Pandemi membuat banyak orang sadar pentingnya memanjakan diri dan memberikan kenyamanan di rumah. Kesadaran ini secara tidak langsung berdampak pada tren bisnis piyama.

 

Tingginya permintaan baju piyama dan daster selama dua tahun terakhir membuat peluang bisnisnya semakin terbuka lebar.

 

Cara memulai bisnis piyama

 

Meski terlihat menjanjikan, bisnis piyama ternyata memiliki celah yang harus kamu perhatikan agar tidak terjebak dalam kerugian. Kira-kira, bagaimana cara memulainya?

 

Kenali target pasar

 

Prioritas utama dalam memulai bisnis piyama adalah mengenali target pasar yang kamu bidik terlebih dahulu. Pasar bisnis piyama pun bisa jadi sangat luas tergantung segmentasinya.

 

Beberapa pertimbangan segmentasi pasar yang bisa kamu jadikan acuan diantaranya demografis (jenis kelamin dan usia), geografis (tempat tinggal calon konsumen) dan perilaku dalam melihat suatu barang.

 

Sebagai contoh, target pasar piyama untuk anak saat ini bisa kamu pertimbangkan sebagai peluang bisnis. 

 

Ukuran badan anak umumnya akan terus bertambah besar sehingga kemungkinan kalau konsumsi baju barunya akan terus bertambah juga akan tinggi seiring dengan perkembangan.

 

Menentukan supplier yang tepat

 

Dalam merintis usaha baru, penting untuk menjalin kerjasama dengan pihak eksternal yang akan membantu membuat bisnis terus berkembang. 

 

Dalam hal ini, setelah menemukan ide usaha yang tepat yakni bisnis piyama, bergegaslah mencari pemasok atau supplier yang tepat untuk produk piyama yang akan kamu jajakan.

 

Dalam memilih supplier produk piyama, pertimbangkanlah citra produk atau brand, kualitas bahan, motif dan warna. 

 

Tidak lupa juga untuk memilih pemasok yang memang terpercaya dalam hal manajemen waktu pengiriman, kuantitas barang dan memiliki inisiatif tanggung jawab retur barang.

 

Memilih strategi bisnis yang tepat

 

Jika kamu memang sudah memiliki pengalaman dan memiliki keahlian dalam merancang baju piyama sendiri, pertimbangkanlah untuk melakukan produksi sendiri dan membuka toko fisik. 

 

Strategi ini bisa jadi tepat untuk target pasar yang memiliki ketertarikan yang rendah dalam bertransaksi daring.

 

Namun, jika kamu memang kekurangan modal, tidak ada salahnya juga untuk menjalin kemitraan dengan pemasok menggunakan sistem penjualan reseller atau dropshipper.

 

Pada sistem dropship, kamu hanya perlu memasarkan dan menjual barang kepada pihak lain tanpa perlu menyetok barang. 

 

Sedangkan pada sistem reseller, kamu masih harus menyetok barang dengan melakukan pembelian terlebih dahulu dari supplier.

 

Modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis piyama

 

Dari segi finansial, memulai bisnis piyama juga ternyata memerlukan modal tergantung dari model dan strategi bisnis yang dijalankan. 

 

Berikut perkiraan modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis piyama tergantung dari modal yang kamu miliki.

 

1. Dropship

 

Hampir tidak ada dana yang perlu kamu keluarkan saat menjalani bisnis piyama dengan sistem dropship

 

Pada sistem dropship, kamu hanya perlu memasarkan produk piyama secara daring bisa melalui media sosial, e-commerce, marketplace dan lain sebagainya.

 

Setelah mendapatkan pemesanan, umumnya supplier akan mengemas dan mengirimkan barang atas nama toko online kamu. 

 

Dengan begitu, kamu tidak perlu takut kehilangan konsumen hanya karena pembeli sudah mengetahui darimana barang kamu dapatkan.

 

Melalui sistem dropship, pengeluaran yang mungkin akan kamu keluarkan adalah biaya pemasaran seperti kuota internet, foto produk, desain produk dan model jika dibutuhkan.

 

 

2. Reseller

 

Berbeda dengan dropship yang fokus pada pemasaran, reseller pada dasarnya menjual kembali barang dari pemasok sehingga melalui proses pembelian dan melakukan stok barang.

 

Untuk mengakali hal ini, kamu bisa menggunakan sistem pre-order (PO) barang dengan atau tanpa uang muka terlebih dahulu. 

 

Dengan cara ini, kamu lebih leluasa mengumpulkan jumlah pemesanan terlebih dulu sebelum akhirnya membeli dalam jumlah banyak kepada pemasok. Sehingga, kamu bisa tahu pasti besaran jumlah penjualan yang akan kamu dapatkan dalam satu kloter.

 

Namun, selain memperhatikan pasokan barang, kamu juga masih harus memperhatikan aspek pemasaran dalam menjalankan bisnis dengan sistem reseller. 

 

Sehingga sudah pasti modal untuk menjadi reseller jauh lebih besar dibandingkan dengan dropship karena mempertimbangkan pasokan barang.

 

 

3. Membuka toko sendiri

 

Merintis bisnis piyama dengan membuka toko sendiri bisa jadi rumit namun merupakan praktik usaha yang nyata dan berpotensi berkembang pesat dalam waktu yang singkat.

 

Dengan membuka toko sendiri, kamu bisa melakukan produksi piyama secara mandiri atau melakukan pembelian dalam jumlah besar dari beberapa pemasok yang sudah kamu percayai.

 

Tentu saja, modal untuk membuka toko sendiri jauh lebih besar karena mempertimbangkan biaya sewa, pegawai, pemasaran hingga produksi barang sehingga kemungkinan akan memakan biaya yang besar. 

 

Namun, biaya-biaya ini umumnya bisa tertutupi jika bisnis yang dijalankan memang memberikan keuntungan yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu.

 

 

Satu hal yang perlu kamu pahami bahwa memulai bisnis memerlukan komitmen dan kesabaran. 

 

Perjalanan merintis bisnis mungkin tidak akan selamanya mulus, tapi dalam prosesnya kamu akan belajar untuk mengembangkan usaha menjadi lebih baik.