SWARA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera dan Kalimantan menyebabkan polusi udara berupa kabut asap semakin tidak ramah terhadap kesehatan. Gubernur Riau Syamsuar telah menetapkan Status Darurat Pencemaran Udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Pemprov Riau segera menyiapkan tempat untuk evakuasi bagi warga yang rentan terkena dampak asap akibat pencemaran udara. Misalnya adalah anak-anak, ibu-ibu hamil, dan orang tua yang asma segera dirujuk ke rumah sakit.

 

Jarak pandang pendek

Kondisi terbaru, kabut asap menyebabkan jarak pandang di Pekanbaru hari ini hanya 500 meter. Alat pemantau polutan BMKG menunjukkan angka pencemaran partikel PM10 di udara mulai Minggu malam hingga Senin pagi terpantau antara 500 hingga 700. Angka ini sudah masuk di atas kategori berbahaya.

Kabut asap di Riau semakin memburuk, terlebih dalam tiga hari terakhir. Kabut asap di Riau disertai dengan bau yang menyengat. Asap yang ada di Pekanbaru merupakan kiriman dari Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan (Sumsel) yang dilanda kebakaran hutan yang jauh lebih parah bila dibandingkan Riau.

Pantauan satelit terra aqua menunjukkan ada 1.591 titik panas yang menjadi indikasi karhutla di Sumatera per hari Senin (23/9) pukul 6 pagi. Provinsi Sumatera Selatan memiliki 675 titik, Jambi 505 titik, dan Riau 256 titik panas.

Total titik kebakaran hutan yang ada di Kalimantan dan Sumatera berjumlah 4.399 titik, Kebanyakan titik panas berada di Kalimantan Tengah, disusul dengan Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Timur, dan Papua. BNPB menyebutkan bahwa kebakaran lahan hutan sudah mencapai 328.724 hektare. 27 persen di antaranya merupakan lahan gambut yang sulit dipadamkan.

 

Artikel terkait:

7 Cara Bertahan Diri saat Bencana Tsunami Menerjang

Wajib Tahu, Ini 5 Alasan Pentingnya Punya Tabungan Darurat Bencana

Tetap Aman Saat Menghadapi Bencana Gempa, Ini Tipsnya!

 

 

Semakin meluas

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi menimbulkan kerugian ekonomi serta lingkungan, serta mengancam kesehatan dan penduduk di banyak lokasi. 

Upaya pemadaman seperti mengerahkan pesawat dan helikopter pemadam kebakaran, serta membuat hujan buatan sudah dilakukan, namun tidak mampu menghalau terjadinya kebakaran hutan. Diperlukan upaya lebih supaya kebakaran hutan bisa terselesaikan. Pemerintah Indonesia bisa meminta bantuan kepada negara-negara yang mendapat kiriman asap. Namun, Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan malah menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura menyumbang asap kebakaran hutan di wilayahnya. Menurut data yang dikeluarkan oleh ASEAN Specialized Meteorological Centre, hampir semua titik api berada di Indonesia. Di Malaysia hanya ada tujuh titik panas.

 

Butuh koordinasi 

Selain memadamkan api, pemerintah Indonesia harus memikirkan langkah-langkah darurat misalnya koordinasi efektif di berbagai level pemerintahan untuk mengevakuasi warga. Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo, masih ada kepala daerah yang absen rapat koordinasi sehingga memperlambat pengambilan keputusan.

Pencegahan kebakaran hutan yang selalu terjadi setiap tahun patut ditindaklanjuti, baik oleh perusahaan atau individu. Pemerintah, bisa mulai menaati keputusan Mahkamah Agung (MA)  pada Juli 2019 dalam perkara kasasi gugatan warga negara kasus kebakaran hutan 2015 yang menyebabkan kerugian negara sekitar 221 triliun. Dalam keputusannya, MA meminta pemerintah untuk mengumumkan nama-nama perusahaan yang terlibat dalam kebakaran hutan dan mewajibkan mereka melakukan pemulihan.

 

Artikel terkait:

Tetap Berpikir Positif Saat Mati Listrik Di Jakarta, Bisa Nggak Sih?

Hati-hati 4 Komponen di Mobil ini Bisa Memicu Kebakaran

Ibukota Indonesia Pindah: Dari Hanya Sekedar Impian Menjadi Masa Depan

 

 

Peristiwa karhutla secara sengaja sudah berulang kali dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah harus menindak tegas para pembakar hutan, misalnya dengan mengumumkan nama perusahaan yang terlibat dalam kebakaran hutan sesuai yang telah dimandatkan oleh MA. 

Jangan sampai ada lagi hutan yang secara sengaja dibakar hanya untuk kepentingan manusia. Hutan masihlah harta milik anak cucu kita, jaga dan lestarikan demi bumi yang lebih rindang! 


Anastasia Galuh Dinung Purwaningtyas Anastasia Galuh Dinung Purwaningtyas