Istilah hustle culture mulai ramai diperbincangkan sejak kata majemuk ini viral dalam utas di media sosial Twitter maupun menjadi pembahasan dalam konten di Tiktok.

 

Hustle culture adalah sebuah standar sosial yang menganggap kebebasan finansial atau financial freedom hanya dapat diraih dengan cara bekerja keras.

 

Tidak hanya mendorong orang bekerja melewati batas kemampuan untuk mencapai tujuan finansial, budaya ini juga menempatkan pekerjaan di atas kepentingan lain, termasuk keluarga.

 

Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah hustle culture akan menjamin membuat harta kita melimpah?

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mengulas terlebih dahulu eksistensi dari hustle culture.

 

Asal budaya hustle culture

Dilansir dari Headversity, budaya gila kerja atau hustle culture berakar dari kebiasaan masyarakat yang kerap lebih menghargai individu pekerja keras.

 

Masyarakat di berbagai belahan dunia terlanjur memberi hegemoni pada para konglomerat atau orang kaya yang punya latar belakang pekerja keras. dengan embel-embel banyak pengorbanan dalam kehidupannya.

 

Media sosial juga punya pengaruh kuat membuat budaya gila kerja ini menjadi tren bekerja para generasi milenial.

 

Padahal kenyataannya, tidak semua pekerja keras dijamin mendapatkan kemakmuran.

 

Kamu bisa bayangkan, sekeras apapun kerja seorang karyawan swasta selama bertahun-tahun, tidak mungkin dapat mengejar kemakmuran dari pemilik perusahaan atau atasannya.

 

Meskipun karyawan tersebut sudah banyak mengorbankan waktunya bersama keluarga tercinta.

 

Justru kemakmuran dicapai lewat kerja cerdas melalui inovasi dan pengembangan kemampuan diri tanpa henti, serta dukungan moril dari keluarga dan orang-orang terdekat.

 

Dampak terjerat hustle culture

 

stress hustle culture

 

Mereka yang sudah terjebak pada hustle culture akan sulit untuk bisa beristirahat atau fokus terhadap hal lain di luar pekerjaan.

 

Jika saat beristirahat atau berlibur bersama orang-orang terdekat kamu tetap memikirkan pekerjaan, maka tandanya kamu mulai terjerat pada budaya kerja keras tanpa henti ini.

 

Dilansir dari Daily Star, berikut dampak-dampak negatif jika kamu mulai terjebak dalam budaya hustle culture.

 

  • Hormon stres meningkat

Dengan memaksakan pola pikir untuk terus memprioritaskan pekerjaan maka otak akan terus menerus melepaskan hormon kortisol atau hormon stres dalam jumlah yang besar.

 

Untuk meredakan hormon ini, tubuh perlu memasuki masa istirahat. Sayangnya pikiranmu yang sudah terjebak dalam hustle culture tidak akan membiarkan tubuh dan kesadaranmu beristirahat secara optimal karena terus memikirkan pekerjaan.

 

  • Berat badan meningkat

Dilansir dari alodokter, fungsi utama hormon kortisol adalah menyediakan energi yang melimpah bagi tubuh dalam bentuk gula dan glukosa.

 

Jika hiruk-pikuk pekerjaan akibat tanpa kenal waktu ini akan membuat kita tidak punya cukup waktu untuk berolahraga dan beristirahat, maka gula dan glukosa dalam tubuh hanya akan menjadi timbunan lemak yang membuat berat badanmu meningkat.

 

  • Kesehatan fisik dan mental terganggu

Stres yang terus menerus ini dapat membahayakan kesehatan mental dan fisik Anda. Peningkatan kadar kortisol yang berkepanjangan dikaitkan dengan berbagai efek merugikan diantaranya kecemasan, depresi, penyakit jantung, gangguan memori.

 

  • Produktivitas terganggu

Dilansir dari Headversity, penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan tingkat stres menyebabkan penurunan produktivitas profesional.

 

Untuk menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, karyawan harus mencapai kepuasan dan kenyamanan dalam bekerja ketimbang sekadar meningkatkan beban kerja mereka.

