SWARA – Ketika ibu-ibu sedang ngumpul, godaan untuk ngerumpiin orang memang dahsyat. Entah saat arisan, saat menjemput anak sekolah atau sekadar ketemu di luar halaman karena nungguin tukang sayur lewat. Seakan ada setan di antara kita yang menjerumuskan. Awalnya sih cuma berbagi keluhan soal suami atau anak, tapi lama-lama ngobrolin aib tetangga sebelah. Nah, makin nggak sehat, ākan?
Ketimbang ngerumpi, curhat, dan ngomongin kejelekan orang, mending manfaatkan waktu berkumpul bersama ibu-ibu lain untuk melakukan 5 hal positif ini. Apa aja?
- Daripada ngomongin kejelekan orang, mending buka usaha bareng buat nambah pemasukan.
Gunakan momen ngumpul ini untuk nambah pemasukan, alih-alih ngomongin orang. Kita bisa ajak ibu-ibu penyuka fashion yang baju-bajunya hits untuk buka online shop bareng. Atau, bisa juga manfaatkan hobi bereksperimen di dapur untuk buka usaha makanan ringan seperti kue-kue kering atau kolak pisang mumpung sebentar lagi bulan puasa. Selain menambah pemasukan, kreativitas dalam mengolah makanan juga bakal berkembang.
- Karena punya usaha, jadikan momen ngumpul besar seperti arisan buat memasarkan produknya.
Nggak ada momen yang lebih pas untuk memasarkan produkmu, selain arisan. Di sini, kamu bisa mulai membidik pasar untuk produkmu dari lingkup RT dan RW. Bawalah beberapa sampel brownis kukusmu dan tawarilah mereka untuk mencicipi. Jika mereka menyukainya, tak usah ragu membuka pre-order produkmu. Plus, jangan lupa sedikit āpereusā tentang keunggulan produk-produkmu supaya mereka makin tertarik membelinya ya.
- Sering ngumpul bareng ibu-ibu yang punya hobi sama? Bikin komunitas aja.
Berawal dari mengikuti kumpulan ibu-ibu tingkat RT atau sekadar bertemu dengan sesama ibu-ibu saat menjemput anak di sekolah, kamu bisa membuat komunitas. Sederhana saja, tak usah muluk-muluk. Seperti komunitas rajut, untuk para ibu yang punya hobi merajut atau komunitas blogger untuk para ibu yang senang mengisi waktu dengan menulis.
Tidak sekadar mewadahi hobi, komunitas seperti ini juga membiasakan kita untuk berpikir kreatif dan mengembangkan diri. Bahkan kalau kita lebih jeli, komunitas ini juga bisa berkembang menjadi komunitas bisnis, yang tentu saja akan membawa keuntungan.
- Mengadakan kegiatan atau aksi sosial.
Nggak perlu aksi sosial yang membutuhkan dana besar, aktivitas sesederhana memunguti Ā sampah di komplek perumahan pun jauh lebih produktif dilakukan daripada sekadar ngerumpi. Kamu dan ibu-ibu tetangga bisa membuat kesepakatan untuk melakukan satu kebaikan setiap minggunya, entah itu kerja bakti, menanam pohon, atau mengumpulkan buku dan pakaian bekas untuk disumbangkan pada sekolah-sekolah darurat, dsb. Yang kita perlukan hanyalah kepekaan sosial untuk melihat permasalahan di sekeliling dan niat untuk menyumbang solusi. Betapa tindakan yang mulia.
- Bikin bazar makanan atau baju bekas juga oke, lho. Dananya bisa untuk bakti sosial atau tambahan kas paguyuban ibu-ibu RT.
Untuk urusan dana kolektif gini, ibu-ibu jagonya! Mereka seolah punya segudang ide untuk menghasilkan uang, entah dari mengreasikan masakan atau menjual barang bekas yang masih layak pakai seperti pakaian atau tas. Tinggal cari lokasi yang oke untuk jualan, sekumpulan ibu-ibu bisa menyulap kreasi masakan atau barang-barang yang sudah tak diperlukan di rumah jadi sejumlah uang. Nah, selanjutnya tinggal salurkan uang ini ke tempat yang tepat: untuk baksos di panti asuhan atau sekadar menambah kas dana paguyuban ibu-ibu RT.
Gimana, masih mikir kalau ibu-ibu ngumpul cuma bisa ngerumpi? Plis deh, Ā masih banyak hal positif lain menunggu untuk dilakukan, ketimbang sekadar ngerumpi.
Kalau kamu punya pengalaman produktif lainnya bersama geng ibu-ibumu, yuk share di kolom komentar. Siapa tahu bisa menginspirasi.