Friday, 10 Apr 2026

Saatnya Menjadikan Krisis Pandemi Covid-19 Sebagai Peluang Bisnis Baru

SWARASelalu ada kesempatan baru terbuka dalam setiap kesempatan, termasuk saat krisis sekalipun. Pertanyaannya, apakah kita siap menangkap kesempatan tersebut?

 

Pandemi Covid-19 membuat kita mengalami krisis yang tidak bisa diketahui dengan pasti kapan berakhirnya. Pemerintah Indonesia sendiri saat ini mulai kembali menggerakkan roda perekonomian untuk mengatasi krisis yang bisa berakibat ke terjadinya resesi.

 

Mungkin kamu salah satu pengusaha yang ikut terkena dampak pandemi ini. Bukan tidak mungkin kamu terpaksa menutup perusahaan dan bisnismu karena terus menerus merugi dan tidak bisa diselamatkan lagi.

 

Kabar baiknya, sebenarnya kamu bisa menjadikan krisis ini sebagai peluang bisnis baru, lho. Di sinilah dibutuhkan inisitaif dan kreativitas dalam mengolah krisis menjadi sesuatu yang bisa menguntungkan, bukan hanya untukmu tapi juga perekonomian secara menyeluruh.

 

Untuk kamu yang ingin menjadikan krisis ini sebagai peluang bisnis baru, berikut 5 key points yang bisa kamu lakukan:

 

1. Pastikan apakah inovasi yang kamu hasilkan bisa menyelesaikan masalah jangka panjang?

Di saat seperti ini, inovasi paling tepat sebaiknya bersifat spesifik, penting, dan bisa mengatasi masalah yang saat ini ada di depan mata. Misalnya, saat ini tidak banyak yang membutuhkan produk yang kamu hasilkan. Di sisi lain, kebutuhan akan masker terus meningkat. Meskipun berbeda dengan core business yang kamu jalani, tapi ada peluang di sini yang sayang untuk disia-siakan.

 

Untuk memutuskan apakah produk atau servis baru yang kamu tawarkan menyelesaikan masalah jangka pendek atau jangka panjang, kamu bisa mengecek kondisi perusahaan sebelum ini. Apakah masalah yang kamu hadapi sekarang juga dialami dulu? Selanjutnya, buat daftar perubahan apa saja yang terjadi akibat pandemi sehingga kamu bisa merumuskan masalah yang paling mendesak dan mencari solusi.

 

2. Lupakan rencana jangka panjang, fokus pada rencana hari ini

Di situasi krisis, seringkali rencana jangka panjang sudah tidak cocok lagi. Jangan memaksakan diri untuk terus mengikuti rencana yang sudah disusun tersebut. Sebaiknya fokus pada rencana baru yang disusun untuk jangka pendek dan kamu pun bisa melakukan apa yang ada di depan mata.

 

Di situasi seperti ini yang dibutuhkan adalah solusi konkret dan bisa langsung dijalankan saat ini juga. Ketidakpastian yang dialami di situasi seperti ini membuatmu harus lebih fleksibel dan cepat mengambil keputusan.

 

3. Identifikasi target pasar jangka panjang

Selanjutnya, apakah solusi yang dihasilkan hanya cocok untuk target market di masa sekarang atau bisa berlanjut jauh setelah pandemi usai? Penting untuk juga fokus kepada pasar saat menciptakan inovasi baru untuk memastikan solusi tersebut terpakai dengan maksimal.

 

Kamu bisa mencoba user-centered design karena kamu bisa memahami siapa konsumenmu. Sehingga, kamu bisa menciptakan produk atau jasa yang cocok dengan mereka.

 

Selain itu, penting juga untuk mencari tahu seberapa besar target market yang bisa kamu raih dengan solusi ini. Pastikan jumlahnya banyak dan seimbang dengan proses produksi yang harus kamu lakukan.

 

4. Jika perlu, lakukan pivot bisnis

Jika target market saat ini tidak cukup mengimbangi proses produksi yang harus dilakukan, kamu bisa mempertimbangkan untuk melakukan pivot business. Pivot bisnis sendiri mengubah produksi tapi masih berada dalam visi yang sama. Beberapa perusahaan besar pun melakukan pivot bisnis ini, seperti perusahaan kosmetik yang memproduksi hand sanitizer akibat tingginya permintaan dan peluang yang sangat besar di bidang tersebut.

 

Untuk kamu yang sedang mempertimbangkannya, baca di sini seluk beluk pivot business yang wajib kamu pahami.

 

5. Atur pola komunikasi internal dan eksternal agar lebih efektif

Transparansi sangat dibutuhkan di dalam komunikasi yang baik, termasuk terhadap karyawanmu. Pastikan semua pihak yang terlibat mengetahui soal posisimu saat ini, sehingga semuanya bisa beradaptasi secara serentak dengan direksi baru yang kamu tawarkan. 

 

Komunikasi yang transparan bisa menghindarkanmu dari masalah lebih lanjut dan mendapatkan support dalam mencari solusi. Komunikasi yang tepat juga akan memudahkanmu dalam mengambil keputusan.

Ada banyak perusahaan yang lahir dari masa krisis, seperti pemrograman digital yang muncul usai Perang Dunia II. Walaupun situasi saat ini serba tidak pasti, kamu bisa memanfaatkan keterbatasan ini menjadi peluang baru. Yuk, lebih semangat dan #pastilebihsiap dalam mengambil keputusan.

5 Cara Mudah Mengatur Keuanganmu Layaknya Seorang Miliuner

SWARA – Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik. Mungkin bukan pengalaman yang langsung kamu alami sendiri, tapi pengalaman orang lain juga bisa menjadi sumber pembelajaran.

 

Mungkin selama ini kamu sering bertanya-tanya, mengapa ada orang yang bisa mengatur uangnya sedemikian rupa dan menjadi jutawan. Di sisi lain ada juga yang kesulitan mengatur keuangan sehingga seringkali malah kebablasan. Tidak mau dong masuk ke dalam golongan kedua ini?

 

Tidak sulit, kok, mengatur keuangan layaknya para jutawan. Dilansir dari Forbes.com, lima cara mudah mengatur keuangan layaknya seorang miliuner ini akan sangat membantumu.

 

1. Tetapkan tujuanmu

Banyak yang beranggapan bahwa memiliki uang berarti bisa memiliki apa saja yang diinginkan. Sebanyak apa pun uang yang kamu miliki, kamu bisa membeli barang mewah seperti pakaian branded, mobil mewah, rumah besar, dan jalan-jalan ke luar negeri beberapa kali dalam setahun.

 

Namun, di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa uang menjamin keamanan. Memiliki uang berarti kamu merasa lebih mandiri dan punya banyak pilihan.

 

Jadi, tentukan apa yang sebenarnya kamu inginkan? Punya uang karena ingin hidup mewah atau merasa aman? Penting untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan sebelum melangkah lebih jauh dalam mengatur keuanganmu. Sebab, tujuan mengatur keuangan adalah untuk memenuhi tujuan yang sudah kamu tetapkan. Pastikan tujuan yang ingin kamu raih, semakin spesifik semakin baik.

 

2. Money Day

Dalam seminggu, tetapkan satu hari khusus sebagai Money Day. Di hari khusus ini, kamu bisa mengatur semua keuanganmu, seperti membayar utang, mencatat pengeluaran dan pemasukan, melakukan pembayaran rutin dan lainnya. Dengan adanya rutinitas ini akan lebih memudahkanmu dalam melihat kondisi keuanganmu.

 

Di hari yang sudah ditetapkan, buat kategori yang harus kamu lakukan, misalnya melunasi kartu kredit, investasi, menabung, bayar asuransi, bayar cicilan dan lainnya. Gunakan aplikasi yang akan memudahkanmu dalam mencatat semua jenis pengeluaran dan pemasukan ini. Dengan sistem yang tertata, akan membuatmu lebih bersemangat dala menatur keuanganmu dan tidak lagi merasa terbebani.

 

3. Atur uangmu sebaik mungkin

Banyak yang berpendapat, semakin tinggi pemasukan maka bisa belanja lebih banyak. Hal ini didukung dengan masih banyak yang hanya mengandalkan satu akun bank saja. Begitu gajian, uang akan masuk ke rekeningmu. Lewat rekening itu pula kamu membayar tagihan dan melakukan pengeluaran rutin.

 

Tidak ada salahnya. Namun, jika melihat jumlah yang banyak di dalam satu rekening, dorongan untuk mengeluarkan lebih banyak juga semakin tinggi. Juga sebaliknya, jika hanya ada sedikit uang di rekeningmu, kamu akan lebih berhati-hati saat membelanjakannya.

 

Buka beberapa rekening yang bisa disesuaikan dengan fungsinya. Dengan memisahkan uang, kamu terhindar dari keinginan untuk berbelanja dan membeli barang yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Kamu harus konsisten menggunakan setiap rekening untuk kebutuhan tertentu, dan jangan tergoda mengambil dari rekening lain untuk hal lain. Misal, mengambil dari rekening tabungan karena tergoda ingin beli baju.

