SWARAPandemi memang mengubah banyak hal, termasuk bagi pengusaha dan pemilik bisnis. Perubahan pola hidup di era new normal ini menimbulkan tantangan baru. Mungkin saja, bisnis yang kamu miliki tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini, sehingga jika dipaksakan malah akan merugikan.

 

Dalam dunia usaha, dikenal istilah pivot bisnis. Sederhananya, pivot bisnis merupakan upaya mengubah model bisnis tapi tetap berpijak pada visi bisnis yang dimiliki. Kamu bisa mengubah rencana atau strategi, tapi tetap berpegang pada visi usaha yang sudah ditetapkan sejak awal membangun usaha tersebut.

 

Perusahaan umumnya melakukan pivot bisnis di awal pendirian, karena di tahap tersebut perusahaan masih mencoba mengenali market. Dilansir dari Warta Ekonomi, ada beberapa kondisi yang membuat sebuah perusahaan melakukan pivot bisnis, di antaranya:

 

  1. Hasil riset pasar menunjukkan strategi atau produk bisnis tidak lagi relevan dengan apa yang dibutuhkan konsumen. 
  2. Menemukan kejadian buntu, bisa karena produk yang dihasilkan tidak memuaskan kebutuhan pasar atau keuntungan yang didapat tidak memenuhi target.

 

Pivot Bisnis Saat Corona

Untuk bisa menyelamatkan diri, banyak pengusaha yang melakukan pivot bisnis. Termasuk di tengah situasi pandemi saat ini. Perusahaan dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat, dan memenuhi semua kebutuhan pasar. Perubahan pola hidup saat ini membuat perusahaan menerapkan pivot bisnis agar bisa survive.

 

Contohnya Martha Tilaar. Saat awal pandemi, terjadi kelangkaan hand sanitizer. Martha Tilaar yang tadinya memproduksi kosmetik, akhirnya mengubah model bisnis dengan memproduksi hand sanitizer karena permintaan pasar yang sangat banyak.

 

Beberapa brand ternama juga melakukan hal ini. Sebut saja brand fashion sekelas Gucci, Prada, Balenciaga, Louis Vuitton, Fendi, dan lainnya yang memproduksi APD (alat pelindung diri) dan face shield.

 

Walaupun kondisi perekonomian menurun sebagai akibat dari pandemi, bukan berarti bisnis akan lesu selamanya. Di sinilah dibutuhkan pivot bisnis agar kamu bisa bertahan di tengah situasi seperti ini. Saatnya untuk mengevaluasi model bisnis yang selama ini dimiliki dan mengecek, apakah masih relevan dengan kondisi saat ini?

 

Jika tidak, mungkin sudah seharusnya kamu mengubah model bisnismu.

 

Cara Melakukan Pivot Bisnis

Sebagai pelaku bisnis, kita harus bersifat fleksibel agar bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Di saat berat saat ini, waktunya untuk mengevaluasi performa setiap karyawan dan pola bisnis yang kamu jalani, agar bisa diputuskan untuk tetap berjalan dengan cara yang sama atau mengubahnya.

 

Jika saat ini bisnismu tidak berjalan dengan baik, begitu juga selama enam bulan terakhir semenjak hantaman pertama Covid-19, saatnya untuk mempertimbangkan ulang strategi yang kamu jalani. Kamu bisa memanfaatkan situasi krisis ini untuk mengeliminasi faktor yang membuat bisnismu jadi tersendat dan merugi. Dengan mengelompokkan faktor yang masih bisa bekerja dan faktor yang tidak berfungsi dengan baik, kamu bisa membuat strategi baru.

 

Salah satunya dengan melakukan pivot bisnis. Sebab, suda saatnya kamu fokus dan melihat ke depan. Jika kamu berencana untuk melakukan pivot bisnis, ini 5 hal yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan bisnismu, seperti dilansir dari entrepreneur.com.

 

1. Manfaatkan Teknologi Digital

Adanya ketentuan social distancing dan beraktivitas dari rumah, sudah saatnya memaksimalkan teknologi digital. Misalnya bagi pengusaha kuliner. Ketika tidak bisa membuka restoran, kamu bisa beralih ke bisnis online dan menjual makanan secara online. Tidak hanya makanan jadi, kamu pun bisa menjual frozen food karena permintaan yang tinggi.

 

Selama pandemi, H&M mengalami kerugian sehingga terpaksa menutup ratusan toko di seluruh dunia. Sebagai gantinya, mereka fokus pada penjualan online untuk menutup kerugian tersebut. Jika kamu memiliki bisnis di bidang penjualan barang, kamu bisa beralih ke e-commerce atau membuka online shop untuk menjangkau pelanggan yang tidak bisa datang ke tokomu.

