Friday, 18 Sep 2026

Soulmate Bedsheet: 20 Tahun Menjadi “Teman Tidur” yang Nyaman

Soulmate Bedsheet: 20 Tahun Menjadi “Teman Tidur” yang Nyaman

Kamar tidur mungkin menjadi salah satu tempat paling personal di rumah. Di sana, kita beristirahat setelah hari yang panjang, menghabiskan waktu bersama keluarga, sampai sekadar rebahan tanpa tujuan. Nggak heran kalau kenyamanan kamar jadi sesuatu yang penting.

 

Menariknya, kenyamanan tersebut nggak cuma ditentukan oleh kasur atau dekorasi. Sprei, sarung bantal, dan selimut juga punya peran. Bahkan, kebutuhan bedding nggak hanya ada di rumah, tetapi juga di hotel, rumah sakit, dan berbagai tempat lainnya.

 

Berangkat dari kebutuhan sederhana inilah, Soulmate Bedsheet lahir. 

 

Tim SWARA berkesempatan untuk ngobrol bareng Nastiti, founder dari Soulmate Bedsheet, sebuah bisnis bedding yang sudah berdiri selama dua dekade.

 

 

Berawal dari Nama dan Tekad

 

Namanya simple. “Soulmate”. Selain mudah diingat, semua orang paham artinya. Tapi apa hubungannya dengan kamar tidur? Ternyata, nama ini memiliki makna yang dalam. “Sebenarnya yang mencetuskan nama ini adalah ibu saya. Soulmate yang bisa juga diartikan sebagai “teman sejati”, diartikan sebagai teman yang kita percaya dan nyaman untuk bersama. Harapannya, pembeli merasa percaya dan nyaman dengan produk Soulmate”, ujar Nastiti. 

 

Harapan tersebut kemudian menjadi filosofi bagi bisnis yang didirikannya pada 2006. Uniknya, perjalanan Soulmate justru dimulai dari keterbatasan. Nastiti sendiri mengaku nggak bisa menjahit.

 

Awalnya, ia mencoba menjual sarung bantal dengan sistem membeli produk dari produsen, kemudian menjualnya kembali. Namun, setelah dijalani, Nastiti melihat peluang yang lebih besar pada produk sprei. Setahun kemudian, Soulmate mulai memproduksi produknya sendiri.

 

Keputusan tersebut ternyata membuka ruang bagi Soulmate untuk lebih mudah menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Dari yang awalnya hanya menjual kembali, perlahan Soulmate mulai membangun kemampuan produksinya sendiri.

 

 

Modal Boleh Minim, Tapi Nggak Minim Akal

Memulai bisnis dengan modal terbatas tentu bukan perkara gampang. Bahkan pada awal berdiri, Soulmate belum memiliki mesin jahit maupun tempat produksi sendiri. “Boro-boro, bahan aja nggak punya,” ujarnya. Tapi, Nastiti punya satu modal yang nggak kalah penting: kemampuan marketing dan keberanian mencari peluang.

 

Alih-alih menunggu modal terkumpul, ia justru aktif menawarkan produk kepada hotel dan rumah sakit. Berbekal pengetahuan tentang berbagai jenis bahan, portofolio penjualan yang masih seadanya, serta kemampuan marketing, Nastiti mendapat proyek masif dari berbagai instansi. Proyek-proyek tersebut memberikan uang muka yang kemudian bisa diputar menjadi modal produksi. Keuntungan dari proyek juga perlahan digunakan untuk membeli mesin jahit dan membangun tempat produksi sederhana.

 

Strategi tersebut membuat bisnis bisa tumbuh secara bertahap. Dari hanya memiliki beberapa tenaga jahit dan tempat seadanya, kini Soulmate sudah memiliki tim produksi dan pemasaran yang lebih lengkap. Bahkan, mereka tengah menyiapkan tempat produksi sekaligus toko offline yang lebih luas. Perjalanannya tentu nggak selalu mulus. Ada masa ketika Nastiti merasa takut bisnisnya nggak akan berhasil, bahkan sempat terpikir untuk menyerah. Namun, keberadaan karyawan yang menggantungkan penghasilan mereka dari Soulmate menjadi salah satu alasan untuk terus bertahan.

 

Toh, menurut Nastiti, pindah ke bisnis lain pun bukan berarti bebas dari tantangan. Jadi, kenapa nggak sekalian memperjuangkan bisnis yang sudah dibangun?

 

 

Prinsip Kejujuran Selama 20 Tahun

Setiap bisnis yang mampu bertahan selama bertahun-tahun pasti punya prinsip yang terus dipegang. Selain adaptif terhadap perubahan pasar, Nastiti punya satu prinsip yang menurutnya nggak kalah penting. Di saat kebanyakan penjual over-promise tentang produknya, Nastiti memilih untuk berjualan dengan jujur dan apa adanya.

 

Prinsip itu ia terapkan dengan terbuka kepada pelanggan. “Saya nggak pernah tutup-tutupin. Kalau ada barang reject yang mau saya jual, saya pasti bilang itu barang reject. Kalau bahannya agak panas, saya juga akan kasih tahu dari awal. Kami bahkan punya program untuk pembeli yang sudah terlanjur beli tapi berubah pikiran. Kalau memang mau mengembalikan barangnya, kami nggak masalah, selama barangnya belum digunakan dan dicuci,” lanjutnya.

 

Cara berjualan seperti ini mungkin sederhana, tetapi justru bisa membangun kepercayaan pelanggan. Selaras dengan filosofi namanya yang berarti “teman sejati”, Soulmate berusaha menjadi bisnis yang bisa dipercaya, termasuk dalam menyampaikan kondisi produknya. Sebab, pelanggan mungkin datang karena produk, tetapi kepercayaan lah yang membuat mereka kembali.

 

Berbagai pencapaian pun berhasil diraih. Dari yang awalnya hanya menjual produk dari produsen, kini Soulmate sudah memiliki pabrik sendiri. Dari toko kecil di mal Jakarta, kini berkembang menjadi toko rumahan dengan lahan yang jauh lebih luas. Begitu juga dengan timnya yang dulu hanya terdiri dari satu penjahit dengan satu mesin, kini Soulmate punya rumah produksi sendiri yang terpisah dari toko, lengkap dengan tim yang menangani produksi, media sosial, hingga penjualan. 

 

Dua puluh tahun perjalanan Soulmate pun menunjukkan bahwa mempertahankan bisnis nggak selalu soal strategi yang rumit. Berani jujur, menjaga kepercayaan, terus beradaptasi dengan keinginan pasar, dan konsisten menjalankannya bisa menjadi fondasi sederhana untuk membuat bisnis terus bertahan dan berkembang.

 

 

Pesan untuk UMKM yang Mau Bertumbuh

Dua puluh tahun menjalankan bisnis membuat Nastiti memahami satu hal: tantangan adalah bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk berhenti.

 

Buat kamu yang baru mau mulai bisnis, menurut Nastiti, hal pertama yang harus dimiliki adalah keyakinan terhadap bisnis yang dipilih. Pastikan juga sumber daya yang dibutuhkan tersedia secara berkelanjutan dan, yang paling penting, pasarnya memang ada.

 

Sementara untuk pelaku UMKM yang ingin mengembangkan bisnis, pertanyaan sederhananya adalah: “Siapa yang akan menggunakan produk kita?”

 

Dari situ, bisnis bisa mulai membangun pendekatan yang lebih customer-focused. Sebab, sebagus apa pun produk yang dibuat, bisnis tetap membutuhkan orang yang benar-benar membutuhkannya.

 

 

Perjalanan Soulmate Bedsheet membuktikan bahwa bisnis nggak selalu dimulai dari modal besar, fasilitas lengkap, atau kemampuan yang serba bisa. Kadang, yang dibutuhkan lebih dulu adalah keberanian untuk mulai, kemauan membaca peluang, dan konsistensi untuk terus belajar dan beradaptasi.

 

Dua puluh tahun kemudian, Soulmate bukan cuma berhasil bertahan. Ia tumbuh bersama orang-orang di dalamnya, dan tetap berusaha menjadi “teman sejati” yang memberikan kenyamanan, satu tempat tidur pada satu waktu.

 

Cek selengkapnya mengenai Soulmate Bedsheet di www.soulmatebedsheet.com 

Fenomena Finansial “Gebrakan Hidup” yang Bikin Pusing

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Peribahasa yang seringkali terasa pas untuk menggambarkan kondisi keuangan. Istilah “gebrakan hidup” yang nggak jarang ditemukan di kalangan Gen Z dan Milenial pun berasal dari fenomena masalah finansial yang datang secara bersamaan, atau lebih tepatnya efek dari domino finansial. 

 

Banyak banget gebrakan hidup yang datang tak diundang, kayak jailangkung. Kendaraan mendadak rusak, gadget rusak pas lagi ngejar deadline, tiba-tiba sakit, atap bocor, sampai kehilangan pekerjaan. Mending kalau satu-satu datangnya. Kalau rame-rame? Berasa digebukin bertubi-tubi dan rasanya pasti sial banget!

 

Pas hal ini terjadi, refleks pertama kita biasanya menyalahkan diri sendiri: “Duh, gue emang sial banget,” atau “Gue emang nggak becus ngatur uang.” Padahal, secara sains, kamu nggak sepenuhnya salah. Rasa panik, sulit berpikir jernih, sampai bingung menentukan prioritas ketika masalah datang bertubi-tubi merupakan respons yang sangat manusiawi. Ada mekanisme psikologis yang ikut bermain ketika kita berada di bawah tekanan finansial.
 

