SWARA – Pemindahan ibukota Indonesia sebenarnya sudah digagas sejak era Soekarno, namun baru berhasil dieksekusi pada era Joko Widodo. Dua presiden sebelum Joko Widodo juga mewacanakan untuk pindah ibukota. Salah satu lokasi yang digadang-gadang menjadi ibukota baru Indonesia adalah Jonggol, Bogor. Jonggol dinilai sudah memiliki infrastruktur yang memadai sehingga dari segi anggaran tidak akan terlalu menguras uang negara untuk pembangunan dari nol.

 

Wacana awal pemindahan ibukota oleh Soekarno terjadi saat kunjungannya ke Palangkaraya bersama Duta Besar Amerika Serikat Hugh Cumming Jr, Dubes Uni Soviet D. A. Zhukov, serta Sri Sunan Pakubuwono XVII pada 17 Juli 1957. Alasannya, Palangkaraya berada di tengah-tengah Indonesia dan masih memiliki tanah yang luas. Bahkan, Soekarno sudah menyiapkan grand design untuk membangun kota Palangkaraya menjadi ibukota. Namun, rencana ini tidak kunjung terealisasi hingga Soekarno tidak memerintah lagi.

 

Artikel terkait:

  1. Begini Pilih Jurusan Kuliah yang Menguntungkan di Masa Depan!
  2. Biar Terus Semangat Belajar, Ini 7 Dia Tips Jitunya!
  3. Ternyata Kuliah Online Bisa Dongkrak Karier dan Penghasilanmu!

 

Pada masa Orde Baru, Soeharto juga memunculkan wacana pemindahan ibukota ke Jonggol, Bogor. Namun, wacana ini tidak jelas kelanjutannya. Para pengusaha dan tuan tanah menjadikan hal ini sebagai alasan untuk memainkan harga tanah di sekitar Jonggol.

 

Di tahun 2012, Susilo Bambang Yudhoyono juga memunculkan wacana untuk pindah ibukota. Beberapa alternatif muncul seperti Palembang (Sumatera Selatan), Karawang (Jawa Barat), Sulawesi Selatan dan Palangkaraya (Kalimantan Tengah). Jakarta menjadi pusat ekonomi dan bisnis dengan nama The Greater Jakarta.

 

Impian ini tidak hanya menjadi sebuah rencana, namun dieksekusi oleh Joko Widodo pada rapat terbatasnya tanggal 19 April 2019. Jokowi telah melakukan berbagai kajian bersama tim dan berbagai aspek yang telah dipertimbangkan selama 1,5 tahun ini menunjukkan bahwa pemindahan ibukota sangat mungkin dilakukan.

 

“Pak Presiden Jokowi pada April 2017 lalu sudah memerintahkan ke Bappenas untuk melakukan studi awal secara komprehensif. Studi awal itulah yang dipaparkan saat sidang kabinet pekan lalu. Isinya intinya pemindahan ibu kota sangat dimungkinkan dari berbagai aspek dan tinjauan,” kata eks Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Sumarsono dalam diskusi di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019) kepada detik.com.

 

Pindah ke Penajam Paser Utara – Kutai

Teka-teki mengenai ke mana ibukota baru Indonesia dipindahkan akhirnya terjawab pada Senin, 26 Agustus 2019. “Pemerintah telah melakukan kajian-kajian negara lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah sebagian di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur,” kata Jokowi di Istana. 

 

Artikel terkait:

  1. Recommended! 4 Destinasi Liburan ke Eropa yang Murah dan Nggak Bikin Boros
  2. Staycation Asik di Jakarta? Cek, Ini 4 Rekomendasi Hotelnya!
  3. 4 Aplikasi Wajib Unduh, Rekomendasi untuk Travelling!

 

Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Ada lima alasan mengapa Jokowi memutuskan memindahkan ibukota Indonesia ke Kutai-Penajem Paser Utara. Pertama, resiko bencana minimal, baik banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi, dan tanah longsor. Kedua, lokasinya yang terletak di tengah-tengah Indonesia. Ketiga, berdekatan dengan kota yang seudah berkembang yakni Samarinda dan Balikpapan. Keempat, infrastruktur yang sudah lengkap. Kelima, tersedia lahan yang telah dimiliki pemerintah seluas 180 ribu hektare. 

 

Kutai juga memiliki nilai historis dalam sejarah kerajaan di Nusantara. Kutai adalah kerajaan pertama di Nusantara dan merupakan kerajaan Hindu tertua. Mungkin saja Jokowi ingin kita kembali mengingat masa lalu supaya bisa memperoleh kejayaan di masa depan seperti yang dijalani oleh Kerajaan Kutai Martadipura. Kira-kira, nama apa yang bisa dipakai untuk ibukota baru Indonesia?