SWARA – Perkembangan media sosial saat ini sangat pesat. Hal ini memunculkan potensi begitu juga halnya dengan keberadaan para buzzer yang ramai dibicarakan oleh publik di berbagai media sosial. Tentunya keberadaan buzzer banyak mempengaruhi opini publik yang menjadi keresahan bagi masyarakat. Biasanya buzzer membuat konten agar menjadi trending topic ataupun viral yang nantinya tersebar luas di masyarakat.

 

Apa Itu Buzzer?

Buzzer adalah seseorang yang sering dikenal tanpa ada identitas (anonymously). Biasanya, seorang buzzer sering dikaitkan dengan dengan motif politik/ideologi maupun ekonomi dengan tujuan memecah opini publik melalui media sosial.

 

Ada dua jenis buzzer, yakni buzzer sukarela dan yang dibayar. Tentunya para buzzer bekerja punya target seperti agar dibaca oleh banyak orang, hal ini menjadi tuntutan bagi para buzzer oleh si pemberi proyek. Seperti yang dilansir dari Detikfinance,  Raharja, salah satu mantan buzzer, ia memiliki prinsip bahwa dalam memberikan berita ia tidak akan menyebarkan fitnah, untuk itu dia memilih menggunakan berita online yang sudah terpercaya. Dalam melakukan pekerjaannya, ia mengikuti keinginan klien. Buzzer dengan motif komersial biasanya cenderung lebih rapi jika ditinjau dari perekrutan hingga proses kerjanya. 

 

Selain buzzer berbayar, Raharja juga memaparkan adanya buzzer tidak berbayar alias sukarela Menurut Raharja, buzzer sukarela bekerja dan menyebarkan informasi murni karena kecintaannya terhadap sesuatu. Sejalan dengan Raharja, salah satu pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan bahwa buzzer ada yang dibayar dan tidak. Seseorang yang menjadi buzzer secara sukarela biasanya menyebarkan informasi karena ada motif ideologi ataupun kesepahaman dengan isu tertentu. Dari segi motif, buzzer berbayar, umumnya memiliki motif ekonomi, yang mana selain untuk mendukung, ia juga profesional di bidang tersebut sekaligus mendapat bayaran.

 

Apa yang dilakukan buzzer di media sosial? 

 

Kemunculan buzzer diawali dengan adanya kebutuhan untuk menyebarkan isu dari si pemberi proyek. Hal ini dilakukan para buzzer untuk menggiring opini publik yang penuh dengan ketidakpastian.

 

Seperti di tahun 2014, saat pemilu di Indonesia, buzzer memasuki dunia politik. Peran buzzer dalam aktivitas politik membuat konten di sosial media seperti di twitter, dengan tujuan mengkampanyekan pasangan calon tertentu. Misalnya buzzer membuat hashtag yang nantinya akan trending dan dilihat oleh publik. 

 

Hal tersebut dibuat demikian untuk memperluas informasi agar cepat diketahui oleh publik, dan tentunya hal ini akan menjadi trending topic. Cara kerja buzzer untuk memperkuat konten yang nantinya akan di re-share ataupun repost  ke grup lainnya seperti whatsapp yang nantinya akan semakin viral. Dimana hal tersebut akan membentuk opini publik yang belum tentu tahu kejelasannya.

 

Bahkan, seringkali informasi  yang beredar tidak tahu sumbernya darimana. Hal ini membuat seolah-olah harus memutuskan sendiri untuk percaya pada keputusan sendiri. Walaupun hal ini tidak tahu kebenarannya.

 

Namun secara umum, keberadaan buzzer di media sosial tidak masalah, karena ini adalah konsekuensi logis dari perkembangan teknologi. Menurut pengamat politik, Zaenal A Budiyono, kita tidak mungkin menolak keberadaan buzzer karena media sosial memberi ruang dalam memperluas informasi.

 

Baca Juga : 10 Alasan Bisnis Perlu Media Sosial

 

Bayaran hingga Rp6 juta

Saat ini media sosial bisa menjadi peluang yang menjanjikan, karena dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan mudahnya masyarakat dalam berkomunikasi dan menerima informasi. Hal ini menjadi peluang bagi buzzer dalam mempengaruhi opini publik, karena untuk membuat sesuatu menjadi trending topic bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

 

Pendapatan buzzer tergantung pada proyek yang dikerjakan. Raharja, seorang mantan buzzer mengatakan, “Dari segi sisi gaji pendapatannya memang lumayan, diatas 6 juta. Menjadi buzzer merupakan hal yang seru. Namun kalau kita pragmatis tidak ada karir”,  katanya. 

 

Awan, salah satu mantan buzzer politik mengatakan, “Awalnya, saya senang dengan gaji cukup gede untuk anak seumuran saya, dan juga saya bisa tahu kondisi politik dari ring pertama (Presiden dan DPR-MPR), diajak rapat dan diundang konsolidasi bareng. Di samping itu, bekerja sebagai buzzer memiliki tuntutan kerja yang tinggi. Sayangnya, buzzer tidak ada kontrak yang jelas, sehingga membuat ribet”.

 

Dari segi pendapatan, menjadi buzzer adalah hal yang menguntungkan. Namun ini kembali lagi kepada prinsip buzzer dalam menyebarkan berita. Hal ini tergantung dari tujuan dan niat buzzer dalam menggiring opini publik. 

 

Dengan demikian diharapkan buzzer dapat menyebarkan isu yang dapat dipertanggungjawabkan agar isu yang disebarkan tidak mengandung hoax. Semestinya sebagai buzzer yang profesional akan mempertimbangkan semua informasi yang akan digiring ke publik nantinya, agar tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat.

 

Oleh karena itu kita dituntut untuk menggunakan media sosial dengan cerdas agar tidak mudah termakan hoax yang beredar. Sebelum termakan oleh berita tersebut ada baiknya kita melakukan kajian lebih dalam terhadap suatu isu. Diharapkan juga media sosial dapat menjadi salah satu  platform yang mampu menggiring opini secara sehat dan berkesinambungan agar dapat memilah-milah isu yang bertebaran.