan yang dijual dipasaran. Dilansir dari Kontan, sejak April 2020, penjualan jamu dan vitamin herbal di Indonesia meningkat sebanyak 2 kali lipat.

 

Saya rasa kondisi ini akan berlanjut sampai beberapa waktu ke depan atau bahkan menjadi kebiasaan baru bagi orang-orang yang sebelumnya tidak mengonsumsi jamu. 

 

Bisnis makanan atau camilan rumahan

Saya sudah tidak bisa menghitung lain berapa banyak teman saya yang akhir-akhir ini menggeluti bisnis makanan semenjak adanya aturan jaga jarak karena COVID-19. Mulai dari bisnis brownies, pudding, es krim, sampai makanan rumahan yang siap diantarkan setiap hari.

 

Kenyataannya memang di tengah pandemi ini, ketertarikan orang dengan produk rumahan semakin meningkat. Beberapa penyebabnya adalah tutupnya toko-toko kesayangan untuk sementara dan produk rumahan dinilai lebih bersih pengelolaannya. Belum lagi cita rasa yang otentik, membuat produk rumahan ini jadi lebih khas dibanding dengan yang ada di pasaran.

 

Kesimpulan

Walau akan berjalan lambat, karena daya beli masyarakat yang menurun, potensi UMKM nasional berjaya di negeri sendiri tetap ada. Yang penting para pelaku UMKM dapat membaca peluang pasar yang ada. Semangat!

5 Cara Bertahan Hidup Saat Perusahaan Potong Gaji di Masa COVID-19

SWARA – Hidup memang bagaikan roda yang berputar, kadang di bawah, kadang di atas. Juga kadang, tanpa disangka, gaji yang kita terima di bulan ini tidak penuh seperti biasanya, alias perusahaan memberlakukan potong gaji atau ada penyesuaian gaji.

 

Baru saja saya mendengar cerita dari adik saya kalau salah satu temannya harus bersiap-siap jika bulan depan penggajiannya akan ada penyesuaian. Dia yang biasanya mendapat gaji bersih Rp9 juta per bulan, harus siap-siap jika bulan depan hanya menerima setengahnya.

 

Lain cerita dengan salah satu teman saya yang adalah pramugari maskapai luar negeri. Ia sudah mulai dirumahkan sejak awal April dan belum kembali terbang sampai sekarang. Soal gaji, nggak perlu ditanya. Bisa dapat gaji pokok tanpa tunjangan saja sudah bersyukur.

 

Hal ini terjadi di mana-mana

5 Cara Bertahan Hidup Saat Perusahaan Potong Gaji di Masa COVID-19
Photo by Lily Banse on Unsplash

 

Saya rasa hal ini bukan hanya dialami segelintir orang, tapi hampir semua negara yang terpapar wabah COVID-19 pun kena imbasnya. Bahkan negara semakmur New Zealand pun mengalaminya, sehingga seluruh jajaran menteri dan pegawai negeri sipil dengan jabatan setara direktur akan dipotong gajinya sebanyak 20% sampai 6 bulan ke depan.

 

Di Indonesia sendiri banyak perusahaan yang lebih memilih untuk potong gaji karyawannya dan menunda THR, daripada harus melakukan PHK. Beberapa perusahaan tersebut adalah Air Asia, Garuda Indonesia, KFC, termasuk juga Bank Indonesia serta para Aparatur Sipil Negara (ASN).

 

Dilansir dari kompas.com, Air Asia memberlakukan kebijakan ini karena memang cashflow mereka terganggu karena COVID-19. Sehingga beberapa pegawai harus mengalami potong gaji, termasuk Direktur Utama Air Asia Veranita Yosephine pun mengalami pemotongan hingga 50%.

 

Baca juga: 6 Langkah Mengatur Keuangan Saat Kehilangan Pekerjaan Karena Dampak COVID-19

 

Mari kencangkan ikat pinggang

Yang jadi pertanyaan, kalau gaji kita tidak utuh (yang entah sampai kapan), bagaimana kita mengatur keuangan kita dan bertahan hidup? Jika kamu termasuk orang yang mengalami hal ini, mungkin bisa coba untuk melakukan hal-hal di bawah ini.

 

1. Rinci pengeluaran yang rutin

Hal pertama dan terutama yang bisa kamu lakukan adalah merinci semua pengeluaran yang biasanya setiap bulan ada. Syukur-syukur kalau kamu termasuk orang yang rajin mencatat cashflow setiap hari, karena lebih detail lebih baik.