 

Bukan Sial, Ini Alasan Otak Auto-“Hang” Pas Uang Menipis

 

Coba anggap otakmu seperti smartphone. Saat kondisi normal, kamu masih bisa pindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain tanpa masalah. Namun, ketika tekanan finansial datang bertubi-tubi, rasanya seperti terlalu banyak aplikasi berat yang berjalan bersamaan.

 

Kapasitas RAM-nya makin penuh, performanya melambat, dan hal-hal yang biasanya gampang dilakukan pun jadi terasa lebih rumit. Begitu juga dengan otak: ketika pikiran terus dipenuhi soal uang, kemampuan untuk fokus, menentukan prioritas, dan mencari solusi bisa ikut terganggu.

 

Bukan karena kamu bodoh dalam mengatur uang, melainkan karena kapasitas mentalmu sedang benar-benar terkuras. 

 

Misalnya, tabunganmu masih Rp20 juta ketika motor mendadak rusak dan membutuhkan biaya Rp3 juta. Masalahnya tetap bikin kesal, tetapi masih ada ruang untuk mencari solusi. Berbeda ketika tabungan hanya tersisa Rp1 juta. Biaya Rp3 juta yang sama bisa membuatmu harus memikirkan utang, cicilan, kebutuhan bulan depan, dan berbagai konsekuensi lainnya secara bersamaan.

 

Dilansir dari Wealest, prinsip kelangkaan membatasi jumlah peluang yang tersedia bagi kita. Seiring berkurangnya peluang tersebut, kita kehilangan kebebasan untuk memilih. Secara psikologis, kita terprogram untuk bereaksi terhadap hilangnya kebebasan dalam memilih. 

 

Ketika terus berada dalam situasi seperti ini, rasanya kita dituntut untuk selalu survive. Padahal, mencoba “tahan banting” sendirian saat kapasitas otak sudah overload tidak selalu menjadi tanda kuat. Justru, bisa semakin melelahkan dan membuat keputusan finansial makin sulit.

 

Di titik ini, mencari bantuan bukan berarti kamu gagal mengelola hidup. Sebaliknya, menyadari bahwa kamu butuh bantuan dan mencari solusi yang tepat merupakan keputusan rasional untuk menjaga kesehatan mental sekaligus kondisi finansial.

 

 

Jalan Keluar dari Gebrakan Hidup

 

Jadi, pertanyaannya bukan lagi, “Gimana caranya supaya hidup nggak punya masalah?” karena, ya, masalah pasti akan datang. Yang lebih realistis adalah: seberapa siap kondisi finansialmu ketika masalah berikutnya datang sebelum kamu sempat pulih dari masalah sebelumnya?

 

Salah satu benteng pertama yang bisa dibangun adalah dana darurat. Dana ini sebaiknya disiapkan secara bertahap dan dipisahkan dari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, ketika kendaraan rusak, ada kebutuhan medis mendadak, atau masalah lain muncul, kamu punya ruang untuk bernapas tanpa langsung mengganggu kebutuhan rutin.

 

Tapi, bagaimana kalau dana darurat belum cukup atau baru saja terkuras untuk menyelesaikan “gebrakan” sebelumnya?

 

 

Kenalan dengan PINYAMAN dari Tunaiku

 

Di sinilah kamu bisa mempertimbangkan pinjaman online legal sebagai salah satu opsi untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak. Nggak perlu langsung alergi terhadap pinjaman online. Yang penting, pastikan penyedianya legal dan berizin sesuai ketentuan OJK, transparan soal biaya, serta punya informasi pembayaran yang jelas.

 

Dalam situasi krisis, pinjaman legal bisa berfungsi seperti tombol pause. Bukan untuk menambah gaya hidup atau membiayai keinginan impulsif, tetapi untuk memberi sedikit ruang bernapas ketika kebutuhan mendesak datang saat uang yang tersedia belum mencukupi. Dengan beban yang lebih terukur, kamu punya kesempatan untuk kembali berpikir jernih dan menyusun langkah berikutnya.

 

Konsep #pinyAMAN juga bukan berarti “setiap ada masalah, langsung pinjam”, sebagai bentuk pemanfaatan pinjaman yang bijak dan terukur:

  • Gunakan untuk keperluan yang urgent. Pastikan dananya dipakai untuk kebutuhan mendesak yang butuh penanganan cepat, bukan keinginan impulsif.
  • Hitung kemampuan bayar. Selalu sesuaikan nominal pinjaman dengan skema pelunasan yang rasional agar tidak memicu stres baru di bulan berikutnya.
  • Kembalikan bandwidth mental. Gunakan ruang bernapas yang didapat untuk mulai menyusun kembali dana darurat dan menata ulang rencana keuangan.

 

Pada akhirnya, menghadapi “gebrakan hidup” bukan tentang menjadi orang yang kebal masalah. Yang lebih penting adalah punya ruang untuk bernapas, pilihan untuk mengambil keputusan, dan strategi ketika semuanya datang keroyokan. Mulai dari membangun dana darurat, memahami kapan perlu mencari bantuan, sampai menggunakan pinjaman secara bijak, semuanya bisa menjadi bagian dari strategi agar satu gebrakan nggak berubah menjadi domino masalah finansial.

 

Referensi

Investopedia 

Wealest

“Wellness in This Economy”: Mau Sehat Kok Mahal?

Zaman sekarang, wellness jadi salah satu kebutuhan inti. Menjadi sehat secara menyeluruh, yang mencakup keseimbangan fisik, mental, dan emosional, sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Bagi Gen Z dan Milenial, punya hobi olahraga sekarang udah jadi hal yang lumrah. Ngantor 9-to-5 lalu lanjut nge-gym? Banyak. Yoga atau tenis sebelum clock in? Udah biasa. Jogging di GBK sepulang kerja? Hampir tiap sore rame.

 

Masalahnya, di tengah biaya hidup yang terus naik dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, hobi olahraga mulai terasa mahal. Bukan capek karena latihannya, tapi capek lihat total pengeluarannya. 

 

Mulai dari membership gym, kelas pilates, sepatu lari, raket, outfit olahraga, race pack, sampai nongkrong setelah latihan. Belum lagi kalau tiap minggu ada event atau kelas baru yang rasanya “sayang kalau nggak ikut”. Akhirnya muncul pertanyaan yang belakangan sering terdengar, “Kenapa mau sehat aja sekarang mahal?”

 

 

Pergeseran Makna Olahraga: Dari Kebutuhan Menjadi Simbol Status

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Jika ditarik ke belakang, momentum terbesarnya dimulai saat pandemi COVID-19. Ketika ruang gerak terbatas, olahraga bergeser dari sekadar hobi menjadi kebutuhan bertahan hidup. Kesadaran akan kesehatan meningkat drastis. Namun, ketika pandemi usai, kebiasaan itu tidak lantas hilang, tapi bertransformasi.

 

Transformasi tersebut terakselerasi oleh media sosial. Konten wellness lifestyle mendominasi timeline; influencer dan content creator membagikan rutinitas olahraga mereka hampir setiap hari, hingga tanpa sadar, aktivitas fisik bergeser menjadi identitas diri dan simbol status.  Fenomena ini tidak hanya terjadi di tingkat lokal. Secara global, industri wellness berkembang menjadi “arena baru” bagi gaya hidup mewah. Grazia Magazine mencatat sejumlah brand besar seperti Barry’s, Balenciaga, Loewe, dan On Running bahkan berkolaborasi meluncurkan produk dengan harga fantastis. Olahraga tidak lagi hanya tentang keringat, tetapi juga tentang komodifikasi dan prestise.

 

Imbasnya terasa nyata di kota-kota besar seperti Jakarta. Seperti salah satu tulisan di segmen People’s Perspective dari Wonderwhy juga menyoroti banyaknya wellness places yang tersebar, mulai dari tempat pijat, studio yoga dan pilates, recovery center, hingga lapangan padel, tenis, dan jogging track. Di tengah kemacetan, polusi, dan tekanan kerja di Jakarta, tempat-tempat ini hadir sebagai “ruang pelarian” yang menarik.

 

Hal ini sejalan dengan survei Amar Bank terhadap 300 responden. Sebanyak 53,8% responden tetap mengalokasikan uang untuk olahraga di tengah tekanan ekonomi karena aktivitas tersebut membantu menjaga kesehatan mental dan meredakan stres. 

 

Artinya, olahraga memang sudah punya nilai yang lebih luas. Bukan hanya membuat tubuh sehat, tetapi juga menawarkan me time, hiburan, komunitas, hingga ruang untuk melepas penat. 

 

 

Ketika Wellness Jadi Lifestyle, FOMO Ikut Masuk

Di sinilah ceritanya mulai menarik.

 

Ketika olahraga menjadi lifestyle, ada banyak hal lain yang ikut masuk ke dalam pengeluaran. Bukan hanya biaya kelas atau membership, tetapi juga gear, sportswear, event, sampai nongkrong setelah latihan.

 

Dalam salah satu artikel dari East Ventures dikatakan bahwa, keputusan konsumen muda, terutama Gen Z, sangat dibentuk oleh faktor sosial:  “Strong branding and active social media presence are crucial … their purchasing decisions are often shaped by social influence, peer validation, and immediacy.” 

