SWARA – Pernah punya janji ke orang lain tapi nggak bisa kamu tepati? Pasti rasanya nggak enak. Sama rasanya kalau kita punya utang, tapi tidak bisa melunasinya. Rasanya kalau bisa, apapun akan kamu lakukan untuk melunasi utang agar tak jadi beban lagi.

 

Sayangnya kadang keadaan tidak semulus ekspektasi kita. Melunasi utang ketika kita kondisi keuangan kita sedang bagus saja terkadang sulit, apalagi kalau kondisi keuangan kita sedang buruk-buruknya. Namun bukan berarti kita bisa lepas tangan begitu saja dan pasrah dengan keadaan.

 

Ketika kita membiarkan utang kita terbengkalai, risikonya justru bisa memperburuk keadaan. Pertama, utang kita akan terus bertambah karena bunga juga pasti berjalan. Kedua, histori kredit kita bisa menjadi buruk dan berpengaruh pada kualitas skor kredit. Ruginya apa? Kalau kamu ingin mengajukan kredit di masa depan, risiko pengajuan kreditmu tidak diterima semakin besar. Rugi, dong.

 

Baca juga: Bagaimana Cara Melindungi Skor Kredit di Masa Pandemi Corona?

 

Walau sulit dan perlu dilakukan dengan bersusah payah, melunasi utang ketika kondisi keuangan buruk tetap harus dilakukan atau setidaknya perlu kamu pikirkan dengan serius. Corona atau Covid-19 suatu hari akan berlalu, sehingga kita akan kembali menjalani kehidupan seperti biasa (walau dengan beberapa protokol baru), sehingga tidak bisa lagi mengesampingkan perihal utang ini.

 

Jadi bagaimana caranya mengatasi hal ini, supaya kamu jadi  #PastiLebihSiap mempersiapkan kondisi keuangan yang lebih baik?

 

1. Buat rincian pengeluaran

Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah membuat rincian pengeluaran kamu setiap bulan. Mulai dari pengeluaran yang memang rutin dan wajib, seperti listrik, uang kontrakan/kost, transportasi, makanan, dan sebagainya, lalu juga cicilan apa saja yang kamu punya dan sedang berjalan, sampai pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier.

 

rincian pengeluaran
Contoh rincian pengeluaran bulanan (Sumber: Swara)

 

Menurut U.S. News, membuat rincian pengeluaran seperti ini bisa membuat kita menakar-nakar mana pengeluaran yang bisa dieliminasi dan mana yang bertahan, juga apa saja cicilan yang kita miliki saat ini. Sehingga kita bisa menghindari dari jurang ketidakstabilan finansial.

 

2. Gunakan metode perencanaan keuangan Zero-sum 

Saya pernah ada dititik kondisi keuangan pas-pasan dan tanpa sadar saya menggunakan metode zero-sum ini. Apa, sih, metode zero-sum itu?

 

rincian pengeluaran zero-sum
Dahulukan utang dan tabungan dengan teknik pengaturan keuangan zero-sum. (Sumber: Swara)

 

Jadi, ide awal dari metode zero-sum ini adalah pada akhir bulan keuangan kamu akan nol Rupiah, tidak bersisa. Seluruh pengeluaran kamu sudah kamu alokasikan untuk kebutuhan pokok, tagihan, bayar cicilan utang, dan tabungan. Setelah seluruh penghasilan dikurangan dengan total pengeluaran tersebut, hasilnya akan Nol. Kalau pun ada sisa, itu suatu keuntungan dan kamu bisa agak senang-senang.

 

Yang pasti, ketika kamu membuat perencanaan keuangan, hal yang harus kamu utamakan adalah tabungan dan utang. Sisanya bisa kamu gunakan sesuai kebutuhan. Kalaupun kamu harus memangkas beberapa biaya, lebih baik memangkas biaya hedon atau transportasi, dari pada memotong jumlah uang yang harus kamu bayarkan untuk utang atau tabungan.

 

3. Bayar lebih dari biaya minimum

Jika kamu memiliki utang kartu kredit, kamu pasti familiar dengan istilah minimum payment atau biaya minimum. Kebanyakan orang akan tergoda untuk bayar biaya minimum karena terlihatnya meringankan beban finansial mereka dan bisa menggunakan sisa uangnya untuk hal lain. Tapi sebenarnya hal seperti ini yang harus dihindari.

 

Membayar biaya minimum terus-menerus punya risiko sendiri, yaitu bunga yang terus berjalan dan utangmu akan menggunung. Sebisa mungkin berkomitmen untuk membayar sesuai tagihan atau di atas biaya minimum, ya.

 

4. Sebisa mungkin lunasi utang terbesar lebih dahulu

Membayar lebih dari biaya minimum tiap bulan mungkin terlalu berat, tapi masih ada cara lain untuk membuat utang kita menjadi lebih ringan. Salah satu caranya dengan memilih mana utang yang mau lebih dulu untuk kamu lunasi. Setelah itu, kamu bisa lanjut membayar cicilan atau utang lainnya.

 

Misalkan kamu memiliki 3 utang di tempat yang terpisah. Masing-masing penyedia kredit memperbolehkan kamu untuk membayar minimum per bulan Rp500.000, jadi total utang yang kamu harus bayar adalah Rp1.500.000. Tapi, untuk meringankan beban utang di masa depan, jika masih memiliki uang lebih, kamu bisa membayar salah satu cicilan sebesar Rp1.000.000, dan sisanya tetap Rp500.000 (ditotal jadi Rp2.000.000/bulan).

