SWARA – Berbagai negara di dunia telah mengalami resesi. Sebagai negara yang ikut terdampak pandemi Covid-19, Indonesia pun turut berada di ambang ancaman resesi. Secara khusus, resesi ekonomi akan menjadi tantangan baru bagi para generasi milenial.
Dikutip dari Liputan 6, penelitian menemukan bahwa generasi milenial terjebak dalam pasar tenaga kerja terburuk dalam 80 tahun. Generasi milenial dianggap sebagai generasi yang kurang beruntung dalam hal ekonomi dan memiliki peluang yang terbatas dalam hal meningkatkan kekayaan.
Salah satu contohnya adalah biaya pendidikan yang semakin lama semakin tinggi. Biaya yang tinggi tersebut menuntut generasi milenial untuk mencari pinjaman dana pendidikan. Akibatnya, setelah lulus, mereka masih memiliki beban untuk melunasi utang-utang dan tidak bisa langsung membeli tanah karena lahan yang sempit dan harga yang tinggi.
Ditambah lagi, di situasi pandemi seperti saat ini, lapangan pekerjaan tampaknya semakin terbatas, sementara masyarakat yang mencari kerja jumlahnya justru semakin tinggi. Bila kamu tidak mewaspadai dampak resesi bagi milenial, bisa-bisa kamu akan semakin sulit menjaga kondisi finansialmu agar tetap bisa bertahan di tengah krisis ekonomi.
Dampak Resesi bagi Generasi Milenial
Sebenarnya, kondisi ekonomi yang tak menentu akan memberi dampak negatif bagi semua kalangan. Meski begitu, resesi akan memiliki pengaruh besar bagi generasi milenial dalam hal keuangan.Ā
Berikut ini beberapa dampak yang akan dirasakan oleh kamu, para kaum milenial, ketika negara telah jatuh ke jurang resesi:Ā
-
Gagal bayar kredit
Dilansir dari CNN Indonesia, salah satu dampak resesi bagi generasi milenial adalah kegagalan dalam melunasi utang dan cicilan-cicilan. Saat ini, banyak generasi milenial yang terkena PHK atau pemotongan gaji karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Hal ini berpotensi mengakibatkan penurunan daya beli.
Karena keterbatasan finansial, para milenial yang masih memiliki kewajiban untuk membayar cicilan mungkin akan sulit melunasinya. Di berbagai negara pun, terjadi kenaikan jumlah utang mahasiswa yang biasanya terjadi karena ketidakmampuan untuk melunasi pinjaman dana pendidikan.
-
Sulit menabung dan berinvestasi
Dibandingkan dengan generasi lainnya, generasi milenial termasuk generasi yang terpapar oleh cukup banyak informasi seputar pentingnya menabung dan berinvestasi. Akan tetapi, pemahaman tersebut tidak selalu dapat dilaksanakan karena keterbatasan keuangan, khususnya di masa resesi.
Saat resesi terjadi, kaum milenial terancam memiliki pendapatan yang rendah, tapi kebutuhan semakin tinggi. Akibatnya, kamu mungkin tidak memiliki sisa dana bulanan untuk ditabung atau diinvestasikan. Uangmu akan lebih sering habis untuk membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
-
Masalah pengangguran
Generasi milenial terancam untuk terjebak dalam masalah pengangguran, bahkan sebelum krisis ekonomi terjadi. Dikutip dari Bisnis.com, generasi milenial menghadapi masa yang lebih menantang dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Di masa ini, terjadi krisis keuangan secara global yang semakin parah ketika pandemi terjadi.
Karena itu, generasi milenial lebih sulit untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang memadai. Pada generasimu, kamu akan melihat banyaknya masalah pengangguran, pendapatan yang tidak merata, serta peningkatan harga properti.Ā
Tips bagi Generasi Milenial untuk Hadapi Resesi
Tentunya, kamu ingin tetap bisa mempertahankan kondisi keuangan yang stabil meski negara dilanda resesi. Untuk itu, cobalah melakukan beberapa langkah berikut ini:Ā
-
Melakukan pengaturan pengeluaran
Apabila selama ini kamu terbiasa melakukan pengeluaran untuk gaya hidup yang tidak penting, seperti membeli baju atau nongkrong untuk mengikuti tren, sebaiknya mulai batasi pengeluaran tersebut untuk menyimpan lebih banyak uang.
Di tengah ancaman resesi seperti sekarang ini, kamu harus pandai memprioritaskan kebutuhan yang memang penting, misalnya makanan, kuota internet untuk bekerja di rumah, suplemen kesehatan, dan lain sebagainya.
Agar mengatur pengeluaran menjadi lebih mudah, kamu bisa mencoba untuk rutin mencatat daftar pemasukan dan pengeluaranmu, kemudian memonitor pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui alur keuanganmu setiap bulannya dan melakukan pemotongan budget untuk kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu mendesak.Ā
-
Bekerja sampingan atau buka usaha
Di tengah pandemi, berbagai perusahaan melakukan PHK besar-besaran. Jika kamu termasuk salah satu yang terdampak, kamu bisa mencoba untuk membuka usaha sendiri atau mencari pekerjaan sampingan.
Dilansir dari Kompas, selama pandemi ini, ada tiga sektor utama dengan permintaan yang cukup tinggi. Ketiga sektor tersebut meliputi sektor pangan, kesehatan, dan komunikasi.
Ketika akan membuka usaha sendiri, cobalah untuk menjalankan usahamu di ketiga sektor tersebut. Dengan begitu, kamu memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi permintaan pasar.
Sebagai contoh, kamu bisa mencoba membuka bisnis online dengan menyajikan jasa pembuatan catering. Atau, kamu bisa juga bekerja sebagai blogger yang memberikan informasi seputar tips olahraga di rumah selama pandemi.Ā
-
Mempersiapkan dana darurat
Sebenarnya, dana darurat perlu dipersiapkan sejak jauh-jauh hari untuk menghadapi krisis keuangan yang datang secara mendadak. Tapi, saat ini, masih belum terlambat jika kamu ingin mulai menyisihkan uang dan ditabung ke dalam dana darurat.
Jika kamu masih memiliki penghasilan tetap saat ini, tingkatkanlah jumlah dana yang ditabung ke dalam dana darurat. Sebaiknya, dana daruratmu memiliki jumlah yang setara dengan enam bulan penghasilan bulananmu. Artinya, dana darurat tersebut nantinya bisa digunakan untuk menghidup kamu selama setidaknya enam bulan.
Sebagai generasi milenial, kamu bisa mulai mempersiapkan diri dalam menghadapi kondisi ekonomi yang tak menentu sebelum negara benar-benar mengalami resesi. Jangan sampai, kamu tidak siap menghadapi dampak besar dari resesi bagi kondisi keuangan pribadimu.