SWARA – Barangkali, kamu adalah satu dari sekian banyak anak SMA yang sudah yakin untuk masuk sekolah pariwisata. “Ah enak kerja di bidang pariwisata! Bisa jalan-jalan!” “Orang kan selalu butuh liburan. Tinggal belajar bahasa, cuan pasti kencang!” Siapa yang berpikir seperti itu? Saya termasuk di antaranya. Padahal kerja di bidang pariwisata tidak hanya berbicara tentang jalan-jalan, namun hospitality alias pelayanan adalah yang utama. Belajar bahasa juga ternyata tidak semudah itu! Susah sekali, kawan Swara.. 

 

Di balik segala prospek yang ditawarkan, terjadinya pandemi corona covid-19 adalah hal yang tidak disangka-sangka. Bisnis pariwisata yang dianggap tidak akan pernah mati ternyata adalah salah satu sektor yang terdampak pandemi. Suatu hal yang tidak diprediksi kan?

 

Bukan berarti kamu harus mengurungkan niatmu untuk masuk sekolah pariwisata. Kamu harus melakukan sedikit penyesuaian supaya tetap bisa berkuliah dan bekerja di bidang yang sejalan dengan kuliahmu. Penyesuaian seperti apa yang harus kamu lakukan?

 

1. Wisata virtual

Salah satu bentuk kemajuan teknologi yang harus disyukuri adalah dunia virtual. Walaupun kamu tidak bisa ke mana-mana, bukan berarti kamu benar-benar tidak bisa memanjakan mata dengan pemandangan yang indah. Mahasiswa Program Studi Magister Pariwisata Berkelanjutan Universitas Padjajaran membuat program Pirtual Project, yakni program wisata virtual ke sejumlah destinasi di Indonesia

 

Bermodalkan aplikasi vidcon Zoom, peserta bisa merasakan informasi pariwisata layaknya peserta tur sungguhan! Sejauh ini, pelaksanaan wisata virtual sudah berlangsung sebanyak dua kali dengan tujuan yang berbeda yakni ke Tana Toraja dan Desa Wisata Ngalanggeran. Selanjutnya, wisata virtual akan dilakukan ke Gunung Tambora dan Sawahlunto. Bukan tidak mungkin, wisata virtual ini akan diteruskan walaupun pandemik sudah selesai, kan?

 

2. Inovasi di bidang kebersihan

Tidak dapat dipungkiri, kebersihan adalah hal yang paling penting dalam mengelola suatu tempat ataupun usaha. Selepas pandemi ini selesai, tentu saja kebiasaan orang-orang untuk menjaga kebersihan akan terbawa -mengingat dibutuhkan waktu 21 hari untuk mempertahankan suatu kegiatan agar menjadi kebiasaan- otomatis disinfektan juga menjadi sebuah kebutuhan.

 

Hal ini juga dilakukan untuk mencegah perluasan efek bila suatu hari nanti terjadi pandemi global seperti saat ini. 

Artikel terkait

Rekomendasi Sekolah Pariwisata dan Perhotelan Beserta Rincian Biayanya

5 Akademi Pariwisata Terbaik di Yogyakarta

Rekomendasi SMIP/SMK Pariwisata Terbaik yang Ada di Jakarta

 

3. Perubahan di bidang pelayanan

Pariwisata harus berbenah, walaupun suatu hari pandemi dan segala efeknya telah selesai, penting bagi pengelola pariwisata untuk memiliki hubungan baik seperti kerja sama supaya bisa melakukan tes cepat. Untuk meminimalisir penyebaran virus, setidaknya penyedia tur harus melakukan tes cepat seminggu sebelum keberangkatan.

 

Menyiapkan masker untuk wisatawan sebagai bentuk antisipasi bila ada wisatawan yang terindikasi sakit juga sangat penting. Jangan lupa untuk tetap melakukan pembatasan jarak saat menggunakan transportasi umum mulai dari pesawat terbang, kereta, dan lain-lain.

 

Sudah bulatkah tekadmu untuk masuk sekolah pariwisata? Yakinkan kembali dirimu dan bersiap untuk segala perubahan yang terjadi di dunia pariwisata karena adanya pandemi ini. Yang terpenting dari dunia pariwisata adalah melayani pelanggan dengan baik! Selamat belajar!