 

4. Pahami pajak yang harus kamu bayar

Tidak bisa dipungkiri kalau pajak memang membingungkan. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan dalam mengatur keuangan adalah mengabaikan pajak. Patut untuk memahami pajak apa saja yang harus kamu bayarkan, sehingga saat membuat pos pengeluaran, kamu sudah memasukkan pajak sejak awal dan tidak kelimpungan di tengah-tengah karena salah perhitungan.

 

Misalnya berapa pajak yang dipotong dari penghasilanmu sehingga kamu bisa menggunakan hasil akhir sebagai landasan dalam membuat pos pengeluaran. Begitu juga dalam membayar cicilan, berapa persen bunga atau pajak tambahan yang harus dikeluarkan, sehingga kamu bisa membuat kalkulasi yang lebih tepat. Jika bingung, tidak ada salahnya meminta bantuan ahli agar lebih tertata.

 

5. Pahami beda keinginan dan kebutuhan

Seringkali batas antara kebutuhan dan keinginan masih blur. Hal yang sebenarnya hanya keinginan, seringkali dianggap sebagai kebutuhan. Seringkali kamu menjustifikasi keinginan sebagai kebutuhan. Misalnya soal rumah. Buat daftar rumah seperti apa yang kamu butuhkan? Apakah rumah besar dua lantai lengkap dengan kolam renang adalah kebutuhan atau keinginan saja? Sebab, dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan bisa membantumu dalam mengatur keuangan dengan lebih baik.

 

Belajar dari Sang Ahli

Yuk, lihat bagaimana miliuner dunia mengelola keuangan mereka dan bisa kamu tiru, seperti dilansir dari Inc.com.

 

Jeff Bezos

Source: CNBC.com

Bos Amazon ini memilih cara hidup sederhana dan tidak membelanjakan uangnya untuk hal yang tidak penting. bagi Jeff Bezos, hidup sederhana akan mendorongnya untuk terus berinovasi sehingga menghasilkan lebih banyak lagi.

 

Warren Buffet

Source: businessinsider.com

Bagi Warren Buffet, menabung harus menjadi sebuah keharusan. Hal ini penting karena seringkali banyak yang mengabaikan pentingnya menabung dan kelak mengalami masalah. Dengan menjadikan menabung sebagai keharusan, lama-lama akan terbiasa dengan sendirinya.

 

Bernard Arnault

Source: businessoffashion.com

Bos Louis Vuitton ini memilih untuk investasi. DIa bahkan menyesal tidak mencoba investasi lebih awal lagi. Jika dilakukan lebih awal, Bernard Arnault yakin dirinya akan jauh lebih kaya dibanding saat ini.

 

Mark Zuckerberg

Source: Time.com

Hal kecil tapi penting menurut Mark Zuckerberg adalah, pahami dengan jelas ke mana saja kamu membelanjakan uangmu. Oleh karena itu, bisa dimulai dari hal simple seperti memiliki caatan pengeluaran. Sehingga, kamu tidak akan dipusingkan oleh pertanyaan ‘kenapa gaji rasanya habis begitu cepat’?

 

Semua miliuner yang kita kenal saat ini butuh kerja keras dalam mengelola keuangannya, sehingga memberikan hasil nyata. Mungkin kita butuh waktu untuk belajar, tapi kita bisa meniru sisi positif dari mereka yang sudah sukses lebih dulu untuk masa depan yang #PastiLebihSiap.

5 Strategi Jitu bagi Freelancer untuk Selamatkan Hidupmu Saat Pandemi

SWARA – Terlepas dari jam kerja yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, menjadi freelancer tidaklah gampang. Dalam situasi normal, menjadi freelancer memiliki tantangan sendiri. Terutama dalam hal keuangan karena pemasukan yang tidak rutin setiap bulannya, melainkan bergantung kepada proyek yang kamu jalani.

 

Jika di situasi normal saja sudah sangat menantang, bagaimana dengan saat pandemi seperti saat ini? Beberapa perusahaan yang terdampak pandemi terpaksa melakukan penghematan, salah satunya mengurangi jasa freelancer.

 

Misalnya freelance photographer yang sering mendapat job pemotretan pre-wedding atau pernikahan. Saat pandemi, pernikahan banyak yang ditunda atau dibatalkan. Pre-wedding juga jadi diperketat. Tidak jarang freelance photographer harus melepaskan job yang sudah ada di tangan karena tidak mungkin melanjutkan sesi pemotretan di tengah pandemi seperti ini.

 

Dampak yang Dirasakan Freelancer

Tidak hanya soal berkurangnya pekerjaan yang berimbas ke masalah keuangan, ada beberapa dampak yang dirasakan freelancer saat pandemi, di antaranya:

 

1. Masalah kesehatan

Sekalipun kamu masih mendapatkan pekerjaan saat pandemi, situasi berat saat ini akan berdampak pada kesehatan, termasuk biaya yang harus dikeluarkan saat sakit. Sebab, tidak seperti karyawan tetap yang memiliki sick leave dan asuransi yang ditanggung oleh kantor, freelancer harus menanggungnya sendiri. Selain itu, kadang kamu harus mengeluarkan biaya lebih untuk rapid test agar memastikan keadaanmu baik-baik saja sebelum menerima suatu pekerjaan.

 

2. Pembayaran yang tidak tepat waktu

Mungkin saja perusahaan yang mempekerjakanmu ikut terdampak, sehingga kondisi keuangan jadi harus lebih diperhatikan. Bukan tidak mungkin kamu akan terlambat dibayar. Pastikan kamu memiliki kontrak yang jelas jika terjadi hal seperti ini, misalnya meminta kejelasan berapa lama keterlambatannya. Di sisi lain, kamu harus lebih pintar mengatur keuangan sampai bayaran akhirnya turun.

 

3. Tidak ada tawaran pekerjaan

Situasi yang serba tidak pasti seperti ini membuat perusahaan memaksimalkan sumber daya yang mereka miliki, dan mengurangi pemakaian jasa freelancer. Artinya, tidak ada pekerjaan untukmu. Begitu juga dengan pembatasan acara yang mengundang keramaian seperti pernikahan, konser, dan lainnya yang banyak membutuhkan jasa freelancer, sekarang terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.

 

Strategi Menyelamatkan Hidupmu saat Pandemi

Walaupun terasa berat, tapi ini bukanlah akhir dari segalanya. Ini saatnya untuk mengembangkan kreativitasmu sehingga kamu pun bisa selamat melewati situasi berat ini.

 

1. Think out of the box

Saatnya untuk mengembangkan kreativitasmu. Mungkin selama ini kamu hanya fokus pada satu skill saja, tapi bisa saja kamu punya skill lain yang belum terlalu diasah. Misalnya, sebagai fotografer kamu bisa membuka kelas fotografi online. Fotografer Michael Cools dan selebgram Ana Octarina memanfaatkan teknologi dan melakukan virtual photoshoot untuk mengganti pemotretan outdoor. Juga Dewi Lestari yang membuka kelas penulisan online. Di situasi seperti ini, kamu bisa menciptakan peluang untuk dirimu sendiri.

 

2. Tetap jaga hubungan

Walaupun saat ini kamu tidak bekerja, tetap jalin hubungan baik dengan perusahaan atau vendor yang biasa mempekerjakanmu. Tetap update karya terbaru darimu, dan mungkin saja ada kesempatan baru terbuka untukmu. Setidaknya, pastikan mereka selalu mengingat namamu sehingga kesempatanmu untuk mendapatkan pekerjaan jadi lebih besar.

 

3. Sell yourself

Mumpung kamu punya banyak waktu luang, mengapa tidak memanfaatkannya untuk memasarkan dirimu sendiri? Coba ingat, kapan terakhir kali kamu update portfolio atau website pribadi? Sekarang saat yang tepat untuk memperbarui, sehingga calon klien tahu info terbaru tentangmu.

 

4. Buka diri untuk kesempatan baru

Kehadiran internet memungkinkanmu mendapatkan pekerjaan dari mana saja, tidak terbatas di daerah tempatmu menetap. Kamu bisa bergabung di komunitas freelancer atau komunitas yang terkait dengan skill yang dimiliki, sehingga selalu update jika ada peluang baru. Saatnya untuk berkembang secara global, karena mungkin saja ada pekerjaan yang cocok untukmu dari luar negeri.

 

Selain itu, kamu bisa membuka diri untuk pekerjaan baru. Oleh karena itu, penting untuk mengasah skill lain sehingga kamu punya modal untuk melakukan pekerjaan lain di luar bidang yang selama ini kamu geluti. Di situasi darurat seperti ini, kamu bisa bersifat lebih fleksibel.

 

5. Evaluasi ulang finansialmu

Bayangkan kemungkinan terburuk, seperti tidak ada pekerjaan selama tiga bulan ke depan. Saatnya untuk lebih ketat dalam mengelola keuangan. Berhenti mengeluarkan uang untuk hal yang tidak begitu penting karena bisa dialokasikan untuk post lain. Buat peta pengeluaran baru sesuai dengan kondisi keuanganmu saat ini, sehingga kamu bisa mengira-ngira berapa lama bisa bertahan dengan uang tabungan tanpa pemasukan.