 

Berangkat dari keinginan untuk stay connected inilah  makna olahraga perlahan bergeser. Tujuannya memang tetap untuk sehat, tetapi di balik itu, banyak harapan lain. Ketemu komunitas baru, memperluas networking, upgrade perlengkapan olahraga, ikut event, nongkrong setelah latihan, sampai punya konten untuk media sosial.

 

Niat awalnya memang wellness, namun pada akhirnya, pengeluaran jauh berkembang ke mana-mana.

 

Lantas, apakah FOMO olahraga selalu buruk?

 

 

Kompromi Finansial Demi Ketenangan Jiwa

 

Tim SWARA berkesempatan ngobrol santai dengan beberapa orang yang merasakan langsung pergeseran makna olahraga ini dari sudut pandang yang berbeda. Mulai dari sport enthusiast, guru yoga, hingga pendiri komunitas. Dari cerita mereka, ternyata jawabannya nggak sesederhana “ikut tren” atau “demi sehat” aja.

 

 

Salsa, Karyawan Swasta & HYROX Athlete

Bagi Salsa, olahraga sudah menjadi bagian dari rutinitasnya sejak 2018, bahkan bisa dibilang gymaholic. Dalam seminggu, Salsa rutin nge-gym 5–6 kali. Bahkan, kalau sehari nggak olahraga, rasanya seperti ada yang kurang. Dan  di tahun 2026 ini ia mulai menekuni HYROX.

 

Kalau dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan untuk mempersiapkan satu race HYROX bisa mencapai belasan juta rupiah. Mulai dari gear, simulasi race, nutrisi, suplemen, hingga berbagai kebutuhan pendukung lainnya. Meski begitu, Salsa mengaku semua pengeluaran tersebut sudah masuk dalam perencanaan keuangannya. Ia tidak pernah mengambil anggaran kebutuhan pokok demi olahraga.

“Yang aku korbanin itu bujet tersier, bukan kebutuhan primer. Pos hiburan seperti nongkrong atau jalan-jalan yang dikurangi”, ujarnya. 

 

 

Syani (Yoga Enthusiast)

Cerita serupa datang dari Syani, yang menemukan “rumahnya” di yoga. Setelah sempat vakum berolahraga selama beberapa tahun, ia justru jatuh cinta pada yoga karena ajakan seorang teman. Berawal dari rasa penasaran, kini Insyani mengikuti kelas yoga hingga empat kali dalam seminggu dan mengalokasikan sekitar 20–25% dari pengeluaran bulanannya untuk kelas yoga. 

 

Menariknya, ia tidak merasa perlu memiliki perlengkapan atau sportswear mahal. Baginya, kenyamanan jauh lebih penting daripada gengsi. 

 

“Aku mah bukan tipe yang harus branded. Selama nyaman dipakai, barang-barang affordable di marketplace juga udah cukup buat aku”. Syani adalah contoh ketika rasa penasaran atau FOMO justru berkembang menjadi kebiasaan yang membawa dampak positif.

 

 

Antara Validasi Semu dan Pencarian Komunitas

 

Amel, Guru Yoga & Pemilik Yogidoyoga Studio

Namun, sisi lain dari tren wellness juga dirasakan oleh Amel, guru yoga sekaligus pemilik Yogidoyoga Studio di Jakarta Timur. Ia pernah menemui murid yang datang sambil menunjukkan pose yoga dari media sosial dan ingin langsung bisa melakukannya. Padahal yoga bukan sekadar soal mencapai pose tertentu. “Dalam melakukan yoga itu ada fondasi, proses, hingga filosofi yang perlu dipahami sebelum seseorang mencoba gerakan-gerakan yang lebih kompleks. Nggak bisa sekonyong-konyong langsung mencoba pose yang sulit”, ujarnya. Hal ini menjadi salah satu kekhawatirannya sebagai instruktur yoga karena ketika keinginan untuk terlihat keren mengalahkan kesiapan tubuh, risiko cedera pun menjadi nyata.

 

Lalu, apakah FOMO selalu menjadi pihak yang harus disalahkan? Belum tentu.

 

Komar, Founder Bintaro Stone Complex

Menurut Komar, founder komunitas sepeda Bintaro Stone Complex, orang-orang kini mengikuti event sepeda bukan semata-mata demi kesehatan. Mereka mencari pengalaman, komunitas, relasi baru, dan keseruan yang tidak bisa didapat ketika bersepeda sendirian. Hal ini jadi nyambung dengan kondisi Gen Z yang disebut oleh East Ventures sebelumnya.

 

Dalam pandangannya, selama seseorang memahami kemampuan finansialnya, keinginan untuk ikut tren atau meng-upgrade perlengkapan bukanlah sesuatu yang keliru. Justru ketika seseorang sudah benar-benar menikmati hobinya, keinginan untuk meningkatkan kualitas pengalaman berolahraga adalah hal yang wajar.

 

 

Wellness atau Pressure?

Kalau ditarik benang merahnya, olahraga kini memang sudah punya makna yang jauh lebih luas. Ia bukan lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kesehatan, tetapi juga bagian dari lifestyle, komunitas, networking, bahkan identitas diri.

 

Masalah baru muncul ketika batas itu mulai kabur. Ketika olahraga berubah menjadi obsesi, ketika validasi media sosial lebih penting daripada mendengarkan tubuh, atau ketika mengejar tren sampai mengorbankan kondisi finansial. Di titik itulah wellness perlahan bergeser menjadi pressure.

 

Di sisi lain, survei Amar Bank menunjukkan bahwa lebih dari 51% Gen Z rela memangkas anggaran kopi dan nongkrong demi membiayai hobi wellness. Bagi mereka, pengeluaran tersebut dianggap sebagai investasi untuk kesehatan fisik, ketenangan mental, relasi sosial, hingga peluang karier.

 

Menariknya lagi, 71,2% responden menerapkan prinsip keuangan konservatif dan sehat dalam mendanai hobi wellness. Sementara itu, 16,6% memilih menggunakan instrumen utang, seperti cicilan atau pinjaman digital.

 

Mungkin, di tengah kondisi ekonomi saat ini, ketika menurut artikel dari Dompet Dhuafa masyarakat terjebak di tengah: tidak miskin, tetapi juga belum aman, wellness justru menjadi salah satu hal yang tetap ingin dipertahankan. 

 

Yang jadi pertanyaan penting adalah: apakah biaya yang kita keluarkan benar-benar membawa manfaat bagi diri sendiri atau hanya untuk mengejar ekspektasi orang lain?      

 

 

Referensi

Grazia Magazine

Wonderwhy – People’s Perspectives

East Ventures

Dompet Dhuafa

Cara Sukses Jualan di Shopee untuk Pemula, Bisa Untung Besar

SWARA – Mengetahui cara jualan di Shopee bisa menjadi langkah awal yang tepat untuk memulai bisnis online hingga meraih kebebasan finansial. Kamu cukup membuat akun penjual, mengunggah produk, serta mengatur pengiriman agar toko siap menerima pesanan pertama.

 

Nah, bagi kamu yang mau memulai usaha online tanpa ribet, ikuti langkah praktis berjualan di Shopee pada artikel berikut. Ketahui juga estimasi biaya, tips sukses, hingga pilihan ide produk yang laris. Yuk, baca informasi selengkapnya di bawah ini agar bisnismu siap bersaing!

 

Cara Jualan di Shopee untuk Pemula

 

Memulai langkah berbisnis di Shopee sebenarnya sangat praktis dan fleksibel. Kamu bisa mendaftar secara langsung baik melalui aplikasi di ponsel maupun situs via komputer.

 

Proses pendaftarannya dirancang secara rinci agar toko milikmu memiliki legalitas yang jelas, aman, dan siap melakukan transaksi secara profesional.

 

1. Buat Akun Shopee

 

Langkah paling awal adalah menyiapkan akun pengguna sebelum mengaktifkan toko. Kamu dapat mengakses situs resmi Shopee melalui https://shopee.co.id/ menggunakan komputer/laptop. Jika ingin praktis, kamu juga bisa mengunduh aplikasi Shopee di ponselmu.

 

Cara buat akun jualan di Shopee sangat cepat dan mudah dilakukan. Kamu cukup memilih metode pendaftaran yang paling nyaman digunakan untuk menerima kode verifikasi keamanan.

  • Buka aplikasi Shopee atau situs Seller Centre, lalu klik tombol Daftar.
  • Masukkan nomor telepon aktif yang belum pernah terdaftar di akun Shopee lain.
  • Kamu juga bisa mendaftar langsung menggunakan akun Google, Facebook, atau Apple ID.
  • Masukkan kode verifikasi (OTP) yang dikirimkan melalui WhatsApp atau SMS untuk menyelesaikan pendaftaran.

 

2. Lakukan Verifikasi Data Diri

 

Setelah akun berhasil dibuat, langkah krusial berikutnya adalah melakukan verifikasi data diri. Verifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan akun, mengaktifkan fitur toko penuh, serta mempermudah proses pencairan dana hasil penjualan ke rekening bank milikmu.

 

Proses verifikasi data diri ini dilakukan langsung melalui aplikasi Shopee demi keamanan privasi. Pastikan kamu mempersiapkan dokumen fisik asli KTP dan berada di ruangan dengan pencahayaan yang cukup.

