Kamar tidur mungkin menjadi salah satu tempat paling personal di rumah. Di sana, kita beristirahat setelah hari yang panjang, menghabiskan waktu bersama keluarga, sampai sekadar rebahan tanpa tujuan. Nggak heran kalau kenyamanan kamar jadi sesuatu yang penting.
Menariknya, kenyamanan tersebut nggak cuma ditentukan oleh kasur atau dekorasi. Sprei, sarung bantal, dan selimut juga punya peran. Bahkan, kebutuhan bedding nggak hanya ada di rumah, tetapi juga di hotel, rumah sakit, dan berbagai tempat lainnya.
Berangkat dari kebutuhan sederhana inilah, Soulmate Bedsheet lahir.
Tim SWARA berkesempatan untuk ngobrol bareng Nastiti, founder dari Soulmate Bedsheet, sebuah bisnis bedding yang sudah berdiri selama dua dekade.
Berawal dari Nama dan Tekad

Namanya simple. “Soulmate”. Selain mudah diingat, semua orang paham artinya. Tapi apa hubungannya dengan kamar tidur? Ternyata, nama ini memiliki makna yang dalam. “Sebenarnya yang mencetuskan nama ini adalah ibu saya. Soulmate yang bisa juga diartikan sebagai “teman sejati”, diartikan sebagai teman yang kita percaya dan nyaman untuk bersama. Harapannya, pembeli merasa percaya dan nyaman dengan produk Soulmate”, ujar Nastiti.
Harapan tersebut kemudian menjadi filosofi bagi bisnis yang didirikannya pada 2006. Uniknya, perjalanan Soulmate justru dimulai dari keterbatasan. Nastiti sendiri mengaku nggak bisa menjahit.
Awalnya, ia mencoba menjual sarung bantal dengan sistem membeli produk dari produsen, kemudian menjualnya kembali. Namun, setelah dijalani, Nastiti melihat peluang yang lebih besar pada produk sprei. Setahun kemudian, Soulmate mulai memproduksi produknya sendiri.
Keputusan tersebut ternyata membuka ruang bagi Soulmate untuk lebih mudah menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Dari yang awalnya hanya menjual kembali, perlahan Soulmate mulai membangun kemampuan produksinya sendiri.
Modal Boleh Minim, Tapi Nggak Minim Akal
Memulai bisnis dengan modal terbatas tentu bukan perkara gampang. Bahkan pada awal berdiri, Soulmate belum memiliki mesin jahit maupun tempat produksi sendiri. “Boro-boro, bahan aja nggak punya,” ujarnya. Tapi, Nastiti punya satu modal yang nggak kalah penting: kemampuan marketing dan keberanian mencari peluang.
Alih-alih menunggu modal terkumpul, ia justru aktif menawarkan produk kepada hotel dan rumah sakit. Berbekal pengetahuan tentang berbagai jenis bahan, portofolio penjualan yang masih seadanya, serta kemampuan marketing, Nastiti mendapat proyek masif dari berbagai instansi. Proyek-proyek tersebut memberikan uang muka yang kemudian bisa diputar menjadi modal produksi. Keuntungan dari proyek juga perlahan digunakan untuk membeli mesin jahit dan membangun tempat produksi sederhana.
Strategi tersebut membuat bisnis bisa tumbuh secara bertahap. Dari hanya memiliki beberapa tenaga jahit dan tempat seadanya, kini Soulmate sudah memiliki tim produksi dan pemasaran yang lebih lengkap. Bahkan, mereka tengah menyiapkan tempat produksi sekaligus toko offline yang lebih luas. Perjalanannya tentu nggak selalu mulus. Ada masa ketika Nastiti merasa takut bisnisnya nggak akan berhasil, bahkan sempat terpikir untuk menyerah. Namun, keberadaan karyawan yang menggantungkan penghasilan mereka dari Soulmate menjadi salah satu alasan untuk terus bertahan.
