SWARA – Akhir-akhir ini saham gorengan ramai dibicarakan oleh publik, khususnya para investor karena adanya iming-iming cepat mendapat cuan. Namun dibalik itu ternyata adanya risiko yang besar terhadap pembelian saham gorengan, salah satunya dapat membuat para investor merugi. Oleh karena itu, sebelum kamu terjebak ke dalam saham tersebut, ada baiknya kamu mengenali apa itu saham gorengan?

 

Apa itu saham gorengan?

Mendengar kata saham gorengan memang terlihat gurih jika profit yang dihasilkan besar. Namun, jika merugi tentunya akan menimbulkan trauma bagi para investor yang menanamkan modalnya. Saham gorengan adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah saham perusahaan yang fluktuasinya mudah naik dan mudah turun. Akibatnya memiliki risiko investasi yang tinggi terhadap para investor, karena perubahannya yang tidak stabil.

 

Fluktuasi saham gorengan yang tidak stabil ini dapat mengakibatkan naiknya harga yang tinggi dan sebaliknya. Kenaikan harga tersebut disebut dengan istilah “digoreng”, yaitu keadaan suatu saham sedang dimainkan harganya oleh bandar atau market maker. Dengan menggerakkan harga saham dan menaikkan harganya, tentunya menjadi incaran investor untuk berinvestasi dengan saham tersebut yang digadang-gadang dapat memberikan profit yang besar dalam waktu sekejap mata. 

 

Namun di sisi lain, saham gorengan juga cepat mengalami penurunan. Perubahan harga yang fluktuatif secara cepat membuat pergerakan harganya tidak terdeteksi. Sehingga tentunya ini tidak baik bagi keuangan investor dalam saham. Agar kamu tidak terjebak dalam perangkap saham gorengan, kenali karakteristiknya.

 

Baca Juga : Deretan Jenis Investasi Ini Justru Laris Manis di Tengah Pandemi

 

 

Ciri-ciri saham gorengan

 

1. Terindikasi Unusual Market Activity (UMA)

Unusual Market Activity(UMA) adalah suatu aktivitas perdagangan atau pergerakan harga suatu efek yang tidak biasa dalam kurun waktu tertentu. Menurut penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas ini dapat berpotensi mengganggu terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien. Saham-saham yang terindikasi UMA dapat mengalami kenaikan yang drastis, di mana kenaikannya dapat berubah-ubah dari 20 sampai 35% per harinya. 

 

2. Memiliki kapitalisasi pasar yang kecil 

Pada umumnya, saham gorengan memiliki kapitalisasi pasar yang tergolong kecil, biasanya di bawah Rp1 triliun. Jika saham memiliki nilai pasar yang kecil, maka bandar atau market makers dapat dengan mudah memainkan harganya, sehingga inilah yang menyebabkan naik dan turun harga saham secara drastis. Oleh karena itu, saat membeli saham perlu melakukan pengecekan terhadap kapitalisasi harga pasar. Karena jika kamu memilih saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil akan memberikan keuntungan kepada bandar.

 

3. Memiliki harga saham yang tidak stabil 

Saham gorengan mempunyai harga yang tidak stabil atau tidak beraturan. Misalnya kamu melihat saham berada di harga Rp100 perak, lalu tiba-tiba berubah menjadi Rp200 dan beberapa hari lagi berubah menjadi Rp300 atau Rp500. Tiba-tiba harga saham merosot kembali ke Rp100 perak.

 

Tentunya, ketika harga naik para investor akan menyerahkan saham dan menikmati untungnya. Dengan demikian harga saham di lelang dengan mudahnya. Tapi ketika harga kembali menurun menjadi Rp100 perak, saham menjadi tidak laku. Tentunya hal ini dapat menjadi kekhawatiran dan trauma bagi investor, karena bukannya untung malah rugi.

 

4. Mempunyai fundamental perusahaan yang tidak jelas

Seharusnya, harga saham mengikuti perkembangan fundamental perusahaannya. Misalnya ketika perusahaan mencapai keuntungan, maka harga saham naik. Namun berbeda dengan saham gorengan, hal tersebut tidak berlaku, bahkan pergerakan harganya tidak sesuai dengan fundamental dari kinerja perusahaannya. 

 

Karena adanya pergerakan harga saham yang naik-turun membuat para investor khawatir akan hal tersebut dan investor merasa bahwa ada yang mempermainkan harganya. Bahkan saham seperti ini seringkali di-suspend oleh bursa efek. Tidak dapat dipungkiri bahwa bandar memang menggerakkan harganya dan memberi rumor akan mendapat untung yang tinggi untuk menarik minat investor dan akhirnya investor masuk ke dalam jebakan bandar. Oleh karena itu, bijak dan telitilah dalam memilih saham. Jangan langsung termakan dengan profit yang tinggi.

 

Setelah mengetahui ciri-ciri saham gorengan, maka bagaimana cara agar terhindar dari saham gorengan?

 

1. Mencermati analisis fundamental  perusahaan

Untuk mengurangi risiko yang tinggi dalam membeli saham, cermati fundamental perusahaan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar kamu mengetahui apakah perusahaan memiliki manajemen keuangan yang baik, seperti apa kondisi keuangan perusahaan, kinerja dan lainnya. Pada umumnya, fundamental perusahaan memengaruhi pergerakan harga saham. Biasanya fundamental perusahaan yang kokoh memiliki harga saham yang bagus.

 

Seperti dilansir dari Katadata, biasanya saham gorengan minim ditransaksikan, karena transaksinya yang melonjak signifikan. Hal tersebut biasanya diikuti dengan pergerakan saham yang cukup liar. Pergerakan saham tersebut tidak didukung oleh fundamental yang baik seperti kinerja keuangan perusahaan yang negatif.  “Harganya bisa terbang tinggi yang biasanya hanya didorong oleh rumor ataupun isu,” kata Analis Artha Sekuritas Nugroho Fitriyanto.

 

2. Memantau pergerakan saham

Pentingnya memantau pergerakan saham bertujuan agar para investor tidak rugi dalam membeli saham. Oleh karena itu kamu jangan sampai lalai dan terbuai dengan iming-iming saham gorengan yang memberikan keuntungan besar.

 

3. Perhatikan likuiditas dari aktivitas perdagangan saham

Likuiditas merupakan salah satu faktor yang penting diperhatikan oleh investor dalam membeli saham. Nyatanya tidak semua saham mudah diperjual-belikan, atau dengan kata lain mengalami kesulitan likuiditas. Saham yang tidak likuid dapat dikenakan delisting atau dikeluarkan dari bursa efek. Saham yang tidak likuid akan menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mendapat keuntungan.

 

Saham gorengan sendiri mempunyai likuiditas yang tidak signifikan, yang dapat mengakibatkan kerugian pada investor. Dikutip dari Katadata, analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa saham gorengan biasanya merupakan saham-saham yang berada di lapis kedua atau ketiga. 

 

Dia menyebutkan biasanya likuiditas saham-saham tersebut tidak tinggi, tapi ketika digoreng, likuiditasnya melonjak tinggi. “Saham yang biasanya tidak likuid, lalu likuiditasnya melonjak tinggi, patut dicurigai sebagai saham gorengan,” kata Nafan.

 

Oleh karena itu, buat kamu yang ingin membeli saham bijak dan telitilah dalam melihat pergerakan saham. Jangan sampai terbuai dengan iming-iming profit yang tinggi seperti saham gorengan yang nyatanya malah merugikan.