  • Buka aplikasi Shopee, masuk ke menu Saya, lalu pilih Toko Saya di pojok kiri atas.
  • Klik opsi Pengaturan Toko atau banner Verifikasi Identitas / KTP.
  • Unggah foto KTP asli secara jelas (tidak buram, tidak terpotong, dan tulisan terbaca).
  • Lakukan verifikasi wajah (facial recognition) sesuai instruksi di layar ponsel, lalu isi data NIK dan nama lengkap sesuai KTP.

 

3. Tambahkan Informasi Toko Anda

 

Langkah selanjutnya adalah melengkapi profil toko agar terlihat tepercaya dan profesional di mata calon pembeli. Informasi toko yang jelas dan menarik akan meningkatkan keyakinan pelanggan untuk berbelanja di tempatmu.

 

Kamu dapat mengatur profil toko ini secara mendalam melalui Seller Centre di laptop atau langsung via aplikasi. Pastikan kamu memilih nama toko yang unik, mudah diingat, dan mencerminkan produk yang dijual.

  • Nama Toko: Buat nama toko yang spesifik, relevan, serta mudah dicari oleh pembeli di kolom pencarian.
  • Foto Profil & Banner Toko: Unggah logo toko serta banner promosi yang menarik visualnya untuk memperkuat branding.
  • Deskripsi Gambar & Video: Tambahkan hingga 5 foto dan video singkat yang menggambarkan keunggulan tokomu.
  • Deskripsi Toko: Tulis deskripsi singkat mengenai jenis produk yang dijual, jam operasional toko, serta keunggulan layananmu.

 

Baca juga: 10 Contoh Usaha Modal Kecil yang Belum Banyak Pesaing

 

4. Unggah Produk Pertama

 

Cara jualan di Shopee berikutnya yaitu memasukkan barang daganganmu ke dalam katalog toko agar siap dilihat oleh jutaan calon pembeli. Proses upload produk ini menjadi penentu utama daya tarik tokomu di hasil pencarian.

 

Usahakan untuk mengisi seluruh informasi produk secara lengkap dan jujur. Informasi yang rinci akan mengurangi pertanyaan berulang dari pembeli via chat.

  • Masuk ke Seller Centre atau aplikasi, pilih menu Tambah Produk Baru.
  • Tulis nama produk dengan formula: [Merek] + [Nama Produk] + [Spesifikasi/Model].
  • Tentukan kategori produk yang tepat, masukkan harga, jumlah stok, serta variasi ukuran/warna jika ada.
  • Unggah foto produk beresolusi tinggi tampak depan, samping, dan detail bahan, lalu klik Simpan dan Tampilkan.

 

5. Atur Jasa Pengiriman

 

Langkah terakhir sebelum tokomu siap menerima pesanan adalah mengatur opsi kurir pengiriman. Shopee bekerja sama dengan berbagai jasa ekspedisi tepercaya yang bisa kamu sesuaikan dengan lokasi tempat tinggalmu.

 

Memilih variasi jasa pengiriman yang luas akan memudahkan pembeli dalam memilih metode pengiriman favorit mereka. Hal ini juga berpengaruh besar pada tingkat konversi penjualan tokomu.

  • Akses menu Jasa Kirim Saya di aplikasi atau Seller Centre.
  • Aktifkan jenis pengiriman yang kamu inginkan, mulai dari Reguler, Hemat, Sameday, Instant, hingga Kargo.
  • Centang opsi ekspedisi yang lokasinya paling dekat dengan alamat rumah/gudang tokomu agar proses drop-off atau pick-up berjalan lancar.
  • Pastikan alamat penjemputan (pick-up address) sudah diisi dengan benar dan detail agar kurir tidak salah arah saat mengambil paket.

 

Jual di Shopee Butuh Modal Berapa?

 

Secara teknis, mendaftar akun dan membuka toko di Shopee itu 100% gratis. Namun, besaran modal awal yang kamu butuhkan bergantung pada jenis produk serta sistem bisnis yang kamu pilih.

 

Jika kamu menjadi reseller atau memproduksi barang sendiri, modal awal biasanya berkisar Rp500.000 hingga Rp2.000.000 untuk pengadaan stok dan kemasan. Namun, jika memakai sistem dropship (jualan di Shopee tanpa stok barang), kamu bahkan bisa memulainya hampir tanpa modal barang.

 

Lantas, jual di Shopee kena biaya berapa? Shopee mengenakan biaya administrasi untuk setiap transaksi yang berhasil disesuaikan dengan tipe status penjual dan kategori produk, seperti berikut ini:

  • Penjual Non-Star, Star, & Star+: Dikenakan biaya administrasi transaksi berkisar antara 2,50% hingga 10,00% tergantung pada kelompok kategori produk yang dijual.
  • Penjual Shopee Mall: Dikenakan biaya administrasi berkisar antara 2,50% hingga 11,70%, serta biaya pembayaran Shopee Mall sebesar 1,80% (dengan batas maksimal Rp50.000 per kuantitas produk).
  • Biaya Layanan Tambahan: Terdapat biaya layanan tambahan jika kamu mengaktifkan fitur promosi khusus seperti Gratis Ongkir XTRA, Voucher Cashback XTRA, atau metode pembayaran COD (Cash On Delivery).

 

Menariknya, Shopee juga kerap memberikan keringanan atau potongan biaya administrasi khusus pada periode promo tertentu. Untuk mendapatkan rincian perhitungan dan pembaruan persentase biaya paling up-to-date, kamu bisa mengeceknya secara langsung melalui situs resmi Shopee Seller Centre.

 

Baca juga: Modal, Keuntungan, dan 6 Langkah Bisnis Thrift Shop bagi Pemula

 

Tips agar Jualan di Shopee Sukses

 

Membuka toko hanyalah langkah awal, sedangkan konsistensi adalah kunci sukses meraih keuntungan. Jadi selain tahu cara jualan di Shopee, ketahui juga beberapa tips utama agar tokomu ramai pembeli dan makin untung:

 

1. Gunakan Foto Produk Asli dan Menarik

 

Visual yang jernih adalah alasan utama calon pembeli mengklik produkmu. Gunakan pencahayaan yang terang dan ambil foto dari berbagai sudut (angle).

 

Tambahkan watermark atau bingkai khas toko agar foto milikmu terlihat lebih profesional. Hindari mengunggah foto yang buram atau hasil mengambil dari internet tanpa izin.

 

2. Optimalkan Kata Kunci dan Deskripsi

 

Buat judul produk yang mengandung kata kunci pencarian populer. Formula judul yang ideal adalah [Merek] + [Nama Produk] + [Keterangan/Spesifikasi].

 

Tulis deskripsi yang detail meliputi bahan, ukuran, dan keunggulan barang. Informasi yang lengkap akan mengurangi keraguan calon pembeli untuk langsung checkout.

 

3. Ikuti Program Promo Shopee

 

Manfaatkan berbagai fitur promosi bawaan seperti Voucher Toko, Flash Sale Toko, dan Promo Toko. Ikut serta dalam program Kampanye Tanggal Kembar (seperti 8.8 atau 9.9) juga terbukti mendongkrak trafik secara drastis.

 

Selain itu, daftarkan tokomu ke program Gratis Ongkir XTRA. Fasilitas ini menjadi pertimbangan paling besar bagi pembeli saat memilih toko.

 

4. Jaga Rating dan Layanan Pelanggan

 

Balas chat dari calon pembeli secepat dan seramah mungkin. Layanan pelanggan yang responsif akan meningkatkan persentase performa balasan chat di tokomu.

 

Kirim paket tepat waktu agar terhindar dari poin pinalti. Minta pembeli memberikan ulasan bintang 5 setelah pesanan selesai untuk membangun kredibilitas toko.

 

Keuntungan Jualan di Shopee yang Bisa Kamu Dapat

 

Memilih Shopee sebagai platform jualan online memberikan banyak kemudahan bagi pebisnis pemula. Berikut adalah beberapa keuntungan utama yang bisa kamu nikmati:

  • Jangkauan Pasar Luas: Produkmu berpotensi dilihat oleh puluhan juta pengguna aktif dari seluruh wilayah Indonesia.
  • Fitur Promosi Melimpah: Tersedia berbagai alat pemasaran seperti Fitur Iklan Shopee, Live Streaming, dan Shopee Video untuk menggaet pembeli.
  • Sistem Pembayaran Lengkap: Mendukung pembayaran via Transfer Bank, ShopeePay, minimarket, hingga metode Cash on Delivery (COD).
  • Integrasi Ekspedisi Mudah: Tidak perlu cetak resi manual karena kode booking pengiriman sudah dibuat secara otomatis oleh sistem.

 

Baca juga: 15 Aplikasi Catatan Keuangan Terbaik Untuk Atur Finansialmu

 

Contoh atau Ide Jualan di Shopee yang Laris

 

Sudah tahu cara jualan di Shopee, tapi masih bingung menentukan produk awal? Kamu bisa memilih kategori barang yang memiliki permintaan tinggi setiap harinya.

 

Beberapa ide usaha rumahan berikut bisa kamu pilih sebagai langkah memulai bisnis online:

 

1. Produk Fashion dan Aksesoris

 

Baju wanita, hijab, pakaian anak, dan tas merupakan produk yang tidak pernah sepi peminat. Kamu bisa mulai dari menjual pakaian harian dengan harga kompetitif.

 

2. Perlengkapan Rumah Tangga

 

Barang-barang unik seperti wadah penyimpanan, alat dapur silikon, dan dekorasi kamar selalu dicari. Kategori ini sangat cocok dijual oleh pemula karena tidak memiliki masa kedaluwarsa.

