SWARA – Saat membuka postingan di beranda instagram, perhatian saya terhenti pada suatu akun yang menampilkan foto bayi dengan kondisi yang butuh pertolongan. Setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata itu merupakan aksi crowdfunding yang digawangi oleh sebuah aplikasi bernama Kitabisa.com.
Melalui aplikasi tadi, kita bisa berdonasi kepada mereka yang membutuhkan tanpa perlu repot. Aplikasi ini juga bisa mempermudahmu untuk menemukan kepada siapa uang sedekahmu diberikan. Pasalnya, di luar sana ada juga pihak yang kurang memiliki akses untuk menemukan orang-orang yang benar-benar membutuhkan.
Tahukah kamu siapa sosok di balik aplikasi Kitabisa? Dia adalah M. Alfatih Timur. Lalu, apakah kamu juga sudah tahu kalau aksi sosialnya ini terinspirasi dari sang ayah? Yuk simak cerita CEO Kitabisa.com ini.
1. Sudah jadi aktivis sejak kuliah
Alfatih Timur atau yang akrab disapa Timmy merupakan pria kelahiran Bukittingi, 27 Desember 1991. Saat kuliah, dia menjabat sebagai Ketua Departemen Kemahasiswaan BEM Fakultas Ekonomi UI dan BEM UI. Aksinya membuka Kitabisa pun dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Artikel terkait: Tokoh inspiratif yang sebaiknya kamu ikuti
- 10 Tokoh Sukses dan Inspiratif yang Harus Kamu Ikuti di Instagram
- Inspiratif, Ini 4 Selebriti Muda Indonesia Jebolan Kampus Top Dunia
- Yuk, Kenalan dengan Tokoh yang Sukses Meniti Karir di luar Jalur Studi
2. Terinspirasi sang ayah
Niat Timmy dalam membuka plaftorm Kitabisa bukan tanpa sebab. Usahanya ini terinspirasi dari sang ayah yang sudah mengajarkan dia untuk memiliki jiwa sosial tinggi. Well, buah memang jatuh nggak jauh dari pohonnya, ya.
3. Mendapat arahan dari Rhenald Kasali
Niat Timmy dalam membangun usahanya ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Bahkan, Timmy mendapatkan arahan langsung dari Rhenald Kasali. Beliau merupakan akademisi, praktisi bisnis, sekaligus guru besar Universitas Indonesia. Dengan menyatukan perbuatan baik, kreatif, dan tekad kuat, akhirnya lahirlah Kitabisa.
4. Mampu bersaing
Dalam membangun Kitabisa, tentu saja Timmy mengalami banyak kendala. Maraknya aplikasi yang lebih diminati seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia, tentunya membuat langkahnya agak kesusahan. Pasalnya, investor di luar pastinya lebih memilih untuk memberikan asupan dana pada aplikasi yang banyak diminati. Namun, Timmy mampu membuktikan kalau Kitabisa pun mampu bersaing. Dia juga sukses menunjukkan bahwa Kitabisa bukanlah proyek kewirausahaan sosial yang hanya mampu bertahan sesaat.
5. Meluncurkan aplikasi
Kitabisa memang lahir di tahun 2013. Atas usahanya yang nggak patah arang, kini Kitabisa yang hanya berupa website sudah memiliki aplikasi sendiri sejak tahun 2017.
Artikel terkait: Aplikasi online yang ada di sekitar kita
- Intip Fitur-Fitur Whatsapp Business, Aplikasi Wajib Bagi Online Shop!
- Atur Keuangan untuk Rencana Liburan Panjang dan Gunakan Aplikasi Kredit Online Terbaik
- 10 Pertanyaan Anti-awkward untuk Memulai Obrolan di Aplikasi Online Dating
6. Tanpa biaya administrasi
Sebagai social enterprise, Kitabisa memang memungut biaya administrasi sebesar 5%. Namun, mereka tidak membebankan biaya administrasi khusus untuk santunan korban bencana alam dan zakat.
Itu dia kisah inspiratif dari Timmy. Semoga bisa menginspirasi kita semua untuk terus bergerak melakukan hal yang bermanfaat bagi banyak orang.