 

Apa saja pengeluaran yang pasti ada tiap bulan pada umumnya?

  • Biaya transportasi
  • Makan
  • Belanja bulanan
  • Tabungan
  • Uang kost/kontrakan
  • Cicilan
  • Pulsa dan paket data
  • Nongkrong bareng teman
  • Aplikasi berlangganan (untuk streaming musik atau film)
  • Dan lain-lain

 

Setelah kita merinci pengeluaran yang rutin kita keluarkan tiap bulannya, kita bisa membaginya dalam beberapa kategori, yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder atau tersier. Dari sini, kita bisa lebih mudah untuk memutuskan mana saja pengeluaran yang bisa kita pertahankan, kurangi, atau eliminasi sekalian.

 

2. Potong pengeluaran yang tidak perlu

 

Masuk tahap kedua, yaitu memotong pengeluaran yang tidak terlalu krusial atau bukan termasuk kebutuhan primer. Hal ini bisa kita lihat dari rincian pengeluaran rutin sebelumnya. Selain biaya yang memang jadi kebutuhan pokok, seperti makan, belanja bulanan, uang kost/kontrakan, juga pulsa dan paket data (zaman sekarang hidup tanpa internet itu memang hampir tak mungkin, sobat~).

 

Pengeluaran lainnya bisa kita kurangi porsinya atau hilangkan untuk sementara. Misalnya biaya nongkrong sudah pasti kita eliminasi, karena kebetulan orang-orang juga lagi jarang keluar rumah karena physical distancing. Lalu biaya-biaya yang kecil tapi ternyata kalau dijumlah cukup banyak, misalnya langganan streaming musik, film, dan belanja online yang sifatnya hiburan, bisa kita hilangkan juga.

 

Tapi pemotongan di sini bukan berarti kita tidak boleh senang-senang sama sekali, ya. Boleh, tapi bisa dikurangi biayanya. Biasanya kita streaming musik berlangganan? Tunda dulu sementara, beralih ke platform yang gratisan, seperti YouTube. Inti dari pemotongan ini adalah sebisa mungkin mengurangi pengeluaran agar bisa bertahan sampai gajian berikutnya.

 

Baca juga: Unpaid Leave Karena Pandemi, Simak Cara Untuk Bertahan!

 

3. Ubah gaya hidup

Kalau dengan gaji utuh kita biasa belanja keperluan sehari-hari di mall, mungkin sekarang kita bisa mulai menyesuaikan kebiasaan ini dengan uang yang ada di tangan. Jika kamu tinggal di kompleks perumahan, mungkin bisa mulai berlangganan dengan tukang sayur kesayangan ibu-ibu kompleks. Selain harganya yang cenderung lebih murah, kualitasnya juga nggak kalah, kok, sama yang ada di PasarSegar atau Hore. Sama-sama fresh.

 

Saya pribadi mulai memotong ongkos ngopi dan jajan boba saya yang biasanya sebulan bisa menghabiskan kurang lebih Rp500 ribu sebulannya. Saya menurunkan ego dan beralih ke produk-produk DIY, seperti bikin kopi susu sendiri dari kopi instan kekinian (yang ternyata modalnya nggak sampe Rp5.000/gelas) dan bikin pearl boba sendiri yang saya contek tutorialnya dari YouTube.

 

Contoh nyatanya terjadi juga dengan ibu saya yang menyesuaikan produk keperluan rumah tangga dengan mencari yang sedang promo. Misalnya belanja sabun cuci piring. Harga merek sabun cuci piring favoritnya itu Rp14.000, tapi karena merek sebelah lagi promo buy 1 get 1 dengan harga yang sama, beliau pilih beli merk yang satunya. Ketika ditanya kenapa, jawabnya, “Ah…semuanya sama aja, sama-sama ngilangin lemak dan bersih.”

 

Mungkin mental seperti ibu saya bisa mulai diterapkan ketika kamu mengalami potong gaji secara mendadak. Say goodbye (for a while) to those fancy salads and make your own, for a safer future.

 

4. Jika ada cicilan, bisa minta keringanan pembayaran

 

Zaman sekarang, hampir tidak mungkin hidup lepas dari cicilan, mulai dari cicilan KPR, kredit motor, cicilan handphone, cicilan kulkas, bahkan ada juga yang punya cicilan skincare. Lalu kalau kita alami potong gaji, bagaimana cara kita membayar cicilan ini, padahal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit?