 

3. Camilan dan Makanan Kering

 

Makanan ringan seperti keripik pedas, cookies, dan makanan beku olahan sangat laris manis, bahkan biasa jadi ide bisnis online untuk pelajar. Pastikan kamu mengemasnya dengan aman menggunakan bubble wrap tebal.

 

4. Produk Kecantikan dan Perawatan Diri

 

Skincare lokal, masker wajah, dan alat kecantikan memiliki tingkat pembelian ulang (repeat order) yang sangat tinggi. Pastikan semua produk kecantikan yang kamu jual sudah mengantongi izin BPOM.

 

Kesimpulan: Buka Akun Shopee dan Mulai Jualan Sekarang!

 

Prosedur cara jualan di Shopee sangat mudah dipahami bahkan oleh pemula sekalipun. Langkah utamanya dimulai dari mendaftar akun pengguna, verifikasi data, mengaktifkan toko, hingga memasukkan katalog produk pertama.

 

Terkait modal untuk bisnis, kamu bisa memulainya sesuai dengan anggaran yang ada, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga tanpa modal lewat sistem dropship. Jangan lupa perhitungkan potongan biaya administrasi agar marjin keuntunganmu tetap aman.

 

Kunci sukses berdagang di Shopee terletak pada foto produk yang menarik, deskripsi yang informatif, pelayanan responsif, serta keaktifan mengikuti program promo. Dengan konsistensi, toko barumu bisa berkembang pesat dan menghasilkan keuntungan konsisten.

 

Baca juga: Ketahui Cara Daftar Shopee Affiliate: Syarat, Langkah & Tips

 

Sukses Berbisnis Bersama Tunaiku

 

Membangun bisnis online hingga skala besar tentu membutuhkan dukungan modal kerja yang memadai. Baik untuk menambah stok barang menyambut promo puncak, membeli peralatan foto produk, hingga menyewa lokasi penyimpanan (warehouse).

 

Jika tabungan bisnismu saat ini belum mencukupi untuk ekspansi, kamu tidak perlu khawatir. Tunaiku by Amar Bank hadir sebagai solusi pinjaman modal usaha tanpa jaminan (KTA) yang aman, cepat, dan tepercaya karena telah berizin serta diawasi oleh OJK.

 

Lewat aplikasi Tunaiku, kamu bisa mengajukan pinjaman dana tunai mulai dari Rp2 juta hingga Rp30 juta dengan pilihan tenor fleksibel hingga 30 bulan. Proses pengajuannya sangat praktis, cukup modal KTP tanpa perlu mengagunkan aset fisik. 

 

Untuk informasi selengkapnya, kamu bisa menghubungi CS resmi Tunaiku melalui kanal berikut:

  • WhatsApp: 081132266859
  • Call Center: (021) 40005859
  • Email: tanya@amarbank.co.id

 

Yuk, wujudkan impian bisnis dan kembangkan toko online-mu bersama Tunaiku sekarang! Ajukan di sini untuk dapatkan modalnya.

Cari Uang Tambahan? Yuk Bagikan Kode Referral Tunaiku!

SWARA – Jika ingin mencari pemasukan ekstra tanpa modal lewat HP, kamu bisa memanfaatkan kode referral Tunaiku untuk mendapatkan bonus uang tunai secara praktis. Melalui program ini, kamu cukup membagikan kode unikmu kepada teman atau keluarga yang sedang membutuhkan solusi pendanaan aman.

 

Meski begitu, sebelum mulai membagikan kodemu, ada beberapa strategi dan syarat penting yang sebaiknya kamu pahami agar komisi cair maksimal. Artikel ini akan merangkum panduan lengkap cara kerja program referral Tunaiku beserta tips jitu agar kamu bisa mendulang cuan melimpah dari rumah.

 

Kalkulator Finansial Swara

 

Apa itu Kode Referral Tunaiku?

 

Kode referral Tunaiku adalah deretan angka atau huruf unik yang kamu dapatkan setelah mendaftar jadi mitra Tunaiku. Kode unik ini dipakai sistem untuk menandai bahwa kamulah yang mengajak orang tersebut.

 

Bentuknya mirip kupon digital yang bisa kamu bagikan lewat WhatsApp atau media sosial. Jadi, saat ada teman yang mau pinjam uang dan memasukkan kodemu, sistem akan langsung mencatatnya secara otomatis.

 

Bagi temanmu, kode ini jadi jalan pintas untuk dapat pinjaman aman tanpa agunan yang resmi diawasi OJK. Sementara untukmu, setiap pengajuan teman yang berhasil disetujui akan langsung menghasilkan bonus uang tunai.

 

Kategori Program Referral Tunaiku yang Bisa Kamu Pilih

 

Saat ini, ada dua kategori program referral Tunaiku yang bisa kamu pilih, yakni Silver dan Gold. Masing-masing kategori menawarkan komisi yang berbeda.

 

1. Referral Silver

 

Jika memilih program referral Silver, maka kamu akan mendapatkan komisi sebesar Rp15.000 dari setiap kode referralmu digunakan oleh orang yang pengajuan pinjamannya dianggap valid atau memenuhi syarat.

 

2. Referral Gold

 

Jika memilih program referral Gold, maka kamu akan mendapatkan komisi sebesar Rp100.000 dari setiap kode referralmu digunakan oleh orang yang pengajuannya diterima dan berhasil dicairkan.

 

Dalam hal ini, jika teman yang mengajukan pinjaman ditolak oleh sistem Tunaiku, maka kamu tidak mendapatkan komisi.

 

Tipsnya, kamu bisa membantu memberikan arahan pada setiap teman yang memakai kode referralmu hingga sampai ke tahap valid user dan pengajuannya diterima.

 

Baca juga: 6 Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan untuk Karyawan

 

Keuntungan Mengikuti Program Referral Tunaiku

 

Ada beberapa keuntungan yang bisa kamu dapat jika membagikan kode referral Tunaiku ke kerabat yang membutuhkan pinjaman. Bukan cuma kamu, kerabat yang mendapatkan kode referral darimu tentunya juga mendapat keuntungan.

 

1. Penghasilan tambahan hingga puluhan juta rupiah

 

Jangan salah, sudah banyak orang yang cari uang tambahan dan mengikuti program referral Tunaiku yang berhasil mendapatkan penghasilan tambahan, bahkan melebihi penghasilan utamanya.

 

Bahkan, ada referral yang berhasil mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp10 juta per bulan. Menarik, bukan?

 

2. Perhitungan komisi yang transparan

 

Kamu akan mendapatkan akses akun ke dashboard khusus dan bisa memantau komisi yang kamu dapatkan. Di sana, kamu akan mendapatkan update berapa teman yang sudah memakai kode referral Tunaiku milikmu untuk mengajukan pinjaman.

 

Dengan adanya perhitungan komisi yang transparan, kamu akan semakin bersemangat untuk terus membagikan kode referralmu dan mendapatkan penghasilan tambahan secara passive.

 

3. Membantu kerabat yang membutuhkan pinjaman

 

Tak seperti program referral pada umumnya, di sini kamu bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa modal sekaligus membantu kerabatmu yang sedang membutuhkan pinjaman.

 

Bukan hanya kerabat, dengan kamu membuat konten di media sosial dan menyebarnya, kamu bisa membantu banyak orang yang membutuhkan dana mendesak.

 

Baca juga: 10 Cara Dapat Uang dari Tiktok Sebagai Pendapatan Tambahan

 

Syarat Ikut Program Referral Tunaiku

 

Sebelum gabung dalam program referral Tunaiku, pastikan dulu kamu telah memenuhi syarat berikut:

  • Tinggal di wilayah layanan Tunaiku (Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, Denpasar, Palembang, Jogjakarta, Pekanbaru, Batam, Makassar, hingga Manado.)
  • Punya KTP (Warga Negara Indonesia)
  • Punya nomor handphone yang aktif
  • Memiliki email yang aktif
  • Memiliki rekening bank

 

Cara Mengikuti Program Referral Tunaiku

 

Bagi kamu yang ingin menjadi agen referral Tunaiku, berikut cara yang bisa kamu lakukan:

  • Kunjungi website Tunaiku.com lalu pilih “produk – referral” atau langsung klik link berikut https://partner.tunaiku.com/landing/individual 
  • Pilih program referral yang kamu inginkan (Silver atau Gold)
  • Lengkapi formulir data diri dengan benar
  • Verifikasi akun referral dari pesan yang kami kirim ke email yang kamu daftarkan
  • Promosikan kode referral ke kerabat terdekat
  • Dapatkan insentif setiap bulan di tanggal 5

 

Kata Mereka yang Mengikuti Program Referral Tunaiku

 

Masih ragu dengan program kode referral Tunaiku? Intip kisah sukses referral yang sudah mengikuti program ini selama bertahun-tahun. Ada yang dapat uang Rp5 juta lebih, loh!

  • “Saya dulu staf keuangan di perusahaan asing di Jakarta. Awalnya cuma iseng dan sebar kode referral via Facebook. Seneng banget awal-awal dapat 275.000, eh setelah konsisten sekarang sudah bisa dapat 8 juta per bulan! Sekarang sudah bisa beli kendaraan sendiri, deh” – Ibu Mei, bergabung sejak 2015.
  • “Program referral Tunaiku sangat membantu perekonomian keluarga saya. Sebelumnya saya menyambung biaya kehidupan sehari-hari dari pinjam kesana-kemari. Setelah gabung jadi Referral, alhamdulillah saya bisa penuhi kebutuhan keluarga dan membeli barang impian saya,” – Bapak Ade Angga, bergabung sejak 2018.
  • “Awalnya saya mengajukan pinjaman di Tunaiku dan tertarik mengikuti program referral-nya. Alhamdulillah sejak bergabung, saya bisa membantu kedua orang tua membuka warung sembako dan menambah uang belanja istri,” – Bapak Ari Purwa, bergabung sejak 2019.

