Zaman sekarang, wellness jadi salah satu kebutuhan inti. Menjadi sehat secara menyeluruh, yang mencakup keseimbangan fisik, mental, dan emosional, sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Bagi Gen Z dan Milenial, punya hobi olahraga sekarang udah jadi hal yang lumrah. Ngantor 9-to-5 lalu lanjut nge-gym? Banyak. Yoga atau tenis sebelum clock in? Udah biasa. Jogging di GBK sepulang kerja? Hampir tiap sore rame.
Masalahnya, di tengah biaya hidup yang terus naik dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, hobi olahraga mulai terasa mahal. Bukan capek karena latihannya, tapi capek lihat total pengeluarannya.
Mulai dari membership gym, kelas pilates, sepatu lari, raket, outfit olahraga, race pack, sampai nongkrong setelah latihan. Belum lagi kalau tiap minggu ada event atau kelas baru yang rasanya “sayang kalau nggak ikut”. Akhirnya muncul pertanyaan yang belakangan sering terdengar, “Kenapa mau sehat aja sekarang mahal?”
Pergeseran Makna Olahraga: Dari Kebutuhan Menjadi Simbol Status
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Jika ditarik ke belakang, momentum terbesarnya dimulai saat pandemi COVID-19. Ketika ruang gerak terbatas, olahraga bergeser dari sekadar hobi menjadi kebutuhan bertahan hidup. Kesadaran akan kesehatan meningkat drastis. Namun, ketika pandemi usai, kebiasaan itu tidak lantas hilang, tapi bertransformasi.
Transformasi tersebut terakselerasi oleh media sosial. Konten wellness lifestyle mendominasi timeline; influencer dan content creator membagikan rutinitas olahraga mereka hampir setiap hari, hingga tanpa sadar, aktivitas fisik bergeser menjadi identitas diri dan simbol status. Fenomena ini tidak hanya terjadi di tingkat lokal. Secara global, industri wellness berkembang menjadi “arena baru” bagi gaya hidup mewah. Grazia Magazine mencatat sejumlah brand besar seperti Barry’s, Balenciaga, Loewe, dan On Running bahkan berkolaborasi meluncurkan produk dengan harga fantastis. Olahraga tidak lagi hanya tentang keringat, tetapi juga tentang komodifikasi dan prestise.
Imbasnya terasa nyata di kota-kota besar seperti Jakarta. Seperti salah satu tulisan di segmen People’s Perspective dari Wonderwhy juga menyoroti banyaknya wellness places yang tersebar, mulai dari tempat pijat, studio yoga dan pilates, recovery center, hingga lapangan padel, tenis, dan jogging track. Di tengah kemacetan, polusi, dan tekanan kerja di Jakarta, tempat-tempat ini hadir sebagai “ruang pelarian” yang menarik.
Hal ini sejalan dengan survei Amar Bank terhadap 300 responden. Sebanyak 53,8% responden tetap mengalokasikan uang untuk olahraga di tengah tekanan ekonomi karena aktivitas tersebut membantu menjaga kesehatan mental dan meredakan stres.
Artinya, olahraga memang sudah punya nilai yang lebih luas. Bukan hanya membuat tubuh sehat, tetapi juga menawarkan me time, hiburan, komunitas, hingga ruang untuk melepas penat.
Ketika Wellness Jadi Lifestyle, FOMO Ikut Masuk
Di sinilah ceritanya mulai menarik.
Ketika olahraga menjadi lifestyle, ada banyak hal lain yang ikut masuk ke dalam pengeluaran. Bukan hanya biaya kelas atau membership, tetapi juga gear, sportswear, event, sampai nongkrong setelah latihan.
Dalam salah satu artikel dari East Ventures dikatakan bahwa, keputusan konsumen muda, terutama Gen Z, sangat dibentuk oleh faktor sosial: “Strong branding and active social media presence are crucial … their purchasing decisions are often shaped by social influence, peer validation, and immediacy.”
Berangkat dari keinginan untuk stay connected inilah makna olahraga perlahan bergeser. Tujuannya memang tetap untuk sehat, tetapi di balik itu, banyak harapan lain. Ketemu komunitas baru, memperluas networking, upgrade perlengkapan olahraga, ikut event, nongkrong setelah latihan, sampai punya konten untuk media sosial.
Niat awalnya memang wellness, namun pada akhirnya, pengeluaran jauh berkembang ke mana-mana.
Lantas, apakah FOMO olahraga selalu buruk?
Kompromi Finansial Demi Ketenangan Jiwa
Tim SWARA berkesempatan ngobrol santai dengan beberapa orang yang merasakan langsung pergeseran makna olahraga ini dari sudut pandang yang berbeda. Mulai dari sport enthusiast, guru yoga, hingga pendiri komunitas. Dari cerita mereka, ternyata jawabannya nggak sesederhana “ikut tren” atau “demi sehat” aja.
Salsa, Karyawan Swasta & HYROX Athlete
Bagi Salsa, olahraga sudah menjadi bagian dari rutinitasnya sejak 2018, bahkan bisa dibilang gymaholic. Dalam seminggu, Salsa rutin nge-gym 5–6 kali. Bahkan, kalau sehari nggak olahraga, rasanya seperti ada yang kurang. Dan di tahun 2026 ini ia mulai menekuni HYROX.