 

Menurut Warta Ekonomi, Presiden Joko Widodo memang mengimbau setiap pihak pemberi cicilan untuk memberlakukan relaksasi kredit bagi para pelaku UMKM dan pekerja informal yang terkena dampak COVID-19. Relaksasi tersebut mulai dari penundaan pembayaran cicilan kredit sampai dengan satu tahun hingga penurunan bunga.

 

Misalnya kita ambil kasus dari teman adik saya yang sebulan gajinya Rp9 juta dan bulan depan akan ada penyesuaian gaji. Katakanlah dia akhirnya harus bertahan dengan gaji Rp4,5 juta selama sebulan dan tiap bulan ada tagihan kartu kredit sekitar Rp2,5.

 

Biasanya ia selalu bayar penuh, tidak pernah bayar minimum payment. Tapi kondisi berkata lain karena kalau ia bayar tagihannya utuh, uang tersisa hanya Rp2 juta. Kalau ia nge-kost yang sebulannya Rp2 juta, dia makan apa?

 

Hal yang paling masuk akan untuk dilakukan adalah meminta keringanan dari bank terkait untuk membayar tagihan. Adapun kebijakan tersebut dirilis oleh Bank Indonesia pada tanggal 1 Mei 2020, seperti yang dilansir dari Bisnis Indonesia, ada beberapa kelonggaran yang bisa kita dapatkan, yakni

  • penurunan batas maksimum suku bunga yang sebelumnya 2,5 persen per bulan menjadi 2 persen per bulan
  • penurunan sementara nilai pembayaran minimum yang sebelumnya 10 persen menjadi 5 persen
  • penurunan sementara besaran denda keterlambatan bayar dari 3 persen atau maksimal Rp150.000 menjadi 1 persen atau maksimal Rp100.000

 

Bank Indonesia juga mendukung kebijakan penerbit kartu kredit untuk memperpanjang jangka waktu pembayaran bagi nasabah yang terdampak COVID-19.

 

Yang paling nyaman memang membayar minimum payment, karena pasti nominalnya kecil. Tapi kita juga harus siap risikonya, yaitu bunga. Lebih baik memang langsung ditanyakan ke pihak bank terkait, kelonggaran seperti apa yang bisa kamu dapatkan.

 

Hal ini hanya salah satu contoh kasus untuk meminta relaksasi atau keringanan bayar, ya. Untuk kasus yang lain mungkin prosesnya akan berbeda. Yang pasti, proses meminta kelonggaran ini tidak dapat diproses dengan cepat, karena nasabah bukan hanya kamu saja. Jadi memang di sini dilatih kesabaran, karena pada dasarnya pihak bank juga berusaha untuk memberikan pelayanan yang layak bagi semua nasabah.

 

5. Sebisa mungkin jangan kurangi tabungan

 

Ketika pendapatan kita berkurang, pikiran kita pasti langsung berusaha untuk menutupi biaya yang primer dulu, seperti yang sudah disebutkan di atas. Lalu munculah godaan untuk mengurangi atau menunda untuk menabung. Kalau itu yang ada di pikiran kamu…TOBAT, SOBAT! TOBAT! *mendadak jadi mamah dedeh*

 

Walau pemasukan kamu berkurang, setidaknya tabungan harus tetap jalan. Tapi, kak, nggak mungkin dong, kalau gaji tinggal setengah, jumlah yang ditabung tetap sama? Aku makan apaaa? Jangan sedih, bukan jumlahnya yang harus kamu pikirkan, tapi persentasenya. Mari kita hitung-hitungan!

 

  • Gaji utuh sebelum pemotongan : Rp5.000.000
  • Tabungan per bulan (20% x gaji) : Rp1.000.000

 

Lalu misalkan kamu mengalami pemotongan gaji sampai 50%, jadi:

 

  • Gaji setelah ada penyesuaian : Rp2.500.000
  • Tabungan per bulan (20% x gaji) : Rp500.000

 

Jumlah yang kamu tabung memang akan berkurang dari biasanya, tapi setidaknya tetap ada uang yang kamu simpan, yang siapa tahu bisa kamu gunakan untuk masa-masa yang lebih sulit. 