 

Baca juga: 10 Cara Dapat Uang Rp500 Ribu Sehari Tanpa Modal Besar

 

Kesimpulan: Program Referral Tunaiku, Opsi Cari Uang Tambahan Tanpa Modal yang Aman

 

Program referral Tunaiku merupakan cara yang valid untuk mendapatkan penghasilan tambahan hingga jutaan rupiah per bulan hanya dengan membagikan kode unik. Melalui skema komisi yang transparan, siapa saja bisa menjadi agen partner secara gratis asalkan memenuhi syarat administratif dasar. 

 

Proses peninjauan status pencairan insentif dapat dipantau secara mandiri melalui dashboard, sehingga memperkecil risiko kesalahan perhitungan komisi. 

 

Selain menguntungkan bagi para referral, program ini juga menjadi solusi aman bagi penerima kode karena produk pinjaman yang ditawarkan berasal dari PT Bank Amar Indonesia Tbk yang resmi berizin dan diawasi oleh OJK.

 

Yuk, Cari Uang Tambahan dengan Ikut Program Referral Tunaiku!

 

Tunggu apa lagi? Ini adalah kesempatan emas untuk membangun sumber pendapatan pasif tanpa modal, hanya bermodalkan smartphone dan koneksi internet. Kamu bisa membantu orang lain sekaligus menguntungkan diri sendiri.

 

Sebagai informasi, Tunaiku by Amar Bank menyediakan layanan pinjaman tanpa agunan dengan limit mulai Rp2 juta hingga Rp30 juta dengan tenor maksimal 30 bulan yang dapat diajukan secara online. 

 

Jika kamu atau calon konsumenmu membutuhkan informasi mengenai produk, status pengajuan, pembayaran, maupun layanan lainnya, pastikan selalu menghubungi tim CS resmi Tunaiku melalui kanal berikut:

  • WhatsApp: 081132266859
  • Call Center: (021) 40005859
  • Email: tanya@amarbank.co.id

 

Jika kamu ingin langsung mendaftar dan mendapatkan kode unikmu sekarang juga, silakan kunjungi laman resmi pendaftaran Partner Tunaiku di sini.

Anak Kos Puyeng Ngurus Uang? Udah Nggak Zaman!

Geng ngekos, siapa yang setuju kalau jadi anak kos itu seru, tapi juga penuh tantangan. Di satu sisi, kamu bebas mengatur hidup sendiri. Di sisi lain, semua kebutuhan harus ditanggung dari kantong pribadi. Mulai dari sewa kos, makan, transportasi, paket internet, sampai kebutuhan dadakan yang sering muncul tanpa aba-aba. 

 

Nggak heran kalau banyak anak kos yang baru gajian terasa kaya raya, tapi seminggu sebelum tanggal gajian berikutnya sudah mulai menghitung sisa saldo setiap hari. Kalau kamu pernah mengalami hal yang sama, mungkin sudah saatnya mulai mengatur keuangan dengan lebih rapi.

 

Yuk, coba terapkan beberapa cara berikut!

 

 

1. Pisahkan Uang Berdasarkan Kebutuhan

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah mencampur semua uang dalam satu rekening. Akibatnya, uang untuk makan, bayar kos, nongkrong, dan belanja online jadi bercampur tanpa kontrol yang jelas.

 

Supaya lebih mudah, coba pisahkan dana berdasarkan kebutuhan. Misalnya untuk biaya kos, kebutuhan harian, dana darurat, dan tabungan. Dengan begitu, kamu jadi tahu batas pengeluaran di setiap pos dan nggak gampang kebobolan karena lapar mata saat ada promo.

 

 

2. Jangan Anggap Pengeluaran Kecil Itu Sepele

Langganan streaming, ngopi atau nge-date, belanja saat flash sale, atau biaya aplikasi yang dipotong otomatis sering terlihat kecil. Masalahnya, kalau dikumpulkan selama sebulan, nominalnya bisa cukup besar.

 

Coba cek kembali riwayat transaksi selama satu bulan terakhir. Kamu mungkin akan kaget melihat berapa banyak uang yang keluar untuk hal-hal yang sebenarnya nggak terlalu penting.

 

Bukan berarti nggak boleh menikmati hidup, ya. Namun, pastikan pengeluaran hiburan tetap sesuai kemampuan finansialmu.

 

 

3. Wajib Bangun Dana Darurat 

Banyak anak kos baru sadar pentingnya dana darurat saat menghadapi situasi mendadak. Misalnya laptop rusak, motor perlu servis, biaya kesehatan, atau harus pulang kampung secara tiba-tiba.

 

Idealnya, sisihkan sebagian pemasukan setiap bulan untuk dana darurat. Nggak perlu langsung besar. Yang penting konsisten.

 

 

4. Punya Target Keuangan

Rata-rata anak kos fokus pada satu hal: bagaimana caranya uang cukup sampai gajian berikutnya. Padahal, mengelola keuangan bukan cuma soal bertahan hidup, tetapi juga mempersiapkan masa depan.

 

Coba buat target keuangan sederhana. Misalnya membeli laptop baru, dana liburan, sertifikasi untuk meningkatkan skill, nabung untuk pulang kampung saat hari raya, atau dana pindah ke tempat tinggal yang lebih nyaman.

 

 

Kelola Uang dengan Celengan dari Amar Bank

Ini nih, resep mengelola uang anti-puyeng buat anak kos. Fitur Celengan dari Amar Bank Digital bisa banget jadi opsi untuk membantu kamu mengatur uang dengan lebih baik lagi. Hanya dalam 1 akun, kamu bisa buka hingga 10 pos pengeluaran berbeda. Misalnya dana kebutuhan sehari-hari, biaya khusus upgrade gadget supaya kerjaan lebih lancar, tabungan dana darurat, ongkos pulang kampung, dan lain sebagainya. 

 

Pos pengeluaran ini juga bisa sewaktu-waktu kamu bongkar. Fleksibilitasnya jadi nilai plus karena dana bisa dicairkan kapan aja tanpa minimum saldo. Pokoknya simpel, nggak ribet, tapi dampaknya wow banget!

 

Menjadi anak kos memang mengajarkan banyak hal, termasuk cara mengelola uang dengan bijak. Walaupun kadang harus hidup hemat dan menahan diri dari berbagai godaan promo, kebiasaan finansial yang baik akan sangat berguna di masa depan. Jadi, jangan cuma fokus menghabiskan gaji sampai akhir bulan. Mulailah membangun kebiasaan keuangan yang sehat dari sekarang agar hidup lebih tenang dan tujuan finansialmu bisa tercapai satu per satu.

Skill yang Banyak Dicari di Era Sekarang, Ada Incaranmu?

Dulu, banyak orang bercita-cita bekerja di satu perusahaan, mengabdi sampai puluhan tahun layaknya generasi orang tua kita. Sekarang? Dunia kerja berubah sangat cepat. Munculnya teknologi AI, maraknya pekerjaan remote, ekonomi kreatif, hingga berkembangnya industri digital membuat banyak profesi baru bermunculan.

 

Menariknya, perusahaan saat ini nggak cuma melihat ijazah atau jurusan kuliah. Skill, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan portofolio sering kali jadi nilai tambah yang lebih penting.

 

Kalau kamu sedang mencari arah karier atau ingin upgrade kemampuan, beberapa profesi berikut masih menjadi yang paling banyak dicari dalam beberapa tahun terakhir dan diprediksi tetap relevan ke depannya.

 

 

1. Digital Marketing Specialist

Bisnis sekarang nggak cukup hanya punya produk bagus. Mereka juga harus bisa ditemukan di internet.

 

Karena itu, profesi seperti digital marketer, performance marketer, SEO specialist, hingga social media strategist masih sangat dibutuhkan. Skill yang dicari biasanya meliputi analisis data, iklan digital, strategi konten, dan pemahaman tren media sosial. 

 

 

2. Content Creator dan Creative Professional

Siapa sangka hobi bikin video, desain, atau menulis sekarang bisa menjadi profesi yang menjanjikan?

 

Mulai dari content creator, video editor, copywriter, graphic designer, hingga creative strategist menjadi posisi yang banyak dicari oleh brand dan perusahaan. Apalagi saat ini hampir semua bisnis membutuhkan konten untuk menjangkau audiensnya.

 

Bukan cuma influencer, lho. Banyak kreator yang bekerja di balik layar dengan penghasilan yang nggak kalah menarik.

 

 

3. Data Analyst dan Business Intelligence

Data sering disebut sebagai “aset baru” perusahaan.

 

Hampir semua bisnis mengumpulkan data pelanggan, penjualan, dan perilaku pengguna setiap hari. Karena itu, perusahaan membutuhkan orang yang mampu membaca data tersebut dan mengubahnya menjadi strategi bisnis yang tepat.

 

Kalau kamu suka angka, logika, dan pemecahan masalah, bidang ini bisa jadi pilihan yang menarik.

 

 

4. Software Engineer dan AI Specialist

Meski AI berkembang pesat, kebutuhan akan programmer dan software engineer justru masih tinggi.

