Beranda > Gaya Hidup > Bullying pada Anak: Kenali Peran dan Dampak bagi Pelaku, Korban juga Saksi

Bullying pada Anak: Kenali Peran dan Dampak bagi Pelaku, Korban juga Saksi

WINNY WITRA MAHARANI TUNAIKUWinny Witra Maharani
Bullying pada Anak: Kenali Peran dan Dampak bagi Pelaku, Korban juga Saksiwatermark

TUNAIKU.COM –  Beberapa waktu lalu, pasti kamu mendengar kasus bullying yang dialami oleh mahasiswa berkebutuhan khusus di salah satu universitas swasta di Jakarta kan? Di video yang sempat viral di medsos, terlihat tasnya ditarik-tarik oleh mahasiswa lain sehingga ia sulit berjalan. Alih-alih membantu, mahasiswa lain melihat hanya diam saja, bahkan beberapa ikut menertawakan. Jahat, ya?

 

Di waktu yang hampir bersamaan juga muncul kasus anak SD yang di-bully oleh teman-temannya sesama SD dan anak SMP di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Pusat. Melihat kedua kasus ini saya jadi merasa sedih sendiri. Ini tahun 2017 dan masih banyak saja kasus bullying terjadi, terlebih lagi pada mahasiswa yang seharusnya sudah bisa bersikap lebih dewasa. Menurut saya ini bisa terjadi karena mungkin sejak kecil dia terbiasa meme-bully dan nggak tertangani dengan baik.

 

Nggak bisa dipungkiri bahwa bullying masih jadi momok besar di dunia pendidikan Indoesia, bahkan dunia.Survei yang dilakukan oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) tahun 2012, sekitar 87,6% dari 1.026 peserta mengakui bahwa mereka pernah mengalami bullying di sekolah, baik secara fisik maupun verbal. Mulai dari panggilan yang merendahkan hingga kekerasan fisik.

 

Mirisnya lagi, dampak bullying itu nggak sekadar bikin anak malas sekolah, lho. Tapi juga bisa menguba jati diri si anak, membuatnya jadi nggak percaya diri bahkan depresi berkepanjangan, yang bisa menuju pada bunuh diri. Perlu kamu ketahui, pada 2015, Menteri Sosial Indonesia Khofifah Indar Parawansa pernah menyebutkan bahwa 40% dari kasus bunuh diri anak-anak berawal dari bullying yang mereka alami.

 

Saya sendiri juga pernah menjadi korban bullying sewaktu di SMP. Alasannya sepele: gara-gara saya keukeuh berteman dengan seorang murid pindahan dari sekolah lain yang dibenci oleh rekan-rekan seangkatan. Bullying  yang saya diterima, untungnya, nggak terlalu parah hingga kekerasan fisik atau membuat saya depresi berkepanjangan. Hanya saja saya memang sempat dikucilkan, digunjingkan, bahkan dianggap nggak ada. Dan, karena waktu itu SMA saya juga asrama, alhasil di asrama pun saya jadi ‘alien’.

 

Kasus bullying ini banyaknya mulai menimpa anak sejak kecil saat mereka mulai sekolah, maka orang tua pun memegang peran penting untuk mencegah dan menghentikannya. Untuk itu kamu yang sudah jadi orang tua, mari kita kenali bentuk, peran dan dampak bullying ini baik bagi pelaku, korban atau pun saksi.

 

Artikel terkait: Orang tua, perlu tahu

  1. Kesejahteraan Anak di Indonesia Masih Mengkhawatirkan
  2. Yuk, Cegah Anak Terpapar dari Paham Radikalisme!
  3. Postingan Awkarin Memang Bikin Heboh, tapi Setidaknya Ada 5 Pelajaran yang Ia Berikan untuk Kita

 

Apa saja bentuk bullying itu?

