SWARA – Pernah merasa kondisi keuangan mulai tidak sehat, seperti utang menumpuk, arus kas seret, dan kewajiban terasa semakin berat? Situasi seperti ini bisa menjadi tanda awal financial distress. Sebenarnya, apa itu financial distress dalam istilah keuangan? 

 

Memahami apa itu financial distress penting agar kamu bisa mengenali ciri-cirinya sejak dini dan segera mengambil langkah perbaikan. Dengan deteksi yang tepat, risiko yang lebih besar seperti gagal bayar hingga kebangkrutan bisa dihindari sebelum terlambat. Yuk, simak pengertian, penyebab, dan cara mengatasi financial distress berikut!

 

Apa Itu Financial Distress?

Financial distress adalah kondisi ketika seseorang atau bisnis mengalami kesulitan keuangan serius hingga kesulitan memenuhi kewajiban finansialnya. Kewajiban ini bisa berupa cicilan, biaya hidup, tagihan rutin, atau kebutuhan penting lainnya.

 

Financial distress bisa menjadi kondisi yang berkelanjutan, di mana pengeluaran terus lebih besar daripada pemasukan, utang atau pinjaman makin menumpuk, dan tidak ada ruang bernapas secara finansial.

 

Hal yang berbahaya ialah kondisi ini sering tidak langsung terasa dan baru disadari saat kondisinya sudah cukup parah. Misalnya, mulai telat bayar cicilan, harus gali lubang tutup lubang, atau mengandalkan utang untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Apa Ciri-ciri Financial Distress yang Tidak Disadari?

Financial distress tidak selalu ditandai dengan rekening kosong. Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai berikut ini. 

 

  • Gaji habis sebelum akhir bulan, bahkan untuk kebutuhan dasar.
  • Mengandalkan paylater atau kartu kredit untuk belanja harian.
  • Utang terasa makin berat, meski nominalnya tidak bertambah drastis.
  • Tidak punya dana darurat atau dana darurat sudah habis terpakai.
  • Stres berlebihan saat membahas uang, cicilan, atau tagihan.

 

Kalau beberapa tanda ini terasa relate, kemungkinan kondisi keuangan kamu perlu dievaluasi lagi untuk menghindari kondisi yang lebih parah. 

 

Baca juga: Hati-hati, Financial Stress Bisa Mengacaukan Hubunganmu

 

Penyebab Financial Distress

Financial distress jarang terjadi karena satu faktor saja. Biasanya, kondisi ini terjadi dari kombinasi beberapa hal berikut.

 

1. Pengelolaan Keuangan yang Kurang Tepat

Jika kamu tidak mencatat pengeluaran dan membelanjakan uang tanpa perencanaan, hal ini bisa membuat keuanganmu berjalan tanpa arah. 

 

Akibatnya, pengeluaran kecil yang terlihat sepele justru menumpuk dan menjadi masalah besar, yang menjadi awal mula terjadinya financial distress. 

 

2. Pendapatan Tidak Stabil

Beberapa pekerja dengan status pekerja kontrak, pekerja lepas (freelance), dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sering menghadapi penghasilan yang naik turun. 

 

Namun, tanpa perencanaan yang matang, kondisi ini mudah memicu financial distress, apalagi jika gaya hidup mengikuti saat pendapatan sedang tinggi. 

 

3. Beban Utang Terlalu Besar

Cicilan rumah, kendaraan, kartu kredit, paylater, hingga pinjaman online bisa terasa ringan jika dilihat satu per satu. Namun, ketika digabungkan, totalnya bisa menyedot sebagian besar penghasilan bulanan.

 

4. Kondisi Darurat yang Datang Tiba-Tiba

Biaya kesehatan, musibah, atau kehilangan pekerjaan bisa langsung mengguncang keuangan, terutama jika tidak punya dana darurat yang cukup.

 

Baca juga: Milenial Rentan Stress, Keuangan Menjadi Sumber Penyebabnya

 

Cara Mengatasi Financial Distress Secara Bertahap

Kabar baiknya, financial distress bukan akhir segalanya. Setelah mengetahui apa itu financial distress, kamu bisa mengikuti beberapa langkah untuk keluar dari kondisi ini.

 

1. Evaluasi Kondisi Keuangan Secara Menyeluruh

Langkah pertama yang harus dilakukan ketika mengalami financial distress adalah memahami kondisi keuangan secara utuh dan jujur.

