Di tahun 2026, godaan belanja impulsif justru makin besar. Diskon muncul hampir setiap hari, notifikasi e-commerce nggak ada habisnya, dan fitur “beli sekarang, bayar nanti” bikin belanja terasa makin mudah. Tanpa disadari, kebiasaan belanja impulsif ini bisa bikin keuangan jadi bocor halus. Tagihan aman, kebutuhan terpenuhi, tapi tabungan nggak pernah jalan.
Belanja impulsif biasanya terjadi bukan karena butuh, tapi karena dorongan sesaat. Bisa karena lagi bosan, stres, atau sekadar tergiur promo yang kelihatannya sayang kalau dilewatkan. Kalau dibiarkan terus, kebiasaan ini bisa bikin rencana keuangan jangka panjang berantakan. Nah, supaya keuangan di 2026 lebih sehat, yuk mulai pelan-pelan menghilangkan kebiasaan belanja impulsif dengan cara-cara berikut ini.
1. Fokus Beli Barang yang Benar-Benar Dibutuhkan
Promo besar sering bikin kita lupa bertanya, “Ini beneran butuh atau cuma pengen?” Mulai sekarang, biasakan membeli barang yang memang dibutuhkan, bukan karena sedang diskon atau kelihatan lucu di etalase.
Contohnya, kamu tergoda beli sepatu karena warnanya unik, padahal sepatu lama masih layak pakai. Akhirnya, sepatu baru jarang dipakai karena nggak cocok dengan pakaian yang ada. Dari satu barang impulsif, malah jadi pengeluaran tambahan. Jadi, sebelum beli, pastikan fungsinya benar-benar jelas.
2. Sesuaikan dengan Gaya Hidup Sehari-hari
Di 2026, gaya hidup banyak orang makin fleksibel, ada yang kerja hybrid, ada juga yang full remote. Nah, barang yang dibeli sebaiknya menyesuaikan aktivitas harianmu.
Kalau kamu lebih sering kerja di kantor dengan dress code formal, nggak perlu punya terlalu banyak sepatu kasual. Sebaliknya, kalau keseharianmu santai, membeli terlalu banyak pakaian formal juga kurang efektif. Semakin sesuai dengan gaya hidup, makin besar peluang barang itu benar-benar terpakai.
3. Utamakan Kenyamanan, Bukan Tren
Tren datang dan pergi, tapi kenyamanan tetap jadi faktor utama. Jangan sampai kamu membeli barang hanya karena lagi viral, padahal nggak cocok dengan kondisi lingkungan atau kebiasaanmu.
Misalnya, membeli jaket tebal karena sedang tren, padahal kamu tinggal di kota dengan cuaca panas. Akhirnya, jaket cuma jadi penghuni lemari. Pilih barang yang nyaman dan relevan supaya uang yang dikeluarkan sepadan dengan manfaatnya.
4. Ingat Barang yang Sudah Kamu Miliki
Salah satu penyebab belanja impulsif adalah lupa isi lemari sendiri. Banyak orang membeli barang yang ternyata sudah punya versi serupa di rumah.
Luangkan waktu untuk mengecek isi lemari secara berkala. Pisahkan barang yang masih sering dipakai dan yang sudah jarang tersentuh. Selain bikin kamu lebih sadar dengan apa yang dimiliki, lemari juga jadi lebih rapi. Barang yang masih layak tapi jarang dipakai bisa disumbangkan agar lebih bermanfaat.
5. Jangan Jadikan Belanja sebagai Pelampiasan Emosi
Belanja memang bisa bikin mood naik sesaat, tapi efeknya sering nggak bertahan lama. Di 2026, dengan kemudahan transaksi digital, belanja emosional justru makin berbahaya karena terasa “nggak kerasa keluar uang”.
Kalau lagi stres atau capek, coba cari alternatif lain seperti olahraga ringan, nonton, atau sekadar istirahat. Belanja sebaiknya dilakukan saat kondisi pikiran netral, bukan sebagai pelarian dari emosi.
6. Batasi Waktu Saat Berbelanja
Semakin lama kamu berada di toko atau scroll marketplace, makin besar peluang belanja impulsif terjadi. Coba batasi waktu belanja, misalnya maksimal 30–45 menit, atau langsung berhenti setelah barang di daftar kebutuhan terpenuhi.
Cara ini efektif untuk menghindari “nambah dikit” yang ujung-ujungnya bikin pengeluaran membengkak.
7. Tunda Pembelian Barang yang Tidak Mendesak
Kalau kamu melihat barang yang kamu suka tapi sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan, beri jeda waktu. Tunggu tiga hari hingga satu minggu sebelum memutuskan membeli.
Sering kali, setelah beberapa hari, keinginan itu hilang sendiri. Kalau ternyata masih kepikiran dan memang dibutuhkan, barulah pertimbangkan untuk membeli dengan lebih tenang.
8. Pilih Barang Berkualitas untuk Kebutuhan Utama
Untuk barang yang sering dipakai seperti sepatu, tas kerja, atau pakaian sehari-hari, memilih kualitas yang lebih baik justru bisa lebih hemat dalam jangka panjang. Barang berkualitas biasanya lebih awet dan nggak perlu sering diganti.
Dengan begitu, kamu bisa mengurangi frekuensi belanja dan menekan pengeluaran tanpa mengorbankan kebutuhan.
Menghilangkan kebiasaan belanja impulsif memang nggak instan, apalagi di 2026 yang apa-apa serba digital dan makin cepat. Tapi dengan langkah-langkah kecil dan konsisten, kamu bisa mulai mengontrol pengeluaran dan membuka ruang lebih besar untuk menabung. Ingat, keuangan yang sehat bukan soal seberapa sering kamu belanja, tapi seberapa bijak kamu mengambil keputusan.