SWARA – Betulkah jumlah pengangguran di kota lebih banyak dari desa? Seratus persen betul. Saya pernah mengalami kerja di kota dan di desa. Faktanya memang demikian. Jadi, sekarang jangan underestimate terhadap orang-orang desa. Lebih baik cari solusinya dan benahi ketimpangan yang ada. Kira-kira begini problematikanya.
Â
Artikel Terkait: Perubahan dalam Kariermu Berdasarkan Zodiak
- Perubahan yang Mungkin Terjadi di Karier, Lihat Sesuai Zodiak
- Perubahan Penting dalam Karier yang Harus Dilakukan di 2018, Berdasarkan Zodiak
- Ini Urutan Zodiak yang Paling Sering Berganti Pekerjaan
1. Data pengangguran yang dirilis oleh BPS
Badan pemerintah yang satu ini sangat aktif dalam mengabarkan angka pengangguran terkini. Jika menjejak awal tahun 2018, BPS mengeluarkan informasi yang sungguh mencengangkan. Bagaimana nggak, bahwa total pengangguran di kota mencapai 6,34%, sedangkan yang ada di desa cuma 3,72%.
Meskipun angka tersebut turun jika dibandingkan dengan awal tahun 2017, tetap saja masih problematis. Angka penurunannya mencapai 6,5% untuk warga kota dan 4% untuk warga desa. Soalnya negara Indonesia sangat kaya. Mestinya pengangguran mampu ditekan seminimal mungkin. Harapan saya sih bisa nol koma sekian saja yang nganggur.
2. Data pengangguran dari kalangan berpendidikan
BPS juga merilis data pengangguran lulusan sekolah hingga perguruan tinggi. Pada tahun ini, tingkat pengangguran tertinggi justru didapat oleh alumnus SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan. Meskipun sudah dibekali dengan keterampilan praktis, rupanya belum maksimal dalam memecah kebuntuan soal pengangguran. Masih kalah dengan alumnus SMA.
TPT atau Tingkat Pengangguran Terbuka untuk alumnus SMK mencapai 8,92%. Sedangkan dari kalangan alumnus perguruan tinggi, khususnya yang menyandang gelar Diploma I-III, justru tingkat penganggurannya naik. Di awal tahun 2017 sebesar 6,35%, sedangkan di awal tahun 2018, naik jadi 7,92%. Hal inilah yang wajib kita evaluasi bersama.
3. Banyaknya yang memilih urbanisasi
Nggak dapat dimungkiri, jumlah angka pengangguran di kota yang banyak juga diakibatkan banyak kaum urban dari desa. Maklum saja. Upah kerja di desa itu tergolong minim. Jika di pabrik daerah saja maksimal hanya 1 koma sekian juta Rupiah, sedangkan di kota bisa mencapai Rp3 juta. Itulah yang mendorong mereka untuk urbanisasi.
Akibatnya, orang kota atau warga yang sudah lama tinggal di kota jadi memiliki banyak saingan baru. Pada tahun lalu, saya pernah tinggal di Tangerang dan bekerja sebagai kuli bangunan. Ketika melihat di sepanjang aliran danau, betapa banyak yang nasibnya terkatung-katung di sana. Mereka pengangguran kota dan hanya berharap bisa hidup dari itu.
4. Kurangnya kesadaran untuk menciptakan kesempatan kerja sendiri
Menanti nasib lamaran kerja diterima oleh perusahaan itu sama saja dengan menunggu bola bergulir ke arah kita. Bukankah lebih baik jika kita menciptakan bola saja daripada menunggu yang nggak berkesudahan itu? Misalnya, dengan membangun bisnis baru seperti UKM ataupun UMKM. Di desa saja sekarang sudah mulai berkembang.
Mestinya warga kota nggak boleh kalah. Apalagi pangsa pasarnya tergolong luas. Setiap titik menjadi pelabuhan yang acap kali ramai dilewati oleh orang-orang. Di situlah peluangnya untuk menciptakan produk baru yang bernilai jual. Alasan ini pula yang membuat angka pengangguran yang ada di kota belum semenurun di desa.
Â
Artikel Terkait: Ini Pilihan Kariermu Berdasarkan Zodiak
- Ini Pilihan Karier yang Paling Cocok Berdasarkan Zodiakmu!
- Intip Kata Zodiak Agar Karier Melesat di Tahun 2018
- Tengah Merencanakan Karier? Intip Pekerjaan Mana yang Sesuai dengan Zodiakmu!
5. Gengsi yang masih tinggi
Jika hidup masih mengandalkan gengsi di zaman sekarang, hasilnya sudah jelas, yakni terlindas-lindas oleh zaman itu sendiri. Sekarang ini persaingan di dunia kerja sudah demikian tinggi seiring dengan naiknya angka natalitas tiap tahunnya. Sudah waktunya untuk memperbaiki dan memperbarui skill individu daripada memperhatikan gengsi hidup.
Bisakah jumlah pengangguran di kota maupun di desa ditekan semiminim mungkin? Sangat bisa. Syaratnya hanya satu, yakni masing-masing individu harus menyadari bahwa hidup di dunia ini nggak gratis. Semuanya memiliki hubungan timbal-balik. Sudah waktunya kita untuk terus berjuang mengupayakan sebab-sebab hidup yang berkualitas.
  SWARA TUNAIKU