Sri Mulyani mengumumukan bahwa Indonesia pada kuartal II diproyeksi akan mengalami pertumbuhan ekonomi negatif sebesar -4.3 %. Hal tersebut terjadi akibat penurunan produksi di beberapa sector perekonomian, seperti perdagangan, manufaktur, dan pertambangan. Proyeksi ini dibuat akibat kekhawatiran Indonesia akan adanya resesi seperti negara tetangga Singapura yang negatif pada kuartal II hingga -41%. Sri Mulyani berkata bahwa dalam kondisi kuartal II ini Indonesia belum disebut resesi, hanya kontraksi (penurunan) ekonomi. Resesi terjadi jika pertumbuhan ekonomi selama 2 kuartal mengalami pertumbuhan negatif. Pemerintah akan berusaha meminimalisir tingkat resesi yang lebih jauh dengan kebijakan Fiskal dan Moneter seperti stimulus pajak, Bantuan Langsung Tunai (BLT), Keringannan kredit, penaruhan uang di bank Himbara, serta Quantitieve Easing.
Banyak sekali bisnis yang terkena dampak dari Covid 19 di mana mereka mengalami penurunan penerimaan secara drastis, misalnya bisnis perhotelan. Berdasarkan data Kemenparekraf pada awal April, hotel yang tutup sementara akibat adanya pandemi Covid-19 sebanyak 1500 di seluruh Indonesia. Berdasarkan World Travel & Tourism Council (WTTC), industri perhotelan baru pulih dalam waktu 10 bulan ke depan. Bahkan Tourism Economics memperkirakan lebih lama lagi yaitu hingga tahun 2022.
Selanjutnya bisnis penerbangan juga terdampak peristiwa ini, mengingat biaya operasional yang cukup tinggi dan 80% pendapatan dari penumpang. Garuda Indonesia mengalami penurunan laba sebesar 33% berdasarkan laporan keuangan kuartal 1 2020. Oleh karena itu, Garuda harus menunda mendatangkan pesawat baru dari Airbus. “Tahun ini Garuda harusnya menerima 4 pesawat Airbus. Kami sedang bernegosiasi dengan Airbus untuk menunda penerimaan itu,” ucap Direktur Utama PT Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (14/7/2020).
Melihat bisnis banyak yang lumpuh akibat wabah ini, menyebabkan banyak sektor bisnis yang harus PHK pegawai karena akan menjadi biaya yang tinggi bagi perusahaan yang mempekerjakannya. Hal ini berkorelasi dengan tingkat pengangguran yang tinggi di Indonesia

Berdasarkan proyeksi dari IMF bahwa akibat pandemi Covid-19 ini tingkat pengangguran di Indonesia akan meningkat secara drastis pada tahun 2020 menjadi 7.5% yang awalnya pada tahun 2019 hanya 5.3%. Oleh karena itu, untuk mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia serta memperthankan usaha di tengah krisis ini, pengusaha harus mencari usaha bisnis yang dapat bertahan di tengah krisis. Berikut bisnis yang dapat bertahan di tengah resesi menghantui diantara lain sebagai berikut :
1. Bisnis Makanan dan Minuman
Kebutuhan Pokok seperti makanan dan minuman merupakan bisnis memiliki prospek cukup bagus. Mengingat manusia akan membutuhkan makanan dan minuman untuk bertahan hidup. Selain itu, bisnis ini tidak membutuhkan modal yang sangat besar sehingga jika terjadi resesi tidak mengalami kerugian yang cukup besar seperti bisnis lainnya.
2. Bisnis Jasa Pendidikan dan Pelatihan
Pada saat krisis, baik krisis ekonomi, politik, maupun sosial, tidak dapat menghentikan laju perkembangan sektor jasa pendidikan dan pelatihan di berbagai tempat di dunia. Pasalnya, kebutuhan belajar adalah sesuatu hal yang tak akan surut walaupun di tengah krisis resesi yang menghantui. Bahkan masa krisis akibat pandemi ini merupaka hal yang tepat, karena adanya aturan untuk belajar di rumah sehingga untuk menambah pengetahuan selain melalui video call dengan guru di sekolah. Selain itu, merupakan suatu momen yang tepat bagi sebagian orang untuk mengevaluasi diri dan menganggap dirinya membutuhkan lebih banyak pengetahuan untuk terus mengembangkan diri. Hal ini yang membuat bisnis di industri pendidikan dan pelatihan lebih mampu bertahan saat perekonomian dalam kondisi yang buruk.
3. Bisnis Digital
Bisnis digital atau E-commerce bisa menjadi solusi jikalau bisnis sedang terkendala karena berdasarkan Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan, pengguna internet di Indonesia hingga kini telah mencapai 82 juta orang. Dengan capaian tersebut Indonesia berada pada peringkat ke-8 di dunia dengan jumlah pengguna internet terbanyak, dan 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun. Untuk pengguna Facebook, Indonesia di peringkat ke-4 besar dunia.
Menurut Direktur Pemberdayaan Informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Septriana Tangkary, pertumbuhan nilai perdagangan elektronik (e-commerce) di Indonesia mencapai 78 persen, tertinggi di dunia. Oleh karena itu, bisnis digital dapat menjadi salah satu menjadi kekuatan baru untuk bisnis dapat survive di tengah pandemi. Selain itu, bisnis digital dapat digunakan untuk UMKM sebagai sarana bertransaksi di tengah pembatasan fisik secara ketat.

Berdasarkan SEA Insights, masyarakat Indonesia banyak menggunakan waktu untuk media sosial dan belanja di E–commerce bisa menjadi target pasar di saat krisis resesi. Akan tetapi, produktivitas berjualan di E- Commerce sangat sedikit khususnya adalah UMKM yang terkena dampak paling serius.
Swara Kamu merupakan wadah untuk menyalurkan inspirasi, edukasi, dan kreasi lewat tulisanmu. Kamu bisa menyampaikan pendapat, pemikiran, atau informasi menarik seputar finansial dan karier. Setiap artikel Swara Kamu menjadi tanggung jawab penulis karena merupakan opini pribadi penulis. Tim Swara tidak dapat menjamin validitas dan akurasi informasi yang ditulis oleh masing-masing penulis.
Ingin ikut berbagi inspirasi? Langsung daftarkan dirimu sebagai penulis Swara Kamu di sini!