Jika saat ini kamu mengalami kesulitan, kamu tidak sendiri. Perekonomian yang jadi carut marut akibat pandemi menuntut kita untuk lebih kreatif dan rajin membaca peluang, atau jika bisa membuka peluang sendiri. Walaupun berat, yuk persiapkan dirimu agar #PastiLebihSiap dalam menjalani waktu yang serba tidak pasti seperti saat ini.

Yuk, Evaluasi Kondisi Keuangan di Semeser 2 Tahun 2020!

SWARA – Memasuki Agustus, kita semakin dekat dengan akhir tahun. Bisa dibilang 2020 menjadi tahun spesial. Sejak Februari 2020, pandemi Covid-19 menghantam Indonesia. Banyak perubahan yang terjadi, termasuk pola keuangan yang dirasa kian berat. Di semester 2 tahun 2020, bagaimana dengan kondisi keuanganmu?

 

Sebelumnya, yuk cek lagi tentang Rencana Keuangan Tahunan. Meski untuk diri pribadi, penting bagi kamu untuk memiliki rencana keuangan tahunan. Rencana ini akan memberitahu posisimu dalam hal finansial, apakah masih aman atau justru sudah tekor? 

 

Rencana ini melingkupi semua aset yang kamu miliki, termasuk gaji rutin bulanan, berapa jumlah tabunganmu, berapa dana pensiun yang sudah kamu kumpulkan, berapa jumlah tabungan khusus untuk hal tertentu, dan sebagainya. Begitu juga dengan pengeluaran, seperti sewa rumah atau cicilan rumah, cicilan mobil, pengeluaran bulanan, utang, dan sebagainya. Dengan menetapkan goals yang ingin diraih, kamu bisa mengatur setiap pengeluaran dengan lebih bijak.

 

Agar rencana keuangan berjalan dengan semestinya, lakukan pemeriksaan secara berkala. Misalnya di setiap kuartal atau semester, sehingga kamu bisa melakukan evaluasi jika hasil yang didapat belum memenuhi target.

 

Pastikan Kamu Sudah Memenuhi Checklist Berikut Ini

Belum terlambat untuk mengecek rencana keuanganmu. Yuk, lihat lagi kondisi keuanganmu selama 2020 dan lakukan evaluasi di semester 2 ini. Berikut checklist yang harus kamu perhatikan:

 

1. Persiapan masa pensiun

Meskipun saat ini kita berada di usia produktif, wajib untuk mempersiapkan dana pensiun sedini mungkin. Periksa lagi, sudah sejauh mana kamu mempersiapkan dana pensiun? Pastikan kamu memiliki tabungan khusus untuk dana pensiun, agar keberadaannya tetap aman.

 

Walaupun tidak bisa ditebak berapa jumlah yang dibutuhkan, kamu bisa melakukan perkiraan. Ada banyak cara untuk memperkirakan, salah satunya menggunakan kalkulator pensiun yang ada di Nerdwallet. 

 

Dalam menyusun dana pensiun, pertimbangkan kemungkinan pendapatan bulanan bisa bertambah atau berkurang. Terlebih saat pandemi, ketika kondisi keuangan sedikit tidak stabil. Jika dana yang kamu persiapkan untuk masa pensiun dirasa memberatkan untuk kondisi keuangan saat ini, kamu bisa menyesuaikan jatah bulanan tersebut dengan keadaanmu sekarang.

 

2. Jumlah tabungan bulanan

Ketika sudah menjadi rutinitas, jangan lupa untuk mengecek sudah sejauh mana perjalananmu. Termasuk mengecek apakah jumlah yang ditabung masih relevan atau sudah seharusnya ditambah. Jika kamu mengalami kenaikan gaji atau memiliki pekerjaan dan bisnis sampingan, berarti jumlah yang ditabung sebaiknya ditambah. Jika sebelumnya hanya 10% dari pendapatan bulanan, mungkin bisa dinaikkan menjadi 15-20%.

 

Selain itu, jika kemampuan menabung terhambat, kamu bisa melakukan evaluasi ulang. Misalnya pada saat pandemi, kamu jadi absen menabung selama tiga bulan karena ada kebutuhan mendadak. Jika keuanganmu kembali stabil, kamu pun bisa kembali menabung. Evaluasi jumlah yang bisa kamu tabung, setelah mengevaluasi besaran pengeluaran yang dibutuhkan.

 

3. Daftar belanja

Salah satu manfaat memiliki rencana keuangan tahunan adalah, kamu bisa mengontrol jumlah pengeluaran bulanan. Semua pengeluaran yang kamu lakukan terdokumentasikan dengan baik. Di evaluasi kali ini, periksa kembali daftar belanja bulananmu. Terutama jika ada perubahan signifikan yang terjadi beberapa bulan belakangan.

 

Dalam mengevaluasi daftar belanja, kamu bisa mengecek apakah daftar itu masih sesuai dengan kondisi sekarang? Jika ada yang tidak diperlukan lagi, segera coret atau kurangi jumlahnya. Masukkan juga daftar belanja baru, sehingga kamu bisa me-update budgeting yang kamu miliki. Daftar baru ini memungkinkanmu untuk melihat celah, apakah ada pos yang bisa dialokasikan untuk hal lain seperti memenuhi rencana traveling atau kebutuhan akan kado.

 

4. Daftar utang

Penting juga untuk memeriksa daftar utang, termasuk sisa cicilan yang harus dibayarkan. Dengan mengetahui hal tersebut, kamu bisa mengatur strategi baru untuk mengatasi utang tersebut. Buat daftar utang dan dimulai dari hal paling kecil atau yang kamu rasa bisa langsung dilunasi saat ini juga hingga tujuan utamamu tercapai, yaitu bebas utang.

 

Ketika Kondisi Keuangan Jadi Berantakan

Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Di tengah ketidakpastian ini, kecemasan soal kondisi keuangan bisa meningkat. Terutama kamu yang terdampak langsung oleh pandemi, seperti kehilangan pekerjaan atau usaha yang kamu jalankan jadi tersendat. Jika kondisi keuanganmu saat ini kacau balau, lakukan hal berikut agar bisa memenuhi rencana keuangan tahunanmu:

 

1. Cek perubahan kondisi keuangan

Berpikirlah menggunakan sudut pandang rencana keuangan yang baru, sehingga kamu bisa mengatur strategi yang akan dilakukan. Bagi pengeluaran ke dalam beberapa kelompok, sesuai dengan tingkat kepentingan masing-masing. Saat mengecek, kelompokkan kebutuhanmu menjadi:

 

  • Pengeluaran yang harus dikurangi

Catat pengeluaran rutinmu sebelum pandemi atau sebelum krisis. Lalu, eliminasi daftar yang saat ini tidak lagi kamu butuhkan. Misalnya, saat WFH, kamu tidak butuh biaya transportasi, makan siang di luar, biaya rekreasi, dan lainnya. Hal-hal seperti ini bisa kamu eliminasi karena tidak lagi dibutuhkan.

Contohnya lagi, sebelum pandemi, kamu menargetka 20% untuk biaya rekreasi dari gaji bulananmu. Oleh karena sifatnya yang tersier, kamu pun bisa mengeliminasi kebutuhan ini, sehingga mendapat tambahan 20% yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih penting atau ditabung.

 

  • Pengeluaran yang bisa disubstitusi

Jika tidak bisa dikurangi, mungkin bisa disubstitusi dengan hal lain. Misal biaya makan siang di kantor. Bisa diganti dengan memasak sendiri, sehingga kamu bisa menghemat sekian persen dan direlokasi untuk kebutuhan lain yang mendesak, misalnya biaya internet yang sangat dibtuhkan saat WFH.

 

  • Kelompokkan berdasarkan kebutuhan

Selain itu, kamu juga bisa mengelompokkan pengeluaran sesuai kebutuhan, misal kebutuhan pekerjaan, sekolah anak, dan kebutuhan pribadi. Contohnya, kamu butuh internet untuk bekerja dan sifatnya penting sehingga tidak bisa diganggu gugat. Namun, biaya langganan Netflix untuk sementara bisa kamu tangguhkan.

 

2. Realokasi dana

Jika kondisi keuanganmu terkena krisis, kamu bisa mengandalkan tabungan untuk membantu. Misalnya di bulan-bulan awal kehilangan pekerjaan, gunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan harian, sembari kamu mencari sumber pemasukan baru. Berhati-hatilah menggunakan tabungan, terlebih tidak ada kepastian kapan kamu mendapat pekerjaan baru. Buat pos keuangan yang tegas dan disiplin dalam menjalaninya.

 

3. Pemasukan tetap ada

Meskipun sulit, pastikan kamu memiliki pemasukan sekecil apa pun. Walau jumlahnya sedikit, tetap penting dibanding tidak memiliki pemasukan sama sekali. Misalnya dengan memulai bisnis rumahan atau bisnis online dengan modal minim. Sekecil apa pun, akan membantumu dalam mengembalikan kondisi keuanganmu agar kembali stabil.