 

Data juga menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara kesejahteraan dan produktivitas. Jika individu tenang dan kurang stress, maka mereka mengalami peningkatan produktivitas.

 

Jadi, dengan menempatkan diri dalam hustle culture yang punya tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan taraf hidup justru malah menjadi paradoks, karena budaya hustle malah mengganggu produktivitas.

 

  • Hubungan keluarga menjadi kurang harmonis

Terlalu fokus dan memprioritaskan pekerjaan juga akan membuat waktu yang bisa kamu luangkan untuk keluarga dan orang terkasih menjadi sangat minim.

 

Kondisi tersebut dapat memicu hubungan keluarga menjadi tidak harmonis. Bekerja terlalu keras membuatmu tidak bisa menjamin dapat meluangkan akhir pekan maupun hari libur nasional bersama keluarga.

 

Dampak negatif ini menjadi sebuah paradoks juga sama seperti soal produktivitas. Pasalnya, bukankah kerja keras yang kita lakukan adalah sebuah dedikasi untuk kebahagiaan keluarga dan orang terkasih?

 

Cara keluar dari hustle culture

 

stop hustle culture

 

Setelah mengetahui berbagai macam dampak negatif dari budaya hustle, maka rasanya kita bisa sepakat bahwa hustle culture adalah tren yang perlu kita hindari.

 

Dirangkum dari Headversity, berikut adalah langkah-langkah yang perlu kamu lakukan untuk keluar dari jebakan hustle culture.

 

  • Bangun kesadaran

Dengan menyadari bahwa kamu sudah terjebak dalam budaya hustle culture, maka kamu punya dasar yang kuat untuk melakukan perubahan.

 

Sadarilah bahwa hasil dari kerja kerasmu yang gila-gilaan tidak akan cukup untuk membeli waktu yang seharusnya kamu dedikasikan untuk pasangan dan anakmu.

 

Tolong disadari juga bahwa budaya hustle culture hanya akan menurunkan kondisi kesehatan tubuhmu yang seharusnya kamu jaga dengan baik agar bisa melihat tumbuh kembang anak-anakmu hingga dewasa nanti.

 

  • Tentukan prioritas hidupmu

Perjelas tujuan dan prioritas hidup yang ingin kamu capai dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan. Apakah menjalani hustle culture dapat membuat tujuanmu tercapai?

 

Jika kamu sudah yakin bahwa jawabannya tidak, maka buatlah perencanaan yang matang mengenai cara kamu untuk mencapai tujuan dan kemakmuran hidup.

 

  • Beri “self reward” saat ini, bukan nanti

Budaya hustle culture dibangun di atas sebuah pondasi yang meyakini bahwa kerja kerasmu suatu hari nanti akan terbayar.

 

Saya sangat menyarankan kamu untuk memutus siklus ini dengan menanamkan pemahaman bahwa kerja kerasmu saat ini, harus terbayar saat ini.

 

Jika dalam sepekan penuh kamu sudah bekerja keras, maka dedikasikanlah akhir pekanmu. Entah itu untuk nonton film di bioskop atau makan malam di restoran favorit bersama keluarga.

 

Asal kamu tahu, memberikan self reward adalah hal yang mujarab dalam membangun ketahanan mental sembari mencegah kelelahan fisik.

 

  • Cintailah diri sendiri

Kalau kamu sudah bekerja keras, maka kamu perlu beristirahat ataupun bersenang-senang secara keras juga.

 

Cintailah dirimu sendiri melebihi pekerjaan yang kamu jalani karena banyak orang di sekelilingmu yang juga sangat mencintaimu.

 

Menjalani rutinitas pekerjaan secara profesional adalah hal yang penting. Tapi mencintai dirimu sendiri dengan tidak membiarkan dirimu larut dalam rutinitas tersebut lebih penting lagi.

 

Semoga tulisan ini dapat membantumu untuk memahami apa itu hustle culture dan membangkitkan kesadaran untuk tidak terjebak dalam hustle culture.

 

Selamat bekerja dan jangan lupa untuk cintai dirimu dan orang-orang di sekelilingmu.