SWARA – Dari halte bus ke kantor, pilih naik angkot atau jalan kaki? Kalau saya jelas akan pilih jalan kaki, selain hemat ongkos, hitung-hitung olahraga sedikit. Lagi pula untuk bisa menjangkau halte bus terdekat dari rumah, saya harus berjalan sekitar 700 m setiap pagi. Jadi berjalan kaki bukan masalah besar bagi saya.

 

Tapi kalau di Indonesia sendiri saya melihat jalan kaki belum jadi budaya rutin sehari-hari. Ojek atau motor pribadi sering kali jadi pilihan utama. Bahkan untuk belanja ke mini market terdekat pun banyak yang memilih naik motor daripada jalan kaki.

 

Nggak aneh kalau dalam penelitian Stanford University tentang peringkat negara-negara di dunia berdasarkan jumlah langkah kaki warganya, yang dilansir Dailymail.co.uk, dari 46 negara, Indonesia menempati peringkat terakhir.

 

Dalam survei tersebut, disebutkan kalau jumlah rata-rata langkah kaki orang Indonesia per hari hanya 3.513 langkah. Atau hanya sekitar 2,8 km saja. Berbeda jauh dengan orang Hong Kong sebagai peringkat pertama yang berjalan 6.880 langkah per hari.

 

Ya, mungkin orang-orang Indonesia juga kurang suka berjalan kaki karena masih sangat kurangnya fasilitas trotoar yang aman dan nyaman. Belum lagi udara yang panas, jalanan yang berdebu dan tinggi polusi. Makin males deh jalan.

 

Makanya saya jadi ingin mencari lebih lanjut soal predikat “Indonesia negara malas” ini. Simak yuk 5 fakta di balik predikat “Indonesia negara malas” ini.

 

1. Anggapan negatif soal jalan kaki

Kalau dibandingkan dengan Hong Kong yang jadi juara, sebenarnya bisa jadi miris banget, lho. Soalnya dengan luas Hong Kong yang hanya setengah dari pulau Bali, secara logika seharusnya orang Indonesia punya lebih banyak area untuk berjalan kaki ya.

 

Tapi ternyata orang Hong Kong berjalan 6 km per harinya, hampir tiga kali lipat dari orang Indonesia setiap harinya. Padahal jumlah langkah kaki ideal per hari adalah 4.961 langah atau ya 5.000 langkah per hari deh. Nggak aneh kalau Hong Kong dinobatkan sebagai negara dengan penduduk paling sehat.

 

Kalau berdasarakan hasil obrolan saya dan teman-teman, di Indonesia, jalan kaki, khususnya untuk jarak yang cukup jauh itu dianggap aneh atau negatif. Dikiranya nggak punya uang atau cuma nyusahin diri sendiri. Padahal bisa saja kan memang ingin jalan kaki untuk  menghilangkan rasa malas gerak atau sudah merasa kelamaan duduk di kantor.

 

Jarak 1 km yang biasanya ditempuh selama 6-9 menit dengan kendaraan (dalam kondisi jalanan lancar), bisa kamu tempuh selama 40 menit berjalan kaki. Lebih lama sih memang, tapi dengan begitu, kamu sudah ada di batas ideal jumlah langkah per harinya, yang berarti kamu sudah lebih sehat.

 

Artikel terkait: Jaga kesehatan sejak muda, cek dulu faktanya!

  1. 4 Cara Murah Meriah Kecilkan Perut Setelah Lebaran
  2. Kebanyakan Tidur Saat Weekedn Berakibat Fatal Bagi Jantung
  3. Biar Stres Nggak Menggnggu Porduktivitasmu di Tempat Kerja, Ini Cara Meredakannya

 

2. Butuh lebih banyak trotoar

Kalau kamu tinggal di kota besar, setidaknya sudah lebih banyak trotoar yang bisa kamu gunakan sebagai tempat berjalan kaki.  Warga Jakarta menghabiskan lebih dari 12 jam waktunya di luar rumah. Jika trotoar nggak disalahgunakan oleh pedagang, pengendara motor atau dijadikan lahan parkir, saya sendiri pasti akan sangat nyaman dan merasa aman berjalan di trotoar. Sayangnya, banyak oknum yang nggak bertanggungjawab menggunakan trotoar sebagai arena buka lapak atau menghindari macet.

