SWARA – Kedekatan antara anak dan orangtua ditandai dengan keterbukaan anak dalam bercerita. Saat kecil, anak mungkin cerewet dan suka bertanya ini-itu kepada orangtuanya. Hal ini tentu memudahkan orangtua dalam mengetahui hal-hal yang terjadi dengan anak, termasuk pikiran dan perasaan anak. 

 

 

Namun, bagaimana jika anak enggan untuk bercerita karena punya sifat introvert? Hal ini tentu membuat orangtua bingung. Situasi lain yang mungkin terjadi adalah ketika sikap anak berubah menjadi tertutup dan menjadi pendiam. Hal ini akan membuat orangtua bertanya-tanya dan menjadi khawatir terhadap perkembangan psikologis si anak. 

 

Agar lebih jelas, ada beberapa alasan yang dapat menjadi penyebab anak tertutup kepada orangtua. 

  • Anak memiliki kepribadian introvert
  • Komunikasi nggak lancar karena orangtua jarang mengajak anak berbicara
  • Orangtua bersikap otoriter dan nggak mendengarkan cerita anak 
  • Saat berbicara, orangtua sering memotong pembicaraan dan menunjukkan prasangka buruk
  • Kurangnya kepercayaan anak kepada orangtua karena orangtua pernah membuka rahasia anak dengan orang lain. 

 

Agar anak mau bercerita, maka orangtua harus melakukan beberapa langkah penting. 

1. Bertanya

Sebagai orangtua, kamu harus menciptakan ruang yang aman, jujur, dan respectful antara kedua belah pihak. Dengan begini, orangtua bisa bertanya kepada anak, “Apa semua baik-baik saja?” tanpa membuat anak harus bersikap likable atau cerdas. Intinya, agar mau berbagi cerita, anak harus lebih dulu merasa aman dan dicintai serta mendapat dukungan dari orangtuanya.  

 

Artikel Terkait: Pendidikan anak. 

  1. Perlukah Anak Belajar Bahasa Asing Sejak Dini? Berikut Manfaatnya!
  2. Ini Potret Kedekatan David Beckham dengan Putrinya Harper Beckham
  3. Mengapa Edukasi Seks Perlu Diterapkan ke Anak Sejak Dini?

2. Beri ruang untuk anak

Anak yang tertutup kepada orangtua bisa jadi punya sikap introvert ataupun sedang marah. Sebagai orangtua yang efektif, berikanlah “personal space” kepada anak untuk memproses emosinya. Biarkan akan mengidentifikasi dan memproses perasaannya. Ketika mereka siap, bantulah anak untuk melaluinya.

3. Tunjukkan empati

Terkadang lebih mudah untuk berbagi situasi atau pengalaman hidup yang menyedihkan. Tunjukkan empati kepada anak dan katakan bahwa membicarakan masalah itu akan membantu dalam melegakan hati. Berbicara dan fokus kepada hal positif dari sebuah masalah akan membantu anak melalui masa-masa berat. 

4. Menggunakan media

 

Orangtua juga bisa menggunakan media, seperti film atau serial televisi dengan karakter yang mengalami kesedihan dan berbagi hal itu dengan orang terdekat. Gunakan pengalaman karakter film itu ketika berbicara dengan anak.

 

Sebagai contoh, orangtua dapat berkata, “Ingat nggak saat SpongeBob bersedih dan nggak mau meninggalkan Krusty Krab selama berhari-hari?”, yang dapat dilanjutkan dengan, “Apa kamu merasa begitu juga?”. Metode ini memerlukan orangtua dan anak untuk menghabiskan waktu bersama menonton televisi atau pergi ke bioskop. 

Artikel Terkait: Memilih pola asuh yang tepat untuk anak. 

  1. Cara Terbaik Mengasuh Anak Angkat atau Anak Adopsi
  2. Jurus Kompak Besarkan Anak Bersama dengan Mertua
  3. Hai Orang Tua, Kepribadian Anak Ternyata Bisa Diketahui dari Kecil

5. Kreatif bersama-sama

Cara-cara kreatif juga dapat membantu anak dalam membicarakan masalahnya dengan orangtua. Medium seperti menggambar, mengecat rumah burung, bermain dengan tanah liat, dan menyelesaikan puzzle bisa menjadi kegiatan kreatif bersama.

 

Hal ini penting. Sebab, ketika anak merasa nyaman, anak cenderung lebih terbuka tentang apa yang mereka pikirkan. Dengan memasuki dunia anak dan terhubung dengan mereka, anak akan merasa aman dan teralihkan untuk menceritakan perasaan sebenarnya dengan orangtua. Bahkan, anak dapat meminta saran untuk menghadapi situasi seperti perisakan, teman yang nakal, atau guru yang bersikap nggak adil. 

 

Membesarkan anak memang tricky, karena anak nggak selalu mau terbuka kepada orangtua. Namun hal itu dapat diatasi jika orangtua mau bersikap terbuka dan memahami kebutuhan anak. Jangan lupa untuk melakukan lima strategi di atas.