Beberapa saat lalu, kita mendengar berita tentang orang-orang yang meminjam uang untuk investasi saham. Mereka mungkin berharap mendapatkan keuntungan ratusan persen, dan keuntungannya dipakai untuk melunasi utang. Tapi, ini sebenarnya cara investasi saham yang salah.

 

Ketika saham mulai turun, orang-orang yang menggunakan uang pinjaman untuk modal investasi merasa panik. Mereka jadi tidak punya uang untuk melunasi utang tersebut. 

 

Kejadian seperti ini sering dialami oleh tipe-tipe investor pemula yang menginginkan keuntungan besar tanpa memikirkan risikonya. Bahkan, tidak jarang para investor senior pun menerapkan hal yang salah ini.

 

Cara Investasi Saham dengan Memahami Emosi Pasar

 

Pada dasarnya, memang banyak orang yang selalu diliputi rasa ingin untung tanpa perlu bekerja keras. Ini juga yang banyak dipikirkan oleh para investor, cenderung memiliki investasi dengan imbal hasil tinggi tanpa mempertimbangkan risikonya. Mungkin kamu juga salah satu di antaranya. 

 

Begitu kondisi pasar turun, rasa takut langsung melanda. Para investor pemula langsung panik, tidak tahu apakah saham perlu dipertahankan atau dijual. Mereka tidak yakin dengan saham yang dibeli sendiri. 

 

Ini sebenarnya bisa terjadi karena ekspektasi mereka hanya mengutamakan imbal hasil, tanpa peduli perusahaan yang dibeli sahamnya itu memiliki kualitas seperti apa. 

 

Nah, begitulah pasar saham. Kebanyakan investor di saham selalu digerakkan oleh ketakutan dan rasa ingin untung atau keserakahan. Kedua hal ini yang membentuk emosi pasar.

 

Bagi investor jangka panjang, ini adalah hal yang normal. Ada fase-fase tertentu di pasar, ketika saham akan naik tinggi dan juga ada waktunya bagi saham untuk turun.  

 

Perlu diketahui, tidak ada yang tahu dan tidak akan ada yang bisa membaca pergerakan pasar ke depan secara tepat. Bahkan dengan analisa fundamental yang mendalam sekalipun. Semua perkiraan itu hanya analisa yang dilakukan berdasarkan perhitungan kondisi pasar di masa lalu.

 

Artikel Terkait: Serba-serbi Investasi Saham

  1. Pahami Arti Window Dressing Saat Kamu Mencoba Investasi Saham
  2. Investasi Saham Tidak Sama dengan Judi, Ini Penjelasannya! #BelajarSaham
  3. 7 Kiat Jitu Mengurangi Kerugian dalam Investasi Saham

 

Pola Pikir yang Benar Saat Berinvestasi Saham

 

Ketika berinvestasi saham, hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan, yaitu membeli atau menjual. Hal lainnya di luar itu tidak akan bisa kamu kendalikan. Lalu, bagaimana cara investasi saham yang tepat agar kita terhindar dari kerugian?

 

Semuanya tergantung pada pola pikir yang ditanamkan ketika investasi saham. Mari kita bedah apa yang perlu kita tanamkan di pikiran saat berinvestasi saham.

 

1. Fundamental

 

Dalam berinvestasi saham, faktor fundamental suatu perusahaan ini penting. Karena, saat kamu membeli perusahaan, kamu harus tahu perusahaan itu bagus atau tidak. Lalu apa yang dimaksud dengan fundamental perusahaan? 

 

Fundamental perusahaan adalah hal-hal yang menunjukan kualitas dari suatu perusahaan. Dari sisi laporan keuangannya, produknya, layanan yang ditawarkan, hingga potensi masa depan dari perusahaan tersebut. 

 

Di dalam fundamental ini kita bisa melihat kualitas dari perusahaan sesungguhnya. Jika perusahaan kualitasnya bagus, profitable, dan ekuitas perusahaan bertumbuh, tentu valuasi perusahaan di market juga akan meningkat. 

 

Banyak sekali investor yang melakukan kesalahan disini. Investor sering kali hanya melihat harga suatu saham yang naik drastis, lalu ingin membeli, tanpa tahu itu perusahaan apa. 

 

Padahal, inti dari membeli saham adalah membeli perusahaan. Kamu secara nyata harus paham akan perusahaan tersebut. Itulah cara investasi saham yang baik. Perusahaan yang baik, tentu harga sahamnya akan meningkat seiring waktu. 