 

Perusahaan membutuhkan talenta yang mampu membangun aplikasi, website, sistem internal, hingga mengembangkan solusi berbasis AI. Bahkan saat ini, kemampuan memanfaatkan AI tools mulai menjadi nilai tambah hampir di semua industri.

 

 

5. UI/UX Designer

Aplikasi yang bagus bukan hanya soal fitur, tetapi juga pengalaman pengguna.

 

Profesi UX/UI Designer berperan membuat produk digital lebih nyaman, mudah digunakan, dan menarik secara visual. Seiring bertambahnya layanan digital, kebutuhan terhadap profesi ini juga terus meningkat.

 

 

6. Project Manager dan Product Manager

Semakin besar perusahaan, semakin penting orang yang mampu mengelola tim, proyek, dan target bisnis.

 

Profesi ini menjadi penghubung antara berbagai divisi agar pekerjaan berjalan efektif. Menariknya, banyak perusahaan saat ini lebih mengutamakan kemampuan komunikasi dan leadership dibanding latar belakang jurusan tertentu.

 

 

7. Tenaga Kesehatan dan Wellness Professional

Pandemi beberapa tahun lalu membuat banyak orang semakin sadar pentingnya kesehatan.

 

Dokter, perawat, psikolog, ahli gizi, fisioterapis, hingga konsultan kesehatan mental masih menjadi profesi yang sangat dibutuhkan. Tren hidup sehat dan peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental ikut mendorong kebutuhan tenaga profesional di bidang ini.

 

 

8. Freelancer dan Remote Professional

Salah satu perubahan terbesar dalam dunia kerja modern adalah semakin banyaknya peluang kerja remote dan freelance.

 

Penulis, desainer, programmer, penerjemah, virtual assistant, hingga konsultan kini bisa bekerja untuk klien dari berbagai kota bahkan negara tanpa harus pindah tempat tinggal. Fleksibilitas ini menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak pekerja muda. Nilai plusnya adalah, nggak harus sejalan dengan jurusan kuliah, keterampilan ini bisa didapatkan dengan berbagai kursus singkat yang tersedia secara online maupun offline.

 

Pada akhirnya, pekerjaan yang paling menjanjikan bukan hanya yang sedang tren, tetapi yang sesuai dengan minat dan kemampuanmu. Dunia kerja saat ini bergerak sangat cepat, sehingga kemampuan belajar hal baru dan beradaptasi justru menjadi skill paling berharga. 

 

Jadi, daripada sibuk mengejar profesi yang sedang viral, fokuslah membangun kemampuan yang benar-benar dibutuhkan. Karena tren bisa berubah, tetapi orang yang terus berkembang akan selalu punya tempat di dunia kerja.

Job Hopping: Strategi Karier atau Kebiasaan Buruk?

Kalau zaman dulu orang tua kita cenderung bertahan di satu kantor selama bertahun-tahun, sekarang ceritanya agak berbeda. Di era LinkedIn, remote working, AI, dan industri digital yang bergerak super cepat, pindah kerja sudah jadi hal yang jauh lebih umum dibanding satu dekade lalu.

 

Nggak heran kalau sekarang banyak orang punya pengalaman bekerja di beberapa perusahaan dengan role yang berbeda-beda. Pertanyaannya, apakah fenomena job hopping alias sering pindah kerja ini sebenarnya baik atau malah merugikan?

 

Jawabannya: tergantung alasan dan caranya.

 

 

Apa Itu Job Hopping?

Secara sederhana, job hopping adalah kebiasaan berpindah pekerjaan dalam rentang waktu yang relatif singkat, misalnya setiap satu hingga dua tahun.

 

Dulu, hal ini sering dianggap sebagai tanda kurang loyal terhadap perusahaan. Namun, kondisi dunia kerja saat ini sudah berubah. Banyak perusahaan, terutama di industri teknologi, kreatif, dan digital, mulai lebih terbuka terhadap kandidat yang memiliki pengalaman kerja yang beragam.

 

Bahkan, banyak yang beranggapan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan ialah dengan job hopping. 

 

Meski begitu, bukan berarti semua bentuk job hopping selalu menguntungkan.

 

 

Kenapa Job Hopping Makin Marak?

Generasi muda saat ini cenderung lebih fokus pada pengembangan diri, keseimbangan hidup, fleksibilitas kerja, dan kompensasi yang sesuai. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, mereka lebih berani mencari peluang baru dibanding bertahan di tempat yang sama selama bertahun-tahun.

 

Selain itu, semakin banyaknya pekerjaan remote, freelance, dan lintas negara membuat perpindahan kerja menjadi lebih mudah dibanding sebelumnya. Dunia kerja sekarang juga bergerak sangat cepat, sehingga banyak orang merasa perlu terus mencari pengalaman baru agar skill mereka tetap relevan.

 

 

Kapan Job Hopping Bisa Jadi Strategi yang Baik?

 

1. Saat Memberikan Pertumbuhan yang Jelas

Kalau setiap perpindahan kerja membuatmu mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar, skill baru, jaringan profesional yang lebih luas, atau peningkatan penghasilan, job hopping bisa menjadi strategi karier yang masuk akal.

 

Yang penting, setiap langkah memiliki tujuan yang jelas dan bukan sekadar ikut tren.

 

 

2. Saat Lingkungan Kerja Tidak Mendukung

Nggak semua tempat kerja cocok untuk semua orang. Ada kalanya seseorang merasa nggak berkembang, kurang dihargai, atau berada dalam lingkungan kerja yang kurang sehat.

 

Dalam kondisi seperti ini, mencari tempat yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan karier bukanlah keputusan yang salah.

 

 

3. Saat Ingin Memperluas Pengalaman

Beberapa industri, terutama yang berbasis teknologi dan kreatif, berkembang sangat cepat. Berpindah ke perusahaan yang berbeda bisa memberikan perspektif baru, memperluas kemampuan, dan membuat seseorang lebih adaptif terhadap perubahan.

 

 

Kapan Job Hopping Bisa Menjadi Bumerang?

 

1. Jika Dilakukan Tanpa Tujuan

Kalau alasan pindah kerja hanya karena bosan atau tergoda tren, manfaat jangka panjangnya bisa jadi minim.

 

Perpindahan yang terlalu sering tanpa arah yang jelas justru dapat membuat perjalanan karier terlihat tidak konsisten.

 

 

2. Jika Belum Sempat Memberikan Dampak

Setiap pekerjaan membutuhkan waktu untuk memahami proses, membangun relasi, dan menunjukkan hasil kerja.

 

Kalau terlalu cepat berpindah, kamu mungkin kehilangan kesempatan untuk membuktikan kemampuan dan pencapaian yang bisa menjadi nilai tambah di masa depan.

 

 

3. Jika Sulit Menjelaskan Alasannya

Saat proses rekrutmen, perusahaan biasanya akan menanyakan alasan perpindahan kerja yang sering terjadi.

 

Selama alasannya logis dan menunjukkan perkembangan karier, hal tersebut umumnya tidak menjadi masalah. Namun jika tidak ada alasan yang jelas, rekruter bisa mempertanyakan komitmen dan konsistensimu.

 

 

Jadi, Job Hopping Baik atau Buruk?

Sebenarnya tidak ada jawaban hitam-putih.

 

Job hopping bukan lagi otomatis dianggap sebagai kebiasaan buruk. Banyak profesional melakukannya untuk mencari pengalaman baru, penghasilan yang lebih baik, fleksibilitas kerja, atau lingkungan yang lebih sehat.

 

Yang terpenting bukan seberapa sering kamu berpindah pekerjaan, melainkan apa yang kamu dapatkan dari setiap perpindahan tersebut. Kalau setiap langkah membuatmu berkembang, menambah kemampuan, dan mendekatkanmu pada tujuan karier, maka job hopping bisa menjadi strategi yang tepat.

 

Namun, jika dilakukan tanpa arah yang jelas, berpindah-pindah pekerjaan justru berisiko membuat perjalanan karier terasa jalan di tempat. Jadi, sebelum memutuskan pindah kerja, pastikan kamu tahu apa yang sedang dicari dan ke mana tujuanmu berikutnya!

Selain Gaji, Ini 6 Hal yang Paling Dicari Kandidat Saat Melamar Kerja

Dulu, pertanyaan pertama saat menerima tawaran kerja biasanya sederhana: “Gajinya berapa?”

 

Sekarang? Nggak sesimpel itu.

 

Zaman sekarang, banyak pencari kerja mulai sadar bahwa pekerjaan bukan cuma soal nominal yang masuk ke rekening setiap bulan. Lingkungan kerja, jenjang karier, fleksibilitas, sampai fasilitas kesehatan jadi pertimbangan yang nggak kalah penting. Bahkan, nggak sedikit yang rela menerima gaji sedikit lebih rendah asalkan mendapatkan benefit yang lebih sesuai dengan kebutuhan hidupnya.

 

Nah, kalau kamu sedang berburu kerja atau mempertimbangkan tawaran dari sebuah perusahaan, berikut beberapa hal yang biasanya paling dicari kandidat selain gaji.

 

 

1. Kesehatan dan Kesejahteraan Pribadi

Setelah pandemi dan meningkatnya kesadaran soal kesehatan fisik dan mental, benefit kesehatan jadi salah satu faktor penting dalam memilih pekerjaan.

