Siapa yang tidak mengenal cokelat? Makanan manis olahan buah kakao ini sangat diminati oleh semua kalangan, baik dari anak-anak hingga orang dewasa di seluruh dunia. Banyak olahan makanan juga menggunakan tambahan cokelat atau bahkan cokelat itu sendiri sebagai bahan utamanya.
Bagi pecinta cokelat, yang sedang menjalankan diet juga bisa menikmati coklat jenis dark chocolate. Karena, dark chocolate diketahui mengandung zat bernama flavonoid, yang berperan cukup penting dalam proses penurunan berat badan.
Cokelat memiliki banyak jenis dengan harga yang terbilang cukup fantastis dengan pasar yang luas hingga ke seluruh dunia. Tak heran jika banyak negara memanfatkaan industriĀ ini untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional di negaranya.
Indonesia memiliki peluang besar untuk ikut serta mendorong perokonomian Indonesia melalui peningkatan produksi kakao dan pengolahannya. Berdasarkan data FAO (Food and Agriculture Organization) tahun 2018, Indonesia berada pada peringkat ketiga produksi kakao terbesar di dunia dengan produksi sebesar 593.832 ton setelah CĆ“te d’Ivoire sebesar 1.963.949 ton dan Ghana sebesar 947.632 ton.
Sebenarnya Indonesia sangat berpeluang untuk menjadi produsen kakao terbesar dunia. Pasalnya, Indonesia memiliki tanah yang luas dan subur yang sangat cocok untuk ditanami kakao, apalagi jenis tanaman ini sangat cocok dengan iklim negara tropis seperti Indonesia.
Kakao merupakan salah satu dari komoditas unggulan Indonsia Ā yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Menperin (Kementerian Perindustrian) mengatakan, industri nasional yang menghasilkan berbagai macam produk olahan kakao seperti bahan setengah jadi hingga makanan dan minuman dari cokelat ini dapat diekspor dengan volume sebesar 328.329 ton atau sekitar 85% dari total produksi.
Menperin menyatakan ekspor itu menyumbang devisa hingga US$ 1,13 miliar. Ini merupakan salah satu kesempatan Indonesia untuk maju dengan menjadikan Indonesia sebagai industri pengolahan kakao yang mengalahkan negara penghasil cokelat seperti Belgia, mengingat bahwa Belgia lebih banyak mendapatkan kakao dari negara lain, tidak seperti Indonesia yang menduduki peringkat tiga besar di dunia dalam produksi bahan baku coklat ini.
Akan tetapi, kenyataan tidak sejalan dengan harapan. Produksi kakao nasional justru cenderung mengalami penurunan. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), sejak tahun 2015 hingga 2019, produksi kakao terus menurun. Indonesia memproduksi kakao sebanyak (dalam ton) 31,00 di tahun 2015; 28,60 di tahun 2016; 26,40 di tahun 2017; 15,70 di tahun 2018; dan 15,30 di tahun 2019.
Jika hal ini terus menerus terjadi, ada kemungkinan Indonesia tidak akan lagi menduduki peringkat tiga besar negara dengan produksi kakao terbesar. Sehingga impian kita untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar di dunia dan negara industri pengolahan kakao akan mustahil untuk diwujudkan.
Dari data Kemendag (Kementerian Perdagangan) dapat dilihat sekaligus jumlah ekspor kakao, perubahan ekspor dari tahun sebelumnya, serta peran ekspor kakao dalam ekspor nonmigas Indonesia. Dari tahun ke tahun, ekspor kakao mengalamiĀ penurunan dengan persentase trend sebesar -1,68. Artinya, jumlah ekspor kakao cenderung mengalami penurunan sebesar 1,68% setiap tahunnya.
Adapun persentase perubahan ekspor tahun 2018 dan 2019 sebesar -3,78 yang artinya ekspor kakao tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 3,78% dibandingkan dengan tahun 2018 sedangkan persentase perubahan ekspor tahun 2019 dan 2020 sebesar 3,52. Artinya, ekspor kakao tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar 3,52% dibandingkan dengan tahun 2019 yang dapat dilihat juga dari peningkatan peran ekspor kakao tahun 2019 dan 2020 yang mengalami peningkatan dari 0,77% menjadi 0,83%.
Ada baiknya bagi pemerintah serta masyarakat khususnya petani kakao untuk tetap berusaha menggenjot produktivitas dan pengolahan kakao di negeri sendiri. Perlu ada kerjasama untuk mengatasi permasalahan seperti kualitas dan kuantitas yang belum sesuai harapan.
Program peremajaan dan rehabilitasi tanaman yang merupakan salah satu pencanangan presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar di dunia harus didukung dengan anggaran yang konsisten. Selain itu, perlu ada kesinambungan pada masyarakat agar masyarakat juga ikut bersemangat untuk tetap memproduksi kakao serta tidak mengalihfungsikan lahan yang menyebabkan luas area serta produksi kakao semakin merosot setiap tahunnya.
Swara Kamu merupakan wadah untuk menyalurkan inspirasi, edukasi, dan kreasi lewat tulisanmu. Kamu bisa menyampaikan pendapat, pemikiran, atau informasi menarik seputar finansial dan karier. Setiap artikel Swara Kamu menjadi tanggung jawab penulis karena merupakan opini pribadi penulis. Tim Swara tidak dapat menjamin validitas dan akurasi informasi yang ditulis oleh masing-masing penulis.
Ingin ikut berbagi inspirasi? Langsung daftarkan dirimu sebagai penulis Swara KamuĀ di sini!