Di zaman yang serba cepat seperti saat ini, memiliki smartphone acap kali dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Sehingga, banyak orang mulai mempertimbangkan banyak cara untuk memuaskan hasrat membeli smartphone baru termasuk didalamnya mengambil opsi utang konsumtif. 

 

Namun, banyak juga orang yang tidak menyadari bahwa memiliki smartphone versi terbaru seringkali bukanlah kebutuhan, tetapi keinginan. Sehingga, mayoritas dari mereka terjebak dengan tren, merek dan lingkungan sosial yang memaksa untuk upgrade smartphone.

 

Keinginan memiliki smartphone baru memang tidak bisa dibendung karena masyarakat pun diharuskan melakukan kegiatan komunikasi hingga transaksi secara digital di era yang serba cepat seperti saat ini. 

 

Lalu, apakah pilihan membeli smartphone dengan cara menggunakan utang konsumtif cukup bijak?

 

Untung dan Rugi Menggunakan Utang Konsumtif untuk Membeli Smartphone

 

Nah, berangkat dari isu tersebut, banyak orang akhirnya memaksakan diri untuk memiliki smartphone dengan berbagai macam cara, termasuk menggunakan fasilitas utang konsumtif untuk membeli smartphone. Hal ini didorong oleh keinginan yang tidak selaras dengan kesanggupan finansial untuk membeli secara tunai.

 

Pertanyaannya, apakah menggunakan utang untuk membeli smartphone adalah tindakan yang tepat? Yuk, pertimbangkan dulu untung dan rugi membeli smartphone dengan cara mengambil pinjaman.

1. Teknologi smartphone terus berganti

 

Mungkin, smartphone incaran kamu saat ini adalah model terbaru dengan fitur dan spesifikasi yang handal di kelasnya. Dengan begitu, smartphone tersebut dihargai sangat tinggi oleh pasar saat ini.

 

Tetapi, kamu harus menyadari bahwa teknologi smartphone terus berkembang dengan cepat. Hal ini membuat fitur-fitur yang mungkin kamu butuhkan saat ini telah diperbaharui dalam beberapa tahun atau bulan ke depan.

 

Sebagai contoh, fitur analisis autentikasi (biometric authentication) berupa fingerprint sampai saat ini memang masih menjadi kebutuhan untuk mengidentifikasi ciri biologis pemilik smartphone

 

Namun, teknologi terus berkembang hingga kini terdapat inovasi teknologi smartphone berupa pemindai mata (iris scanner) yang dianggap jauh lebih aman dibandingkan dengan fingerprint.

 

Dengan perkembangan teknologi yang kian pesat, kamu harus mempertimbangkan kepuasan dengan harga dan fitur yang tersedia pada smartphone incaran kamu hingga saat masa cicilan smartphone kamu habis, ya.

 

Artikel Terkait: Cara Cerdas Memanfaatkan Smartphone

  1. Smartphone Murah 2 Jutaan untuk Pembelajaran Jarak Jauh
  2. Perhatikan Hal Berikut Ini Sebelum Membeli Smartphone Second
  3. Pilih Kredit atau Bayar Lunas Saat Beli HP? Ini Pertimbangannya!

2. Mengukur kesanggupan membayar utang

 

Pada dasarnya, utang pribadi terbagi atas dua jenis, yakni utang produktif yang besarannya bisa menghasilkan pendapatan, dan utang konsumtif yang nilainya terus menurun. Pembelian smartphone dengan cara dicicil seringkali dianggap sebagai utang konsumtif karena berpotensi tidak menghasilkan keuntungan dan nilainya terus menurun di masa yang akan datang.

 

Mengambil utang konsumtif untuk produk smartphone bisa jadi masalah jika kamu ternyata memiliki beban utang lain. Misalnya seperti utang pembelian barang elektronik, sepeda motor, mobil, rumah atau bahkan kredit usaha.

 

Berdasarkan laporan Forbes, idealnya besaran cicilan kamu seharusnya tidak lebih dari 30% dari seluruh penghasilan kamu secara bulanan. Misalnya, jika saat ini kamu memiliki penghasilan sebesar Rp6.000.000, pastikan besaran cicilan yang kamu bayarkan tiap bulannya tidak lebih dari Rp1.800.000.

 

Jadi, sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk menerima fasilitas utang konsumtif baru, pastikan kamu bisa mengukur kesanggupan membayar seluruh utang dan bertanggung jawab untuk membayarnya tepat waktu.

 

Pinjaman Uang Online Bisnis Hingga 20 Juta

3. Smartphone bukan investasi

 

Ketahuilah bahwa smartphone bukan instrumen investasi. Banyak orang yang terjebak dengan narasi bahwa kepemilikan smartphone bisa menjadi alat investasi karena serinya yang terbatas. 

 

Atau ada juga yang berpikiran bahwa ini menjadi bagian dari self-reward karena fiturnya yang bisa menunjang kepercayaan diri.

 

Padahal, investasi sendiri diartikan sebagai kegiatan penanaman dana sebagai upaya untuk memberikan imbal hasil berupa keuntungan di masa yang akan datang. Prinsip tersebut bertolak belakang dengan fasilitas penerimaan utang konsumtif untuk produk smartphone.

 

Hal ini terjadi karena harganya cenderung merosot signifikan jika dijual kembali dalam beberapa tahun atau bulan ke depan. Dibanding mengambil utang konsumtif, lebih baik kamu menyisihkan uang untuk berinvestasi ke instrumen ril seperti membeli emas, reksa dana dan saham. 

 

Kamu juga bisa membeli emas dengan cara mencicil, lho. Jenis pinjaman ini tidak dikategorikan sebagai utang konsumtif karena bisa memberikan imbal hasil kedepannya.

4. Pertimbangkan Urgensi Kebutuhan 

 

Memiliki utang konsumtif memang tidak baik jika hanya digunakan sebagai ajang pamer atau mengikuti tren belaka. Namun, pembelian smartphone dengan cara dicicil bisa menjadi menguntungkan apabila kamu benar-benar sangat membutuhkannya.

 

Kamu bisa mempertimbangkan fitur dan spesifikasi mumpuni dengan ketersediaan budget ketika memilih smartphone tertentu untuk memenuhi kebutuhan seperti komunikasi, transaksi dan lain-lain. 

 

Sebenarnya, ada banyak sekali ritel penjualan smartphone yang menawarkan cicilan 0% dengan diskon tambahan menggunakan kartu kredit yang bisa kamu gunakan dengan semaksimal mungkin. 

 

Pun, kamu bisa mengambil opsi mencicil smartphone dengan tenor yang lebih singkat dan melakukan pembayaran lebih dari besaran minimum tagihan kredit per bulannya. Ingatlah, opsi ini bisa kamu ambil jika besaran utang yang kamu miliki kurang dari 30% dari keseluruhan penghasilan yang kamu peroleh. 

 

Intinya, setiap keputusan harus direncanakan secara matang. Pastikan kamu sudah menimbang untung dan rugi menggunakan utang konsumtif untuk membeli smartphone baru, ya.