 

Baca juga: Bangkit Setelah Kena PHK, Lakukan 5 Hal Ini Agar Tetap Semangat

 

Nah, itu dia langkah-langkah yang sekiranya bisa dilakukan jika kamu mengalami pemotongan gaji di saat COVID-19 seperti ini. Yang harus kita siapkan secara mental adalah kita tidak bisa lagi melakukan gaya hidup yang sama seperti ketika mendapatkan gaji tanpa potongan.

 

Saya tidak bilang ini akan mudah, karena akan ada banyak pengorbanan selama masa penyesuaian ini. Tapi percaya, deh, ini tidak akan berlangsung selamanya. Mungkin bukan dalam waktu yang cepat, tapi pasti akan berangsur-angsur baik dan kembali normal. 

 

Untuk kamu yang juga ingin tahu perkembangan finansial dan tips mengatur keuangan selama pandemi COVID-19 ini, kamu juga bisa cek langsung di kolom FOKUS SWARA, ya. Selamat membaca!

Dilema Paket Data untuk Belajar di Rumah Selama COVID-19

SWARA – Sama seperti halnya para pekerja, para pelajar juga sudah memberlakukan belajar dari rumah, atau yang sekarang disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Terutama di DKI Jakarta, PJJ ini sudah diterapkan sejak 16 April 2020. Artinya, proses belajar mengajar yang biasanya dilakukan di dalam kelas, harus pindah ke pembelajaran secara online yang bergantung juga pada paket data.

 

Saya jadi ingat dengan cerita salah satu Asisten Rumah Tangga (ART) teman saya yang bercerita kalau anaknya sudah mulai belajar dari rumah. Yang beliau ceritakan lebih kepada beban finansial tambahan lain karena harus menambah pengeluaran untuk paket data agar anaknya bisa belajar.

 

Nggak perlu ngomongin soal paket data pelajar, yang bekerja aja jadi megap-megap karena bujet untuk paket data mendadak bengkak. Yang biasanya cuma menghabiskan paling banyak Rp200.000 per bulan, sekarang bujet yang sama bisa habis dalam waktu seminggu saja.

 

Kenapa nggak pasang wifi? Untuk kondisi ART teman saya yang untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja sulit, rasanya memasang wifi di rumah dan bayar bulanan yang tidak murah, bukan pilihan utama. Lalu untuk yang mampu pun, belum tentu area rumahnya sudah dimasuki jaringan internet. Yang lebih parah lagi, masih banyak perumahan yang areanya dimonopoli oleh satu provider saja. Sudah tidak ada pilihan, koneksi belum tentu bagus, mahal pula.

 

Lalu bagaimana sebenarnya kesiapan pemerintah terkait dengan masalah paket data untuk pelajar yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap internet, baik dari segi bujet maupun lokasi?

 

Ada juknis BOS terbaru terkait paket data

Saya jadi cari-cari tahu apakah masalah paket data ini menjadi perhatian dari pemerintah pusat dan daerah? Masalahnya, proses pembelajaran kan tetap harus berjalan walau ada kendala finansial. Belum lagi masih harus membayar uang sekolah.

 

Kalau diurutkan sesuai tanggal pembahasannya, dilansir dari cnnindonesia.com pada tanggal 9 April 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan bahwa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dapat digunakan guru dan murid untuk membeli paket data selama kegiatan belajar dilakukan di rumah di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

 

Lalu pada tanggal 15 April 2020, menurut Juknis Dana BOS terbaru yang dikeluarkan oleh Kemendikbud terkait dengan keadaan darurat COVID-19, Kemendikbud memperbolehkan satuan pendidikan menggunakan dana BOS dan BOP:

  1. Untuk pembelian pulsa/paket data bagi pendidik dan peserta didik.
  2. Digunakan untuk pembiayaan layanan pendidikan online berbayar bagi pendidik dan/atau peserta didik dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran dari rumah. 
  3. Digunakan untuk pembelian cairan atau sabun pembersih tangan, cairan pembasmi kuman (disinfektan), masker, maupun penunjang kebersihan lainnya.

 

Lalu mengapa masih ada keluhan yang diterima oleh KPAI mengenai hal ini?

 

Survei KPAI: siswa keluhkan paket data

Jadi sebenarnya kalau mengacu pada dua pernyataan di atas, sebenarnya baik siswa maupun guru, bisa menggunakan dana BOS ini untuk beli paket data. Namun, kenapa masih banyak yang belum merasakan manfaatnya? Apakah ini kembali ke kebijakan sekolah masing-masing?