Toh, menurut Nastiti, pindah ke bisnis lain pun bukan berarti bebas dari tantangan. Jadi, kenapa nggak sekalian memperjuangkan bisnis yang sudah dibangun?
Prinsip Kejujuran Selama 20 Tahun

Setiap bisnis yang mampu bertahan selama bertahun-tahun pasti punya prinsip yang terus dipegang. Selain adaptif terhadap perubahan pasar, Nastiti punya satu prinsip yang menurutnya nggak kalah penting. Di saat kebanyakan penjual over-promise tentang produknya, Nastiti memilih untuk berjualan dengan jujur dan apa adanya.
Prinsip itu ia terapkan dengan terbuka kepada pelanggan. “Saya nggak pernah tutup-tutupin. Kalau ada barang reject yang mau saya jual, saya pasti bilang itu barang reject. Kalau bahannya agak panas, saya juga akan kasih tahu dari awal. Kami bahkan punya program untuk pembeli yang sudah terlanjur beli tapi berubah pikiran. Kalau memang mau mengembalikan barangnya, kami nggak masalah, selama barangnya belum digunakan dan dicuci,” lanjutnya.
Cara berjualan seperti ini mungkin sederhana, tetapi justru bisa membangun kepercayaan pelanggan. Selaras dengan filosofi namanya yang berarti “teman sejati”, Soulmate berusaha menjadi bisnis yang bisa dipercaya, termasuk dalam menyampaikan kondisi produknya. Sebab, pelanggan mungkin datang karena produk, tetapi kepercayaan lah yang membuat mereka kembali.
Berbagai pencapaian pun berhasil diraih. Dari yang awalnya hanya menjual produk dari produsen, kini Soulmate sudah memiliki pabrik sendiri. Dari toko kecil di mal Jakarta, kini berkembang menjadi toko rumahan dengan lahan yang jauh lebih luas. Begitu juga dengan timnya yang dulu hanya terdiri dari satu penjahit dengan satu mesin, kini Soulmate punya rumah produksi sendiri yang terpisah dari toko, lengkap dengan tim yang menangani produksi, media sosial, hingga penjualan.
Dua puluh tahun perjalanan Soulmate pun menunjukkan bahwa mempertahankan bisnis nggak selalu soal strategi yang rumit. Berani jujur, menjaga kepercayaan, terus beradaptasi dengan keinginan pasar, dan konsisten menjalankannya bisa menjadi fondasi sederhana untuk membuat bisnis terus bertahan dan berkembang.
Pesan untuk UMKM yang Mau Bertumbuh
Dua puluh tahun menjalankan bisnis membuat Nastiti memahami satu hal: tantangan adalah bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk berhenti.
Buat kamu yang baru mau mulai bisnis, menurut Nastiti, hal pertama yang harus dimiliki adalah keyakinan terhadap bisnis yang dipilih. Pastikan juga sumber daya yang dibutuhkan tersedia secara berkelanjutan dan, yang paling penting, pasarnya memang ada.
Sementara untuk pelaku UMKM yang ingin mengembangkan bisnis, pertanyaan sederhananya adalah: “Siapa yang akan menggunakan produk kita?”
Dari situ, bisnis bisa mulai membangun pendekatan yang lebih customer-focused. Sebab, sebagus apa pun produk yang dibuat, bisnis tetap membutuhkan orang yang benar-benar membutuhkannya.
Perjalanan Soulmate Bedsheet membuktikan bahwa bisnis nggak selalu dimulai dari modal besar, fasilitas lengkap, atau kemampuan yang serba bisa. Kadang, yang dibutuhkan lebih dulu adalah keberanian untuk mulai, kemauan membaca peluang, dan konsistensi untuk terus belajar dan beradaptasi.
Dua puluh tahun kemudian, Soulmate bukan cuma berhasil bertahan. Ia tumbuh bersama orang-orang di dalamnya, dan tetap berusaha menjadi “teman sejati” yang memberikan kenyamanan, satu tempat tidur pada satu waktu.
Cek selengkapnya mengenai Soulmate Bedsheet di www.soulmatebedsheet.com