Berdasarkan jenis tindakannya

1. Bullying Verbal

Pelaku mengintimidasi korban melalui kata-kata yang bersifat merendahkan dan menjatuhkan. Bisa berupa panggilan yang buruk, celaan, menyebarkan fitnah dan gosip, bahkan teror secara langsung. Bisa dibilang sebagai langkah awal sebelum anak menerima bullying yang lebih ekstrem.

 

2. Bullying Sosial

Memengaruhi orang lain untuk ikut mem-bully korban. Korban beramai-ramai dikucilkan sehingga benar-benar sendiri dan nggak punya teman. Bullying jenis ini membuat korban depresi karena merasa nggak nyaman dengan lingkungan sekitarnya. Dampak yang dirasaka korban pun bisa jadi lebih mendalam dan berkepanjangan.

 

3. Bullying Fisik

Bullying fisik tentunya sudah melibatkan kekerasan yang melukai tubuh, seperti menyandung kaki saat sedang berjalan, menampar, menendang, memaksakan hukuman fisik (dipaksa lari, push up atau jalan jongkok misalnya), termasuk merusak barang-barang milik korban. Bullying fisik nggak hanya menimbulkan bekas luka dan memar di badan korban, tapi juga luka mental yang berbuntut panjang.

 

Berdasarkan medianya

1. Bullying secara langsung

Jenis bullying yang terjadi bisa berbentuk verbal, sosial atau pun fisik. Secara langsung berarti pelaku melakukan tindakannya pada pelaku secara langsung atau bertatap muka. Karena itu biasanya akan lebih mudah berujung pada kekerasan fisik.

 

2. Cyberbullying

Umumnya jenis tindakan yang dilakukan adalah verbal dan sosial, karena dilakukan melalui media online atau cyber seperti sms, chat, email, media sosial, kolom komentar di artikel online atau pun forum online. Bentuknya bisa berupa menuliskan teks atau gambar yang menyakiti atau mencela, atau dengan sengaja menyebarkan foto/video orang lain yang bersifat pribadi tanpa persetujuan pihak terkait.

Cyberbullying saat ini makin ramai karena tingginya penggunaan internet, khususnya medsos. Masih ingat kasus Cinta Kuya, anak Uya Kuya yang sempat stres dan trauma karena di-bully sejumlah warganet di Instagram karena kesalahpahaman soal pembagian gratis tiket konser boyband Kpop, BTS. Sedihnya pelaku cyberbullying ini kebanyakan anak sekolah yang sudah berani mengancam keselamatan jiwa korban. Mengkhawatirkan sekali bukan?

Memang cyberbullying jauh lebih mudah dilakukan karena pelaku nggak berhadapan langsung dengan korban. Ini juga yang membuat orang lain jadi lebih mudah ikut-ikutan. Termasuk bagi anak-anak yang saat ini hidupnya pasti lebih banyak dihabiskan untuk online main medsos atau membaca berita online. Jika nggak mendapatkan pengawasan yang cukup dari orang tua, bukan nggak mungkin sang anak akan sangat mudah terlibat cyberbullying. Baik itu sebagai pelaku, korban atau pun saksi.

 

Siapa saja yang terlibat dalam bullying?

1. Pelaku

Orang yang melakukan tindakan bullying. Umumnya bersifat mudah marah, merasa paling berkuasa dan ingin jadi yang paling diperhatian. Ya, pem-bully umumnya adalah anak-anak yang sesungguhnya, di rumahnya tau di balik layar monitor adalah anak yang kurang perhatian.

Mereka pun perhatian dan aktualisasi diri untuk akui dengan cara menindas orang lain. Ini jadi hal yang ‘menyenangkan’ bagi mereka karena membuat mereka merasa ‘lebih’ dibandingkan si korban.

 

2. Korban

Anak atau orang yang menerima tindakan bullying. Umumnya adalah anak yang terlihat berbeda baik itu dalam hal fisik mau sikap. Misalnya yang tubuhnya agak gemuk, agak pendek, sangat tinggi atau kurus, atau sangat pendiam dan pemalu.