 

4. Analisis keadaan

Kamu bisa melakukan analisis SWOT terhadap keadaan dan identifikasi kelebihan, kekurangan, tantangan, dan peluang. Buat daftar terperinci yang akan membantumu dalam mengatur strategi.

 

Misalnya kamu memiliki kelemahan tidak paham digital marketing, tapi kamu melihat peluang di pasar catering makanan sehat. Dari peluang tersebut, kamu bisa memperluas koneksi seperti mempromosikan usahamu kepada kenalan atau belajar gratis dari materi yang bisa kamu temukan di internet. Dengan begitu, kamu bisa meningkatkan kemampuanmu dan pada akhirnya, membantumu mendapatkan sumber pemasukan hingga bisa kembali ke rencana keuangan tahunan.

 

Kita tidak pernah tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Namun, bukan berarti hanya bisa pasrah. Yuk, sama-sama berjuang dan membuat diri kita #PastiLebihSiap dalam mengembalikan rencana keuangan ke jalurnya semula.

Pivot Bisnis sebagai Upaya Menyelamatkan Bisnis di Saat Pandemi, Lakukan 5 Hal Ini!

SWARAPandemi memang mengubah banyak hal, termasuk bagi pengusaha dan pemilik bisnis. Perubahan pola hidup di era new normal ini menimbulkan tantangan baru. Mungkin saja, bisnis yang kamu miliki tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini, sehingga jika dipaksakan malah akan merugikan.

 

Dalam dunia usaha, dikenal istilah pivot bisnis. Sederhananya, pivot bisnis merupakan upaya mengubah model bisnis tapi tetap berpijak pada visi bisnis yang dimiliki. Kamu bisa mengubah rencana atau strategi, tapi tetap berpegang pada visi usaha yang sudah ditetapkan sejak awal membangun usaha tersebut.

 

Perusahaan umumnya melakukan pivot bisnis di awal pendirian, karena di tahap tersebut perusahaan masih mencoba mengenali market. Dilansir dari Warta Ekonomi, ada beberapa kondisi yang membuat sebuah perusahaan melakukan pivot bisnis, di antaranya:

 

  1. Hasil riset pasar menunjukkan strategi atau produk bisnis tidak lagi relevan dengan apa yang dibutuhkan konsumen. 
  2. Menemukan kejadian buntu, bisa karena produk yang dihasilkan tidak memuaskan kebutuhan pasar atau keuntungan yang didapat tidak memenuhi target.

 

Pivot Bisnis Saat Corona

Untuk bisa menyelamatkan diri, banyak pengusaha yang melakukan pivot bisnis. Termasuk di tengah situasi pandemi saat ini. Perusahaan dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat, dan memenuhi semua kebutuhan pasar. Perubahan pola hidup saat ini membuat perusahaan menerapkan pivot bisnis agar bisa survive.

 

Contohnya Martha Tilaar. Saat awal pandemi, terjadi kelangkaan hand sanitizer. Martha Tilaar yang tadinya memproduksi kosmetik, akhirnya mengubah model bisnis dengan memproduksi hand sanitizer karena permintaan pasar yang sangat banyak.

 

Beberapa brand ternama juga melakukan hal ini. Sebut saja brand fashion sekelas Gucci, Prada, Balenciaga, Louis Vuitton, Fendi, dan lainnya yang memproduksi APD (alat pelindung diri) dan face shield.

 

Walaupun kondisi perekonomian menurun sebagai akibat dari pandemi, bukan berarti bisnis akan lesu selamanya. Di sinilah dibutuhkan pivot bisnis agar kamu bisa bertahan di tengah situasi seperti ini. Saatnya untuk mengevaluasi model bisnis yang selama ini dimiliki dan mengecek, apakah masih relevan dengan kondisi saat ini?

 

Jika tidak, mungkin sudah seharusnya kamu mengubah model bisnismu.

 

Cara Melakukan Pivot Bisnis

Sebagai pelaku bisnis, kita harus bersifat fleksibel agar bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Di saat berat saat ini, waktunya untuk mengevaluasi performa setiap karyawan dan pola bisnis yang kamu jalani, agar bisa diputuskan untuk tetap berjalan dengan cara yang sama atau mengubahnya.

 

Jika saat ini bisnismu tidak berjalan dengan baik, begitu juga selama enam bulan terakhir semenjak hantaman pertama Covid-19, saatnya untuk mempertimbangkan ulang strategi yang kamu jalani. Kamu bisa memanfaatkan situasi krisis ini untuk mengeliminasi faktor yang membuat bisnismu jadi tersendat dan merugi. Dengan mengelompokkan faktor yang masih bisa bekerja dan faktor yang tidak berfungsi dengan baik, kamu bisa membuat strategi baru.

 

Salah satunya dengan melakukan pivot bisnis. Sebab, suda saatnya kamu fokus dan melihat ke depan. Jika kamu berencana untuk melakukan pivot bisnis, ini 5 hal yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkan bisnismu, seperti dilansir dari entrepreneur.com.

 

1. Manfaatkan Teknologi Digital

Adanya ketentuan social distancing dan beraktivitas dari rumah, sudah saatnya memaksimalkan teknologi digital. Misalnya bagi pengusaha kuliner. Ketika tidak bisa membuka restoran, kamu bisa beralih ke bisnis online dan menjual makanan secara online. Tidak hanya makanan jadi, kamu pun bisa menjual frozen food karena permintaan yang tinggi.

 

Selama pandemi, H&M mengalami kerugian sehingga terpaksa menutup ratusan toko di seluruh dunia. Sebagai gantinya, mereka fokus pada penjualan online untuk menutup kerugian tersebut. Jika kamu memiliki bisnis di bidang penjualan barang, kamu bisa beralih ke e-commerce atau membuka online shop untuk menjangkau pelanggan yang tidak bisa datang ke tokomu.

 

Kamu juga bisa memanfaatkan live streaming untuk menjangkau pelanggan. Misalnya, membuka kelas yoga online karena pelanggan tidak mungkin datang ke studiomu. Bisnis pun tetap berjalan sekalipun terhalang oleh jarak.

 

2. Tingkatkan aset dan sumber daya yang dimiliki

Tingkatkan aset dan sumber daya yang kamu miliki agar mencapai titik temu dengan kebutuhan pasar. Cari tahu apa yang bisa kamu ubah agar bisa memenuhi kebutuhan pasar. Contohnya seperti Martha Tilaar yang memanfaatkan sumber daya mereka untuk memproduksi hand sanitizer karena sangat dibutuhkan. 

 

Beberapa konveksi kecil mulai beralih ke masker kain, untuk menjawab permintaan pasar akan ketersediaan masker di era new normal ini. Beberapa brand besar seperti Nike dan ZARA pun memanfaatkan pabrik mereka untuk memproduksi face shield dan masker. Bahkan, kedua item ini menjadi koleksi wajib setiap rumah mode di era saat ini.

 

Pelajari kebutuhan pasar dan sesuaikan dengan aset yang kamu miliki. Namun, tetap sesuaikan dengan core business yang kamu miliki saat melakukan pivot bisnis ini.

 

3. Pererat hubungan dengan pelanggan setia

Jujur kepada konsumen tentang keadaanmu saat ini dan upaya yang kamu lakukan untuk memberikan yang terbaik. Ini bisa menjadi cara untuk mempertahankan pelanggan setia untuk selalu mendukungmu. Pererat hubungan dengan pelanggan setia, baik secara langsung atau melalui media seperti newsletter dan media sosial. Sehingga, ketika kamu melakukan perubahan, pelanggan setiap akan segera mengetahuinya dan mendukungmu.

 

Kamu bisa membuat konten yang kreatif. Misalnya menggunakan live streaming video saat memberikan kelas yoga, sehingga murid yang tidak bisa datang ke studio tetap bisa berolahraga bersamamu. Contoh lainnya seperti yang dilakukan oleh tour and travel agent Whatravel.id yang mengadakan virtual tour untuk menjaga hubungan dengan pelanggan sekalipun tidak bisa bepergian bersama.

 

4. Jajaki kemungkinan berkolaborasi

Jika kamu tidak bisa melakukannya sendiri, mungkin kamu bisa mencari celah untuk berkolaborasi dengan bisnis lain. Partnership akan membantumu mendapatkan pelaggan baru dan menyasar target market baru. Pastikan partnership tersebut menguntungkan kedua sisi dan bisa saling membantu.

 

Terutama untuk bisnis kecil, kadang kamu menyerah karena tidak ada cara untuk mendukung bisnismu. Kamu bisa memperluas networking yang akan membantumu, seperti bergabung dalam komunitas. Salah satu contohnya perusahaan rekaman yang bekerjasama dengan gerai fast food seperti KFC untuk mengatasi rendahnya daya beli terhadap album fisik.

 

5. Jangan langsung gagal saat menyerah

Meskipun pahit, kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya. Jika cara baru masih belum bisa menyelamatkan bisnismu, jangan langsung menyerah. Tidak semua hal akan berhasil dalam percobaan pertama. Terkadang, butuh beberapa kali usaha sampai akhirnya kamu menemukan cara terbaik untukmu.

