SWARA – Rasa sedih, kecewa, marah dan putus asa tentunya adalah sesuatu yang normal. Namun, terkadang di lingkungan kita tidak memberi kesempatan pada kita untuk meluapkan segala emosi negatif tadi. Kita dituntut untuk selalu stay positive  di setiap keadaan.

 

Pada kenyataannya, kita tidak mungkin ada di fase bahagia terus. Jika kamu berpura-pura terlihat bahagia padahal kenyataanya kamu tertekan, bisa jadi kamu mengalami toxic positivity. Saya pernah sekali ketika mendapat nilai ulangan rendah dan teman saya mengatakan,  ‘Santai aja, masih banyak kok yang lebih rendah dari kamu” ataupun “Ih, kamu kurang bersyukur.” Awalnya hal ini membuat saya senang. Tanpa disadari, lama-kelamaan hal ini bisa menjadi toxic positivity. Mengapa begitu?  Toxic positivity ternyata tidak memberi kesempatan pada diri saya  untuk meluapkan rasa sedih yang saya alami. 

 

Apa Itu Toxic Positivity?

Menurut Pyschology Today, toxic positivity merupakan istilah di mana kamu mengabaikan emosi negatif yang kamu rasakan. Kamu cenderung selektif dalam mengekspresikan perasaan, bisa dibilang “Maunya positive vibes aja deh!” 

 

Secara tidak langsung, kamu dituntut untuk selalu positif tanpa memberi kesempatan untuk meluapkan seperti rasa sedih, kecewa, marah, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Kamu tidak seharusnya memendam perasaan yang kamu rasakan karena  dapat memberikan efek negatif terhadap kesehatan mental.

 

Salah satu ahli Psikologi, Konstantin Lukin mengatakan, bila kamu dengan sengaja menghindari perasaan emosi negatif, emosi ini akan menumpuk dan menjadi emosi negatif yang lebih besar karena tidak diproses. Padahal, memiliki emosi sangatlah manusiawi. Bila kamu menghindari emosi yang sebenarnya sangat wajar untuk dirasakan, kamu akan kehilangan informasi berharga seperti ketika kamu takut, sebenarnya emosi kamu mengatakan bahwa kamu lebih berhati-hati dengan lingkungan kamu. Sebenarnya, emosi adalah bagian dari sistem pertahanan diri yang dimiliki oleh semua orang. Bila tidak pernah dipakai, tentu saja akan tumpul.

 

Oleh karena itu ada baiknya kamu tidak mengabaikan perasaan yang kamu rasakan.Setelah kamu mengetahui apa itu toxic positivity, kamu bisa mulai mencegah dirimu terjebak dalam toxic positivity. Apa saja tanda-tanda yang bisa menjadi warning bagimu?

 

Baca Juga : 7 Masalah yang Dianggap Sepele tapi Jadi Tanda Toxic Relationship, Hati-Hati!

 

1. Hanya menerima emosi positif

Wajar saja kalau kamu mengalami sedih atau putus asa, kamu tidak perlu menutupinya. Terlalu banyak dorongan yang positif bisa berdampak negatif terhadap mental. Kenapa begitu? Kamu tidak memberi kesempatan pada dirimu untuk meluapkan rasa sedihmu. Jika seseorang mengatakan kepadamu untuk tidak bersedih atau kecewa terhadap suatu kejadian, banyak orang tidak sadar bahwa menekan emosi negatif terlalu lama akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. 

 

Menurut psikologi klinis asal Inggris bernama Noel McDermott, bila kita terus-menerus menyingkirkan emosi negatif, seluruh perasaan kita akan rusak. Tentu saja kamu tidak ingin perasaanmu rusak seluruhnya, kan?

 

2. Menutupi perasaanmu yang sebenarnya

Seringkali kamu menutupi perasaanmu untuk terlihat baik-baik saja, namun kenyataanya kamu sedang menutupi perasaanmu karena kamu tidak mau tahu orang lain tahu perasaanmu yang sebenarnya. Kamu juga cenderung merasa tidak nyaman bila orang lain mengetahui perasaanmu.

 

Padahal, tidak ada salahnya untuk berbagi perasaanmu. Manusia bisa hidup karena keberadaan emosinya, lho!

 

3. Memaksa dirimu untuk bahagia terus

Kamu perlu waspada bila kamu mulai merasa takut untuk terlihat sedih oleh orang di sekelilingmu. Bisa jadi, kamu terlihat bahagia padahal kenyataanya kamu sedang bersedih. Hal ini tentunya tidak baik saat tidak jujur pada diri sendiri.

 

Kamu berusaha untuk terus merasa bahagia karena kamu ingin membuktikan kepada orang lain bahwa dirimu sedang baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Jika pada kenyataannya kamu benar-benar bahagia, tidak masalah. Tapi, bila kamu terus menerus berpura-pura bahagia, kamu perlu mengevaluasi diri. Jangan memaksa dirimu mengeluarkan emosi yang terukur, free yourself!

 

4. Membanding-bandingkan kemampuanmu dengan orang lain

Setiap orang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda. “Kamu tetap semangat dong, Si A yang nilai ulangannya lebih rendah dari kamu nggak merasa sedih tuh, kamu harusnya bersyukur.” Hal ini akan berdampak pada mental seseorang. Padahal, kamu bisa memberikan saran yang membangun. Misalnya, “Ulangan selanjutnya kamu harus lebih giat belajar biar nilaimu bagus, ya.”

 

Cara Menghindari Toxic Positivity  

Belajarlah menerima emosi yang kamu rasakan. Jangan takut mengekspresikan perasaanmu sejelas-jelasnya. Di samping itu, kamu bisa belajar memahami dirimu sendiri. Saat kamu merasakan emosi negatif, kamu bisa bercerita kepada teman ataupun orang terdekat yang menghargai perasaanmu. Langkah ini bisa menjadi salah satu cara untukmu supaya terbuka kepada orang lain.

 

Dengan bercerita kepada orang lain, setidaknya kamu akan merasa lega. Walaupun keadaan bisa saja masih sama bila dibandingkan sebelum kamu bercerita, setidaknya beban di hatimu terasa berkurang. 

 

Oleh karena itu, tidak perlu memaksakan diri untuk selalu positif, bisa aja sih selalu positif asalkan kamu mengekspresikan perasaan. Semua emosi yang muncul sangatlah wajar. Berpikir positif memang baik, namun apapun yang berlebihan tentu tidak baik hasilnya, kan?