Selain yang berbeda, yang biasanya di-bully juga adalah anak yang ‘paling’ sehingga menimbulkan rasa iri pada pem-bully. Misalnya anak yang dibilang paling cantik, paling pintar atau paling disukai teman dan kakak kelas, misalnya.

Umumnya jika anak itu memang tergolong lemah secara fisik dan mental, maka dia kan jadi sasaran empuk bullying untuk waktu yang lama karena nggak berani melawan atau melapor pada guru atau orang tua.

 

3. Saksi

Dia atau merek yang menyaksikan tindakan bullying berlangsung. Sayangnya masih bayak saksi yang hanya bisa diam, menonton saja. Memang nggak ikut mem-bully tapi mereka juga nggak melakukan tindakan apa-apa untuk menghentikannya. Bisa jadi karena nggak peduli, atau merasa takut karena akan ikut kena bully.

 

Artikel terkait: Anak bahagia, orang tua bahagia

  1. Dear Orang Tua, Prestasi Akademis Anak Ternyata Tidak Tentukan Kesuksesannya Kelak
  2. Wahai Orang Tua, Pola Asuhmu Memengaruhi Kebahagiaan dan Jumlah Penghasilan Anakmu Kelak
  3. Hai, Orang Tua! Mari Kenali serta Asah Minat dan Bakat Buah Hati Sedari Ia Kecil dengan 3 Langkah Berikut

 

Punya dampak dan derita masing-masing

1. Korban

Anak korban bullying umumnya akan mengalami depresi dan anxiety (kegelisahan). Kamu bisa melihat perubahan di pola tidur dan makan mereka, serta hilangnya minat di aktivitas yang biasanya digandrungi. Mereka juga seringkali beralasan untuk nggak berangkan sekolah sehingga prestasi di sekolah pun drop dan nggak jarang berujung pada drop out.

Korban biasanya akan kehilangan kepercayaan diri dan bisa merusak masa depannya jika didiamkan. Apalagi jika kasusnya sudah parah dan berkepanjangan, korban isa mengalami depresi berat hingga nekat balas dendam dengan tindakan kriminal atau malah bunuh diri.

 

Orang tua, lakukanlah:

Jika kamu mencurigai buah hatimu telah menjadi korban bully, namun sekolah sepertinya belum tahu, segera hubungi guru atau wali kelas. Prioritasnya adalah untuk meminta kerja sama sekolah agar bullying berhenti. Marah dan sedih pasti, tapi berusahalah untuk menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.

Selain itu, dengarkan dengan telaten cerita anak mengenai bully yang ia terima. Jangan serta merta menyalahkan anakmu dengan berkata: “Gitu aja kok udah nangis?” karena ini malah akan makin menjatuhkan kepercayaan dirinya.

Justru kamu harus memberi dukungan dengan membuat dia percaya diri bahwa dia nggak seperti yang dikatakan orang yang mem-bully dia. Juga yakinkan anakmu untuk selalu terbuka dan berani bercerita padamu atau guru jika dia jadi korba bully lagi.

 

2. Pelaku

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa pelaku ini umumnya sebenarnya adalah orang-orang yang kekurangan perhatian. Jika tindakannya nggak dihentikan, anak ini tumbuh menjadi anak yang sangat egois, selalu menganggap dirinya benar dan selalu merasa orang lain ada di bawah dia. Mungkin awalnya masih akan ada teman-teman dekat atau se-geng dia yang membela dan ikut-ikutan, namun lama-lama dia akan kehilangan teman.

Bahkan dikeluarkan dari sekolah atau mungkin terjerat hukum bisa jadi ancaman serius yang harus dia hadapi juga. Kalau anak lain fokus bermain dan belajar, fokusnya justru adalah mengganggu temannya. Ini jelasnakan membuat dia kehilangan banyak kesempatan untuk masa depannya.

 

Orang tua, lakukanlah

Jika kamu atau teman anakmu terrmasuk anak yang suka mem-bully, khususnya kalau masih kecil seperti SD atau SMP, selau menghukumnya dengan keras nggak jadi jaminan dia akan berhenti. Memberikan hukuman yang tegas di awal tetap diperlukan untuk memberikan efek jera.

