SWARA – Resesi ekonomi di Indonesia membawa dampak bagi semua masyarakat. Jika kamu baru saja berumah tangga atau menjadi keluarga baru, kamu harus bisa mengatur keuangan dengan baik di tengah resesi ini.

 

Sebagai keluarga baru, ada banyak hal yang perlu kamu dan pasanganmu persiapkan. Hal-hal tersebut tentunya akan memerlukan biaya. Supaya segala kebutuhanmu sebagai keluarga baru tetap bisa terpenuhi, kamu dan pasangan perlu mulai mengelola keuangan keluarga sejak dini agar tidak semakin terpuruk akibat resesi. 

 

Tantangan Keuangan Bagi Keluarga Baru di Tengah Resesi

 

Dilansir dari Kompas, salah satu tantangan keuangan yang kerap dihadapi oleh keluarga baru adalah keterbukaan kondisi finansial masing-masing. Lalu, di saat resesi seperti sekarang ini, tantangan tersebut menjadi dua kali lebih sulit. 

 

Ditambah lagi, saat resesi, banyak orang kehilangan pekerjaan. Jika kamu atau pasanganmu mengalami hal yang sama, sumber pemasukan keluarga akan semakin berkurang, sementara masih banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi.

 

Bukan hanya bagi pegawai, bagi kamu yang memiliki bisnis pun akan turut merasakan dampak dari resesi. Bisnismu kemungkinan besar akan menjadi lesu dan sulit untuk terus dipertahankan. 

 

Kurangnya sumber pemasukan bisa menjadi salah satu tantangan keuangan bagi keluarga baru saat resesi. Kamu dan pasangan harus bisa melewati tantangan ini sambil tetap mempersiapkan keuangan untuk keperluan di masa depan. 

 

Tips Mengatur Keuangan untuk Keluarga Baru

 

Supaya kamu dan pasangan tetap bisa melewati resesi dengan aman sebagai keluarga baru, berikut ini beberapa tips yang bisa diikuti: 

 

  • Memiliki dana darurat

 

Jika sebelumnya kamu sudah punya dana darurat pribadi, sekarang saatnya untuk mengganti dana darurat tersebut menjadi milik bersama. Kamu dan pasangan harus bisa mempersiapkan dana darurat untuk keperluan keluarga ke depannya. 

 

Idealnya, jumlah dana darurat yang dikumpulkan setara dengan enam kali pengeluaran bulanan. Jadi, bila suatu saat kamu dan pasangan tiba-tiba kehilangan pekerjaan, kalian tetap bisa bertahan hidup dari dana darurat setidaknya untuk enam bulan. 

 

Akan lebih baik kalau kamu dan pasangan sama-sama mempersiapkan dana darurat pribadi sejak sebelum menikah. Dengan begitu, ketika kalian sudah menjadi keluarga baru, kalian bisa menggabungkan dana darurat masing-masing. 

 

Simpanlah dana darurat di rekening yang terpisah dari rekening utamamu. Hal ini penting supaya dana daruratmu akan tetap berada di dalam rekening dan tidak sengaja digunakan.

 

Pastikan rekening untuk menyimpan dana darurat adalah rekening yang mudah diakses saat kamu mengalami krisis secara tiba-tiba. Jadi, jangan simpan dana daruratmu di deposito yang hanya bisa dicairkan berdasarkan tenor yang telah ditetapkan sejak awal. 

 

  • Mencari pemasukan tambahan

 

Salah satu solusi lainnya untuk bertahan menghadapi resesi adalah mencari sumber pemasukan tambahan. Secara khusus, langkah ini penting dilakukan jika kamu dan pasangan melewati masa krisis keuangan.

 

Kamu tidak harus menunggu sampai salah satu dari kamu atau pasangan mengalami pemotongan gaji untuk mulai mencari pemasukan tambahan. Akan lebih baik kalau upaya mencari pemasukan tambahan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelum masa resesi sebagai antisipasi.

 

Ada banyak sumber pemasukan tambahan yang bisa kamu dapatkan. Misalnya, kalau kamu memiliki keahlian dalam memasak makanan rumahan, kamu bisa membuka bisnis makanan online sebagai usaha sampingan. 

 

Tidak hanya itu, kamu juga bisa bekerja menjadi freelancer melalui platform freelancer yang tersedia untuk freelancer Indonesia maupun dunia. 

 

Atau, kalau kamu memiliki banyak barang bekas yang tidak digunakan lagi setelah menikah, kamu bisa menjual barang-barang bekas tersebut untuk mendapatkan pemasukan yang lebih besar. 

 

  • Merencanakan pembelian properti

 

Banyak keluarga baru yang memimpikan untuk memiliki rumah sendiri setelah menikah. Akan tetapi, bila kondisi keuangan sedang tidak stabil selama resesi, sebaiknya jangan terburu-buru membeli properti. 

 

Buatlah perencanaan dan strategi yang matang dengan pasangan untuk membeli properti pertama. Salah satu caranya dengan menghitung harga rumah yang ingin dibeli lalu tentukan target untuk mencapai jumlah tersebut. 

 

Dengan adanya target, kamu dan pasangan bisa merencanakan keuangan dengan lebih terstruktur. Kalian akan tahu berapa banyak pengeluaran yang perlu dikurangi untuk bisa berhemat demi membeli rumah. 

 

Dikutip dari Kompas, sebenarnya kamu juga bisa memanfaatkan bantuan dari pemerintah seputar program rumah subsidi atau KPR subsidi. Akan tetapi, kalau kamu dan pasangan memiliki pertimbangan tersendiri dalam membeli rumah, membuat perencanaan adalah metode yang paling efektif. 

 

  • Jangan berutang

 

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh keluarga baru saat resesi adalah menimbun utang. Utang tersebut bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari utang pinjaman bank, utang cicilan kartu kredit, dan lain sebagainya. 

 

Ketika kamu tidak memiliki sumber pemasukan tetap, hindari mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena, selama kamu tidak memiliki pekerjaan, kamu tidak bisa menjamin kapan kamu sanggup melunasi utang-utang tersebut. 

 

Kalau kamu sudah memiliki utang yang belum lunas di masa lalu, tetap upayakan untuk melunasi utang tersebut satu persatu. Mulailah dari utang dengan nominal paling kecil, kemudian lunasi secara bertahap. 

 

Akan lebih baik lagi kalau kamu tidak menambah utang saat masih ada beban utang yang belum terbayar. 

 

Perlu diingat, saat memulai keluarga baru, kamu harus bisa memulainya dengan keadaan finansial yang sehat dan bersih. Jangan sampai, beban utang yang kamu miliki sebelum menikah menjadi sumber masalah antara kamu dengan pasangan di kemudian hari.

 

Melewati masa resesi memang bukan hal yang mudah, tapi setiap keluarga baru tentu tetap bisa melewatinya dengan pengelolaan keuangan yang baik. Selalu komunikasikan masalah keuangan dengan pasangan untuk menghindari konflik yang tidak diinginkan.