 

Bahkan, bisnis yang sukses saat ini pernah melakukan pivot bisnis. Play-doh awalnya berupa pembersih dinding, tapi kini dikenal sebagai mainan anak-anak. YouTube awalnya adalah situs kencan, tapi sekarang jadi media video terbesar.

 

Intinya, jangan ragu untuk bereksperimen. Tidak ada salahnya memikirkan kegagalan saat mencoba, dan kamu bisa mengambil pelajaran penting dari kegagalan tersebut.

 

Jika bisnismu terdampak saat pandemi, kamu tidak sendirian. Walaupun situasi ini terlihat berat, kamu harus percaya bahwa akan selalu ada peluang di saat tergelap sekalipun. 

 

Mungkin, ini saat yang tepat untuk mengevaluasi bisnismu sehingga kamu jadi #PastiLebihSiap dalam menghadapi era new normal. Daripada fokus kepada situasi yang tidak bisa kamu kontrol, lebih baik gunakan energimu itu untuk melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkan bisnismu.

Harga Kian Melejit, Bagaimana Prospek Investasi Emas di Tengah Pandemi?

SWARAPandemi yang masih berlangsung hingga saat ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya investasi. Masih belum terlambat jika kamu baru berencana untuk memulai investasi emas. Mungkin, ini saat yang tepat karena di tengah pandemi, harga emas dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

 

Dilansir dari Bloomberg, per tanggal 21 Juli 2020 harga emas dunia mencapai angka tertinggi dalam kurun sembilan tahun terakhir. Harga perak juga mengalami kenaikan dan mencapai angka tertinggi sejak 2014. Hal ini terjadi setelah Hong Kong melaporkan kasus Covid-19 dan ada infeksi baru yang terjadi di Victoria, Australia.

 

Seperti yang disebutkan di Bisnis Indonesia, kenaikan harga emas ini didorong oleh pernyataan WHO yang menyebutkan bahwa pandemi akan terus berlanjut. Sekalipun angka kematian telah mencapai 500 ribu orang, diprediksi kemungkinan terburuk masih akan terjadi.

 

Faktor lainnya yaitu adanya ketegangan geopolitik yang kian memanas antara Cina dan Amerika Serikat. Pengesahan RUU Keamanan Baru untuk Hong Kong yang dilakukan Cina diprediksi akan menimbulkan balasan dari Amerika Serikat.

 

Investasi emas dinilai paling aman

Meskipun harganya terus naik, tapi investasi emas dinilai paling aman di tengah situasi yang serba tak pasti seperti sekarang. Walaupun keuntungan yang diberikan tidak terlalu besar, tapi banyak yang mengalihkan asetnya ke dalam bentuk emas. 

 

Walaupun berisiko tinggi, tapi lebih aman dibanding instrumen lain, seperti saham. Ditambah dengan adanya kemungkinan harga akan turun jika situasi kembali normal, sehingga investasi emas dinilai paling aman. Terutama untuk investasi jangka panjang, karena harga yang selalu naik. Kalaupun turun, biasanya tidak drastis, sehingga kamu tetap mendapat keuntungan.

 

Menurut Perencana Keuangan One Shield Consulting, Budi Rahardjo, seperti yang dikutip dari Kompas, banyak yang melakukan money movement. Maksudnya adalah investor memindahkan uang ke aset yang lebih berisiko lagi “Jika ada dana yang memang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, boleh saja ditempatkan pada emas untuk sementara,” jelas Budi.

 

Ada dua jenis investasi emas yang bisa kamu lakukan. Pertama, emas fisik. Jika kamu memutuskan untuk berinvestasi di emas fisik, penting untuk memikirkan bagaimana cara menyimpannya. Kamu membutuhkan biaya tambahan untuk deposit box sebagai tempat penyimpanan emas.

 

Kedua, ada emas digita. Kamu tidak butuh biaya tambahan untuk tempat penyimpanan, selain itu emas digital dinilai lebih menguntungkan walaupun perbedaannya sangat tipis. Namun, kamu perlu memperhatikan status penyedia layanan, pastikan berupa perusahaan resmi dan terdaftar di OJK.

 

Dilansir dari Detik, alasan lain yang membuat emas begitu digilai saat ini karena sifatnya yang likuid. Kamu bisa menjualnya sewaktu-waktu tanpa proses yang berbelit-belit. Oleh karena itu, emas akan membantumu jika butuh dana dadakan.

 

Hal penting saat investasi emas di tengah pandemi

Kamu berencana untuk berinvestasi emas? Dikutip dari CNBC, berikut hal penting yang harus kamu perhatikan saat berinvestasi emas di tengah pandemi.

 

 

1. Beli emas fisik

Walaupun butuh biaya tambahan untuk penyimpanan dan kehati-hatian ekstra, kamu bisa membeli emas fisik. Sifatnya sangat cair, dan kamu bisa menjualnya sewaktu-waktu. Kamu bisa membelinya di bank, pegadaian, atau di ANTAM.

 

2. Beli ETF atau ETC

Exchange-traded fund (ETF) dan Exchange Traded commodities (ETC) merupakan alat yang memungkinkanmu memantau harga investasi emasmu tanpa memilikinya secara fisik. Kamu juga bisa memantau harga emas, sehingga selalu update.

 

3. Beli saham terkait emas

Perusahaan yang langsung terkait dengan emas bisa menjadi target investasimu. Kamu bisa membeli saham di perusahaan tersebut. Namun ingat, walaupun terkait dengan emas, tapi risikonya masih cukup tinggi.

 

4. Perhatikan kekuatan rupiah

Harga emas terkait dengan kurs, sehingga kuat atau tidaknya rupiah turut berpengaruh. Untuk harga saat ini, masih bisa diterima jika ingin berinvestasi emas. Sekalipun untuk jangka pendek atau sekitar 1 – 2 tahun. Paling idealnya menunggu harga emas di level harga Rp785.000 ke bawah, tapi momen ini tidak bisa dipastikan.

 

Jenis emas yang bisa diinvestasikan

Dikutip dari Warta Ekonomi, berikut empat jenis emas yang bisa kamu investasikan.

 

1. Emas perhiasan

Cocok untuk perempuan. Selain disimpan, kamu juga bisa memakainya di momen tertentu. Namun, perlu diingat bahwa harga emas perhiasan bisa berkurang jika dijual kembali karena kondisinya yang tidak lagi sama, terutama jika sering dipakai.

 

2. Emas batangan

Jenis emas paling umum untuk diinvestasikan. Emas batangan ini memiliki kadar emas yang murni. Sifatnya kebal terhadap inflasi, dan selalu mengalami kenaikan harga. Jadi, cocok dijadikan sebagai alat untuk melindungi uangmu.

 

3. Emas tabungan

Cocok untuk kamu yang ingin berinvestasi emas tapi belum memiliki dana yang cukup untuk membeli emas batangan atau perhiasan. Umumnya, tabungan emas bisa dimulai dari nominal kecil. Selain di bank, kamu juga bisa menabung emas di marketplace, dan umumnya nilainya lebih kecil lagi.

 

4. Emas trading

Emas trading hampir seperti dengan emas tabungan, tapi memiliki fungsi yang berbeda. Kamu bisa memantau data grafik, seperti halnya trading, sehingga bisa diputuskan kapan akan membeli, menjual, atau menahannya. Tujuan emas trading untuk mencari selisih harga jual dan beli, sehingga cocok untuk dipakai sebagai investasi jangka pendek dan perdagangan harian.

 

Walaupun harganya akan terus naik, dan situasi belum tentu akan segera kembali normal, tidak pernah ada kata terlambat untuk berinvestasi emas. Jika kamu memiliki uang sisa, tidak ada salahnya berinvestasi di emas.

Mengenal Influencer Marketing, Cara Baru dalam Strategi Memasarkan Produk & Mengembangkan Bisnis

SWARA – Mungkin kita sudah familiar dengan kata endorse. Terlebih di media sosial, sering ditemui pelaku bisnis yang memanfaatkan pengaruh seorang tokoh untuk mempromosikan produk yang dimiliki. Bahkan tidak heran jika saat ini, sosok social media influencer terasa begitu penting dalam hal marketing.

 

Sederhananya, influencer marketing berupa strategi pemasaran di media sosial yang menggunakan endorsement dan menyebut produk yang ditawarkan untuk disebar ke followers yang dimiliki.

 

Influencer marketing berkembang sangat pesat. Beberapa tahun lalu, influencer hanya terbatas pada selebritas atau public figure. Saat ini, siapa saja bisa menjadi influencer

 

Seberapa berpengaruh seorang influencer?

Seiring dengan berkembangnya teknologi, pola pemasaran pun berubah. Iklan konvensional tidak lagi digemari, dan beberapa tahun belakangan mulai bermunculan sosok penting yang berperan sebagai influencer. Influencer ini dipercaya lebih ‘menjual’ dibanding iklan konvensional.

