SWARA – Semakin hari, Indonesia semakin dekat dengan ancaman resesi. Sebagai upaya antisipasi, banyak orang mulai berinvestasi untuk mempersiapkan dana darurat. Salah satu investasi yang banyak diminati di tengah ancaman resesi adalah reksa dana. 

 

Dikutip dari Kompas, sejak Juni hingga Agustus 2020 lalu, terjadi peningkatan sekitar 2-4 persen setiap bulannya terhadap pertumbuhan dana kelolaan reksa dana. Sebanyak 70 persen dari total dana kelolaan di FUNDtastic ada pada investasi reksa dana pasar uang.

 

Dari peningkatan ini, dapat dilihat bahwa investasi reksa dana menjadi tren baru dalam menghadapi ancaman resesi. Secara khusus, data yang ada menunjukkan bahwa mayoritas investor reksa dana berasal dari kalangan milenial.

 

Dibandingkan dengan jenis investasi lainnya, investasi dengan reksa dana, khususnya reksa dana pasar uang, cenderung lebih aman. Risikonya cukup kecil, meski imbal hasil yang akan didapatkan nantinya pun tidak terlalu besar. Oleh karena itu, banyak orang yang memilih investasi dengan reksa dana di tengah ketidakstabilan ekonomi. 

 

Memilih Jenis Reksa Dana yang Aman Saat Resesi

 

Sebagai informasi, terdapat empat jenis reksa dana yang umumnya digunakan saat berinvestasi, yaitu reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana obligasi atau pendapatan tetap, dan reksa dana pasar uang.

 

Reksa dana saham memiliki peluang imbal hasil yang paling besar dibandingkan dengan jenis reksa dana lainnya, tetapi juga memiliki risiko paling tinggi. Sementara, reksa dana pasar uang memiliki risiko yang cenderung lebih rendah. Karena hal ini, reksa dana pasar uang menjadi pilihan jenis reksa dana yang tepat untuk kamu coba di tengah ancaman resesi seperti sekarang ini. 

 

Dilansir dari Bisnis.com, reksa dana pasar uang merupakan alternatif investasi yang cenderung aman. Imbal hasil yang didapat bisa menyaingi tingkat bunga deposito, tapi risikonya juga cenderung minim. Dengan begitu, investor bisa mendapatkan kenyamanan untuk mempersiapkan dana darurat dengan stabil.

 

Saat ini pun, banyak generasi milenial yang telah memulai investasi di reksa dana pasar uang. Jumlah investor yang menjadikan jenis reksa dana ini sebagai pilihan jauh melebihi jenis reksa dana lainnya. Jika kamu baru pertama kali terjun dalam dunia investasi, kamu bisa menentukan pilihan untuk berinvestasi dengan reksa dana pasar uang di tengah ancaman resesi seperti sekarang ini. 

 

Strategi Melakukan Investasi dengan Reksa Dana

 

Supaya investasimu aman, kamu perlu membuat strategi khusus untuk mengelola dana investasi di reksa dana. Berikut ini beberapa strategi yang bisa kamu coba: 

 

  • Menentukan tujuan

 

Investasi yang baik adalah investasi yang dilakukan untuk mencapai target atau tujuan tertentu. Kamu harus menentukan apa tujuan yang ingin dicapai sebelum melakukan investasi. Adanya tujuan akan membantu agar lebih fokus dan konsisten dalam berinvestasi.

 

Pikirkan ke mana hasil investasimu akan dialokasikan. Kamu bisa menentukan tujuan berdasarkan kebutuhan pribadi, misalnya sebagai dana darurat, dana pensiun, dana pendidikan anak, modal kerja, dan lain sebagainya.

 

  • Jangka waktu investasi

 

Saat melakukan investasi, kamu bisa memilih apakah investasi tersebut akan dilakukan untuk jangka pendek atau jangka panjang. Beberapa jenis reksa dana mungkin lebih tepat untuk investasi jangka panjang, sementara jenis lainnya cocok untuk investasi jangka pendek.

 

Sebagai contoh, reksa dana pasar uang umumnya memiliki masa jatuh tempo kurang dari satu tahun, sehingga cocok untuk investasi jangka pendek. Sementara, untuk reksa dana campuran dan reksa dana saham, lebih cocok digunakan oleh investor yang ingin melakukan investasi jangka panjang, yaitu di atas 3 tahun.

 

Sesuaikan jangka waktu investasi dengan tujuan awalmu. Misalnya, kalau kamu ingin berinvestasi untuk dana pensiun, maka kamu bisa menggunakan reksa dana dengan jangka waktu yang lebih panjang. 

 

  • Profil risiko

 

Setiap investor memiliki profil risiko masing-masing. Profil risiko dapat memberikan gambaran tentang karakter kita ketika berinvestasi. Ada tiga karakteristik investor ketika melakukan investasi, yaitu konservatif, moderat, dan agresif. Tipe konservatif cenderung menghindari risiko, sehingga investasi dengan risiko rendah seperti reksa dana pasar uang lebih cocok untuk dipilih. Sementara, tipe agresif adalah tipe yang paling siap menghadapi kerugian, sehingga mereka tidak takut untuk melakukan investasi besar di reksa dana yang memiliki risiko lebih tinggi. 

 

Ketahui lebih dulu apa profil risikomu. Nantinya, kamu bisa memilih jenis reksa dana untuk diinvestasikan sesuai dengan profil risiko tersebut. 

 

  • Berinvestasi secara rutin

 

Setiap bulannya, akan lebih baik kalau kamu bisa menyisihkan sejumlah uang untuk diinvestasikan dalam reksa dana. Sama seperti saat menabung, uang yang disisihkan perlu disiapkan sejak awal bulan, supaya bisa melakukan investasi dengan disiplin.

 

Selain itu, kamu juga perlu menahan diri agar tidak mudah tergoda untuk mencairkan dana investasi. Tidak seperti deposito, reksa dana bisa ditarik kapan saja, sehingga investor rentan melakukan pencairan tanpa berpikir panjang. Sebaiknya, simpan terus dana investasimu sampai kamu mencapai tujuan investasi yang telah ditetapkan sejak awal.

 

Investasi dengan reksa dana bisa menjadi pilihan yang tepat bagi investor pemula di tengah ancaman resesi. Selama kamu menjalankan strategi dan menyesuaikan investasi dengan profil risiko, investasimu pasti akan aman dan bisa memenuhi kebutuhanmu.