 

Padahal para peneliti Stanford University juga mendapatkan temuan, kalau  semakin banyak area berjalan kaki di suatu negara, semakin tinggi kecenderungan penduduknya untuk berjalan. Jadi ya semakin jarang dan jelek trotoarnya, semakin malas berjala kaki penduduknya. Untuk itu, nggak salah rasanya kalau penambahan fasilitas trotoar harusnya lebih diutamakan daripada taman kota, atau ya setidaknya sebandinglah.

 

3. Bukan berarti tidak sehat

Untungnya, jarang berjalan kaki bukan berarti nggak sehat. Contohnya saja masalah obesitas. Ya, tingkat obesitas di suatu negara nggak terlalu dipengaruhi oleh kegiatan berjalan kaki warganya, melainkan dilihat dari tingkat kegiatan aktif yang dilakukan.

 

Misalnya, kamu jarang harus berjalan kaki saat berangkat ke kantor, karena begitu turun kendaraan langsung tiba di kantor. Namun, kegiatan rapat di luar kantor membuat kamu harus melakukan perjalanan dari satu gedung ke gedung lain dengan berjalan kaki. Kegiatan ini disebut aktif.

 

Tanpa sadar, kalau kamu banyak berpindah tempat atau berkegiatan, jumlah langkah kaki kamu bertambah. Jadi kalau kamu malas menyediakan waktu untuk berjalan di ruang terbuka, pastikan kamu aktif alias banyak beraktivitas saat di kantor. Misalnya sengaja naik atau turun tangga dua atau tiga lantai setiap harinya. Atau ya, rutin berolahraga.

 

4. Banyak acara lari nggak berarti rajin jalan kaki

Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, sangat ramai dengan berbagai acara lari bersama. Bahkan sudah mulai menjamur juga ke kota-kota besar lainnya. Mulai dari maraton, lari santai, jalan pagi masal, sampai lari malam hari yang juga punya banyak komunitas.

Tapi sayangnya, kegiatan ini nggak lantas menjadikan Indonesia berpredikat negara aktif atau rajin. Kemungkinan besar kegiatan lari hanya dilakukan ketika ada acara besarnya saja, sementara mobilitas sehari-hari penduduk Indonesia khususnya Jakarta tetap memilih berkendara ke tempat tujuan. Jadi belum menjadi kebutuhan dan budaya, alias masih dibilang kegiatan langka.

 

Artikel terkait: Pentingnya dan manfaat asuransi kesehatan

  1. Asuransi Kesehatan, Investasi yang Tepat untuk Pekerja Lepas
  2. Apakah Medical Check Up Bisa Menggunakan Fasilitas BPJS?
  3. Perempuan, Yuk Cegah Kanker Serviks dengan BPJS Kesehatan!

 

5. Kurang memanfaatkan teknologi

Para peneliti di Standford University mendapatkan angka ini dengan mengambil data dari ponsel 700.000 sample di seluruh dunia. Tahu dong kalau sekarang sudah banyak aplikasi di ponsel yang bisa menghitung langkah kaki kamu setiap harinya?

 

Sayangnya, kecanggihan teknologi ini belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh orang Indonesia, alias masih banyak yang nggak peduli. Padahal kalau memanfaatkan aplikasi ini, kamu akan tahu berapa langkah yang telah kamu lakukan setiap harinya.

 

Selain itu, akan ada notifikasi apakah kamu sudah cukup, masih kurang atau bahkan melebihi target langkah per hari. Jadi kan bisa lebih terkontrol. Kalau kurang ya, berarti ditambah dong. He-he.

 

Itu tadi fakta di balik predikat “Indonesia Negara Malas” yang muncul gara-gara masyarakatnya malas berjalan kaki. Semoga selanjutnya, predikat ini bisa segera lepas dari Indonesia ya. Setuju?

 

Selagi kamu di sini…

Kami punya informasi singkat yang sayang sekali dilewatkan. Sudahkah kamu tahu tentang Tunaiku? Tunaiku merupakan pinjaman cepat, mudah, tanpa agunan, tanpa kartu kredit. Tunaiku bisa jadi solusi finansial bagi kebutuhan-kebutuhanmu. Kebutuhan dadakan? Atau, butuh tambahan dana untuk kebutuhan tertentu? Kamu bisa ajukan Tunaiku!

 

Nggak mau ribet dan nggak pakai lama ajukan pinjaman? Klik di sini.

 


Shely NapitupuluSHELY NAPITUPULU