SWARA – Berkumpul bersama keluarga besar ketika Lebaran tiba merupakan momen yang sangat berharga. Bertemu dengan kakek-nenek, om-tante, pakde-bude, sepupu, dan tentu saja dengan orangtua tercinta, adalah saat-saat yang paling membahagiakan setelah berbulan—bahkan bertahun lamanya tak bertemu. Tak jarang momen ini juga menjadi ajang interview non-formal antara anggota keluarga yang satu, dengan yang lainnya.

Meski terlihat perhatian, namun beberapa pertanyaan seringkali dapat membuat orang risih serta kesal—meski si penanya tak bermaksud demikian. Oleh karenanya, waspadai daftar pertanyaan serta ungkapan berikut ini ketika berkumpul dengan keluarga besar.

 

  1. “Kapan nikah?”

“Udah punya calon belum? Si A udah nikah lho, kamu kapan nyusul?”

Itulah beberapa pertanyaan tentang pernikahan yang kerap ditanyakan ketika Lebaran tiba. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seakan sudah terlalu mainstream, dan sudah jamak layaknya pertanyaan kapan dapat kerja? Kapan punya momongan? Kapan nambah anak?

Namun kamu yang masih dalam tahap perjuangan, tak ada salahnya membela diri dengan menjawab secara diplomatis seperti: “iya nih Tante. Belum ada calon. Lagi cari yang sholehah, cantik, pinter, tinggi semampai kayak Tara Basro. Mungkin Tante punya kandidat?”

Dijamin tantemu langsung diam. Atau yang lebih bijak seperti: “Aku nggak pengen buru-buru nikah om, pengen nyenengin ortu dulu.”

  1. ”Sekarang kerja dimana?”

“Kamu sekarang kerja dimana? Jadi apa? Itu si B udah diangkat jadi PNS lho! Wah, si anu udah mau jadi dokter ya? Kamu nggak pengen kerja di pertambangan kayak si itu? Gajinya gede lho!

Dan seabreg ungkapan sejenis yang secara tak langsung menyudutkanmu. Yang harus kamu ingat adalah rejeki orang itu berbeda-beda, jadi nggak perlu risih serta malu kalau sekarang kamu masih jadi karyawan kontrak dengan gaji pas-pasan. Toh yang penting kerjaanmu halal, kamu nggak maling, kamu bukan koruptor, dan kamu bukan mafia anggaran.

  1. “Enak ya jadi si C, dapet beasiswa ke luar negeri.”

Mungkin ada sepupu atau saudaramu yang dapat beasiswa ke luar negeri. Jika kebetulan dia ikut kumpul keluarga, tak perlu ragu untuk tanya-tanya tentang beasiswanya itu. Gimana cara pengajuannya, proses seleksinya, syarat-syarat yang mesti dikumpulkan, dan sebagainya. Pokoknya basa-basi gitu, deh. Hal ini lebih baik daripada iri dan ngomongin orang di sudut ruangan.  

  1. “Sekarang lagi sibuk apa?”

Pertanyaan terakhir ini adalah pertanyaan yang lebih halus dan tidak frontal seperti pertanyaan di poin-poin sebelumnya. Biasanya yang bertanya seperti ini adalah mereka yang memiliki empati tinggi dan pernah mengalami pengalaman seperti kamu, bahwa dicecar pertanyaan basi seperti di atas itu bener-bener nggak enak.

 

Meski perasaanmu campur aduk bak gado-gado ketika dilontarkan pertanyaan seperti di atas, kamu harus tetap sabar, percaya diri, dan nggak boleh marah. Ingat! Lebaran adalah momen silaturrahim, kamu mesti bisa mengontrol diri dan anggap saja pertanyaan-pertanyaan itu sebagai angin lalu. Kalau bisa sih, hadapi saja dengan cuek bebek. Jangan sampai pasang muka kikuk.

 

Punya pengalaman sejenis? Yuk ceritakan di kolom komentar. 🙂