Kalau dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk mempersiapkan satu race HYROX bisa mencapai belasan juta rupiah. Mulai dari gear, simulasi race, nutrisi, suplemen, hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Meski begitu, Salsa mengaku semua pengeluaran tersebut sudah masuk dalam perencanaan keuangannya. Ia tidak pernah mengambil anggaran kebutuhan pokok demi olahraga.
“Yang aku korbanin itu bujet tersier, bukan kebutuhan primer. Pos hiburan seperti nongkrong atau jalan-jalan yang dikurangi”, ujarnya.
Syani (Yoga Enthusiast)
Cerita serupa datang dari Syani, yang menemukan “rumahnya” di yoga. Setelah sempat vakum berolahraga selama beberapa tahun, ia justru jatuh cinta pada yoga karena ajakan seorang teman. Berawal dari rasa penasaran, kini Insyani mengikuti kelas yoga hingga empat kali dalam seminggu dan mengalokasikan sekitar 20–25% dari pengeluaran bulanannya untuk kelas yoga.
Menariknya, ia tidak merasa perlu memiliki perlengkapan atau sportswear mahal. Baginya, kenyamanan jauh lebih penting daripada gengsi.
“Aku mah bukan tipe yang harus branded. Selama nyaman dipakai, barang-barang affordable di marketplace juga udah cukup buat aku”. Syani adalah contoh ketika rasa penasaran atau FOMO justru berkembang menjadi kebiasaan yang membawa dampak positif.
Antara Validasi Semu dan Pencarian Komunitas
Amel, Guru Yoga & Pemilik Yogidoyoga Studio
Namun, sisi lain dari tren wellness juga dirasakan oleh Amel, guru yoga sekaligus pemilik Yogidoyoga Studio di Jakarta Timur. Ia pernah menemui murid yang datang sambil menunjukkan pose yoga dari media sosial dan ingin langsung bisa melakukannya. Padahal yoga bukan sekadar soal mencapai pose tertentu. “Dalam melakukan yoga itu ada fondasi, proses, hingga filosofi yang perlu dipahami sebelum seseorang mencoba gerakan-gerakan yang lebih kompleks. Nggak bisa sekonyong-konyong langsung mencoba pose yang sulit”, ujarnya. Hal ini menjadi salah satu kekhawatirannya sebagai instruktur yoga karena ketika keinginan untuk terlihat keren mengalahkan kesiapan tubuh, risiko cedera pun menjadi nyata.
Lalu, apakah FOMO selalu menjadi pihak yang harus disalahkan? Belum tentu.
Komar, Founder Bintaro Stone Complex
Menurut Komar, founder komunitas sepeda Bintaro Stone Complex, orang-orang kini mengikuti event sepeda bukan semata-mata demi kesehatan. Mereka mencari pengalaman, komunitas, relasi baru, dan keseruan yang tidak bisa didapat ketika bersepeda sendirian. Hal ini jadi nyambung dengan kondisi Gen Z yang disebut oleh East Ventures sebelumnya.
Dalam pandangannya, selama seseorang memahami kemampuan finansialnya, keinginan untuk ikut tren atau meng-upgrade perlengkapan bukanlah sesuatu yang keliru. Justru ketika seseorang sudah benar-benar menikmati hobinya, keinginan untuk meningkatkan kualitas pengalaman berolahraga adalah hal yang wajar.
Wellness atau Pressure?
Kalau ditarik benang merahnya, olahraga kini memang sudah punya makna yang jauh lebih luas. Ia bukan lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kesehatan, tetapi juga bagian dari lifestyle, komunitas, networking, bahkan identitas diri.
Masalah baru muncul ketika batas itu mulai kabur. Ketika olahraga berubah menjadi obsesi, ketika validasi media sosial lebih penting daripada mendengarkan tubuh, atau ketika mengejar tren sampai mengorbankan kondisi finansial. Di titik itulah wellness perlahan bergeser menjadi pressure.
Di sisi lain, survei Amar Bank menunjukkan bahwa lebih dari 51% Gen Z rela memangkas anggaran kopi dan nongkrong demi membiayai hobi wellness. Bagi mereka, pengeluaran tersebut dianggap sebagai investasi untuk kesehatan fisik, ketenangan mental, relasi sosial, hingga peluang karier.
Menariknya lagi, 71,2% responden menerapkan prinsip keuangan konservatif dan sehat dalam mendanai hobi wellness. Sementara itu, 16,6% memilih menggunakan instrumen utang, seperti cicilan atau pinjaman digital.
Mungkin, di tengah kondisi ekonomi saat ini, ketika menurut artikel dari Dompet Dhuafa masyarakat terjebak di tengah: tidak miskin, tetapi juga belum aman, wellness justru menjadi salah satu hal yang tetap ingin dipertahankan.
Yang jadi pertanyaan penting adalah: apakah biaya yang kita keluarkan benar-benar membawa manfaat bagi diri sendiri atau hanya untuk mengejar ekspektasi orang lain?