 

Dilansir dari kompas.id, pada tanggal 13-20 April 2020, KPAI sempat menyebarkan survei PJJ kepada 1.700 siswa dari berbagai jenjang. Ternyata sekitar 42,2% siswa mengatakan mengalami kesusahan terkait paket data.

 

Maka tidak heran, dari hasil survei yang sama, sekitar 52,8% responden kepada pemerintah agar menggratiskan internet karena PJJ cenderung lebih banyak memakai metode daring yang menghabiskan kuota.

 

Hal ini pun menjadi salah satu usulan KPAI dalam Rakornas KPAI, yaitu agar pemerintah daerah kembali menegaskan dana bantuan untuk paket data dalam proses PJJ ini, baik untuk guru maupun siswa.

 

Saya cuma berharap hal ini tidak berhenti menjadi sekadar pertimbangan saja, tapi bisa melahirkan keputusan yang berdampak baik bagi para siswa. Jangan sampai karena masalah paket data, proses belajar menjadi beban baru bagi pelajar, pengajar, juga orang tua (yang tentunya harus men-support bujet paket data). Selamat Hari Pendidikan!

Menyambut Hari Buruh, Ini 3 Hal yang Sedang Terjadi di Dunia Pekerja

SWARA – Tampaknya Hari Buruh Sedunia tahun 2020 akan berjalan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya pada tanggal 1 Mei para buruh di seluruh dunia akan turun ke jalan dan memaparkan apa tuntutan mereka terhadap para penyusun regulasi pekerja.

 

Namun dikarenakan adanya wabah COVID-19, alih-alih berdemo, para buruh akan turun ke jalan untuk melakukan kegiatan sosial berupa membagikan ribuan APD bagi tenaga kesehatan di Jakarta, Bekasi Tangerang, dan kota-kota lainnya. Hal ini untuk membuktikan juga kalau buruh bukan hanya bisa berdemo, tapi juga melakukan hal yang berdampak.

 

Selain itu, Andi Gani selaku Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) mengatakan akan ada kegiatan penggalangan dana sosial bagi buruh yang terkena dampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

 

Namun selain itu, ada beberapa hal lain terkait dengan dunia kerja dan usaha, yang sedang terjadi dan rasanya sayang untuk kita lewatkan. Apa saja, ya?

 

Pro-Kontra Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja

hari buruh omnibus law

 

Saya termasuk orang yang tidak mengikuti perkembangan proses pengesahan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja di Indonesia, tapi sedikit-sedikit tahu apa yang sedang ramai dibicarakan.

 

Pada awalnya Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja ini diciptakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Jadi diharapkan dengan disahkannya RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, maka regulasi yang ngejelimet yang bisa membuat proses bisnis jadi lambat, akan jadi lebih cepat.

 

Masalahnya, ada beberapa poin yang terasa janggal di klaster ketenagakerjaan. Dilansir dari detik.com, menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, ada 3 poin yang jadi kejanggalan dalam RUU ini dan harus kerap dikritisi, terutama menjelang Hari Buruh.

 

1. Pekerja akan dibayar per jam jika bekerja kurang dari 40 jam.

Hal ini bisa jadi celah bagi pengusaha yang akan dengan sengaja mengurangi jam kerja demi membayar per jam, bukan dengan sistem gaji pokok.

 

2. Tidak adanya hukum yang mengatur sanksi jika perusahaan tidak memberikan hak ketenagakerjaan bagi pekerjanya.

Dikhawatirkan akan semakin banyak perusahaan bandel yang jadi menihilkan hak para pegawainya, salah satunya adalah THR.

 

3. Tidak ada pengaturan soal pesangon bagi pekerja.

Ini pun dinilai bisa membenarkan para pengusaha untuk tidak memberikan pesangon penggantian masa kerja yang sudah diatur sebelumnya di UU nomor 13 tahun 2003, yang menjadi hak para pekerja. 

 

Hukum ini bukan saja berdampak bagi para buruh, tapi juga pekerja kalangan menengah, seperti saya. Pusing kepalaku.

 

Sejauh ini proses pengesahan atau penolakannya cukup angot, belum ada tindakan tegas. Tapi dilansir dari cnnindonesia.com, pada tanggal 27 April 2020 lalu, DPR mengusulkan untuk menghapus pengaturan klaster ketenagakerjaan dan fokus saja dalam mengatur soal mempermudah investasi.

