SWARA – Selama beberapa minggu terakhir, isu mengenai kondisi perekonomian negara yang terancam resesi menjadi pembicaraan hangat. Melihat tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II, ada kemungkinan bahwa Indonesia akan jatuh ke dalam jurang resesi apabila pertumbuhannya tidak membaik di kuartal III.Â
Dilansir dari Forbes, resesi merupakan penurunan kegiatan ekonomi secara signifikan yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Di masa resesi, banyak orang akan kehilangan pekerjaan, tingkat penjualan perusahaan menurun, dan pendapatan negara secara keseluruhan menurun.
Pandemi corona menjadi penyebab utama Indonesia terancam resesi. Berbagai kegiatan ekonomi dibatasi karena adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar. Dampaknya, tingkat pertumbuhan ekonomi menurun dan negara pun berpotensi mengalami resesi.
Negara yang Telah Masuk Fase Resesi Akibat Pandemi
Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang terancam mengalami resesi. Pandemi memberi dampak pada perekonomian secara global, sehingga negara-negara lain di dunia pun tidak terhindar dari ancaman ini.
Bahkan, beberapa negara di dunia sudah mengonfirmasi bahwa mereka masuk ke masa resesi sebagai akibat dari pandemi. Beberapa negara-negara tersebut antara lain:Â
-
Amerika Serikat
Sebagai negara maju, Amerika Serikat (AS) juga tidak terlepas dari serangan resesi. Pada kuartal II, negara ini mengalami minus hingga 32,9% dalam pertumbuhan ekonominya. Kontraksi pertumbuhan ekonomi dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya penurunan tajam pada konsumsi rumah tangga dan investasi.
-
Jerman
Dikutip dari Detik, perekonomian negara Jerman mengalami kontraksi hingga minus 10,1% di kuartal II 2020. Pada kuartal I pun, Jerman telah mengalami penurunan ekonomi mencapai minus 2,2%. Angka ini menandakan bahwa Jerman telah resmi memasuki fase resesi.Â
-
Korea Selatan
Korea Selatan merupakan salah satu dari beberapa negara pertama di Asia yang menyatakan telah resmi mengalami resesi. Dilansir dari Kompas, kinerja ekspor di negara tersebut telah mengalami kemerosotan selama dua dekade terakhir. Ditambah lagi, kebijakan social distancing selama pandemi menyebabkan penurunan konsumsi pasar terhadap hasil produksi mereka.Â
-
Hong Kong
Hong Kong telah mengalami resesi sejak sebelum pandemi corona melanda. Begitu pandemi terjadi, resesi di negara ini pun berlangsung lebih lama. Pertumbuhan ekonomi mereka di kuartal II 2020 minus sebesar 9%. Penurunan ini merupakan penurunan yang keempat secara berurutan sejak 2019.
-
SingapuraÂ
Di negara ASEAN, Singapura mengalami resesi dengan pertumbuhan ekonomi yang jauh terkontraksi, mencapai 42,9% di kuartal II. Pemerintah Singapura telah memproyeksikan hal ini, terlebih melihat situasi pandemi yang melanda. Dikutip dari Kompas, secara tahunan Singapura mengalami kemerosotan ekonomi hingga 13,2%. Â
Ancaman Resesi di Indonesia
Di akhir bulan Agustus, sejumlah pihak menyatakan bahwa Indonesia kemungkinan besar akan mengalami resesi di bulan depan. Hal ini didasarkan pada data pertumbuhan ekonomi yang belum mengalami peningkatan.Â
Dikutip dari CNN Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal III 2020 akan mencapai 0 hingga minus 2%. Apabila hal ini terjadi, Indonesia akan resmi mengalami resesi karena penurunan pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.
Sri Mulyani juga memprediksi tingkat konsumsi masyarakat yang masih lemah di kuartal III menjadi salah satu penyebab utama pertumbuhan ekonomi yang negatif.
Tidak hanya itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD juga menyebut bahwa Indonesia 99,9% akan mengalami resesi bulan depan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat konsumsi masyarakat yang masih rendah akibat pandemi.
Meski begitu, Mahfud juga menambahkan bahwa resesi bukanlah krisis ekonomi. Dilansir dari Detik, Mahfud menjelaskan bahwa Indonesia mampu menanggulangi resesi lewat kehidupan ekonomi rakyat agar resesi tidak berujung pada krisis ekonomi negara.
Jika Indonesia benar memasuki masa resesi, kemungkinan besar akan ada banyak pemutusan hubungan kerja yang terjadi di berbagai perusahaan. Permintaan dan konsumsi masyarakat mengalami penurunan, sehingga pihak perusahaan pun terpaksa untuk beradaptasi dan melakukan efisiensi.Â
Secara tidak langsung, hal ini akan menimbulkan pola negatif yang berkesinambungan. Banyaknya pemutusan hubungan kerja akan meningkatkan angka pengangguran. Semakin tinggi angka pengangguran, maka semakin tinggi pula angka kemiskinan di Indonesia. Akibatnya, daya beli dan pola konsumsi masyarakat akan terus mengalami penurunan.Â
Pernahkah Indonesia Mengalami Resesi?
Ancaman resesi di Indonesia bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, di tahun 1998, Indonesia juga pernah mengalami resesi. Saat itu, pertumbuhan ekonomi negara di semester I menurun hingga 12,23% dibandingkan dengan di tahun 1997.Â
Ada banyak sektor yang terdapat dari resesi di tahun 1998. Dilansir dari Kompas, salah satu sektor yang terkena dampak besar resesi adalah sektor pertambangan dan penggalian. Sektor tersebut mengalami kemerosotan hingga 3,34%. Berikutnya, sektor perdagangan, restoran, dan hotel mengalami minus hingga 19,28%.
Resesi yang terjadi di tahun 1998 disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Beban ekonomi menjadi bertambah, khususnya dalam hal pendanaan impor barang dan jasa serta pembayaran utang luar negeri.
Per Maret 1998, utang luar negeri yang dimiliki negara telah mencapai 138 miliar dolar AS. Sebanyak 20 miliar dolar AS di antaranya jatuh tempo atau harus dibayarkan di tahun 1998. Sementara, cadangan devisa negara saat itu hanya tinggal 14,44 miliar dolar AS.
Sejak resesi yang dialami di tahun 1998, Indonesia telah kembali bangkit dan memulihkan pertumbuhan ekonomi secara perlahan. Meski Indonesia akan kembali mengalami resesi akibat pandemi corona, tentunya kondisi ekonomi ini akan kembali membaik seiring berjalannya waktu.Â
Sebelum negara benar-benar masuk ke jurang resesi, kamu bisa mulai mempersiapkan diri dari sekarang untuk bertahan menghadapi resesi tersebut. Caranya adalah dengan mempersiapkan dana darurat dan mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak untuk saat ini.