SWARA – Berani taruhan, pasti kamu udah nggak asing lagi dengan nama Bukalapak. Dalam beberapa tahun terakhir, e-commerce tersebut telah menorehkan segudang prestasi dan berhasil menjadi salah satu perusahaan start-up yang paling sukses dan diminati banyak orang di Indonesia. 

 

Namun, di tengah kesuksesan itu, CEO dan salah satu perintisnya, Ahmad Zaky, malah mengundurkan diri. Ini bikin khalayak umum bertanya-tanya. Pasalnya, perjalanan Zaky dalam membangun Bukalapak bukanlah kerja mudah dan pendek. Zaky justru melalui berbagai macam fase dan tantangan dalam hidupnya hingga berhasil menorehkan masuk dalam Daftar 150 Orang Terkaya di Indonesia.

 

Menurut Popbela, Zaky telah menyukai dunia teknologi sejak SMA. Namun sejak kecil dia sudah belajar pemrograman dari membaca buku yang dibelikan pamannya. Hasilnya, Zaky sudah khatam mengoperasikan komputer pada umur 11 tahun! Nggak hanya itu, Zaky pun rajin berinovasi. Pada 2007, dia menciptakan perangkat lunak yang dapat mempercepat penghitungan survey, MobiSurveyor. Berkat temuan ini, Zaky pun menyabet Merit Award dalam kompetisi Indonesia ICT Awards(INAICTA) pada 2008.

 

Artikel terkait: Pahami lebih jauh soal startup

  1. 5 Kiat Sukses Membangun Startup dari Awal
  2. Melirik Investasi di Bisnis Startup? Ini Plus Minus yang Perlu Kamu Ketahui
  3. Tips Jitu Sukses Kelola Startup

 

Namun, Zaky tak melulu mencecap kesuksesan. Dia pernah beberapa kali gagal. Sempat dia beralih menjadi penjual mie ayam. Namun, pada 2010, usaha itu tutup. Nggak menyerah, Zaky mencari akal. Saat itulah, bersama dua orang temannya, dia mendirikan sebuah perusahaan start-up pada 2011. Pada akhirnya, Bukalapak lahir. 

 

Berbekal domain seharga Rp80.000, Zaky bersama mitranya memulai sejarah. Namun, pada titik ini pun, Zaky masih menghadapi berbagai macam tantangan. Pada waktu itu, e-commerce bukanlah sebuah hal familiar seperti sekarang ini. Banyak pedagang yang menolak menjadi mitra Zaky karena saat itu konsep tersebut masih asing. Nggak hanya itu, Bukalapak bahkan hampir bangkrut dan sempat stagnan pada periode 2011 hingga 2015. 

 

Nggak mau menyerah, Zaky dan timnya terus mengembangkan Bukalapak. Dari pengguna awal sebanyak 100.000, lalu menjadi 35 juta pengguna pada 2018. Perusahaan yang berpusat di Kemang ini pun semakin berkembang setelah merilis aplikasi untuk Android dan iOS pada 2015. 

 

Dari segi investasi, Bukalapak mendapat suntikan dana yang membantunya menjalankan dana dari perusahaan Jepang hingga pendanaan seri B dari Emtek Grup. Namun, Bukalapak meraih prestasi tertinggi pada 2017, kala e-commerce itu menjadi perusahaan start-up kategori unicorn dengan valuasi US$ 1 miliar, atau setara dengan Rp14,2 triliun! Bahkan pada Oktober 2019, Bukalapak kembali menerima suntikan dana dari Shinhan Financial Grup asal Korea Selatan. Disebut-sebut, tambahan investasi itu menaikkan nilai Bukalapak menjadi US$2,5 miliar atau sekitar Rp35 triliun. 

 

Fakta-fakta di atas menjawab bahwa mundurnya Zaky dari posisi CEO bukan tanda-tanda kegagalan pengusaha muda itu. Zaky justru ingin membuat nama Bukalapak semakin berkembang. Caranya, dengan fokus menjadi Pengawas serta Mentor Tech Startup. Tak hanya itu Zaky pun tetap beraktivitas sebagai pemimpin dari Yayasan Zaky Foundation. 

 

Inspirasional sekali ya. Salut buat Zaky!