SWARA– Berinvestasi mungkin bisa jadi salah satu pilihan bisnis yang cukup berpotensi baik untuk dilakukan. Namun, bukan berarti investasi itu tanpa risiko. Risiko tetap ada, bahkan juga berpotensi untuk mendatangkan kerugian cukup besar kalau kamu enggak cermat menerapkannya.

 

Untuk meminimalkan potensi kerugian akibat penanaman investasi yang kurang cermat, kamu perlu memahami terlebih dahulu apa-apa saja bentuk risiko investasi yang kerap kali muncul.

 

Ada tujuh risiko yang mengincar dalam diam ketika kamu memutuskan untuk menanamkan modalmu pada suatu bisnis, apa saja kah itu? Berikut ulasannya.

 

Artikel terkait: tips berinvestasi

  1. Kenali lebih dalam Keuntungan dan Risiko Trading Forex
  2. 5 Jenis Investasi Saham yang Sebaiknya Dihindari di Tahun 2018 Ini!
  3. Lakukan 5 Hal Ini Jika Investasi di Bidang Properti Menunjukkan Tanda-Tanda Berbahaya

 

1. Risiko suku bunga

Risiko ini dapat digolongkan sebagai risiko yang muncul akibat adanya fluktuasi hebat pada perubahan suku bunga rata-rata. Perubahan suku bunga di pasar dapat memengaruhi pendapatan investasi.

 

Misalnya, suku bunga obligasi pada umumnya 8—10%. Namun, kemudian pemerintah mengeluarkan Sukuk Ritel yang memiliki suku bunga hingga 12%. Dengan demikian, pelaku investor pastinya akan lebh tertarik menanamkan modalnya pada Sukuk Ritel ini.

 

2. Risiko pasar

Jenis risiko ini bisa dikatakan sebagai fluktuasi pasar, di mana secara keseluruhan dapat memengaruhi variabilitas return dari tren investasi.

 

Hal ini dapat mengakibatkan capital loss pada pelaku investasi. Perubahan yang umumnya disebabkan adanya resesi pada ekonomi, isu, kerusuhan, dan spekulasi termasuk juga perubahan peta perpolitikan.

 

Contoh, isu kesehatan seorang presiden kemudian memberikan fluktuasi nilai dari rupiah terhadap dolar yang kemudian naik.

 

CTABARU3

 

Mobile Site CTA

3. Risiko inflasi

Risiko ini dapat melibatkan penurunan daya beli masyarakat yang berujung pada kerugian pada investasi, yang disebabkan oleh kenaikan rata-rata dari harga konsumsi.

 

Contoh paling mudahnya adalah ketika kondisi ekonomi Indonesia saat diterpa krisis moneter di akhir periode 90’an.

 

Selain itu, laju inflasi yang sudah diprediksi enggak sehat dapat berpotensi lebih besar lagi apabila pemerintah memberlakukan kebijakan yang kurang tepat seperti menaikkan harga BBM. Kenaikan seribu rupiah saja pada setiap liternya dapat berakibat semakin buruk pada laju inflasi yang kurang sehat.

 

4. Risiko likuiditas

Risiko jenis ini berkaitan dengan percepatan pada sekuritas yang diterbitkan oleh pihak perusahaan yang dapat diperdagangkan di ranah pasar sekunder.

 

Semakin cepat laju dari sekuritas diperdagangkan maka akan semakin likuid pula sekuritas tersebut.

 

Dengan kata lain, kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya pada jangka pendek atau juga jatuh tempo dengan cara menggunakan aset yang telah ada.

 

5. Risiko nilai tukar mata uang

Risiko jenis ini berkaitan dengan sebuah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Pada umumnya, risiko jenis ini juga disebut sebagai currency risk atau exchange rate risk.

 

Contoh; investor ingin menanamkan investasi yang mengharuskannya menggunakan mata uang US$. Di saat yang sama kurs rupiah terhadap US$ lemah, sehingga investor harus mengeluarkan rupiah dengan jumlah yang sangat banyak dibanding ketika nilai rupiah menguat.

 

Oleh sebab itu, menguatnya dolar terhadap rupiah bisa memberikan kerugian.

 

6. Risiko negara

Risiko ini sering juga dikenal sebagai “risiko politik”. Risiko ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perpolitikan suatu negara. Jenis risiko ini juga masih ada kaitan dengan ketentuan-ketentuan pada perubahan perundangan yang berpotensi untuk menurunkan tren pendapatan.

 

Bahkan, bukan hal yang mustahil kalau investasi yang sudah kamu tanamkan dapat hilang seketika saat terjadi goncangan pada tren investasi begitu hebatnya.

 

Kalau kamu berniat untuk menanamkan modalmu di luar negeri, alangkah baiknya kalau kamu pastikan kondisi perpolitikan di negara tujuan baik dan sehat. Sehingga, risiko kerugian bisa kamu minimalkan.

 

7. Risiko reinvestment

Risiko ini merupakan risiko yang terjadi pada penghasilan dari suatu “aset keuangan” yang memaksa perusahaan untuk melakukan aktivitas re-invest.

 

Jadi, ketika hendak melakukan re-invest, kamu harus benar-benar memahami apa itu re-invest serta bagaimana caranya agar bisa mengatur atau mengelola risiko investasi ini.

 

Artikel terkait: Ulasan lainnya untuk kamu yang membutuhkan tips berinvestasi

  1. Pahami 5 Hal Ini Sebelum Melakukan Investasi Barang Bermerek!
  2. 4 Langkah Investasi yang Wajib Dipahami Buat Kamu yang Berusia 20 Tahun
  3. Ingin Investasi Dalam Bentuk Rumah Kost? Perhatikan 5 Hal Ini

 

Itulah sedikitnya tujuh risiko investasi yang paling umum terjadi saat kamu melakukan aktivitas penanaman modal. Dengan memahami bagaimana risiko tersebut terjadi dan apa-apa saja yang berpotensi memicu, mulai sekarang kamu setidaknya dapat membaca tren investasi yang sedang berkembang.

 

Bagaimana dengan artikel yang kamu baca hari ini? Semoga bermanfaat untukmu, ya.

Jangan lupa, Tunaiku menyediakan pinjaman tunai cepat dan mudah, mulai dari Rp2-20 juta, yang bisa diangsur mulai dari 6-20 bulan. Yuk, ajukan pinjamanmu sekarang!


HENDRATANU WIJAYAHENDRATANU WIJAYA