SWARA – Coba perhatikan, apakah kamu memiliki teman atau kerabat yang memiliki sifat boros dan gila belanja, sampai-sampai dia nggak pernah berpikir dua kali dalam mengeluarkan uang? Sebaliknya, apakah kamu memiliki teman yang sangat irit dan memperhitungkan segala sesuatu ketika sedang belanja? Apabila kamu memaknainya secara sekilas, kamu mungkin akan berasumsi bahwa temanmu yang gila belanja tanpa berpikir dua kali tersebut memiliki kondisi finansial yang lebih baik dibandingkan dengan temanmu yang memiliki sifat irit dalam pengeluaran uangnya.

 

Namun ternyata, kamu nggak bisa menilai kondisi kesehatan keuangan seseorang hanya dari perilaku belanja saja. Bahkan, meski temanmu yang pertama memiliki pendapatan lebih tinggi dari temanmu yang kedua, hal itu juga nggak menjadi tolok ukur kondisi keuangan mereka. Tetapi, berdasarkan ilmu keuangan, kamu dapat mengetahui kondisi kesehatan finansialmu melalui 5 rumus sederhana ini. Begini penjelasannya!

 

1. Rasio tabungan

Cobalah kamu buka catatan rekening bank-mu secara keseluruhan, hitunglah aset-aset yang kamu punya baik itu dalam bentuk tabungan ataupun deposito. Setelah itu hasilnya kamu bagikan dengan jumlah pendapatan totalmu dalam setahun lalu kemudian dikalikan dengan 100%. Hasilnya dapat juga disebut dengan rasio tabungan.

 

Rasio tabungan ini bermaksud untuk melihat berapa persen uang yang bisa kamu tabung dalam setiap tahunnya.

 

Contohnya, kamu memiliki aset uang dalam bentuk tabungan dan deposito sebanyak Rp 20 juta, kemudian kamu memiliki pendapatan sebanyak Rp 100 juta per tahun, maka rasio tabungan kamu adalah (Rp 20 juta / Rp 100 juta) x 100% = 20%. Hal ini menunjukkan bahwa rasio tabungan kamu sudah cukup baik, karena untuk masuk ke kategori baik, rasio tabunganmu harus berada di atas 10% setiap tahunnya.

 

2. Rasio kemampuan pelunasan utang

Sekarang, coba kamu ingat-ingat cicilan atau utang apa saja yang sampai sekarang masih belum kamu lunasi? Jumlahkan cicilan-cicilan per bulanmu seperti contohnya cicilan mobil, cicilan rumah, atau mungkin cicilan smartphone. Setelah itu, kamu bagi dengan pendapatanmu per bulan dikalikan dengan 100%.

 

Sebagai contoh, jumlah cicilanmu per bulan adalah Rp 3 juta, sedangkan pendapatanmu dalam satu bulan sebesar Rp 8 juta. Jadi rasio kemampuan pelunasan utangmu adalah (Rp 3 juta / Rp 8 juta) x 100% = 37.5%. Angka ini masih terbilang cukup tinggi karena seharusnya rasio kemampuan pelunasan utang berada di bawah 35%.

 

Artikel terkait: Berutang nggak selamanya buruk, Ini poin-poin positif dari berutang

  1. Berutang Nggak Selamanya Buruk, Lho, Ketahui Jenis Utang Produktif dan Konsumtif!
  2. Berutang Nggak Selamanya Buruk! Inilah Poin Mengajarkan Arti Utang yang Positif kepada Anak
  3. Atasi Utang Menumpuk dengan Pinjaman Tanpa Agunan. Perhatikan 5 Hal Ini Sebelum Mengajukan Pinjaman!

 

3. Rasio solvabilitas

Rasio solvabilitas digunakan untuk mengetahui persentase risiko kebangkrutan seseorang. Untuk mengetahui apakah suatu orang dapat dikatakan bangkrut adalah ketika orang tersebut memiliki jumlah utang lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah total aset yang dia miliki. Persentase rasio solvabilitas didapatkan dengan total kekayaan bersih dibagi dengan nilai total aset.

 

Contohnya, kamu memiliki kekayaan bersih sebesar Rp 300 juta, dengan total asetmu sebesar Rp 500 juta. Jadi, rasio solvabilitasmu adalah sebesar (Rp 300 juta / Rp 500 juta) x 100% = 60%. Angka persentase ini masih tergolong tinggi, karena normalnya persentase rasio solvabilitas berada di bawah 50%.

 

4. Rasio likuiditas

Rasio likuiditas dipakai untuk mengukur berapa lama waktu kamu dapat bertahan untuk tetap membiayai hidupmu apabila pada suatu waktu terjadi guncangan pendapatan, seperti misalnya pemutusan hubungan kerja atau kecelakaan. Rasio likuiditas dapat dihitung dengan cara total aset berupa tabungan, deposito, atau bentuk aset lainnya dibagi dengan total pengeluaranmu dalam waktu satu bulan.

 

Contohnya, total asetmu adalah Rp 150 juta, dan pengeluaranmu tiap bulan adalah Rp 6 juta, maka rasio likuiditasmu adalah (Rp 150 juta / Rp 6 juta per bulan) = 25 bulan. Artinya, aset kekayaanmu dapat menyokong pengeluaranmu selama 25 bulan dalam kondisi kamu tidak bekerja.

 

Artikel terkait: Sudahkah kamu mempersiapkan dana pensiun?

  1. Tips Jitu Siapkan Tabungan Pensiun Sejak Umur 40
  2. Berapa Dana Pensiun yang Pas Agar Masa Tua Sejahtera? Ini Perhitungannya!
  3. 6 Jenis Investasi Dana Pensiun yang Cocok untuk Karyawan Pemula

 

5. Pertumbuhan pendapatan

Ternyata, ketika kamu mendapatkan kenaikan gaji, belum tentu pendapatanmu bisa dikatakan meningkat, karena terdapat poin yang harus diperhatikan dalam menghitung pertumbuhan pendapatanmu yaitu persentasi laju inflasi.

 

Contohnya, gaji kamu tahun lalu adalah sebesar Rp 7 juta, pada tahun ini kamu mendapat kenaikan gaji sebesar Rp 1 juta sehingga gajimu tahun ini adalah Rp 8 juta. Bila diasumsikan persentasi inflasi sebesar 6%, cara menghitung pertumbuhan pendapatanmu adalah {[(Rp 8 juta – Rp 7 juta) / 7 juta] x 100%} – 6% = 8%. Berarti, pendapatanmu bertambah sekitar 8% dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Berkaca dari 5 indikator di atas, apakah kondisi keuanganmu masih tergolong sehat? Jika iya, mari pertahankan kesehatan kondisi finansialmu. Namun bila skormu masih belum baik, kamu bisa melakukan pembenahan di beberapa sektor yang dirasa mampu diperbaiki.