 

Seperti dilansir dari Forbes, generasi muda saat ini mulai tidak percaya dengan cara-cara tradisional. Pola komunikasi konvensional yang umumnya satu arah, sekalipun menggunakan sosok terkenal, dirasa kurang menarik. Hal inilah yang membuat kehadiran influencer menjadi penting karena pola komunikasi yang bersifat dua arah dan menyinggung perasaan personal.

 

Bagi konsumen, influencer erat dengan kata otentik dan jujur. Konsumen bisa merasa terikat secara langsung dengan seorang influencer, karena engagement yang tinggi dari si influencer, misalnya melalui kolom komentar sehingga terjadi komunikasi dua arah. Influencer marketing seringkali sukses berkat cara influencer menjalin hubungan dengan followers dan menjaga kepercayaan yang diberikan followers selama bertahun-tahun, sehingga dirinya menjadi sosok yang berpengaruh bagi sekelompok orang.

 

Pengaruh yang dimiliki itulah yang dimanfaatkan oleh brand untuk memasarkan produk dan mengembangkan bisnis. Dari segi bisnis, ditemukan tingkat kesuksesan yang cukup signifikan ketika menggunakan influencer sebagai channel komunikasi dan pemasaran. Dilansir dari Forbes, dalam sepuluh tahun terakhir, influencer mengalami peningkatan yang sangat tinggi dan kini berada di daftar teratas daftar cara paling efektif dalam menjalin hubungan antara pebisnis dan konsumen, sekaligus untuk meningkatkan brand awareness.

 

Beberapa perusahaan besar sudah melakukan influencer marketing ini. Misalnya P&G dengan produk Olay Regenerist. Dalam enam bulan, Olay bekerjasama dengan tujuh orang influencer dalam bentuk Instagram post dan video. Campaign ini menghasilkan 1.500.000 views dengan CPV sebesar US$0,02, sudah termasuk biaya produksi dan distribusi.

 

Contoh lainnya seperti Pond’s saat merilis produk Pond’s Acne Solution dan menggunakan jasa 40 orang influencer untuk melakukan 3-days face regime challenge dengan tujuan agar publik bisa mengikuti tantangan tersebut. Campaign ini berhasil meraih 1.050.000 views dengan CPV US$0,01, termasuk biaya produksi dan distribusi.

 

Perhatikan hal ini saat memilih influencer

Mengingat popularitas influencer yang kian tinggi, tidak ada salahnya untuk melirik influencer marketing sebagai bagian dari strategi pemasaran dan meningkatkan brand awareness. Namun, ada banyak influencer di luar sana, sehingga tidak mudah memilih sosok yang pas. Terlebih untuk pelaku UMKM yang memiliki keterbatasan modal. Berikut beberapa hal yang harus kamu perhatikan sebelum memilih influencer.

 

 

  • Do your research

Sebelum memutuskan akan menghubungi seorang influencer, pastikan kamu sudah melakukan background check. Penting untuk menemukan seseorang dengan followers yang cocok dengan bisnis yang kamu tawarkan. Misalnya, jika bisnismu menjual baju anak-anak, tentu sosok Rachel Vennya lebih cocok untuk memasarkan produkmu ketimbang Ayla Dimitri.

 

Dalam riset ini, perhatikan pola komunikasi antara influencer dengan followers mereka. Pastikan karakter mereka sesuai dengan company value atau nilai yang kamu miliki. Hal ini penting untuk brand awareness, sehingga konsumen bisa menilai dengan tepat produk yang kamu tawarkan dengan melihat siapa influencer yang mewakilimu. Sosok yang terlalu kontroversial atau sering meninggalkan komentar negatif, tentunya bisa berakibat buruk pada bisnismu.

 

  • Pilih influencer yang tepat

Selain memilih influencer yang sesuai dengan target market, kamu juga bisa menyesuaikan dengan budget yang dimiliki. Dilansir dari Sensei Marketing, ada enam tipe influencer yang bisa kamu pahami: Mega, Macro, Micro, Advocate, Referrer, and Loyalist.

 

Mega influencer yaitu sosok dengan jumlah followers sangat banyak dan biasanya memiliki harga sangat tinggi. Beberapa selebriti ternama bisa dikategorikan ke dalam kelompok ini, misalnya Kylie Jenner yang mematok harga 1 juta dolar untuk satu post di Instagram. Oleh karena reach yang sangat tinggi, kamu bisa menggunakan mega influencer jika ingin produkmu dikenal banyak orang.

 

Lalu, Macro Influencer. Kelompok ini memiliki followers yang banyak tapi tidak sebesar Mega. Umumnya jumlah followers berkisar di antara ratusan ribu hingga jutaan. Jika kamu masih dalam tahap meningkatkan brand awareness, tapi juga ingin produkmu dikenal sekelompok orang dalam jumlah banyak, macro influencer menjadi pilihan.

 

Juga ada Micro influencer. Jumlah followers belum terlalu banyak, biasanya berkisar antara puluhan hingga ratusan ribu. Tarif yang dipatok juga tidak terlalu tinggi, sehingga cocok untuk kamu yang memiliki bisnis rumahan atau UMKM. Selain itu, kamu bisa memilih micro influencer dengan ciri khas tertentu dan sesuai dengan bisnismu, sehingga menyasar market dengan tepat.

 

Keempat ada Advocate, sering juga disebut sebagai special influencer. Advocate tidak hanya menjadi endorser, tapi terlibat secara aktif dalam mempromosikan bisnismu. Bisa juga disebut sebagai brand ambassador. Tentunya, dia haruslah seorang yang memiliki karakter dan nilai yang sama dengan produkmu, sehingga bisa berjalan bersama.

 

Selanjutnya ada Referrer. Influencer tipe ini bersifat accidental, tidak khusus kamu bayar untuk mempromosikan bisnismu. Misalnya Si A menyebut online shop milikmu, dia berfungsi sebagai referrer meskipun kamu tidak memintanya secara langsung.

 

Terakhir ada Loyalist, sekelompok orang yang merupakan pengguna aktif dan setia kepada brand, meskipun tidak dibayar untuk melakukannya. Loyalist ini bisa kamu kembangkan dengan menjalin hubungan yang baik dengan konsumen, sehingga mereka akan selalu menggunakan produk atau jasa yang kamu tawarkan.

 

  • Promosikan bisnismu

Ketika sudah menemukan influencer yang cocok, tanyakan pricelist. Kamu bisa menggunakan email yang sopan dan catchy untuk menawarkan produkmu. Ada banyak pelaku bisnis yang ingin menggunakan jasa seorang influencer, sehingga kamu harus memastikan penawaranmu lebih stand out.

 

Misalnya, pengalaman seorang influencer Alexander Thian. Di akun Instagram @amrazing, Alex bercerita soal email unik yang diterimanya ketika ditawarkan bedding set. Email yang jelas, catchy, dan menjelaskan dengan detail produk serta bisnis yang ditawarkan langsung menarik perhatian Alex sebagai influencer.

 

Influencer Marketing

 

Melihat perkembangannya yang kian pesat, yuk, mulai lirik influencer marketing. Dengan sosok influencer yang tepat, produk yang kamu tawarkan #PastiLebihSiap untuk dikenal oleh kalangan yang lebih luas.

Yuk, Manfaatkan 5 Channel Digital Marketing Ini untuk Kembangkan Bisnismu

SWARA – Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini bisnis rumahan atau bisnis berskala kecil semakin berkembang. Baik dijadikan sebagai sumber pemasukan utama ataupun sekadar usaha sampingan. Namun, perkembangan yang kian pesat itu juga menimbulkan masalah baru, yaitu pasar yang semakin kompetitif.

 

Untuk bisa bertahan di pasar yang semakin kompetitif tersebut, penting untuk memahami teknik pemasaran. Selama ini, kita mungkin berpikir bahwa teknik marketing yang tepat yaitu mampu menjangkau banyak pelanggan.

 

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Lebih jauh lagi, saat menjalankan teknik pemasaran, kamu bisa berpikir lebih jauh. Yaitu, berapa banyak keuntungan yang kamu dapatkan. Tidak perlu memedulikan jumlah pembeli yang banyak atau sedikit, karena bisa saja kelompok kecil akan mendatangkan jumlah keuntungan yang jauh lebih besar ketimbang pasar yang luas tapi memiliki daya beli kecil.

 

Selain itu, dengan membidik target pasar yang luas bisa membuatmu kewalahan. Terlebih jika bisnis yang dijalankan masih berskala kecil alias hanya kamu satu-satunya sumber daya yang menjalankan bisnis tersebut. Dengan artian, kamu harus menjalankan semua proses sendiri dan menghadapi semua customer seorang diri.

 

Dengan mengubah mindset menjadi menargetkan seberapa banyak keuntungan yang didapat, kamu bisa lebih fokus pada saat memasarkan produk. Terlebih di era digital sekarang, kamu bisa memilah-milah instrumen komunikasi yang dirasa cocok dengan target market yang dituju.

 

Baca juga: Mengapa Berkarier di Bidang Digital Marketing Cukup Menjanjikan?

