SWARA – Ada yang bilang, adu argumen dengan pasangan itu menyehatkan. Ada juga yang bilang, justru bawa penyakit! Yang mana sih, yang benar?

 

Artikel terkait: untuk pasangan pengantin baru

  1. 7 Hal Penting Jalani Hidup Sebagai Pasangan Pengantin Baru, Bikin Makin Mesra!
  2. 7 Tips Pernikahan Awet dan Bahagia Bagi Para Pasangan Baru Menikah
  3. 10 Hal Kecil dan Sederhana untuk Mempererat Masa Awal pernikahanmu

 

Well, kedua pernyataan ini benar, kok. Tergantung dari adu argumen seperti apa yang kalian lakoni saja. Adu argumen yang sehat, ya bisa meningkatkan kualitas hubungan dan berujung pada kesehatan jiwa serta mental kalian. Namun, sebaliknya, kalau konfliknya cenderung negatif, bisa berdampak ke kesehatan fisik juga, lho.

 

Bagaimana bisa konfilk dengan pasangan mempengaruhi kesehatan fisikmu?

Saat kamu mengalami stres, tubuh fisikmu pasti akan bereaksi, kan? Kelelahan ekstrem, insomnia, tekanan darah, dan lain sebagainya. Pun saat terjadi ‘tekanan’ di hubungan asmaramu. Pasalnya, manusia itu pada dasarnya dianugerahi rasa ingin dicintai dan keinginan untuk berhubungan dengan manusia lain. Dan, saat hubungan ini terganggu, maka, tubuh dan kondisi psikis akan terganggu.

 

Contohnya? Penyakit autoimun yang bermula dengan sindrom leaky gut.

 

Sindrom leaky gut sendiri adalah kondisi terjadinya peningkatan permeabilitas (kemampuan meloloskan partikel) usus, yang berarti jaringan saluran pencernaan mengalami kerusakan sehingga nutrisi tidak terserap maksimal dan ada kebocoran protein (gluten), bakteri jahat, dan partikel yang tidak tercerna, ke aliran darah. Kebocoran ini kemudian menyebabkan pembengkakan di organ internal (gut) seseorang dan memicu ke berbagai isu kesehatan lain, seperti, diabetes, kardiovaskular, arthritis, dan lain-lain.

 

Bedanya adu argumen yang sehat dan yang nggak sehat

Tentunya kamu nggak mau kan gangguan kesehatan ini menimpamu dan pasangan? Kalau begitu ya, kalian berdua harus mampu membedakan adu argumen yang sehat nan konstruktif dengan yang sebaliknya.

 

Dikutip dari refinery29.com, Jane Greer, pengarang buku “What About Me? Stop Selfishness from Ruining Your Relationship”, yang membedakannya adalah output-nya. Argumen yang sehat menghasilkan satu kesimpulan atau jawaban dari permasalahan yang kalian perdebatkan. Kemudian, ujung pangkal dari perdebatan kalian biasanya adalah sesuatu yang bersifat ketidaksetujuan/ketidakcocokan nilai antara kamu dan pasangan, alih-alih sekadar marah tanpa sebab. Misalkan saja, perbedaan cara mengasuh anak.

 

Dan, satu hal lagi yang paling penting, ‘berantem’ yang sehat itu, saat kamu dan pasangan itu bisa menjaga sikap dan nggak bertindak buruk. Seperti, mengeluarkan kata-kata kasar, merendahkan, atau yang terburuk, main fisik! Kalian berdua harus tahu dan bersedia untuk saling mendengarkan, mencari jalan keluar, dan tentunya kompromi. Menyadari bahwa kamu harus mengalah demi kebahagiaan pasangan dan tentunya hubungan kalian, adalah bagian tak terelakkan.  Sseperti yang pernah dibilang oleh Ross Geller di FRIENDS, marriage is about compromising things. Setuju nggak?

 

Artikel terkait: Kompromi untuk berbagai isu di pernikahan

  1. 5 Cara Terbaik Tetap Bahagia Meski Belum Dapat Momongan
  2. Tinggalkan Hal Berikut Ini untuk Hubungan yang Lebih Berkualitas
  3. Kegalauan Wanita yang Baru Menikah: Berkarier atau Urus Keluarga