Namun, yang lebih penting adalah anak tipe ini harus sadarkan dengan melakukan pendekatan pribadi dan perlahan. Hujani dia dengan perhatian dan pengertian kalau dia adalah sosok yang penting dan dicintai, sehingga dia nggak perlu menindas orang lain untuk mendapat perhatian atau pengakuan. Tindakan ini harus segera dilakuan sebelum dia terbentuk menjadi sosok bully hingga dewasa nanti.

Kalau perlu, ajak dia koseling dengan psikoloh untuk membantu mengontrol emosinya dan memahami bahwa apa yang ia lakukan itu salah dan melukai orang. Tentunya kamu dan pasangan sebagai orang tua wajib ikut dalam sesi konseling ini. JIka rutin dan sesuai anjuran psikolog, perbaikan dalam sikap dan emosi anak pun akan segera terlihat.

 

3. Saksi

Menjadi saksi kesanya mungkin bisa tenang saja karena toh nggak menjadi korban. Tapi jangan salah, menjadi saksi juga punya penderitaan sendiri. Saksi yang umumnya cuek nggak mau ikut campur, berarti cenderung punya sikap simpati dan toleransi yang rendah. Apalagi jika dia melihat temannya di-bully dengan parah tapi tetap cuek saja.

Atau ada juga yang sebenarnya dia peduli dan sedih tapi tetap membiarkan aksi bullying terjadi karena rasa takut. Takut ikut di-bully dan kemudian dimusuhi oleh pelaku, atau takut kalalu dia langsung membela, dia sendiri yang akan mederita alias takut kalah.

Kepedulian yang nggak bisa dia wujudkan ini bisa berubah jadi rasa bersalah yang teramat dalam, apalagi jika terus berlangsung. Memendam rasa bersalah ini juga nggak baik bagi perkembangan emosi dan mental si anak, lho. Dia bisa jadi terus merasa bersalah atau justru mencoba menjadikan dirinya aptis terhadap masalah ini.

Untuk itu, sebagai antisipasi, orang tua perlu menanamkan pada anaknya bahwa mereka harus berani melapor jika melihat ada teman mereka yang di-bully. Ya, setidaknya yakinkan mereka untuk melapor pada guru atau orang tua. Yakinkan kalau dengan melapor dia melakukan tindakan yang benar, dan bahwa nggak akan ada orang yang tahu bahwa dia yang melapor sehingga nggak perlu takut ikut di-bully oleh pelaku.

Masalah bullying ini memang cukup komplek dan pastinya wajib untuk dicegah dan dihentikan. Makanya peran kita sebagai orang tua, guru atau kakak, sangatlah dibutuhkan. Jadi, siap dong untuk lebih perhatian dan ikut ambil sikap terhadap masalah bullying ini? Setidaknya di lingkungan anak kamu sendiri ya.

 

Oh ya, selagi kamu di sini…

Kami punya informasi singkat yang sayang sekali dilewatkan. Sudahkah kamu tahu tentang Tunaiku? Tunaiku merupakan pinjaman cepat, mudah, tanpa agunan, tanpa kartu kredit. Tunaiku bisa jadi solusi finansial bagi kebutuhan-kebutuhanmu. Kebutuhan dadakan? Atau, butuh tambahan dana untuk kebutuhan tertentu? Kamu bisa ajukan Tunaiku!

 

Nggak mau ribet dan nggak pakai lama ajukan pinjaman? Klik di sini.

 

_______________________________________________________________________________________________

Populer

Butuh Pinjaman Tunai, Cepat, dan Mudah?

Estimasi cicilan per bulan Nett.
Tanpa biaya apapun

Rp.0,-Nett

Butuh Pinjaman Tunai, Cepat, dan Mudah?

Estimasi cicilan per bulan Nett.
Tanpa biaya apapun

Rp.0,-Nett