 

Instrumen Digital Marketing yang Bisa Dimanfaatkan

Dilansir dari Forbes, setidaknya ada 5 instrumen digital marketing yang bisa kamu manfaatkan dan selama ini masih sangat sedikit yang menggunakannya.

 

1. Podcast

Saat ini, Podcast memang sangat berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena perkembangan yang sangat signifikan, banyak pebisnis yang akhirnya ikut memanfaatkan tren tersebut. Podcast dirasa memiliki karakteristik yang mampu mengikat antara si Podcaster dengan pendengarnya. Selain itu, Podcast memungkinkanmu untuk berkomunikasi dengan customer dengan cara yang menyenangkan.

 

Podcast bersifat fleksibel, bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja, sehingga kamu bisa menyampaikan soal produk yang dimiliki kapan saja. Kamu bisa memulai podcast sendiri dan mempromosikannya melalui media sosialnya. 

 

Kamu bisa membuat konten yang menarik dan bersifat soft selling, seperti membahas topik gaya hidup terkait produk yang dipasarkan, bincang-bincang menggali kisah sukses, juga sharing soal memulai bisnis. Kamu juga bisa berkolaborasi dengan Podcaster lain yang bisa membantu mengembangkan bisnis tersebut. Dengan soft selling, pendengar tidak merasa dijejali iklan secara terang-terangan.

 

2. Google Retargeting Campaigns

Umumnya, setiap bisnis menggunakan PPC (pay per click) atau SEO (search engine optimization) untuk dikenal oleh Google. Namun, masih sedikit yang menggunakan Google Retargeting Campaigns. Dengan campaign ini, kamu bisa menjangkau calon customer yang lebih potensial karena pernah bersinggungan dengan brand yang kamu iklankan.

 

Dilansir dari Forbes.com, “Sederhananya, sistem ini akan meninggalkan tracking code di website, apps, atau tempat lain yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan brand, seperti YouTube. Pengguna akan menerima cookies yang akan memonitor semua aktivitas mereka di internet, dan cookies tersebut akan mengirimkan data kepadamu. Kamu bisa memanfaatkan data tersebut untuk memasarkan produk di saat yang tepat.”

 

Oleh karena data tersebut sesuai dengan aktivitas calon pembeli, tanggapannya lebih hangat dan cenderung mendorong customer untuk langsung membelinya.

 

3. LinkedIn

LinkedIn memang tempat bertemunya para profesional, sehingga ini tempat yang sangat pas untuk menjalankan layanan B2B alias business to business. Kamu bisa membangun brand di sini, sehingga produkmu jadi lebih terpercaya. Buatlah konten yang menarik dan soft selling, yang membuat page kamu lebih terpercaya dan banyak dikunjungi. Kamu bisa tunjukkan kalau kamu sangat ahli di bidang bisnis yang digeluti tersebut.

 

LinkedIn juga memungkinkanmu bertemu dengan calon klien potensial secara online. Di sisi lain, kamu juga bisa menjangkau langsung calon klien yang dirasa potensial untuk diajak bekerjasama. Kamu bisa menjelajahi profil demi profil di LinkedIn untuk mencari tahu sosok yang pas untuk bekerjasama denganmu.

 

4. Email Marketing

Tidak selamanya, cara mengembangkan bisnis adalah dengan menemukan klien atau customer baru. Kamu bisa melakukannya dengan mengembangkan dan memaksimalkan klien atau customer yang sudah dimiliki. Terkadang, mempertahankan jauh lebih sulit ketimbang menemukan customer baru.

 

Manfaatkan email marketing untuk menjalin relasi dengan customer yang sudah ada. Kamu bisa membuat info terbaru seputar produk dan informasi terkait lainnya, lalu mengirimkan via email. Setidaknya, kamu mengingatkan customer akan kehadiranmu dan lama-lama, brand tersebut bisa menjadi top of mind di customer.

 

Dalam membuat email marketing, lakukan personalisasi. Kamu memang tidak bisa menyapa semua customer, tapi setidaknya beri sapaan yang memberikan kesan dekat ketika users membaca email tersebut. Tidak perlu panjang, cukup email singkat dan catchy sudah membuat customer menyadari kehadiranmu.

 

5. World of Mouth

Cara ini mungkin sudah terkesan lama, tapi masih relevan sampai sekarang. Tidak bisa dipungkiri kalau WoM masih menjadi salah satu cara marketing dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kamu bisa meningkatkan jenis WoM, dan tentunya dengan mengandalkan digital.

 

Misalnya, kamu memiliki satu kanal khusus di website yang membahas soal review dari customer. Tidak perlu ragu untuk meminta langsung review dan memajangnya di media sosial. Semakin banyak review, menandakan produkmu memang layak untuk dipertimbangkan.

 

Dunia digital yang begitu luas menyediakan banyak cara untuk meningkatkan bisnis. Yuk, manfaatkan channel digital marketing ini agar bisnismu semakin berkembang dan yang pastinya jadi #PastiLebihSiap buat bersaing dengan yang lain.

5 Hal yang Wajib Kamu Perhatikan Jika Pensiun di Tengah Pandemi

Pensiun terkadang menjadi momok yang menakutkan. Terpaksa menyudahi masa kerja di situasi normal saja sudah membuat stres, apalagi ketika harus pensiun di tengah pandemi. Tentunya, beban kekhawatiran yang dimiliki semakin bertambah.

 

Ada dua kemungkinan pensiun yang akan terjadi. Pertama, pensiun karena sudah memasuki masa usia pensiun. Selain itu, juga ada pensiun dini. Alasan mengambil pensiun dini bisa beragam, bisa karena urusan pribadi seperti harus pindah ke luar kota, mengurus keluarga, atau kondisi perusahaan yang sedang goyah sehingga terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja dan mendorong pegawainya mengambil pensiun dini.

 

Di tengah pandemi, alasan kedua banyak terjadi karena kondisi perekonomian yang serba tidak pasti sehingga memaksa perusahaan melakukan penghematan. Salah satunya dengan mengajukan pensiun dini pada karyawan.

 

Ada Lebih Banyak Tantangan

Bayangkan kita sudah melakukan suatu pekerjaan selama puluhan tahun, lalu harus menghadapi kenyataan kalau kita sudah tidak bisa melakukan pekerjaan tersebut. Mungkin kita merasa masih produktif, tapi sudah memasuki usia pensiun sehingga tidak bisa lanjut bekerja di tempat tersebut.

 

Wajar terjadi jika kita merasa kesepian dan stres menjelang masa pensiun. Selain itu, pensiun berarti kehilangan pemasukan rutin bulanan, sehingga masalah finansial seringkali menjadi alasan di balik kekhawatiran tersebut. Apalagi jika belum memiliki dana pensiun, atau jumlahnya dirasa belum memadai.

 

Jika kita pensiun di situasi normal, kita bisa membuat plan B. Misalnya mulai berbisnis, bekerja di perusahaan lain, atau mungkin traveling sekadar untuk beristirahat setelah bekerja. Namun, di tengah pandemi, semua rencana tersebut terasa mustahil. Hal itulah yang membuat pensiun di masa pandemi terasa lebih menantang.

 

Rencana Harus Tetap Ada

Meski berada di tengah suasana yang tidak pasti, rencana harus tetap ada. Rencana cadangan untuk mengisi masa setelah pensiun ini bermanfaat untuk mengatasi kekhawatiran akan kondisi keuangan di masa depan. 

 

Seperti dikutip dari Kompas.com, perencana keuangan dan pendidik Aliyah Natasha menyebutkan, penting untuk memiliki rencana dan menata gaya hidup. Sebab, kita tidak hidup hanya untuk hari ini, sehingga penting untuk mengatur kembali prioritas di masa depan.

 

“Kunci sukses dari pensiunan adalah plan, plan, dan plan. Karena, apa pun kondisi yang datang, dengan adanya perencanaan yang matang maka semua bisa terselesaikan. Kalaupun kita mau bekerja lagi di perusahaan lain atau mau rehat, tidak masalah selama kita tahu pengeluaran dan pemasukan,” jelas Aliyah.

 

Tips Menghadapi Masa Pensiun

Untuk kamu yang memasuki usia pensiun atau harus mengambil pensiun dini, ini saatnya untuk membuat rencana baru dalam kehidupan. Walaupun situasinya lebih menantang, bukan tidak mungkin kita bisa menghadapi masa pensiun di tengah pandemi dengan lebih tenang. Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan:

 

 

1. Ubah gaya hidup

 

Terlebih untuk kamu yang pensiun di tengah pandemi. Saatnya untuk melihat kembali gaya hidup selama ini. Pangkas gaya hidup yang dirasa tidak perlu agar pengeluaran jadi lebih teratur. Catat dan hitung semua pengeluaran rutin, sehingga kamu bisa memilah mana pengeluaran yang bisa dihentikan tanpa membuat kehidupan jadi sulit. Kamu bisa mengadopsi gaya hidup baru yang lebih sederhana, untuk bisa bertahan di masa pensiun.

