SWARA – Saya merasa cukup beruntung dibandingkan dengan teman-teman saya yang sama sekali tidak tahu harus apa ketika berhadapan dengan eksibisionis. Well, sebenarnya peristiwa traumatik ini terjadi beberapa saat lalu. Saya sengaja menulisnya di sini untuk menggapai audience yang jauh lebih luas.

Sebelumnya, saya sering kali bertanya ‘eksibisionis betulan ada nggak, sih?’ atau ‘ngapain,

kok, suka pamer-pamer alat kelamin?’ tanpa googling lebih jauh mengenai hal ini. Eh, akhirnya saya juga mengalami hal serupa. Saya akan membedah satu per satu hal terkait dengan peristiwa ini.

Apa eksibisionis itu?

Saat pertama kali mendengar kata ini, saya berpikir pasti terkait dengan exhibition

alias pameran. Namun, apa yang dipamerkan? Oh, ternyata barang-barang lain yang biasa tertutup seperti pantat, payudara, ataupun alat kelamin. Salah satu penyakit kejiwaan ini menyebabkan penderita merasa puas saat melihat reaksi kaget yang ditunjukkan oleh

korbannya.

Istilah ini pertama kali dibuat oleh dokter asal Prancis bernama Charles Lasegue pada tahun 1877 sebagai label yang menunjukkan diagnosis untuk pria yang melakukan tingkah laku yang berulang dan disengaja yaitu menampilkan alat vital mereka ke publik, khususnya perempuan

dan anak-anak.

Penderita gangguan eksibisionis tidak mempedulikan adanya norma sosial ketika beraksi. Hal yang penting, mereka merasa puas dengan melihat reaksi dari korban-korbannya.

Seperti yang sudah dituliskan di awal paragraf, saya cukup bersyukur karena sudah mengetahui apa yang harus saya lakukan. Untungnya, tindakan defensif-refleks yang saya lakukan bukan dengan berteriak, tapi dengan mengata-ngatai sang pelaku dengan berkata ‘wah, kecil ya, Pak’ dan segera ngibrit ke tempat lain.

Namun, hal ini tidak berlangsung lama, karena begitu saya menjauhi tempat kejadian, saya hanya bisa menangis karena syok. Gila, mana rumah masih jauh pula..

Tips untukmu yang (tidak berencana) menjadi korban

Siapa yang mau menjadi korban dari eksibisionis? Tips ini untukmu supaya bisa berjaga-jaga seandainya kejadian ini menimpamu. Simak, yuk!

 

  • Jangan tunjukkan ekspresi aneh

 

Seorang psikolog forensik, Stephen Hart melalui verywell.com mengatakan, “Teruslah bergerak menjauh. Tunjukkan ekspresi tidak peduli atau jijik. Jangan bertahan di tempat, mendekati, atau membuat serangan. Jika dia mendekat, berteriaklah minta tolong, dan lari ke tempat yang aman. Segera mungkin laporkan pada petugas keamanan.”

Sedangkan ahli bahasa tubuh, Patty Wood menyarankan supaya kita menunjukkan sikap tubuh yang dingin dan tidak peduli. “Tegakkan tubuh dan alihkan pandangan Anda darinya, cobalah untuk tidak memberikan tanggapan yang emosional terhadap perilakunya. Lalu segera pergi dan memanggil petugas keamanan sambil memberikan deskripsi pelaku sehingga mereka dapat segera ditangkap,” tutur dia.

 

 

Artikel terkait:

Kosmetik Lokal: Cantiknya Perempuan Indonesia Yang (Tidak Lagi) Didikte Industri

Ini Barisan Selebriti Perempuan yang Menginspirasi dan Patut Jadi Role Model

Mengenal Lebih Dekat Sosok Raden Adjeng Kartini, Pahlawan Bagi Perempuan Indonesia

 

 

2. Pura-pura pingsan

Kalau ternyata pelaku sangat kuat dan kamu tidak bisa membela diri, kamu bisa pura-pura pingsan ataupun meludahi diri sendiri. Pamela Kulbarsh, ketua Psychiatric Emergency Response Team, menyatakan bahwa hal ini bisa mengacaukan fantasi eksibisionis. Setelah itu kamu bisa segera kabur.

3. Mengata-ngatai

Memanfaatkan teori psikoanalisa yang menyatakan bahwa kita harus mencari tahu penyebab mereka melakukan aksinya, saya memilih untuk menyerang aspek psikologis pelaku. Bagaimana caranya? Bikin mereka minder! Namun,  memang butuh keberanian parah. Saya juga bingung keberanian macam apa yang kemarin saya dapatkan karena bisa-bisanya ngomong hal negatif terhadap barang kebanggaan bapak-bapak ini. Kalau dinalar, orang mana

sih yang nggak down ketika tujuan dia pamer supaya dapat pengakuan, terus malah dikata-katain?

4. Pepper spray

Kalau situasi sudah sangat darurat, pepper-spray sangat berguna. Seriusan. Apalagi kalau kamu ternyata dikejar-kejar oleh eksibisionis dan nggak ada orang yang bisa membantu di sekelilingmu. Tinggal semprot ke mata, beres! Namun, penggunaan pepper-spray sebagai bagian dari alat pertahanan diri ini bukan tanpa masalah. Ada beberapa kasus yang menyebabkan pelaku pelecehan meninggal dunia. Memang, pepper spray bukan penyebab utama hilangnya nyawa seseorang ini. Namun,  kamu juga tetap harus bijak. Saya mendapatkan pepper spray dari kakak sepupu saya setelah kejadian untuk berjaga-jaga.

 

Penyakit iseng saya kambuh dengan menyemprotkan pepper spray satu kali. Namun, dalam ruangan kantor yang ber-AC. Berhubung sifat AC adalah menyebarkan partikel ke satu ruangan, satu ruangan kantor jadi bersin-bersin. Sudah cukup percobaan ini, saya nggak mau asal semprot lagi.

Sekarang kamu sudah tahu kan caranya melawan eksibisionis? Ingat, pokoknya jangan menunjukkan rasa takut apalagi teriak, ya! Tetap aman di jalan wahai perempuan!

 

 


Anastasia Galuh Dinung Purwaningtyas Anastasia Galuh Dinung Purwaningtyas