SWARA – Setiap tanggal 28 April, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Puisi Nasional. Peringatan tersebut ditujukan khusus untuk menghargai peran besar seorang penyair Indonesia, yaitu Chairil Anwar.

 

Tanggal 28 April dipilih karena sesuai dengan tanggal wafatnya Chairil Anwar pada tahun 1949.

 

Pesona dan kearifan lokal Indonesia yang begitu luar biasa, membuat banyak orang menjadi terinspirasi untuk membuat sebuah karya sebagai bentuk apresiasinya. Salah satunya yaitu para sastrawan, mereka mengabadikan keindahan Indonesia dalam sebuah karya sastra yang indah.

 

Puisi

 

Salah satu karya para sastrawan yang sangat terkenal di Indonesia adalah puisi. Yap, puisi.

 

Puisi menjadi salah satu karya sastra yang paling dikenal di Indonesia, karena puisi sudah diberikan sejak seorang anak menginjakkan bangku sekolah dasar. Maka tidak heran, banyak yang tahu tentang puisi dibanding jenis karya sastra lainnya.

 

Indonesia memiliki sejumlah sastrawan yang namanya sudah tersohor, baik di negeri sendiri hingga ke mancanegara. Puisi-puisi yang mereka ciptakan juga telah melegenda dan tidak kalah dengan penyair-penyair di dunia.

 

Karya para sastrawan tersebut juga berpengaruh pada kesusasteraan di Tanah Air. Sehingga, sejumlah judul puisi karya sastrawan tersebut bisa melekat di benak kita.

 

Artikel Terkait: Ragam menarik tentang sastra

  1. Tertarik Ambil Jurusan Sastra Inggris? 5 Hal ini Wajib Kamu Ketahui
  2. 10 Pekerjaan Menjanjikan Untuk Lulusan Jurusan Sastra
  3. Lulusan Bahasa atau Sastra, Bisa Kerja Jadi Apa, Sih?

 

Nah, berikut adalah beberapa sastrawan Indonesia dengan karyanya yang melegenda.

 

1. Chairil Anwar

 

Sumber: independennews.com
Sumber: independennews.com

Sastrawan pertama yang akan kita bahas kali ini adalah Chairil Anwar. Sosok ini begitu lekat dan fenomenal di dunia kesusasteraan Indonesia karena karya-karyanya yang luar biasa.

 

Salah satu karyanya yang begitu lekat di benak adalah karya yang berjudul “Aku”. Puisi tersebut dianggap sebagai tonggak sastra di tahun 45-an, karena isi dari puisi ini adalah suara hati yang ingin memberontak dari segala penindasan yang ada.

 

Berikut adalah salah satu karyanya yang berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”

 

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

Di antara gudang, rumah tua, pada cerita

Tiang serta temali.

Kapal, perahu tiada berlaut

Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

 

Gerimis mempercepat kelam

Ada juga kelepak elang menyinggung muram

Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan

Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak

 

Tiada lagi. Aku sendirian.

Berjalan menyisir semenanjung

Masih pengap harap

Sekali tiba di ujung

Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat

Sedu penghabisan bisa terdekap

 

2. Sapardi Djoko Darmono

 

Sumber: gramedia.com
Sumber: gramedia.com

Sastrawan selanjutnya adalah Sapardi Djoko Darmono, yang dikenal dengan Bapak Hujan Bulan Juni. Sastrawan yang lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 ini dikenal juga dengan karyanya yang mampu melampiaskan rindu dan cinta yang tulus terhadap hal apapun.

 

Selain itu, karya yang ia buat juga mengandung lirik yang tampak begitu sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam. Beberapa karya fenomenalnya antara lain “Hujan Bulan Juni” dan “Aku Ingin”.

 

Berikut adalah salah satu karyanya yang berjudul “Aku Ingin”

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

3. Sutardji Calzoum Bachri

 

Sumber: Mediaindonesia.com
Sumber: Mediaindonesia.com

Berikutnya adalah sosok yang dikenal sebagai “Presiden penyair Indonesia”, yaitu Sutardji Calzoum Bachri yang akrab dipanggil dengan sebutan Bung Tardji. Ia terkenal sebagai salah satu sastrawan yang memelopori puisi kontemporer di Indonesia.

 

Sastrawan yang lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941 ini telah meraih beberapa penghargaan bergengsi, salah satunya adalah Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand pada tahun 1979.

 

Berikut ini adalah salah satu karyanya yang berjudul “Mantera”.

 

Lima percik mawar

Tujuh sayap merpati

Sesayat langit perih

Dicabik puncak gunung

Sebelas duri sepi

Dalam dupa rupa

Tiga menyan luka

Mengasapi duka

Puah!

Kau jadi kau!

Kasihku

 

Artikel Terkait: Berbagai ragam menarik di tanah air

  1. Deretan Lagu Hits Musisi Indie Tanah Air, Ada yang Sampai Mendunia, Lho!
  2. Tren Bisnis Oleh-oleh Kuliner dari Para Seleb Tanah Air
  3. Yuk, Belajar Investasi dari Kisah Pahit Selebriti Tanah Air

 

4. W.S Rendra

 

Sumber: malangtoday.net
Sumber: malangtoday.net

Memiliki nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, sastrawan ini terkenal dengan julukan sebagai “Burung Merak”. Ia sudah aktif di dunia sastra sejak dirinya berkuliah, dengan menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

 

W.S Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Rendra di Depok. Karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga dikenal di luar negeri. Beberapa karyanya bahkan diterjemahkan dalam beberapa bahasa, seperti Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

 

Berikut adalah salah satu karyanya yang berjudul “Kenangan dan Kesepian”

 

Rumah tua dan pagar batu

Langit di desa sawah dan bambu

Bekenalan dengan sepi

Pada kejemuan disandarkan dirinya

 

Jalanan berdebu

Tak berhati lewati nasib menatapnya

 

Cinta yang datang

Burung tak tergenggam

Batang baja waktu lengang

Dari belakang menikam

 

Rumah tua

Dan pagar batu

Kenangan lama

Dan sepi yang syahdu

 

Nah, itu tadi adalah 4 sastrawan tersohor yang terkenal atas karya-karyanya. Bukan hanya itu, masih ada sastrawan lainnya yang juga tersohor dan memiliki keunikannya masing-masing.

 

Tentunya, para sastrawan tersebut telah menyumbangkan kemampuannya dalam bidang kesusasteraan dan juga bisa menginspirasi semua orang di Indonesia. Mereka juga menunjukkan bahwa mencintai Indonesia itu bisa dengan berbagai cara, ya salah satunya dengan karya sastra.


dhandyDhandy Dwi Yustica