Ketika memutuskan mengajukan pinjaman dan berinvestasi, ada banyak istilah yang membingungkan. Apalagi buat pemula. Salah memahami arti istilah bisa membuat kita rugi, lho. Salah satu yang sering dibahas yaitu tenor pinjaman dan deposito. Sebenarnya apa, sih, tenor itu?

 

Pengertian tenor

Mungkin kamu sudah nggak asing lagi dengan istilah tenor, tapi nggak begitu memahaminya. Nggak hanya sebatas investasi, tenor juga identik dengan kredit dan pinjaman.

 

Sederhananya, tenor merupakan lamanya jangka waktu atau durasi yang disepakati dalam melakukan transaksi, seperti kredit atau investasi.

 

Misalnya kamu membuka deposito, kamu bisa menentukan tenor. Seperti enam bulan, satu tahun, dan seterusnya. Nah, selama tenor tersebut, kamu enggak bisa menarik kembali uang di deposito.

 

Begitu juga halnya dalam melakukan pinjaman. Misalnya kamu mengajukan pinjaman dengan tenor 12 bulan. Artinya, kamu harus melunasi utang dalam kurun 12 bulan.

 

Jumlah atau lamanya tenor ini berpengaruh pada besaran deposito. Tenor juga berpengaruh dalam menentukan berapa jumlah cicilan yang harus dibayar setiap bulannya.

 

Penting untuk mengetahui arti tenor ini, sebab tenor bisa menjadi tolok ukur dalam proses kredit. Misalnya jumlah yang bisa kamu pinjam dan cicilan setiap bulannya, tergantung kepada tenor yang diambil.

 

Kenali kategori tenor

Dalam perjalanannya, tenor terbagi ke dalam beberapa kategori. Hal ini didasarkan pada lamanya jangka waktu yang dibutuhkan dalam membuat perjanjian. Kategori tenor terbagi atas:

 

1. Tenor pendek

Biasanya waktu yang berlaku sangat singkat, misalnya antara 1 bulan hingga 3 tahun. Dalam hal pinjaman, tenor pendek biasanya berlaku untuk pengajuan dalam jumlah kecil atau belanja yang tidak begitu mahal. Misalnya pengajuan kredit membeli barang elektronik atau ponsel.

 

Oleh karena jangka waktu yang singkat, kamu nggak diberatkan oleh jumlah bunga. Total yang harus dikembalikan juga lebih ringan jika memakai tenor pendek.

 

Tenor pendek juga bisa terasa memberatkan karena jumlah yang harus dibayarkan setiap bulannya jadi lebih banyak.

 

2. Tenor panjang

Sebaliknya, tenor panjang memiliki durasi waktu lebih lama. Bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun. Contohnya ketika kamu mengambil KPR atau kredit kendaraan bermotor.

 

Oleh karena jumlah pinjaman tergolong besar, tenor panjang akan memudahkanmu. Sebab, biaya cicilan setiap bulan nggak begitu memberatkan. Namun, bunga yang dibayarkan lumayan besar jika ditotal sepanjang tenor yang berlaku. 

 

Syarat untuk mendapatkan tenor panjang lebih rumit dan berat. Sebab, pihak pemberi pinjaman harus memastikan kesanggupanmu dalam membayar agar terhindar dari kredit macet.

 

Baca juga: 

Pinjaman Tenor Panjang atau Pendek? Ini Plus Minus yang Wajib Kamu Ketahui

Tunaiku, Solusi Pinjaman untuk Kembangkan Bisnis di Masa Pandemi

 

Jenis-jenis tenor

Yuk pahami lebih jauh soal tenor sebelum mengajukan pinjaman.

 

1. Tenor pinjaman

Tenor pinjaman ini memengaruhi besaran suku bunga. Semakin lama, maka semakin tinggi suku bunga yang harus dibayar.

 

Misalnya ada yang mengajukan bunga kecil untuk tenor pendek. Namun, ada juga yang memiliki bunga yang terus bertumbuh untuk tenor panjang. Seperti KPR, biasanya jumlah bunga bertambah setiap beberapa tahun sekali.

 

2. Tenor deposito

Tenor deposito berarti menentukan seberapa lama uang ditahan di dalam deposito sebelum akhirnya bisa ditarik. Beberapa deposito memiliki tenor selama tiga bulan, enam bukan, 12 bulan, dan selebihnya.

 

Setiap bank memiliki suku bunga berbeda-beda, dan setiap tenor juga memiliki besaran berbeda. Semakin lama tenor yang disepakati, tentu jumlah bunga yang didapat akan semakin tinggi.

 

Faktor yang menentukan tenor pinjaman atau deposito

Nggak boleh asal dalam menentukan tenor. Ada beberapa faktor penentu yang mempengaruhi lamanya tenor yang disepakati.

 

Faktor penentu ini merujuk kepada kesanggupanmu dalam membayar kredit. Hal ini bisa dilihat dari rekening koran yang menunjukkan penghasilan dan pengeluaran rutin, harta yang dimiliki seperti rumah, kendaraan, dan lainnya.

 

Besarnya pinjaman juga bisa menentukan tenor. Kalau pinjaman dalam jumlah kecil, disarankan untuk mengambil tenor pendek. Sebaliknya, jika jumlahnya besar maka bisa mengambil tenor panjang.

 

Tips mengajukan tenor pinjaman

Kamu ingin mengajukan tenor pinjaman? Yuk, ikuti beberapa langkah berikut:

 

  1. Pastikan kamu memilih lembaga keuangan yang terdaftar di OJK agar legalitasnya terjamin.
  2. Perhatikan suku bunga. Kamu bisa memilih lembaga keuangan yang menawarkan suku bunga rendah.
  3. Perhatikan jumlah penghasilan dan pengeluaran, sehingga bisa mendapat gambaran berapa kesanggupanmu dalam mencicil pinjaman setiap bulannya.
  4. Jika memungkinkan, ambil tenor pendek agar tidak terlalu berat karena bunga.
  5. Agar cashflow tetap terjaga, pastikan jumlah cicilan nggak lebih dari 30% total penghasilan setiap bulan.

 

Sementara itu, untuk kamu yang ingin berinvestasi seperti deposito, pahami tips mengajukan tenor agar investasimu menguntungkan.

 

  1. Pilih bank yang terpercaya agar uangmu terjamin. Pastikan bank yang kamu pilih dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
  2. Pelajari suku bunga yang ditawarkan, dan bandingkan antar bank sehingga bisa mendapatkan deposito dengan suku bunga tinggi.
  3. Pilih tenor panjang agar keuntungan lebih besar.
  4. Jangan lupa pajak yang harus dibayar. Saat memulai deposito, perhatikan berapa banyak pajak yang harus kamu bayar.

 

Dengan menambah ilmu, kamu bisa semakin yakin dalam berinvestasi. Setelah memahami tentang tenor, kamu punya pemahaman lebih sehingga investasi bisa lebih menguntungkan.

 

Baca juga: 

Butuh Pinjaman untuk Melunasi Hutang? Yuk, Gunakan Tunaiku Saja

6 Perbedaan Deposito dan Tabungan Berjangka, Mana yang Lebih Baik?