Pengetahuan yaitu berpikir mensyaratkan adanya pengetahuan (Knowledge) atau sesuatu yang diketahui agar pencapaian pengetahuan baru lainya dapat berproses dengan benar. Sedangkan secara etimologi kata “Filsafat” berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “Philio” (Cinta) “Sophia” (Kebenaran).

 

Menurut I.R Pudjawijatna (1963: 1), “Filo” artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin lalu berusaha mencapai yang diinginkannya itu. Adapun “sofia” artinya kebijaksanaan, bijaksana artinya pandai mengerti degan mendalam. Jadi, menurut namanya saja Filsafat boleh dimaknakan ingin mengerti dan mendalam atau cinta kebijaksanaan.

 

Kecintaan dan kebijaksanaan haruslah dipandang sebagai suatu bentuk proses, artinya segala upaya pemikiran untuk selalu mencari hal-hal yang bijaksana. Bijaksana mengandung dua makna yaitu baik dan benar, baik adalah sesuatu yang berdimensi etika.

 

Dilihat dari pengertian pengetahuan dan filsafat merupakan suatu cara berfikir denga keinginan berusaha melakukan sebuah aksi atau kegiatan aktif penelitian terhadap objek lain untuk mencapai tujuan kebenaran dan kenyataan dari suatu objek yang telah diamati agar dapat dijadikan sebuah pendapat yang dapat diterima orang lain dan tidak merugikan diri sendiri.

 

Menurut Sidi Gazalba, menyatakan bahwa ciri berfilsafat atau berpikir filsafat adalah: radikal, sistematis, universal. Radikal bermakna berfikir sampai keakar-akarnya tidak hanya sepintas, bahkan dengan berbagai konsekuensi nya dan tidakk terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima secara umum.

 

Sementara, sistematis artinya berpikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggung jawabkan. Universal artinya berpikir secara menyeluruh tidak hanya pada bagian-bagian khusus yang sifatnya terbatas.

 

Sementara itu, Sudarto menyatakan bahwa ciri-ciri berpikir filsafat adalah. Pertama Metodis, yaitu menggunakan metode atau cara yang lazim dipergunakan oleh ahli filsafat dalam proses berpikir. Kedua Sistematis, yaitu berpikir dalam suatu keterkaitan antara unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehinggga tersusun suatu pola pemikiran filosofis.

 

Ketiga, koheren, yaitu diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu yang bertenntangan dan tersusun secara logis. Keempat adalah rasional, yaitu mendasarkan pada kaidah berpikir yang bener dan logis. Kelima adalah komperensif, yaitu berpikir tentang sesuatu dari berbagai sudut.

 

Keenam, radikal, yaitu berpikir secara mendalam sampai keakar-akarnya atau sampai pada tingkatan esensi yang sedalam dalamnya. Ketujuh adalah universal, yaitu muatan kebenaranya bersifat universal, mengarah pada realitas kehidupan manusia secara keseluruhan.

 

Perkembangan filsafat diawali dengan menanyakan segala sesuatu dari kegiatan berpiir kita dari awal sampai akhir seperti dinyatakan oleh Socrates. Dalam perkembanganya kemajuan manusia dalam berfilsafat bukan saja diukur dari jawaban yang diberikan, namun dari pertanyaan yang diajukannya.

 

Sejarah perkembangan filsafat dan pengetahuan ilmu terdiri dari berbagai priode antara lain. Priode Aristoteles, Phytagoras, Heraklitus, Thales, Xenophanes, dan Parminides yang keseluruhanya merupakan priode dari masalalu sedangkan pemikiran zaman modern yaitu dengan cara metode pendekatan induktif dan deduktif.

 

Deduktif yaitu berawal dari cara kerja yang dilakukan dengan cara menarik kesimpulan berdasarkan fakta yang konkrit sebanyak mungkin. Sedangkan dedukatif kebalikannya dari induktif, kedua mnerima pertanyaan-pertanyaan dari hasil pembahasan yang dilakukan dalam meneliti suatu pendapat seseorang.

 

Ketiga melalui perkembangan IPTEK yaitu mengikuti perkembangan dari masa kemasa. Keempat melalui karya-karya para cendikiawan yang berupaya untuk memberikan landasan pengetahuan ilmu bagi para pembacanya.

 

Kesimpulanya adalah pada dasarnya filsafat merupakan sebuah cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, yaitu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Hingga saat ini perkembangan fillsafat masih terus berlanjut demi kesempurnaanya.

 

Sehingga, hal ini melahirkan cabang baru dalam kajiannya yaitu dengan dasar-dasar pengkajian yang meliputi hal-hal berikut,yakni ontologi (apa), epistemologi (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa) yang saling berkaitan. Jadi kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi ilmu.

 

Oleh: Damayanti Nasution, Puspa Dewi, Nurisa

Mahasiswa iaidu Asahan kisaran prodi MPI REGULER-TARBIYAH SEMESTER 2

 

Swara Kamu merupakan wadah untuk menyalurkan inspirasi, edukasi, dan kreasi lewat tulisanmu. Kamu bisa menyampaikan pendapat, pemikiran, atau informasi menarik seputar finansial dan karier. Setiap artikel Swara Kamu menjadi tanggung jawab penulis karena merupakan opini pribadi penulis. Tim Swara tidak dapat menjamin validitas dan akurasi informasi yang ditulis oleh masing-masing penulis.

 

Ingin ikut berbagi inspirasi? Langsung daftarkan dirimu sebagai penulis Swara Kamu di sini!