 

Di Hari Buruh tahun ini pun, Andi Gea kembali mengingatkan pemerintah untuk merevisi isi Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, terutama di klaster ketenagakerjaan.

 

Baca juga: Panduan Investasi Selama Pandemi Corona Covid-19

 

Pelaku bisnis melakukan penyesuaian

hari buruh delivery service

 

Dampak yang diberikan oleh COVID-19 bukan hanya dirasakan oleh para pekerja di bidang kesehatan, tapi juga menampar keras para pelaku bisnis. Tidak pandang bulu, hal ini mempengaruhi semua sektor bisnis, baik yang kecil, menengah, maupun yang sudah besar sekali pun.

 

Di artikel 3 Hal yang Bisa Diterapkan Bisnis UMKM Pasca Krisis COVID-19, saya bercerita sedikit bagaimana kenalan saya yang sedang merintis usaha kopinya terpaksa tutup untuk sementara sampai semua keadaan kembali normal. 

 

Begitu juga dengan warung soto di kompleks perumahan saya yang terpaksa merumahkan karyawannya karena profit merosot, yang disebabkan oleh sepinya pengunjung, dan tak mampu lagi membayar upah pekerja.

 

Tapi tidak semua menyerah begitu saja. Banyak juga usaha yang akhirnya putar otak demikian keras untuk bertahan, salah satunya Toko Kopi Tuku.Untuk mengatasi pengunjung yang berkurang, mereka berinovasi dengan menjual Kopi Susu Tetangganya yang hits itu dengan kemasan botol 1L. Jadi pelanggannya pun tetap bisa menikmati kopi favorit mereka tanpa harus keluar rumah.

 

Yang dilakukan oleh Toko Kopi Tuku ini hanya salah satu contoh strategi bisnis yang bisa dilakukan oleh pelaku bisnis lain. Intinya, di keadaan seperti ini, memang diperlukan strategi yang kreatif agar usaha tetap berjalan, walau lebih lambat dari biasanya.

 

Baca juga: 5 Hal yang Bisa Pengusaha Lakukan untuk Mempertahankan Bisnis UMKM di Tengah Pandemi

 

Work From Home jadi sesuatu yang normal

hari buruh kerja dari rumah

 

Sejak bulan Maret 2020, saya sudah mulai bekerja dari rumah dan sampai sekarang kantor saya selalu menyarankan selama kebutuhan bekerjanya bisa dipenuhi dari rumah, sebaiknya tidak bekerja dari kantor dulu.

 

Setidaknya mayoritas perusahaan yang ada di jakarta sudah memberlakukan sistem kerja seperti ini. Lalu mulai banyak studi yang memaparkan kalau sistem kerja dari rumah ini bisa menjadi hal yang normal untuk dilakukan, bahkan setelah COVID-19 ini berlalu.

 

Menurut fastcompany.com, disinyalir kalau sistem seperti ini akan menjadi hal biasa karena ternyata orang bekerja dari rumah dinilai lebih produktif. Mereka bisa mengatur kegiatannya sendiri dan mencapai target dengan lebih tepat. 

 

Saya termasuk orang yang sangat beruntung karena masuk ke golongan tersebut. Sebagai orang yang tinggal di pinggiran Jakarta, waktu pulang pergi 2,5 jam dari rumah-kantor-rumah setiap hari bisa saya manfaatkan untuk melakukan hal lain, seperti olahraga atau memasak menu baru. Setelah itu, mood membaik dan semangat kerja lagi.

 

Jadi jangan heran jika setelah ini semua berlalu, banyak perusahaan yang akan mengurangi hari kerja di kantor dan digantikan dengan bekerja dari rumah. Karena ternyata sistem bekerja seperti ini dinilai efektif.

 

Baca juga: SWARA KAMU: Hal-hal Yang Bisa Kamu Lakukan di Rumah Selama Work From Home

 

Lalu bagaimana denganmu? Semoga semua dalam keadaan yang baik-baik saja. Teruntuk yang sedang berjuang untuk kembali membangun bisnis dan karier di tengah COVID-19, SEMANGAT! This too shall pass. Ini semua pasti akan berlalu dan kembali normal. Semoga setelah Hari Buruh ini, semua akan semakin jelas dan membaik.