Swara KAMU – Dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan, apakah kalian akan selalu menuntut hasil yang sempurna?
Upaya mewujudkan hasil sempurna dengan menetapkan standar tinggi dan tidak terjangkau oleh diri kita menjadi penilaian dari seorang yang perfeksionis. Seorang perfeksionis tidak akan merasa puas dengan hasil yang belum memenuhi standar ‘perfect’ mereka.
Sudut pandang prefeksionisme umumnya berkaitan dengan rasa kekhawatiran yang besar akan kesalahan dan ketakutan terhadap penilaian orang lain. Pandangan tersebut didasari atas rasa kecewa dan kegagalan dari masa lalu.
Sudut Pandang Perfeksionis Baik atau Buruk
Pola perilaku ini digambarkan dengan gaya positif dan negatif. Perfeksionis positif (pasif) bisa dikaitkan dengan rasa ingin berjuang yang meningkat terhadap tantangan pada standar pribadi dan berusaha memberikan yang terbaik atas suatu hal yang dikerjakan.
Memungkinkan untuk membentuk sikap realistis, mengakui keterbatasan pribadi yang dapat mempengaruhi motivasi dan keinginan untuk maju.
Di samping itu perfeksionis positif cenderung menikmati perjuangan atas rasa lelah yang mereka keluarkan dan merasa tercukupi atas kerja keras tersebut. Hal tersebut menjadi salah satu pendukung kesehatan mental pribadinya.
Sedangkan Perfeksionis negatif (aktif) sendiri biasanya dikaitkan dengan menghubungkan sebab akibat yang berarti bisa menurunkan kesejahteraan psikologis dan meningkatkan tekanan psikoligis.
Kriteria pribadi yang sempurna dan tidak realistis membuat kita mudah menyalahkan diri sendiri ketika menghadapi kegagalan.
Pengalaman kegagalan ini mengarah pada penilaian kritis pada kesalahan atau kekurangan pada hasil atau diri sendiri.
Kondisi tersebut dapat mengakibatkan turunnya kesehatan mental yang berdampak pada kecemasan, depresi dan rasa khawatir yang berlebih.
Konsekuensi negatif juga turut hadir dalam perfeksionis negatif yaitu menurunnya tingkat kepercayaan diri. Membentuk pribadi yang selalu membandingan satu hal dengan yang lain, tentunya itu dapat berdampak buruk pada kehidupan sosial kita.
Baca juga: Mengulas Buku: Stress Dan Metode Mengatasinya
Harus kah Menghindari Sifat Perfeksionis Negatif ?
Fakta mengungkapkan bahwa seorang perfeksionis aktif memiliki kepribadian yang cenderung sangat teliti dan detail dalam melakukan pekerjaannya hal itu yang menjadi nilai plus dalam hal ini.
Mungkin daripada menghindari sifat perfeksionis, lebih baik kita berbenah diri. Sebutan “health perfectionism” adalah kalimat yang tepat untuk mengambarkan “growth mindset”.
Kita boleh menuntut kesempurnaan tetapi tetap harus melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain. Menerapkan pola pikir realistis menjadi faktor penting perlindungan diri menuju mental yang sehat.
Tidak semua hal di dunia ini dituntut menjadi sempurna selama kita sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Yuk, menulis di Swara KAMU
Swara Kamu merupakan wadah untuk menyalurkan inspirasi, edukasi, dan kreasi lewat tulisanmu. Kamu bisa menyampaikan pendapat, pemikiran, atau informasi menarik seputar finansial dan karier. Setiap artikel Swara Kamu menjadi tanggung jawab penulis karena merupakan opini pribadi penulis. Tim Swara tidak dapat menjamin validitas dan akurasi informasi yang ditulis oleh masing-masing penulis.
Ingin ikut berbagi inspirasi? Langsung daftarkan dirimu sebagai penulis Swara Kamu di sini!