 

 

2. Cari kesibukan

 

Masa pensiun bukan berarti produktivitas harus ikut terhenti. Selama tubuh masih sanggup dan kuat, kamu pun bisa terus produktif meski tidak bekerja di kantor yang lama. Kamu bisa melamar pekerjaan di perusahaan lain yang membutuhkan kemampuanmu, walaupun pilihannya sangat terbatas.

 

Selain itu, kamu juga bisa memulai bisnis. Uang pesangon yang didapatkan bisa menjadi modal untuk memulai bisnis. Kamu juga bisa menjadi tenaga pengajar, baik formal atau non-formal melalui kegiatan sosial dan mengajarkan skill atau ilmu sesuai dengan background yang dimiliki.

 

Tidak ada salahnya untuk berlatih kemampuan baru. Usia tidak menjadi penghalang untuk belajar. Jika kamu memiliki impian masa muda yang tertunda, sekarang saat yang tepat untuk mewujudkannya kembali.

 

 

3. Network

 

Jika kamu tidak memiliki ide untuk membuat rencana baru, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan. Misalnya kepada tetangga atau teman yang sudah lebih dulu pensiun. Cari tahu bagaimana mereka menata ulang rencana hidup setelah pensiun.

 

Selain itu, kamu juga bisa tetap menjalin hubungan dengan rekan dari pekerjaan sebelumnya. Kamu bisa menjadi mentor non-formal untuk membantu rekan kerjamu, sekaligus membuatmu terus mengasah otak agar tidak pikun.

 

 

4. Up to date

 

Walaupun sudah pensiun, tetap harus update dengan informasi baru. Dengan begitu, kamu bisa melihat peluang baru yang mungkin cocok untuk dilakukan. Selain itu, dengan mengetahui perkembangan terbaru akan membuatmu merasa produktif dan terhindar dari stres meski sudah tidak bekerja lagi.

 

 

5. Libatkan keluarga

 

Bukan berarti membebani anak-anak untuk menanggung biaya hidupmu. Namun, keluarga harus mengetahui kondisi setelah pensiun. Mungkin saja, anak-anak punya ide yang lebih cemerlang untuk membantumu mengisi waktu pensiun ini.

 

Memasuki usia pensiun bukan berarti berhenti bekerja. Kamu tetap bisa produktif, sekalipun harus keluar dari pekerjaan lamamu. Oleh karena itu, bagi kamu yang memasuki usia pensiun, yuk rencanakan ulang kehidupan di masa depan.

Beli Rumah di Saat Pandemi, Bijak atau Nggak?

Di tengah situasi pandemi saat ini, kepemilikan akan sebuah rumah jadi terasa kian penting. Terlebih saat ini, hampir semua aktivitas dipusatkan dari rumah, sehingga memiliki rumah yang nyaman pastinya akan mendorong produktivitas.

 

Untuk kita yang belum memiliki rumah, pertanyaan terbesar yang saat ini dimiliki di antaranya, bijakkan membeli rumah di tengah pandemi seperti ini? Tentunya ada banyak pertimbangan yang harus dimiliki sebelum membeli rumah, termasuk soal kemampuan melunasi rumah tersebut di saat perekonomian sedang melemah.

 

Waktu yang Tepat untuk Membeli Rumah

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, justru situasi pandemi ini disebut sebagai saat yang tepat untuk membeli hunian, seperti dilansir dari Medcom.id. Sebab, ada banyak kemudahan berupa relaksasi kredit yang diberikan oleh pihak perbankan, dan juga pengembang, sehingga proses mendapatkan rumah kian mudah.

 

Hal ini juga diperkuat oleh data yang menyebutkan minat membeli rumah justru meningkat di tengah pandemi. Dari data portal properti Lamudi, sebanyak 2.485 orang mencari rumah di kawasan Bogor selama Februari 2020, dan meningkat menjadi 3.271 orang di Maret 2020.

 

Namun, data tersebut berbanding terbalik dengan hasil penjualan. Hasil survei IPW menyebutkan penjualan rumah di Jabodetabek dan Banten rata-rata menurun hingga 50.1% di kuartal 1 2020. Hal ini membuat pihak pengembang mulai memberikan penawaran untuk menarik para calon pembeli, salah satunya dari segi pembayaran.

 

IPW menyebutkan banyak pengembang yang memberikan diskon dalam jumlah besar. Ali menambahkan, “Selain program suku bunga terjangkau yang diberikan oleh perbankan, para pengembang juga memberikan program menarik, di antaranya down payment (DP) yang dibayar oleh pengembang.”

 

Selain itu, harga rumah cenderung menurun sehingga ini saat yang tepat untuk membelinya, termasuk membeli rumah sebagai investasi. Namun, Ali mengingatkan untuk memerhatikan cash flow sebelum membeli rumah. “Di tengah kondisi ekonomi saat ini, penting untuk memerhatikan cash flow. Saat ini, fokus utama bukan membeli properti, melainkan mementingkan cash flow. Selama cash flow cukup bagus, maka boleh dilakukan investasi,” saran Ali Tranghanda.

 

Meski Begitu, Sulit untuk Mencari Rumah yang Tepat

Mencari rumah yang pas di situasi normal sudah sulit, terlebih di tengah pandemi seperti ini. Ditambah dengan adanya kebijakan social distancing, membuat kegiatan hunting rumah menjadi lebih menantang, baik dari segi pengembang maupun calon pembeli.

 

Adapun beberapa rintangan yang mungkin akan kamu hadapi saat mencari rumah di antaranya:

 

 

  • Kurangnya kepercayaan

 

Meskipun minat beli lumayan tinggi, pihak pengembang jadi lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi. Di tengah kondisi perekonomian yang tidak pasti, pihak pengembang atau penjual harus memastikan soal status ekonomi si pembeli, agar tidak terjadi kredit macet.

 

 

  • Virtual tour

 

Selain lokasi, ada banyak pertimbangan yang harus dimiliki sebelum membeli rumah. Akan lebih mudah jika mendatangi langsung lokasi rumah yang diinginkan, sehingga bisa membuat pertimbangan yang lebih matang. Namun, di tengah pandemi, seringkali kita harus melakukan virtual tour. Hal ini menimbulkan tantangan lebih dalam memastikan apakah benar rumah tersebut cocok.

 

Tips Membeli Rumah Saat Pandemi

Bagi kamu yang ingin membeli rumah saat pandemi, berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan:

 

 

1. Lakukan virtual tour

 

Walaupun tidak bisa mengunjunginya langsung, lakukan virtual tour untuk mengetahui kondisi rumah dengan lebih jelas. Bukan hanya rumah yang diincar, tapi juga kondisi sekitar, termasuk akses menuju rumah.

 

Selain itu, pastikan juga kamu mendapatkan informasi lengkap terkait fasilitas yang ada di sekitar. Seperti akses kesehatan, sarana pendidikan, pusat perbelanjaan, dan transportasi. Dengan demikian, kamu pun memiliki gambaran lebih jelas soal kondisi rumah.

 

 

2. Pilih platform jual beli dan pengembang yang terpercaya

 

Ada banyak platform online yang akan memudahkanmu dalam melakukan proses jual beli. Pilih platform yang sudah terpercaya seperti rumah.com, rumah123.com, urbanindo.com, dan lainnya.

 

Selain itu, pastikan juga pengembang yang mengadakan rumah memiliki track record yang bagus dan bisa dipercaya. Kamu bisa mengecek apakah pengembang tersebut resmi dan terdaftar di Sistem Registrasi Pengembang (Sireng) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di situs https://sireng.pu.go.id.

 

 

3. Tanyakan detail penawaran

 

Dengan daya beli yang menurun, pengembang pun berlomba-lomba memberikan penawaran menarik. Jangan langsung tergiur dengan penawaran yang diberikan. Justru, kamu harus lebih berhati-hati dalam mempelajari setiap penawaran. Pastikan tidak ada jebakan tersembunyi dalam penawaran tersebut, yang justru akan membuatmu mengeluarkan uang lebih banyak nantinya. Tidak usah ragu untuk mengulik informasi menyeluruh terkait rumah dan penawaran yang diberikan.

 

 

4. Manfaatkan KPR

 

Terlebih di tengah situasi pandemi, kamu pun bisa memanfaatkan KPR. Beberapa bank memberikan relaksasi kredit dan adanya kebijakan penurunan suku bunga yang diberikan oleh pemerintah akan mempermudahmu dalam mendapatkan KPR. Hal tersebut akan memberikan keringanan dalam cicilan bulanan.

 

Kamu bisa memanfaatkan promo yang disediakan oleh pengembang, misalnya Sinar Mas Land yang memiliki program Move In Quickly yang memberikan potongan harga jual, gratis BPHTB, hingga kemudahan kredit. Beberapa bank juga memberikan keringanan KPR, seperti program bank CIMB Niaga yang memungkinkanku menyicil pertama di bulan ketiga.

 

Meskipun saat ini menjadi saat yang tepat untuk membeli rumah, jangan sampai kamu malah gegabah. Jangan sampai, niat membeli rumah malah akan menambah bebanmu.