 

Calon karyawan biasanya mencari tahu apakah perusahaan menyediakan BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTK), asuransi tambahan, hingga fasilitas kesehatan lainnya.

 

BPJSTK sendiri cukup menarik karena memiliki berbagai program perlindungan pekerja, termasuk Jaminan Hari Tua (JHT) yang bisa dicairkan sesuai ketentuan yang berlaku. Buat banyak orang, benefit seperti ini memberikan rasa aman untuk jangka panjang.

 

 

2. Sistem Kerja Hybrid

Kalau beberapa tahun lalu work from home dianggap bonus, sekarang sistem hybrid sudah menjadi salah satu benefit yang paling dicari.

 

Banyak pekerja merasa lebih produktif ketika memiliki fleksibilitas untuk bekerja dari rumah beberapa hari dalam seminggu. Selain menghemat waktu perjalanan, hybrid juga membantu mengurangi biaya transportasi dan makan di luar.

 

Meski begitu, sistem ini tentu nggak cocok untuk semua industri. Karena itu, penting untuk memahami bagaimana perusahaan menerapkan kebijakan kerjanya.

 

 

3. Stabilitas dan Reputasi Perusahaan

Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, banyak pencari kerja kini lebih selektif dalam memilih perusahaan. Bukan cuma soal gaji atau fasilitas, tetapi juga soal keamanan karier.

 

Calon karyawan biasanya mencari tahu bagaimana kondisi bisnis perusahaan, reputasinya di industri, hingga kabar mengenai turnover karyawan. Tujuannya sederhana: memastikan mereka bergabung dengan perusahaan yang memiliki prospek dan arah yang jelas.

 

Apalagi setelah beberapa tahun terakhir banyak terjadi efisiensi atau layoff dan restrukturisasi di berbagai industri, faktor stabilitas perusahaan menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum menandatangani kontrak kerja.

 

 

4. Jumlah dan Fleksibilitas Cuti

Work-life balance semakin menjadi prioritas.

 

Selain jatah cuti tahunan, banyak kandidat kini mencari tahu apakah perusahaan memiliki kebijakan cuti yang fleksibel, seperti cuti ulang tahun, mental health leave, period leave khusus untuk wanita, atau kemudahan mengambil cuti tanpa proses yang rumit.

 

Karena sesibuk apa pun pekerjaan, semua orang tetap butuh waktu untuk istirahat dan mengisi ulang energi.

 

 

5. Jam Kerja yang Sesuai

Ada yang nyaman dengan jam kerja 9-to-5 karena lebih terstruktur. Ada juga yang lebih menyukai jam kerja fleksibel selama target pekerjaan tercapai.

 

Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Jam kerja tetap biasanya membuat rutinitas lebih teratur, sementara jam fleksibel memberi kebebasan untuk mengatur aktivitas harian.

 

Yang paling penting sebenarnya bukan soal fleksibel atau tidak, melainkan apakah budaya kerjanya sehat dan menghargai waktu pribadi karyawan.

 

 

6. Budaya Kerja dan Lingkungan Tim

Ini yang sering dianggap sepele, padahal sangat berpengaruh terhadap kenyamanan kerja sehari-hari.

 

Gaji tinggi bisa terasa kurang menyenangkan jika lingkungan kerjanya penuh drama, komunikasi buruk, atau budaya lemburnya tidak sehat.

 

Karena itu, banyak kandidat sekarang mulai mencari tahu review perusahaan, pengalaman mantan karyawan, hingga budaya kerja tim sebelum menerima tawaran kerja.

 

 

Memilih pekerjaan bukan lagi sekadar membandingkan angka gaji. Kesehatan, fleksibilitas, jenjang karier, hingga lingkungan kerja yang nyaman kini menjadi faktor yang sama pentingnya.

 

Jadi, kalau sedang mempertimbangkan tawaran kerja baru, jangan hanya fokus pada nominal yang tertera di kontrak. Coba lihat gambaran besarnya juga. Karena pekerjaan yang baik bukan hanya yang membayar tinggi, tetapi juga yang mendukung perkembangan karier, kesehatan, dan kualitas hidupmu dalam jangka panjang.

5 Prinsip Hemat yang Sering Diabaikan

Hemat itu nggak cukup kalau sekadar niat. Harus dibarengi dengan pemahaman dan strategi yang tepat. Apalagi di era sekarang, hidup hemat rasanya makin susah. Buka media sosial sedikit, muncul racun belanja. Scroll TikTok lima menit, tiba-tiba pengin check out barang yang sebelumnya nggak pernah kepikiran. Belum lagi tren FOMO, flash sale, promo tanggal kembar, sampai layanan paylater yang bikin transaksi terasa “ringan”, padahal tagihannya tetap datang di akhir bulan.

 

Nggak heran kalau banyak orang merasa gajinya cuma numpang lewat. Baru awal bulan sudah semangat bikin anggaran, eh, pertengahan bulan saldo mulai kritis.

 

Kalau kamu mulai sadar bahwa pengeluaran belakangan agak kebablasan, selamat! Itu tandanya kamu sudah berada di langkah pertama untuk menjadi lebih bijak secara finansial. Nah, sebelum mulai berhemat, ada beberapa prinsip yang sering dilupakan, padahal penting banget.

 

 

1. Hemat Itu Beda dengan Pelit

Sampai sekarang masih banyak yang menganggap orang hemat itu pelit. Padahal dua hal tersebut berbeda.

 

Hemat berarti menggunakan uang secara bijak dan sesuai prioritas. Sementara pelit adalah menahan pengeluaran bahkan untuk kebutuhan yang memang penting.

 

Misalnya, laptop kerja kamu sudah rusak dan menghambat produktivitas. Membeli laptop baru yang sesuai kebutuhan adalah keputusan yang masuk akal. Yang penting, kamu melakukan riset dan memilih produk yang sesuai anggaran.

 

Jadi, tujuan hidup hemat bukan menolak semua pengeluaran, melainkan memastikan uang keluar untuk hal yang memang bernilai.

 

Atau, kamu juga mulai bisa menerapkan gaya hidup frugal living, lho! 

 

 

2. Hindari Check Out Sebelum Membandingkan

Salah satu kebiasaan yang sering bikin boros di tahun 2026 adalah belanja terlalu cepat.

 

Lihat promo, langsung check out. Harga turun dikit, langsung beli. Padahal, belum tentu itu yang paling murah. 

 

Sebelum membeli barang atau berlangganan layanan tertentu, biasakan membandingkan harga, fitur, dan manfaatnya terlebih dahulu. Kadang selisih beberapa menit untuk riset bisa menghemat ratusan ribu rupiah.

 

Ingat, promo terbaik belum tentu yang diskonnya paling besar, tetapi yang paling sesuai dengan kebutuhanmu.

 

 

3. Jangan Terjebak “Racun” Branding

Kita hidup di era ketika branding sangat kuat. Kadang sebuah produk viral bukan karena kualitasnya jauh lebih baik, tetapi karena strategi pemasaran yang sukses.

 

Bukan berarti produk mahal selalu buruk. Namun, jangan sampai membeli sesuatu hanya karena sedang hype atau ramai dibahas di media sosial.

 

 

4. Stop FOMO dan Kebiasaan Ikut-Ikutan

Teman upgrade smartphone, kamu ikut pengin. Teman liburan ke luar negeri, kamu mulai browsing tiket. Teman posting konser setiap bulan, kamu merasa ketinggalan.

 

Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) menjadi salah satu penyebab kebocoran finansial terbesar saat ini. Padahal kondisi keuangan setiap orang berbeda-beda.

 

Hidup bukan perlombaan siapa yang paling update. Fokuslah pada tujuan finansialmu sendiri. Dompetmu nggak perlu ikut tren setiap saat untuk tetap bahagia.

 

 

5. Pinjaman Bukan Musuh, Asal Digunakan dengan Bijak

Banyak orang langsung menganggap pinjaman itu buruk. Padahal, yang bermasalah sering kali bukan pinjamannya, melainkan cara penggunaannya.

 

Pinjaman bisa menjadi solusi ketika digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar penting dan mendesak, seperti biaya kesehatan, kebutuhan keluarga, atau modal usaha produktif. Yang perlu diperhatikan adalah memilih layanan yang legal, transparan, dan sesuai kemampuan bayar. Pastikan juga kamu sudah memiliki rencana pelunasan yang jelas sebelum mengajukan pinjaman.

 

Nah, pinjaman dari Tunaiku by Amar Bank bisa jadi solusi untuk kebutuhan yang benar-benar urgent. Proses pengajuannya online, transparan, dan cukup menggunakan KTP. Kamu sudah bisa mendapatkan kredit tanpa agunan hingga Rp30.000.000 dan tenor fleksibel sampai 30 bulan. Aman banget karena transparan serta telah berizin dan diawasi OJK. 

 

Lebih lengkap tentang pinjaman dari Tunaiku di sini!

 

 

Hidup hemat di era serba digital memang punya tantangan tersendiri. Godaan belanja datang dari mana-mana, mulai dari media sosial sampai notifikasi promo yang muncul setiap hari. Tapi sebenarnya, hidup hemat bukan soal menahan diri terus-menerus. Kuncinya adalah memahami prioritas, mengendalikan impuls belanja, dan menggunakan uang secara lebih sadar.

 

Karena pada akhirnya, tujuan berhemat bukan supaya hidup terasa kekurangan, melainkan supaya kondisi keuangan tetap sehat dan kamu bisa menikmati hidup dengan lebih tenang.