SWARA – Saya masih sangat kecil saat BJ Habibie menjadi Presiden. Yang saya tahu, pada saat pemerintahan Habibie yang berjalan selama satu tahun, Habibie memberikan berbagai hal yang tidak mungkin bisa dilakukan di era Orde Baru. Misalnya, kebebasan pers. Jika tidak ada kebebasan pers, tidak mungkin saya bisa menulis sebebas sekarang. Bukan orang ekonomi, Habibie mampu memutar-balikkan kondisi ekonomi negara yang awalnya inflasi akibat krisis moneter menjadi aman dengan nilai Rupiah terhadap USD jadi Rp6.600,00.

 

Habibie memiliki latar belakang pendidikan yang sangat cemerlang di bidang teknik. Mengutip Deputi Direktur Keuangan Urusan Pendanaan PT Regio Aviasi Industri (RAI) Desra Firza Ghazfan, Habibie adalah salah satu saja dari angkatan pertama generasi dirgantara yang dikirimkan Presiden pertama RI Soekarno ke berbagai negara untuk belajar membuat pesawat.

 

Beberapa bulan setelah mulai kuliah di ITB, Habibie dikirim untuk melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule Jerman.

 

Gelar Diplom Ingenieur pada 1960 dan gelar Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cumlaude dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean pun diterima oleh Habibie. 

 

Kecintaannya pada dunia penerbangan sudah dimulai sejak perkuliahannya di ITB (saat itu masih bernama Universitas Indonesia) di tahun 1954. Habibie sudah mulai menguliti serba serbi mesin pesawat di Fakultas Teknik. Melanjutkan sekolah ke Jerman menjadi tonggak dari semakin berkobarnya mimpi Habibie agar mampu membuat pesawat sendiri.

 

 

Artikel terkait:

  1. Sebelum Kuliah di Jerman, Kenali Sistem Pendidikan di Sana
  2. Kamu Mau Kuliah ke Luar Negeri? Siapkan Dahulu Beberapa Hal Ini!
  3. Yuk, Kenalan dengan Tokoh yang Sukses Meniti Karir di luar Jalur Studi

 

 

Tetap ingat Indonesia

Rekam jejak akademik Habibie sangat sempurna. Beberapa kali Habibie berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain di Jerman. Habibie pernah menjabat sebagai Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan Hamburger Flugzeugbau Gmbh. Dia bahkan menjadi wakil presiden dan direktur teknologi, serta penasehat senior perusahaan itu. Habibie juga sempat bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohm, perusahaan penerbangan yang berpusat di Jerman, sebelum kembali ke Indonesia pada 1973.

 

Alasannya kembali ke Indonesia karena Presiden Soeharto yang saat itu menjabat memintanya mengabdikan ilmunya ke Indonesia.

 

Impian Habibie supaya Indonesia memiliki pesawat sendiri tercapai. “Kita harus sangat sadari bahwa industri strategis dan khususnya dirgantara, adalah produk sepanjang masa yang dibutuhkan Indonesia,”kata Habibie di sela-sela Presidential Lecture di Bank Indonesia (BI), Senin (13/2/2017).

 

Habibie dan Pesawat R80

Pada tahun 2015, Habibie memperkenalkan rancangan pesawat yang dibuat oleh Regio Aviasi Industri, perusahaan aviasi yang didirikannya sendiri. Habibie meminta tolong kepada Presiden Joko Widodo untuk membantu pendanaan pesawat.

 

“Yang kami butuhkan adalah dukungan pemerintah untuk financing bagian Indonesia. Bagian swasta dan luar negeri, mereka akan ikut kalau dari pemerintah ikut menyumbang dalam arti mengatakan ‘silakan’ karena industri pesawat terbang seperti Boeing dan Airbus dapat bantuan yang sama,” ujar Habibie kepada Presiden Jokowi saat menunjukkan miniatur pesawat R80.

 

Artikel terkait:

  1. Cek, 8 Cara Mudah Mendapatkan Tiket Pesawat Promo di Travel Fair
  2. Mau Liburan Pakai Jasa Open Trip, Jalan Sendiri atau Biro Perjalanan? Mana Pilihanmu?
  3. Wisata Balon Jadi Bucket List? Ini 5 Destinasinya yang Bisa Kamu Kunjungi!

 

Pesawat R80 yang diproduksi perusahaannya memiliki berbagai keunggulan. Pesawat R80 nantinya digerakkan menggunakan baling-baling sehingga dapat menampung banyak penumpang, sekitar 80-90 orang. Tidak hanya itu, waktu berputar pesawat juga singkat, hemat bahan bakar, dan perawatan yang mudah adalah beberapa keunggulan dari pesawat R80 ini. Menurut Habibie, pesawat ini tidak kalah dengan Boeing 777. Pesawat ini juga sangat cocok untuk digunakan di tipe bandara yang ada di Indonesia.

 

Jika sesuai rencana, pesawat ini bisa mulai diproduksi secara massal di tahun 2024.

 

Sempat kandas karena IMF

Dibutuhkan waktu puluhan tahun bagi Habibie supaya dapat mewujudkan mimpinya mengembangkan industri pesawat. Pada tahun 1976, Habibie mendirikan PT Indonesia Pesawat Terbang Nurtanio yang menjadi satu-satunya pabrik pesawat di Asia Tenggara pada masa itu. Pada 1985, namanya berubah menjadi Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Pada saat ini nama IPTN dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia.

 

Proyek N-250 bisa dibilang merupakan cikal bakal dari pesawat R80 yang diproduksi oleh Regio Aviasi Industri. Habibie mendirikan perusahaan ini bersama putranya, Ilham Akbar Habibie.

 

Namun, usaha Habibie dalam merintis industri penerbangan dalam negeri harus kandas karena krisis moneter Indonesia di tahun 1997-1998. IPTN harus ditutup oleh pemerintah karena menjadi syarat yang diajukan IMF agar mereka dapat memberikan pinjaman sebesar USD5 Milliar untuk mengatasi krisis ekonomi. Padahal saat itu pesawat produksi IPTN sedang menjalani uji terbang tahap akhir agar mendapatkan sertifikat layak terbang dari Federation Aviation Agency Amerika.

 

Menunggu bukan berarti gagal. Menunggu bukanlah alasan untuk menyerah. Habibie, terima kasih telah menjadi panutan bagi kami untuk tetap mengejar impian kami. Saya tidak sabar menunggu tahun 2024, saya juga ingin merasakan menumpangi pesawat yang didesain oleh Anda. Terima kasih atas dedikasinya untuk Indonesia, jasamu di dunia pemerintahan dan penerbangan akan selalu kami kenang.