 

Pinjaman Uang Online Bisnis Hingga 20 Juta

 

2. Kesabaran

 

Ada banyak sekali orang menganggap pasar saham adalah jalan pintas menuju sukses. Ini adalah pemikiran cara investasi saham yang salah. 

 

Kalau kamu melihat investor-investor saham besar, seperti Warren Buffett, Ray Dalio, Lo Kheng Hong dan investor-investor besar lainnya, mereka selalu berorientasi jangka panjang. Mereka sudah pasti membeli perusahaan-perusahaan yang berkualitas dan juga tidak lupa memegangnya secara jangka panjang atau bahkan seumur hidup. 

 

Ketika harga sahamnya turun, mereka tidak lantas langsung cut loss, karena paham bahwa penurunan harga saham itu wajar. Ketika kualitas perusahaan masih oke, mereka akan pegang terus sahamnya, atau bahkan menambah alokasi di saham tersebut ketika harganya sedang murah. 

 

Banyak investor yang takut melihat harga saham perusahaan yang dibelinya turun. Ujung-ujungnya cut loss dan mengalami kerugian. Hal ini harus diubah. 

 

Selama kamu percaya dengan perusahaan yang kamu beli, penurunan harga saham akan menjadi hal yang bagus. Kamu mempunyai kesempatan untuk membeli lagi saham perusahaan tersebut di harga murah. 

 

Coba pertimbangkan, perusahaan besar seperti Amazon, Apple, Microsoft butuh puluhan tahun untuk mencapai tahap seperti sekarang ini. Mereka pernah mengalami penurunan harga saham yang drastis serta melewati berbagai macam krisis finansial.

 

Tapi, lihatlah performanya secara jangka panjang. Perusahaan yang terus bertumbuh, harga sahamnya juga secara jangka panjang akan mengikuti pertumbuhan perusahaannya!

 

3. Diversifikasi

 

Ini hal  yang tidak kalah penting. Fundamental perusahaan menunjukan kualitas perusahaan, tetapi kadang ada perusahaan yang tidak dapat mempertahankan kualitasnya. 

 

Contoh paling nyata adalah perusahaan Kodak. Perusahaan ini memproduksi roll film yang beken pada era kamera analog. Tapi, semenjak kamera berubah ke digital, Kodak kehilangan daya saingnya. 

 

Perusahaan yang dulu valuasinya besar dan kualitasnya bagus itu, kemudian jatuh dan tidak dapat bangkit kembali diterkam kemajuan zaman. Contoh lainnya juga ada Nokia, Blackberry, dan sebagainya. 

 

Memegang perusahaan dengan fundamental yang bagus belum tentu menjamin perusahaan tersebut akan terus bagus selamanya. Itulah kenapa kita memerlukan diversifikasi. 

 

Jangan hanya beli saham pada satu perusahaan yang bagus saja. Tetapi belilah beberapa perusahaan bagus. Kalau perlu dari industri yang berbeda-beda. Hal ini akan menghindarkan kamu dari risiko unsystematic atau risiko performa perusahaan. 

 

Diversifikasi adalah cara investasi saham yang aman. Bayangkan, misalnya kamu hanya pegang satu saham dari perusahaan A. Lalu, perusahaan A itu tiba-tiba kolaps. Maka, uangmu akan ikut hilang juga seutuhnya. 

 

Tapi bayangkan jika kamu memegang cukup banyak saham, anggap saja 20 saham. Di antaranya, dua perusahaan nyaris bangkrut. Dua perusahaan itu hanya 10% dari danamu. Itu juga belum ditutupi dengan kenaikan dari 18 saham lainnya. Karena itu, diversifikasi itu adalah perlindungan terhadap risiko kebangkrutan perusahaan.

 

Jika menerapkan ketiganya, tentu kamu akan jauh lebih tenang dalam berinvestasi. Kamu tidak akan ikut-ikutan fear of missing out atau FOMO terhadap saham-saham yang belum tentu jelas atau sedang digoreng. 

 

Fokusmu hanya di jangka panjang. Berinvestasi saham sama seperti berinvestasi properti. Semua investor properti tentu berinvestasi secara jangka panjang. Prinsip yang sama dapat diterapkan di saham. 

 

Berinvestasi secara jangka panjang adalah cara investasi saham yang benar. Ingat, di saham, kamu membeli perusahaan. Kamu tercatat sebagai pemilik dari perusahaan tersebut. 

 

Maka, peganglah perusahaan itu secara jangka panjang. Sama juga seperti kita membuka suatu bisnis baru. Dengan menerapkan pola pikir yang tepat, maka kamu sudah menjalankan cara investasi saham yang tepat juga.