Permainan merupakan suatu kontes antara pemain yang berinteraksi satu sama lain dengan berpedoman pada aturan-aturan yang ada untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Berbicara terkait permainan identik dengan kegiatan anak-anak/

 

Maka dari itu, permainan dapat diartikan sebagai suatu media interaksi antara anak-anak yang didalamnya termuat aturan dan hal-hal yang menyenangkan untuk mencapai tujuan tertentu. Permainan juga tidak terlepas dari media yang digunakan atau alat yang dipergunakan.

 

Alat permainan merupakan semua alat bermain yang dapat memenuhi naluri dalam pelaksanaan permainan dan memiliki berbagai macam sifat, diantaranya bongkar pasang, pengelompokan atau penggolongan, memadukan, merangkai, membentuk, atau menyusun sesuai dengan bentuk awal atau aslinya. Dengan demikian, alat atau media permainan sangat berpengaruh terhadap permainan yang akan dilakukan oleh anak-anak.

 

Belajar dari permainan tradisional yakni ular tangga, dalam permainan ini mengajarkan konsep angka dan bilangan, dengan demikian anak dapat berlatih berhitung, belajar teliti dengan menyesuaikan jumlah mata dadu dengan pergerakan anak dadu (bidak).

 

Kemudian juga melatih kedisiplinan dalam menunggu giliran menjalankan bidak dan membangun kepercayaan terhadap diri sendiri dalam berhitung yang menjadi dasar bagi anak untuk mengembangkan kemampuan matematikanya.

 

Permainan Tradisional Ular Tangga Edukasi (PTUTE) permainan yang terbenam pada era sekarng ini yang penulis kembangkan dan berkeinginan melestarikannya kembali yang barang kali untuk anak-anak zaman sekarang tidak mengetahuinya.

 

Penulis berinovasi dari permainan tradisional ini dapat dikembangkan dengan memasukan unsur edukasi dalam menjalankan atau melakukan permainan tersebut, seperti memberikan soal-soal yang penulis sertakan dalam kolom-kolom atau kotak-kotak permainan ular tangga.

 

Dalam pengembangan ini penulis berdominan pada soal-soal Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) disamping soal-soal IPA penulis juga menyertakan soal-soal matematika, umum (kebudayaan, lagu-lagu daerah, dan lainnya), serta soal-soal keagamaan.

 

Untuk desainnya sama seperti ular tangga pada umumnya, yaitu adanya tangga yang di camkan sebagai sebuah keberuntungan jika mendapatkannya sebab akan mempercepat langkah menuju finish dan ular sebagai rintangan tambahan selain dari soal-soal yang sudah menjadi tantangan bagi anak-anak yang bermain.

 

Ketika menjumpai tangga disana berisi beragai perintah-perintah yang menjadi salah satu cara penulis untuk mengingatkan dan menyadarkan rasa nasionalisme dan cinta akan tanah air, seperti ketika naik tangga menyanyikan lagu-lagu nasional atau dengan melafalkan sila-sila dalam pancasila kemudian beralih kepada unsur religi seperti ketika naik tangga sambil melafalkan kalimat “Allah Huakbar” atau kata kebesaran Allah yang lain, bersholawat dan hal lainnya.

 

Di dalam kotak-kotak lain yang berisi pertanyaan anak-anak dituntut mampu menjawab pertanyaan yang mereka dapat untuk dapat melanjutkan langkah mencapai finish. Dengan adanya pertanyaan tersebut diharapkan para pemain tertantang dan tidak terasa bahwasannya mereka sedang melakukan permainan sambil belajar.

 

Hal berbeda dari desain PTUTE ini adalah kotak istimewa dan kotak hukuman, seperti kartu kesempatan dan dana umum pada permainan monopoli, kotak ini sebagai reward bagi pemain yang beruntung berhenti di kotak tersebut, dan merupakan sebuah petaka dan tidak keberuntungan bagi mereka yang menempati kotak tersebut. Desain yang dibuat berwarna monokrom, dengan memasukkan stiker-stiker virus sesuai dengan keadaan sekarang ini.

 

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, setelah menerapkan permainan ular tangga edukasi ini, peneliti menemukan rendahnya pengetahuan anak terkait pengetahuan umum, serta kebudayaan yang ada di indonesia jangankan indonesia kebudayaan daerah sendiri dan hal-hal mendasar seperti lagu-lagu nasional milik negara sendiri anak-anak banyak tidak mengetahuinya.

 

Sangat disayangkan minimnya pengetahuan dan rasa cinta tanah air pada generasi sekarang, disebabkan tidak diadaknnya upacara bendera yang saat ini sangat dibatasi menjadi salah satu pemicu rendahnya rasa nasionalisme pada anak. Penunjang pembelajaran sangatlah dibutuhkan untuk memberikan pemahaman yang lebih terhadap materi dan pengetahuan umum lainnya.

 

Oleh karena itu, penulis menciptakan media berupa permainan tradisional ular tangga edukasi (PTUTE) sebagai penunjang pembelajaran.

 

Permainan Tradisional Ular Tangga Edukasi (PTUTE) dapat diterapkan pada media pembelajaran dengan catatan guru dapat membatasi waktu permainan sesuai dengan kebutuhan, dan untuk tantangan seperti bentuk soal dapat disetarakan dan sesuai dengan kebutuhan.

 

Swara Kamu merupakan wadah untuk menyalurkan inspirasi, edukasi, dan kreasi lewat tulisanmu. Kamu bisa menyampaikan pendapat, pemikiran, atau informasi menarik seputar finansial dan karier. Setiap artikel Swara Kamu menjadi tanggung jawab penulis karena merupakan opini pribadi penulis. Tim Swara tidak dapat menjamin validitas dan akurasi informasi yang ditulis oleh masing-masing penulis.

 

Ingin ikut berbagi inspirasi? Langsung daftarkan dirimu sebagai penulis Swara Kamu di sini!