Cuci darah atau hemodialisis adalah tindakan medis yang perlu dilakukan bagi penderita penyakit gagal ginjal. Biaya cuci darah di setiap rumah sakit berbeda-beda.

 

Pasien gagal ginjal yang tidak melakukan prosedur cuci darah kemungkinan besar akan mengalami gangguan keseimbangan elektrolit. 

 

Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan kardiovaskular, gangguan pernapasan dan menumpuknya racun di dalam tubuh karena sulit terbuang. 

 

Perkiraan biaya cuci darah di rumah sakit Jakarta

 

Faktanya, prosedur cuci darah, apalagi di Jakarta masih terbilang mahal. Bagi penderita gagal ginjal, tindakan ini wajib dilakukan setidaknya dua kali seminggu. 

 

Setiap sesi cuci darah akan memakan waktu 5 jam. Bagi penderita gagal ginjal kronis, tindakan ini bukan tidak mungkin dilakukan sampai seumur hidup. Pertanyaannya, berapakah perkiraan biaya cuci darah di Jakarta? 

 

Biaya cuci darah di rumah sakit Jakarta Timur

 

 

Biaya cuci darah di rumah sakit Jakarta Selatan

 

 

Biaya cuci darah di rumah sakit Jakarta Pusat

 

 

Biaya cuci darah di rumah sakit Jakarta Utara

 

 

Biaya cuci darah di rumah sakit Jakarta Barat

 

 

Efek samping yang diderita pasien seusai cuci darah

 

Tindakan cuci darah yang memakan waktu yang lama biasanya akan meninggalkan efek samping. 

 

Bagi beberapa penderita gagal ginjal, efek cuci darah bisa jadi beragam. Namun, beberapa efek samping umum diantaranya adalah:

 

Kelelahan

 

Salah satu efek samping normal yang dirasakan pasien setelah menjalani cuci darah adalah kelelahan yang disertai dengan pusing. 

 

Gejala ini dialami karena berkaitan dengan tekanan darah yang rendah atau terlalu tinggi dalam tubuh. 

 

Demam

 

Efek samping lain yang dialami pasien yang baru menjalani cuci darah di fase awal adalah demam dikarenakan peningkatan suhu tubuh yang diawali dengan gejala menggigil. 

 

Penyebab hal ini dipercaya karena sistem imun yang masih lemah sehingga bakteri dan patogen dengan mudah masuk ke dalam tubuh. 

 

Mual

 

Mual setelah cuci darah juga adalah gejala yang normal dikarenakan adanya penumpukan racun dalam darah. Hal ini juga bisa diikuti dengan anemia atau kondisi kekurangan darah. 

 

Kulit Gatal

 

Satu lagi efek samping yang sering terjadi bagi penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah adalah gatal pada kulit dikarenakan penumpukan fosfor pada saat menjalani tindakan. 

 

Kapan waktu yang tepat untuk cuci darah

 

Pada dasarnya, cuci darah hanya dilakukan apabila pasien berada pada stadium akhir gagal ginjal. Dalam artian, ginjal pasien tidak bisa lagi menjalankan 85-90 persen fungsi normalnya.

 

Indikator urgensi pasien melakukan cuci darah adalah nilai eFGR. eFGR merupakan nilai estimasi laju filtrasi glomerulus yang memperkirakan volume darah yang melewati glomerulus (penyaring kecil pada ginjal) dalam satu menit. Jadi, jika nilai eGFR semakin rendah, maka kerusakan ginjal pun semakin parah.

 

Pasien gagal ginjal perlu melakukan cuci darah apabila memiliki nilai eFGR di bawah 15. Beberapa pasien juga hanya mematok tindakan cuci darah dilakukan dua kali seminggu. Cuci darah bagi pasien gagal ginjal kronis harus dijalankan seumur hidup.

 

Apakah BPJS Kesehatan menanggung biaya cuci darah?

 

Beruntungnya, tindakan cuci darah adalah salah satu tindakan medis yang dijamin oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan milik pemerintah. 

 

Dengan membayar premi bulanan yang relatif murah, pemegang kartu JKN bisa leluasa melakukan tindakan cuci darah di rumah sakit mengingat biayanya ditanggung pemerintah. 

 

Di sisi lain, beberapa sumber menyebutkan bahwa BPJS Kesehatan hanya menjamin biaya cuci darah dengan kisaran Rp450.000 hingga Rp500.000 per tindakan. 

 

Prosedur ini pun dibatasi hanya bisa dilakukan di rumah sakit tipe C dengan fasilitas dialisis yang sederhana. 

 

Jadi, tidak tertutup kemungkinan kalau ada saja biaya tindakan dan atau obat-obatan yang harus ditanggung pribadi oleh pemegang kartu JKN. 

 

Untuk mengantisipasi hal ini, kamu disarankan untuk memiliki asuransi kesehatan yang menanggung perawatan penyakit kritis. 

 

Meskipun premi asuransi ini terbilang mahal, namun manfaat yang diberikannya cukup maksimal sebagai langkah preventif menghindari kekurangan biaya akibat penyakit tertentu.