 

Kamu juga bisa memanfaatkan live streaming untuk menjangkau pelanggan. Misalnya, membuka kelas yoga online karena pelanggan tidak mungkin datang ke studiomu. Bisnis pun tetap berjalan sekalipun terhalang oleh jarak.

 

2. Tingkatkan aset dan sumber daya yang dimiliki

Tingkatkan aset dan sumber daya yang kamu miliki agar mencapai titik temu dengan kebutuhan pasar. Cari tahu apa yang bisa kamu ubah agar bisa memenuhi kebutuhan pasar. Contohnya seperti Martha Tilaar yang memanfaatkan sumber daya mereka untuk memproduksi hand sanitizer karena sangat dibutuhkan. 

 

Beberapa konveksi kecil mulai beralih ke masker kain, untuk menjawab permintaan pasar akan ketersediaan masker di era new normal ini. Beberapa brand besar seperti Nike dan ZARA pun memanfaatkan pabrik mereka untuk memproduksi face shield dan masker. Bahkan, kedua item ini menjadi koleksi wajib setiap rumah mode di era saat ini.

 

Pelajari kebutuhan pasar dan sesuaikan dengan aset yang kamu miliki. Namun, tetap sesuaikan dengan core business yang kamu miliki saat melakukan pivot bisnis ini.

 

3. Pererat hubungan dengan pelanggan setia

Jujur kepada konsumen tentang keadaanmu saat ini dan upaya yang kamu lakukan untuk memberikan yang terbaik. Ini bisa menjadi cara untuk mempertahankan pelanggan setia untuk selalu mendukungmu. Pererat hubungan dengan pelanggan setia, baik secara langsung atau melalui media seperti newsletter dan media sosial. Sehingga, ketika kamu melakukan perubahan, pelanggan setiap akan segera mengetahuinya dan mendukungmu.

 

Kamu bisa membuat konten yang kreatif. Misalnya menggunakan live streaming video saat memberikan kelas yoga, sehingga murid yang tidak bisa datang ke studio tetap bisa berolahraga bersamamu. Contoh lainnya seperti yang dilakukan oleh tour and travel agent Whatravel.id yang mengadakan virtual tour untuk menjaga hubungan dengan pelanggan sekalipun tidak bisa bepergian bersama.

 

4. Jajaki kemungkinan berkolaborasi

Jika kamu tidak bisa melakukannya sendiri, mungkin kamu bisa mencari celah untuk berkolaborasi dengan bisnis lain. Partnership akan membantumu mendapatkan pelaggan baru dan menyasar target market baru. Pastikan partnership tersebut menguntungkan kedua sisi dan bisa saling membantu.

 

Terutama untuk bisnis kecil, kadang kamu menyerah karena tidak ada cara untuk mendukung bisnismu. Kamu bisa memperluas networking yang akan membantumu, seperti bergabung dalam komunitas. Salah satu contohnya perusahaan rekaman yang bekerjasama dengan gerai fast food seperti KFC untuk mengatasi rendahnya daya beli terhadap album fisik.

 

5. Jangan langsung gagal saat menyerah

Meskipun pahit, kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya. Jika cara baru masih belum bisa menyelamatkan bisnismu, jangan langsung menyerah. Tidak semua hal akan berhasil dalam percobaan pertama. Terkadang, butuh beberapa kali usaha sampai akhirnya kamu menemukan cara terbaik untukmu.

 

Bahkan, bisnis yang sukses saat ini pernah melakukan pivot bisnis. Play-doh awalnya berupa pembersih dinding, tapi kini dikenal sebagai mainan anak-anak. YouTube awalnya adalah situs kencan, tapi sekarang jadi media video terbesar.

 

Intinya, jangan ragu untuk bereksperimen. Tidak ada salahnya memikirkan kegagalan saat mencoba, dan kamu bisa mengambil pelajaran penting dari kegagalan tersebut.

 

Jika bisnismu terdampak saat pandemi, kamu tidak sendirian. Walaupun situasi ini terlihat berat, kamu harus percaya bahwa akan selalu ada peluang di saat tergelap sekalipun. 

 

Mungkin, ini saat yang tepat untuk mengevaluasi bisnismu sehingga kamu jadi #PastiLebihSiap dalam menghadapi era new normal. Daripada fokus kepada situasi yang tidak bisa kamu kontrol, lebih baik gunakan energimu itu untuk melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkan bisnismu.