 

Otomatis, seiring berjalannya waktu, utang kamu di akun pertama itu akan lebih cepat selesai dan tersisa 2 akun cicilan lagi. Kamu tinggal melakukan hal yang sama untuk sisanya dan begitu seterusnya, dengan catatan jumlah utang yang kamu bayarkan tetap Rp2.000.000 per bulan. Jadi masing-masing bisa kamu mulai cicil Rp1.000.000 setiap bulannya.

 

Menurut Harvard Business Review, menitik beratkan bayar cicilan pada salah satu utang memberikan dampak bisa menyelesaikan utang 15% lebih cepat dibanding kita membagi rata jumlah cicilan di semua utang.

 

5. Manfaatkan aset yang kamu miliki

Ketika sudah dalam keadaan yang kepepet seperti sekarang, sepertinya pilihan terbaik mulai melirik menggunakan aset yang kita miliki selama ini. Salah satu aset dasar yang biasa dimiliki ada Dana Darurat. Saya sendiri baru benar-benar paham dengan yang namanya Dana Darurat tahun 2019 lalu, tapi ternyata sudah mulai banyak yang memiliki Dana Darurat.

 

Seperti namanya, dana yang satu ini memang ditujukan untuk mengatasi masalah-masalah yang sifatnya mendesak, antara lain untuk membiayai hidup jika mendadak terkena PHK, kebutuhan medis, atau bisa juga digunakan untuk menyelesaikan lilitan utang.

 

Tapi jika kamu belum memiliki Dana Darurat, bisa kembali diingat-ingat, aset yang kamu punya selama ini. Jika kamu memiliki aset berupa emas atau deposito, hal tersebut bisa kamu gunakan untuk menutup utang kamu. 

 

6. Jual barang yang tidak terlalu kamu butuhkan

Lagi-lagi, tak semua orang punya aset yang besar. Jika kamu termasuk di dalamnya, sekarang saatnya kamu mempertajam penglihatan dan mulai menyortir barang apa saja yang ada di rumah kamu, yang kira-kira bisa kamu jual untuk menutup utang.

 

Banyak orang tak sadar kalau di rumahnya ada barang-barang yang sebenarnya jarang dipakai, nggak terlalu dibutuhkan, tapi punya nilai yang cukup. Kalau di rumah saya, saya mungkin akan menjual koleksi novel-novel yang sudah selesai saya baca atau baju-baju yang sudah tidak saya pakai setahun belakangan ini.

 

Hasil penjualannya bisa kita gunakan untuk menutup utang yang kita miliki.

 

7. Minta keringanan jika memang perlu

Dalam hal ini, jangan langsung terpikir untuk minta restrukturisasi penuh, ya. Kamu boleh mengajukan restrukturisasi kredit, tapi hal ini juga ada risiko dan konsekuensinya. Yang namanya restrukturisasi kredit itu sebaiknya diajukan kalau kamu benar-benar sudah tidak memiliki uang atau penghasilan untuk membayar kredit.

 

Baca juga: Restrukturisasi Kredit Saat Corona? Ketahui Dulu Cara Kerja dan Konsekuensinya

 

Namun, jika kamu masih memiliki sumber penghasilan, sebaiknya pikir-pikir lagi dan lebih baik meminta keringanan dalam bentuk lain, seperti keringanan suku bunga kredit. Tentunya ini bisa dilakukan dengan mengkomunikasikan kondisi keuanganmu yang sebenarnya. Nah, untuk keringanan suku bunga kredit ini berlaku untuk cicilan kartu kredit, KPR, dan KPA.

 

8. Perlahan, ubah kebiasaan menggunakan uang

Setelah beberapa langkah di atas sudah kamu lakukan, kamu bisa mulai mengubah beberapa kebiasaan dalam menggunakan uang yang dulu biasa kamu lakukan dan bisa menghambat kamu dalam melunasi utang-utangmu.

 

  • Kurangi penggunaan kartu kredit. Mungkin dulu kamu terbiasa menggunakan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya kamu tidak terlalu butuh. Misalnya, mungkin dulu kamu sering pakai kartu kredit untuk makan fancy dengan teman atau beli handphone baru padahal handphone lama masih berfungsi dengan baik. Sebaiknya kebiasaan ini ditinggalkan dulu, ya.
  • Hapus data kartu kredit dan debit di akun e-commerce favorit. Buat si tukang belanja online, apalagi yang punya kebiasaan bayar dengan kartu kredit atau debit karena alasan kepraktisan, bisa mulai menghapus data kartu kredit dan debit di situs belanja. Hal ini bisa menunda kalian untuk belanja, karena kalian harus melihat lagi detil kartu dan memberikan kalian waktu untuk berpikir dua kali untuk membeli.
  • Jangan tutup utang dengan utang baru. Banyak yang berpikir kalau menutup utang A dengan meminjam dari pihak B akan menyelesaikan masalah. Ini namanya gali lubang tutup lubang, nggak selesai-selesai, dong. Lebih baik cicil dengan periode lebih panjang, dari pada punya utang yang tak kunjung kelar.

 

Baca juga: Lakukan Cara Ini Agar Keuanganmu Sehat Pasca Pandemi COVID-19!

 

Jadikan dirimu #PastiLebihSiap dalam keuangan

Memperbaiki sesuatu yang terlihat rusak memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Dengan melakukan 8 cara di atas, percayalah kalau keuanganmu bisa membaik di kemudian hari walau perlahan. Ketika kamu sudah melunasi utang, pasti kamu akan merasa lebih lega dan yang pasti jadi #PastiLebihSiap membangun kondisi keuangan di masa depan. 

 

Selamat berjuang!