SWARA Moda transportasi daerah itu biasanya unik-unik dan customized, alias ada kearifan lokalnya. Ada yang menggunakan hewan, ada yang kendaraannya dihias sehingga terlihat ramai, ada juga yang luar biasa canggih.

 

Nah, di Indonesia juga ternyata banyak yang unik, lho. Di Medan misalnya. Sebagai salah satu kota terbesar di Sumatera, Medan tentu saja menawarkan moda-moda transportasi yang beragam. Apa saja ya angkutan khas kota Medan ini?

 

Artikel terkait: Ngomong-ngomong tentang pilihan transportasi

  1. 5 Trik supaya Duit Nggak Cuma Abis buat Transportasi di Ibukota
  2. Cara Menentukan Jenis Transportasi Berdasarkan Kemampuan Finansial
  3. 5 Motor Matic Murah dan Irit yang Bisa Jadi Pilihan

 

1. Becak Dayung

Tunaiku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Medan, moda transportasi berupa becak masih sangat sering dijumpai. Jenisnya pun bermacam-macam. Satu yang bisa disebut paling tradisional adalah becak dayung. Becak yang satu ini menggunakan sepeda dan benar-benar menggunakan tenaga kayuhan manusia

 

Sepintas, mirip dengan becak yang ada di tanah Jawa, ya. Namun, ada yang membuat becak dayung jadi berbeda nih, yaitu posisi pengemudinya. Kalau di Medan, dan pulau Sumatera secara keseluruhan, sang pengemudi justru berada di samping kiri penumpang alih-alih di belakang.

 

Saat ini keberadaan becak dayung memang nggak lagi seramai puluhan tahun lalu. Padahal, becak dayung itu kendaraan ramah lingkungan lho karena nggak mengeluarkan polusi emisi.  Namun, jangan khawatir, kamu masih bisa menemui becak dayung di beberapa lokasi tertentu di Medan, misalnya di pasar-pasar tradisional.

Image: http://www.medanbisnisdaily.com

 

2. Becak Motor Lawas Balige dan Siantar

Tunaiku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemudian, ada pula becak yang khusus ditarik dengan sepeda motor lawas, yaitu di Balige dan Siantar. Di Siantar, becak ini ditarik dengan motor-motor tua yang menggunakan mesin Birmingham Small Arm (BSA) Buatan Inggris yang dijadikan angkutan umum. Konon, Becak Siantar ini merupakan peninggalan dari pemerintahan Belanda pada masa penjajahan sebagai alat transportasi.

 

Di Balige lain lain, becak di sini menggunakan vespa lawas kelahiran tahun 50-an hingga 80-an. Suara kedua becak ini nyaring dan mudah dikenali. Penampakannya pun khas, dicat dengan warna mencolok seperti merah, kuning, biru, dan hijau. Ukurannya yang kecil dan ramping bikin jadi jago nyalip di tengah keramaian.

Image: //analisadaily.com

 

3. Go-Cak

Tunaiku

 

 

 

 

 

 

 

 

Digitalisasi sudah merasuk ke mana-mana. Termasuk moda transportasi di kota Melayu Deli ini. Di sini, ada yang namanya Go-Cak, bentor dengan aplikasi order online. Hampir mirip dengan bentor, driver Go-Cak juga menggunakan motor. Yang membedakannya dengan bentor tentu saja karena Go-Cak memiliki seragam dan kendaraan yang sudah di-branding dengan warna hitam-kuning.

 

Meskipun namanya mirip-mirip dengan ojek online Go-Jek, tapi ternyata Go-Cak nggak memiliki afiliasi dengan Go-Jek, lho. Faktanya, aplikasi ini diciptakan oleh PT Prakarsa Strategic Indonesia yang berbasis di Medan pada tahun 2016.

Image: http://www.cumamedannews.com

 

4. Bentor

Tunaiku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alias becak motor. Angkutan umum yang merupakan gabungan dari sepeda motor dan kereta angkut penumpang seperti becak yang dikaitkan tepat di sebelah kiri pengemudi. Di Medan, bentor sudah mengaspal puluhan tahun lamanya. Dan dalam perkembangannya, bentor mengalami revolusi penampilan untuk menarik pelanggan.  Mulai dari pemilihan kursi penumpang yang lebih empuk, penambahan fiber plastik berwarna gelap di semua bagian penutup, dan pernak-pernik lainnya.

 

Tarif naik bentor bervariasi, tergantung jarak dan kemampuan tawar-menawar juga. Namun, rata-rata sih untuk jarak tempuh dekat kurang dari 5 km berkisar antara Rp10–20 ribu saja. Eh ingat, menawarnya jangan sadis-sadis ya!

Image: https://geotimes.co.id/

 

5. Sudako

Tunaiku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir, ada yang namanya Sudako. Moda transportasi berupa mobil angkot yang paling populer di Medan. Berwarna kuning cerah, angkutan umum satu ini sendiri sebenarnya adalah modifikasi dari mobil pick up pabrikan Jepang, Daihatsu. Dan, dari situlah nama Sudako berasal: Sumatera Daihatsu Company.

 

Oh iya, di Medan sendiri, nama Sudako seolah-olah sudah menjadi nama generik untuk menyebut minibus yang digunakan menjadi angkutan kota. Tak peduli apa merk pabrik yang dipakai; Toyota Kijang, Isuzu Panther, Daihatsu Zebra, Espass, bahkan Gran Max, atau Suzuki Carry, mereka menyebutnya dengan nama Sudako.

 

Dilihat dari rakitannya, Sudako ini memang unik. Bentuknya kotak, dengan pintu belakang dan bangku saling berhadapan. Jarak antar bangku begitu sempit, paling hanya setengah meter. Tak ayal penumpang harus rela saling bersinggungan lutut dengan wajah yang saling berhadapan.  Untuk menemani perjalanan, supir terkadang memasang musik dengan volume full yang memekakkan telinga.

 

Cukup repot, ya? Tapi memang begitulah alat transportasi lokal!

Image: http://www.themedancity.com

 

Itu dia lima angkutan khas di Medan yang rugi kalau nggak sempat dicoba. Kalau kamu kebetulan sedang berada di Medan, jangan lupa dicoba ya. Biar berasa kalau sudah pernah menyambangi kota Medan.

 

Artikel terkait: Ada apa di Medan?

  1. 7 Kuliner Khas Medan yang Bisa Jadi Ide Bisnis Makanan, Pilih mana?
  2. Ini 5 Dokter Anak Paling Populer di Medan
  3. Ini Pilihan Kelas Karyawan Terbaik di Medan Untuk Kamu yang Tertarik Kuliah Lagi!

 

Bagaimana dengan artikel yang kamu baca hari ini? Semoga bermanfaat untukmu, ya.

Jangan lupa, Tunaiku menyediakan pinjaman tunai cepat dan mudah, mulai dari Rp2-20 juta, yang bisa diangsur mulai dari 6-20 bulan. Yuk, ajukan pinjamanmu sekarang!


WINNY WITRA MAHARANI TUNAIKUWINNY WITRA MAHARANI