 

Mulailah dengan mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran, termasuk cicilan, tagihan rutin, serta kewajiban lain yang sering terlewat. 

 

Dengan melihat data secara konkret, kamu bisa mengetahui sumber utama penyebab financial distress, apakah itu dari beban utang, gaya hidup, atau turunnya pendapatan. 

 

2. Atur Ulang Prioritas Pengeluaran

Setelah mengetahui posisi keuangan, langkah berikutnya adalah menyusun ulang prioritas. Dalam kondisi ini, kamu perlu prioritaskan kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, dan kesehatan. 

 

Pengeluaran yang bersifat hiburan atau belanja impulsif sebaiknya dikurangi sementara. Penyesuaian ini bukan berarti harus hidup serba kekurangan, melainkan bentuk pengendalian diri agar kondisi tidak memburuk. 

 

3. Susun Strategi Pelunasan Utang

Utang sering menjadi faktor utama financial distress. Oleh sebab itu, penting untuk menyusun strategi pembayaran yang terencana. 

 

Kamu bisa memprioritaskan utang dengan bunga tertinggi agar beban bunga tidak semakin besar, atau melunasi utang kecil lebih dulu untuk membangun motivasi. 

 

Jika cicilan terasa berat, jangan ragu untuk berkomunikasi dengan pihak pemberi pinjaman guna mencari opsi restrukturisasi dan meringankan beban finansialmu.  

 

4. Tingkatkan Sumber Penghasilan Tambahan

Selain menekan pengeluaran, meningkatkan pemasukan juga tak kalah penting. Kamu bisa mencari penghasilan tambahan melalui pekerjaan sampingan, proyek freelance, atau usaha kecil lainnya. 

 

Bahkan, tambahan nominal yang tidak terlalu besar tetap berdampak signifikan jika dikelola dengan disiplin. Kuncinya adalah memanfaatkan skill atau peluang yang realistis sesuai kondisi kamu saat ini.

 

5. Bangun Dana Darurat Secara Bertahap

Walaupun sedang berada dalam tekanan finansial, menyisihkan sebagian kecil dana untuk tabungan tetap diperlukan. Tidak perlu langsung menargetkan jumlah besar, yang terpenting adalah konsistensi. 

 

Dana darurat berfungsi sebagai pelindung ketika terjadi kejadian tak terduga, sehingga kamu tidak kembali bergantung pada utang. Dengan kebiasaan menyisihkan dana secara rutin, rasa aman finansial perlahan akan terbentuk kembali.

 

6. Perbaiki Pola Pikir dan Kebiasaan Finansial

Mengatasi financial distress tidak hanya soal angka, tetapi juga perubahan pola pikir. Kamu perlu evaluasi kebiasaan konsumtif, penggunaan kartu kredit, atau keputusan finansial yang kurang terencana di masa lalu. 

 

Bangun kebiasaan baru yang lebih sehat, seperti membuat anggaran bulanan dan mengevaluasinya secara rutin. Dengan mindset yang lebih bijak dan disiplin yang konsisten, risiko mengalami financial distress di masa depan dapat diminimalkan. 

 

Baca juga: Mengapa Pinjaman Modal Penting untuk Bisnis? Ini 7 Manfaatnya

 

Ajukan Pinjaman Secara Bijak di Tunaiku by Amar Bank 

Itu tadi penjelasan apa itu financial distress, penyebab, dan cara mengatasinya. Dalam kondisi tertentu, produk pinjaman atau kredit bisa menjadi alat bantu. Kuncinya ada pada cara penggunaannya.  

 

Pinjaman yang tepat dapat membantu menutup kebutuhan mendesak atau menambah pendapatan, selama digunakan dengan perhitungan matang dan tujuan yang jelas.

 

Salah satu contoh layanan pinjaman digital yang bisa dipertimbangkan adalah Tunaiku by Bank Amar. Tunaiku menawarkan pinjaman tanpa agunan hingga Rp30 juta dengan skema cicilan yang jelas. Syaratnya juga cukup mudah, hanya dengan KTP, NPWP, dan mengisi formulir sesuai ketentuan. 

 

Kamu bisa menggunakan pinjaman ini untuk modal dana usaha dan menambah peluang pendapatan. Dengan perencanaan yang tepat dan pemanfaatan secara bijak, financial distress sangat mungkin untuk diatasi.